Cinta Gadis Broken Home

Cinta Gadis Broken Home
Bab 47


__ADS_3

Bara dan Reza mengejar Sierra juga Vey sampai ke mobil mereka.


" Sierra..." Panggil Reza


" Maaf kak... kami harus pergi dari sini dulu.. Nanti hubungi aku besok.." Ucap Sierra dengan menatap Reza. Sierra hanya merasa kecewa karena Reza seolah menutupi kesalahan Rama.


" Baik...kakak telpon kamu besok... Hati hati nyetirnya..." Ucap Reza dengan tenang.


Sedangkan Bara tidak bisa membujuk Vey. Vey sudah didalam mobil dan gak mau bicara dengan Bara.


" Hania..." Panggil Reza.


" Gapapa kak...biarkan aku tenangin hatiku dulu..." ucap Hania dingin


" Yang aku tahu Rama bukanlah pria seperti itu...tetapi aku gak tahu sebenarnya ada apa..." Ujar Reza


Hania menutup kaca pintu tanpa membalas Reza lagi.


Mobil Sierra melaju meninggalkan Bara dan Reza yang sedih karena melihat kekasih mereka kecewa.


" Bar, kayaknya Hendra tahu sesuatu...kita harus cari tahu sebenarnya ada apa dengan Rama... Gw mau samperin Hendra..loe mau ikut gak?" Tanya Reza


" Ya.." Jawab Bara dingin.



Saat mereka tiba di kontrakan Hendra, hanya terlihat mobilnya daja yang diparkir.



Tok..tok.tok...



" Hendra...Hendra..." Reza mengetuk pintu kontrakan dan memanggil Hendra.



Tok..tok...cklek



" Berisik..." Ucap Hendra



" Kenapa loe bro ? gak mandi dua hari? Lecek banget..." Ucap Hendra sambil menggeser badan Hendra dan langsung masuk.



" Woy yang sopan.." Ucap Hendra karena dia melihat Bara ikut masuk tanpa berbicara apa apa.



" Mari masuk bro.." Ucap Hendra yang bersikap seolah olah tuan rumah.



" Cih..." Ucap Hendra sambil duduk malas di sofa di ruang tamu itu.



Kontrakan Hendra terasa nyaman. Ada ruang tamu, dua kamar dan dapur yang lumayan rapi, juga kamar mandi.



" Ngapain loe kesini ? Gangguin aja..." Ucap Hendra sambil menutup matanya karena masih mengantuk.



" Loe kemana aja? Kenapa gak ke klinik ?" tanya Reza



" Males...gw juga udah nganggur..mecat diri sendiri.." ucap Hendra santai



" Maksud loe ?" tanya Bara



" Ya gw nganggur.." ucap Hendra



" Loe udah gak di perusahaan Rama ?" tanya Reza


__ADS_1


" Loe pada belum makan ato gimana sich? Gw udah bilang kan gw nganggur...berarti gw gak kerja dimana mana...hadeh.." Ucap Hendra kesal



" Kenapa ? Loe ada masalah ama Rama ato Raina ? " Tanya Reza



" Gw muak ama keluarga mereka.. Bisa bisanya mereka membuang Hania dengan kejam begitu..." Ucap Hendra



" Loe tahu ? " tanya Bara



" Menurut loe ? cih..." Ucap Hendra masih kesal.



" Hem..tadi Hania ke klinik dan melihat semua.." Ucap Reza pelan



" What ?.." Teriak Hendra



" Makanya kami berdua kemari. Sierra kecewa ama gw.. Gw kesal ama Rama..." Ucap Reza



" Vey juga murka liat gw..padahal kan masalahnya bukan gw..." Ucap Bara



" Gw aja gak ada hubungan apa ama Hania muak apalagi mereka bertiga yang sahabat Hania... sampe sampe gw juga rasanya gak mau nerusin ama Raina.." Ucap Hendra pelan dan pikirannya menerawang.



" Bentar bentar..jadi sekeluarga tahu apa yang terjadi ? terus mereka merestui gitu ?" tanya Reza.



Hendra mengangguk.




" ehem...loe berdua bisa gw percaya gak ?" tanya Hendra



" menurut loe ? Hey bro..udah berapa lama kita sahabatan.." Ucap Reza



" Yah..elo kan ember bocor..entar kemana mana lagi..harusnya jadi rahasia malah bocor.." Ucap Hendra.



Reza hanya mencebik.



" Begini....." Hendra menceritakan apa yang dia pikirkan. Juga rencana rencana apa yang akan dia lakukan. Dia meminta agar supaya Reza dan Bara membantu, tetapi jangan sampai menyolok. Karena dia merasa ada keanehan.



Sedangkan Bara dan Reza setuju untuk melakukan hal hal yang diminta Hendra.



Setelah mereka berbincang selama dua jam, akhirnya mereka pulang dan menuju ke tujuan masing masing. Maklum pacar mereka lagi ngambek.



Sedangkan Vina saat ini sudah dijemput Rakha. Vina ingin mencari tahu sesuatu mengenai Rama dan memastikan bagaimana langkah yang akan diambil selanjutnya.


Saat Vina dan Rakha sudah berada di mobil, mereka berdua diam tanpa ada satupun yang ingin membuka pembicaraan.


