Cinta Gadis Broken Home

Cinta Gadis Broken Home
Bab 48


__ADS_3

" Ada apa ini Tia ? " tanya Mami Naya dengan nada rendah. Aura kemarahan sangat terasa menguar dari Mami Naya.


FLASHBACK ON


Setelah dari klinik Rama dan menyaksikan hal yang membuatnya sedih, sesampainya dirumah Hania masuk ke kamarnya dengan menangis. Dia tidak menyadari ada Mami Tia dan Herry yang sedang duduk menonton di ruang keluarga.


Mami Naya dan Herry saling menatap bingung. Mereka berdiri dan langsung menyusul ke dalam kamar Hania karena Hania tidak mengunci pintu kamarnya.


Hiks...Hiks...


Hania menangis dengan posisi telungkup di tempat tidurnya.


" Bole kami masuk Han..." Ucap Mami Naya meminta ijin.


Karena tidak ada jawaban, dan hanya tangisan yang terdengar, Mami Naya dan Herry masuk dan menghampiri Hania.


Mami Naya duduk di samping ranjang dan membelai kepala Hania.


" Cerita sama kami sayang...Ada apa? " tanya Mami Naya


Herry masi diam menunggu jawaban Hania.


" Siapa yang membuat kamu menangis seperti ini ? Apakah sahabatmu ? " Tanya Mami Naya lagi


Hiks..Hiks..


Hania masih membungkam mukutnya dan masih dengan posisi yang sama.


" Yasudah..kalo kamu belum mau cerita...tapi jangan lama lama yah nangisnya.. " Ucap Mami Naya dan beranjak dari ranjangnya Hania


" Mamii..." Panggil Hania


Hania tiba tiba duduk dan menatap Mami Naya.Matanya sudah bengkak dan memerah.


" Ada apa sayang ? Mami mohon berceritalah..." Ucap Mami Naya dengan menatap Hania sendu.


" K..ka..kalo pernikahanku dibatalkan tidak apa apa kan mi ?" tanya Hania dengan terbata bata


" Alasannya apa dek ?" Tanya Herry


" Kami gak bisa bersatu mi.. Dia..dia.. Aku tadi melihatnya bermesraan dengan salah satu perawat di kliniknya...hiks..hiks.." ujar Hania


" Bre**sek..." teriak Herry dengan mengepalkan tangannya.


" Walaupun dia mau meneruskan, aku yang gak mau mami...aku siap kehilangan dia daripada aku harus merasakan sakit hati sepanjang hidupku..." Ujar Hania


" Iya dek..aku setuju...Gak kawin kamu gak akan mati..tapi salah kawin kamu akan setengah mati... Relakan aja dia..." Ucap Herry


" Apa kalian sudah membicarakan ini ?" Tanya Mami Naya dengan tenang. Tetapi dalam dadanya ada kemarahan yang akan meledak


" Belum mi... Tolong aku kak..mami...tolong batalkan segera.. Aku gak perlu berbicara dengannya lagi..aku sudah gak mau...aku rela mi dia pergi..tolong.." Ucap Hania sambil memegang tangan Mami Naya dengan memohon


Mami Naya memeluk putrinya dengan mata berkaca kaca. Dia bertatapan dengan Herry sambil memicingkan matanya.


" Baiklah nak...mami dan Herry akan segera membatalkannya..percaya sama mami...kami akan melindungimu.." Ucap mami Naya sambil menepuk nepuk punggung Hania.


" Sekarang kamu beristirahatlah..kamu pasti capek..mami sama Herry keluar dulu.." Ujar mami Naya sambil mencium kening Hania.


Mami Naya berdiri dan keluar dari kamar. Diikuti Jerry yang sempat memeluk Hania.


FLASHBACK OFF


" Naya, mari duduk dulu..." Ajak Mami Tia dengan suara pelan.


Tiba tiba Raina dan Rakha bergabung dengan mereka. Saat tadi mereka turun mengambil air minum, mereka tidak sengaja mendengar suara Mami Naya.


" Tidak perlu Tia... Saya hanya ingin menyampaikan keputusannya Hania kalau dia sudah tidak mau melanjutkan pernikahan ini..."


Semua seperti sudah tidak kaget karena mereka tahu hal ini pasti akan terjadi. Orang tua siapa yang tidak akan sakit hati jika melihat anaknya disakiti.

__ADS_1


" Hahahaah... Hebat Loe Rama...setelah loe angkat adikku setinggi langit, dan kau lemparkan dia sampai ke dasar... Aku akan buat perhitungan denganmu... Kami memang tidak kaya dan gak punya kuasa.. Tapi INGAT SUMPAHKU RAMA SASTRA...LOE..."


" TIDAKK..TIDAKK...HERRY...mami mohon jangan sumpahi kami...tolong Herry...tolong Naya...maafkan kami...ini semua karena..."


" Mami...." Ucap Rama dengan kencang.


Mami terdiam.


" Naya dan nak Herry..maafkan kami..mungkin Hania dan Rama tidak berjodoh..." Ucap Papi Adipati dengan tenang.


Rakha dan Raina beranjak dari duduknya dan verjalan menuju ke kamar masing masing tanpa mengatakan apa apa. Mereka berdua kecewa karena Rama masih menyembunyikannya dari Mami Naya.