" Kak.."


" Vin.."


Ucap vina dan Rakha berbarengan.


" Ladies first..." Ucap Rakha.

__ADS_1


" Tak apa, aku mau dengar kakak mau ngomong apa..."


" Kamu kenapa diam ? Apa ada yang terjadi ?" Tanya Rakha


" ckkk..kakak gak tahu ato pura pura gak tahu ? " tanya Vina dengan dingin.


" Maksudnya ? " tanya Rakha bingung


" Tadi kami berempat ke klinik.. Dan..." Ucap Vina sambil menatap Rakha


Ckiiiittt...


" Kakak...aku blum mau mati...hati hati donk.." Ucap Vina kaget karena tiba tiba Rakha menghentikan mobilnya. Untung saja jalanan yang mereka tempuh agak lengang.


" Kalian ke klinik dengan Hania ? " tanya Rakha memastikan


" Iya..dan kami lihat kak Rama dengan..." Vina gak meneruskan kata katanya dan hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Rakha meremas kemudinya dengan keras dan menatap ke depan dengan marah.


" Kami hanya mengantarkan Hania ke rumahnya, dia gak mengijinkan kami untuk menemaninya.. Tetapi siap siap aja, karena kemungkinan kak Herry dan maminya akan datangi rumah kalian menuntut penjelasan.." Jelas Vina


" Sebenarnya ada apa dengan kak Rama..." tanya Vina lagi untuk mencari tahu.


" Hem...aku gak bisa menahannya...mungkin memang Hania bukan jodoh Rama..." Ucap Rakha dengan pelan.


" Kak Rama kena pelet ?" Tanya Vina asal


" Hussh...enggaklah...kadang hati orang itu kan bisa berubah..." Ucap Rakha yang sudah menjalankan mobilnya kembali.


" Apa kakak juga begitu ?" tanya Vina sambil menatap Rakha.


" Kamu cukup percaya saja sama aku.." Ucap Rakha


" Hania juga percaya dengan kak Rama.." Ucap Vina.


Rakha hanya diam dan terus mengemudi menuju resto untuk dinner dengan Vina.


Tetapi saat mereka sudah disana, malahan mereka berdua tidak berselera makan.


Vina hanya mengaduk aduk makanannya. Rakha menghentikan makanannya dan menatap Vina.


" Kenapa makanannya hanya diliatin ? Dia entar nangis karena gak kamu makan.." Ucap Rakha


" Kak, aku merasa kayak gak enak badan..bisa tolong antarkan aku pulang skarang ?" ucap Vina dengan menatap Rakha sendu.


Rakha meremas tangannya dengan kuat.


" Baiklah..." Ucap Rakha dan langsung berdiri membantu Vina berdiri. Setelah membayar pesanan mereka, Rakha langsung mengantarkan Vina.


Singkat cerita, kini Rakha sudah sampai dirumah, dan datang bersamaan dengan Rama.


Rakha hanya menatapnya garang dan pergi begitu saja.


" Assalamualaikum.." Ucap Rama dan masuk ke dalam rumah.


" Walaikumsalam..." Terdengar suara dari ruang nonton.


" Eh..Rakha, Rama udah pulang... Sini duduk dulu.." Ucap Mami Tia


" Gak mi..Rakha mau ke kamar...capek.." Ucap Rakha dengan malas sambil menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Tiba tiba dia berhenti dan berbalik. Rakha menatap Papi Adipati, Mami Tia dan Rama dengan pandangan tajam.


" Kak Rama, selesaikan urusan kakak secepatnya dengan Hania..putuskan dengan jantan..jangan tinggalkan dia tanpa kata.. Akan kamu rasakan gimana sakitnya ketika dia pergi..Juga, aku gak mau kehilangan orang yang aku sayangi..." Ucap Rakha tajam dan melanjutkan langkahnya ke kamar.


Mereka terdiam dan menunduk sedih. Memang banyak yang akan tersakiti, tapi hanya inilah yang bisa mereka lakukan.


Sedangkan Raina mengurung diri di kamar semenjak pertengkarannya dengan Hendra. Hingga saat ini Hendra belum menghubunginya sama sekali. Pesan dan telepon Raina juga tidak pernah dibalas.


Tok...tok..tok..


Terdengar ketukan pintu. Rama berdiri dan menuju ke pintu untuk membukanya.


Rama kaget didepannya ada Mami Naya dan Herry yang sedang menatapnya tajam. Mereka terlihat sangat marah tetapi masih menahannya.


" Kamu tidak persilahkan kami masuk Rama ?" Tanya Mami Naya tegas


" ah..mari masuk tante... Aku panggilkan mami.."


Mami Naya dan Herry masuk tetapi tidak duduk. Mereka hanye berdiri menunggu tuan rumah.


Sedangkan Rama panik. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi. Dadanya bergemuruh.


" Siapa Ram ?" tanya Mami Tia


" Hmm...ada tante Naya dan Herry mi, mau ketemu.." Ucap Rama pelan


Mami Tia dan Papi Adipati saling menatap sedih. Mereka berdiri dan menuju ke ruang tamu untuk menemui tamu yang sudah menunggu mereka.


__ADS_1


__ADS_2