" Tia, Adi, Rama...apa salah kami dengan kalian, sampai setega ini kalian perlakukan keluarga kami... Tapi tidak mengapa..inilah hidup..tidak semua apa yang kita harapkan akan terkabul.. Ini adalah terakhir kali kami berbicara dengan kalian...Kami tidak akan meminta maaf jika dilain hari, tanpa sengaja kita bertemu, kami bersikap seolah tidak mengenal kalian... Nak Rama, kamu punya adik perempuan, tante tidak tahu apa yang akan kalian lakukan jika dia merasakan apa yang Hania rasakan saat ini..." Ucap Mami Naya


Rama akan mengucapkan sesuatu, tetapi dipotong Herry " Tidak usah meminta maaf...kami tidak butuh..hanya jangan menampakkan wajahmu didepan kami sudah cukup.."


Mami Naya meletakkan sebuah cincin di meja yang ada didepan mereka.


" Ini kami kembalikan cincin pertunangan kalian... Kami melarang Hania untuk mengembalikkan langsung... Putra kalian saja tidak berani mengatakan langsung ke putri kami.."


Papi Adipati, Mami Tia dan Rama menatap sendu Mami Naya.


Tanpa permisi, Mami Naya dan Herry keluar dari rumah itu. Memutuskan tali silaturahmi yang sudah terjalin puluhan tahun ini.


Mami Naya mengambil telponnya dan mengirim pesan ke seseorang.


Mami Naya : Apakah kamu sibuk ?


Mami Naya : Tolong hubungi aku secepatnya.PENTING


SEND


Ketika Mami Naya dan Herry sudah kembali dirumah mereka, tiba tiba ponsel Mami Naya berbunyi.


Dreett..dreett..


" Assalamualaikum Naya..."


" Walaikumsalam.."


" Ada apa Nay ? Apakah pernikahannya dimajukan ? " Tanya Papi Dewa


" Tidak Dewa...sudah dibatalkan.."


" Apaaaa...koq bisa ? Apakah laki laki itu menyakiti putriku ?"


" Hem..." Jawab mami Naya pelan


Herry hanya diam mendengarkan pembicaraan antar mami dan papinya. Dia sudah mendengar cerita dari Mami Naya mengenai masa lalu mereka. Begitu juga Hania, dia sudah tahu seperti Herry.


" Naya, Ada yang bisa aku lakukan ? Katakanlah..."


" Hem...bisakah Hania ikut denganmu "


Papi Dewa terdiam.


" Dewa..."


" Apakah dia mau ? Aku akan sangat senang jika dia mau kesini.. Aku juga bisa membantu mendapatkan pekerjaan disni..jangan kuatir.."


" Baik..persiapkan segalanya..termasuk tempat tinggalnya..Hania pasti segan untuk tinggal denganmu.."


" Aku ngerti..hmm..tapi menurutku Hania jangan disini..karena mereka tahu aku disini kan...Aku akan mengatur segalanya supaya dia bisa tinggal di Singapura...Tenang saja, aku akan membuat mereka tidak bisa melacaknya..."


" Baik..terima kasih atas bantuanmu..Kami akan mempersiapkan segalanya..beritahu kami jika ada surat surat yang dibutuhkan disana.."


" Iya, aku akan kirim pesan kepadanu setelah aku cek ke kantor.."


Tiba tiba Herry meminta ijin ke maminya untuk berbicara dengan papinya. Mami Naya memberikan ponselnya kepada Herry.

__ADS_1


" Papi..."


" hah? He..Herry ? "


" Iya ini aku...aku mau nanya, apa bisakah papi mengatur untuk aku dan Hania...aku ingin mendampinginya supaya mami lebih tenang.."


" Kenapa bukan kalian bertiga saja yang datang kesini ? Supaya tuh kutu kupret gak akan bisa mencoba coba mencari kabar. Paoi takut mereka menekan mami kalian..."


" hmm..bener juga..kalo gitu atur untuk kami bertiga pi.."


" Ok deal... Nanti papi kabari secepatnya..."


Ponsel berpindah ke Mami Naya.


" Nay, kalian harus bersikap seolah olah tidak akan terjadi apa apa... Minta Hania segera resign, tapi jangan sampai keluarga mereka tahu..intinya jangan sampai ada yang tahu kalo kalian akan pergi..."


" Iya Dewa..aku ngerti...Sudah dulu..aku mau lihat keadaan Hania dulu.. Bye.."


" Kebiasaan deh..." Ucap Papi Dewa sambil mengelus dada, karena Mami Naya menutup telponnya tiba tiba.



Sedangkan dirumah Rama, setelah kepergian Mami Naya dan Herry, Mami Tia menangis tersedu sedu. Papi Adipati membawanya ke kamar mereka, begitu juga dengan Rama, dia segera masuk ke kamarnya.



Dia membuka kaosnya dan masuk ke kamar mandi.



Bukkk..Bukkk..Bukk..



Rama meninju dinding kamar mandinya. Tanpa sadar airmata mengalir di pipinya dan darah di tangannya.



" Hania..hiks..tolong tunggu aku...hiks..maafkan aku..hiks..."



Masih didalam rumah Rama, seseorang yang menyaksikan kejadian di ruang tamu tadi menelepon seseorang.



" *Halo*..."



" ........"



" *Berhasil...mereka sudah putus*..."



" ........"



" *Baik...saya akan jalankan rencana berikutnya*..."



*Klik*... Telepon pun terputus, dan orang itu meneruskan pekerjaannya lagi.


__ADS_1


__ADS_2