
Ratih menatap mata Randi dan membalas uluran tangan Randi. namun tiba-tiba, mobil meledak dengan api yang sangat besar membuat Nawan yang sembunyi dibalik pepohonanpun kaget bahkan teriak histeris.
"Ratih.. tidak.." teriak Nawan lalu berlutut ditanah dengan tangisan yang menyedihkan.
Nawan sangat terpukul bahkan Paulus hampir pingsan karena Randi juga ada bersama Ratih.
Sedangkan Andrew yang melihat keterpurukan Nawan pun segera meninggalkan TKP tanpa jejak sedikitpun.
*Hailih lu lari dalam kesempitan, pengecut lu Drew* Author kesal.
Disaat mereka semua panik bahkan bingung harus bertindak apa, Tomi yang masih berpikir jernih segera menelpon pemadam kebakaran karena api semakin besar dan hampir melahap sebagian pepohonan.
馃摓"Iya pak tolong kami, cepat pak" ucap Tomi
馃摓"Baik kami segera kesana" balas Komandan damkan.
Tomi menutup telponnya dengan pemadam kebakaran dan langsung menelpon polisi juga untuk membantunya mencari Ratih dan Randi yang masih belum terlihat batang hidungnya.
...****************...
Tidak lama kemudian pemadam kebakaran sudah tiba di TKP dan segera memadamkan api. lalu diwaktu yang sama juga Polisi sudah tiba untuk membantu mereka mencari Ratih dan Randi.
Waktu terus berjalan hingga tengah malam, api sudah padam namun api dihati Nawan belum padam karena Ratih adik semata wayangnya masih belum ditemukan Polisi.
"Bagaimana Pak, apa Adik saya sudah ketemy?" tanya Nawan.
"Maaf Pak, kami sudah menelusuri hutan ini namun kami belum juga menemukan korban" balas Polisi.
"Hah sudah pergi saja kalian, saya bisa menemukan Adik saya sendiri" ucap Nawan kesal.
"Sabar An, lu tidak boleh seperti ini dan jangan bodoh. maafkan teman kami Pak" ucap Tomi
"Tidak apa-apa Nak, kami paham akan hal ini karena biasa sering terjadi" balas Polisi dan melanjutkan pencariannya.
Polisi yang mengerti akan kondisi Nawan hanya memaklumkannya dan melanjutkan pencarian. sedangkan Tomi berusaha menenangkan Nawan.
__ADS_1
"Lu harus sabar An, semua butuh proses" ucap Tomi sambil menepuk pundak Nawan.
"Tidak Tom, tidak mungkin mereka tidak ada disini, jelas-jelas mereka tadi didalam mobil. jika mereka tidak disini lalu dimana?, atau mereka.." ucap Nawan melantur bahkan mikir yang tidak-tidak.
"Sabar An, kita harus berfikir positif, lebih baik kita cari mereka besok sekarang kita kembali kerumah dan lu harus istirahat" ucap Riko menenangkan Nawan.
"Gua tidak akan pergi sebelum Adik gua selamat, dan jikapun tidak, gua ingin melihat jasadnya." balas Nawan.
"An, lu harus sabar istigfar An" sambung Tomi.
"Gua tidak mau kehilangan orang yang gua sayang, kenapa kalian tidak mengerti hah!?" bentak Nawan.
"Kita tau Kak An bagaimana perasaan lu, tapi kita juga harus berfikir positif dan jernih untuk menemukan mereka. lagi pula polisi juga sudah ada disini" ucap Henri.
"Gua juga sayang dengan Adik lu An, namun gua hanya bisa berdoa sambil menunggu waktu untuk bisa menemukan Ratih" ucap batin William.
Butuh waktu lama membujuk Nawan pergi dari TKP, bahkan setelelah polisi mengintrogasi Nawan dan yang lainnyapun tetap saja Nawan tidak ingin pergi dari sana.
Sedangkan Andrew ia sudah pergi bersama teman-temannya sebelum polisi tiba di TKP. bahkan Andrew terlihat puas karena ia menyaksikan sendiri Ratih sudah terbakar api tadi namun karena hal itu juga, ia menjadi depresi karena rasa obsesinya yang tinggi pada Ratih membuat mentalnya terganggu.
...****************...
Nawan yang kaget setengah mati dengan kehadiran orang tuanya hanya bisa menatap mereka heran.
"Apa peduli kalian hah?" tanya Nawan.
"An, ayolah lu harus sopan terhadap orang tua lu" ucap Julio.
"Diem lu!" bentak Nawan.
Julio hanya diam karena ia tahu betul kejamnya Nawan saat marah. bahkan ia bisa mengotori tangannya pada orang yang ia benci.
"Saya bertanya kepada kalian Pak Purnama dan Bu Sari yang terhormat" lanjut Nawan dengan penuh penegasan disetiap ucapannya.
"Kalian adalah Putra-Putri saya, bagaimana bisa saya membiarkan kalian terluka" jawab Pak Purnama.
__ADS_1
"Benar Nak" sambung Bu Sari sambil memegang pundak Nawan.
Nawan segera menepis tangan Bu Sari dan menatap mereka dengan tatapan marah, kesal, dendam bahkan semua hal yang buruk ia tanamkan pada hatinya.
"Kalian tidak usah sok peduli dengan kami, kami bisa mengurus diri kami sendiri dan tidak perlu bantuan kalian sedikitpun. ayo kita cabut" ajak Nawan lalu pergi.
"Permisi Tante dan Om" ucap mereka serentak.
"Cepat!" bentak Nawan yang sudah naik dimotor sportnya.
Mereka segera berlari dan mengikuti jalannya Nawan begitu ngebut membawa motor sportnya, bahkan mobil besar saja ia salib begitu saja hingga ia behenti mendadak karena melihat kerumunan warga.
"An, kenapa berhenti?" tanya Julio.
"Banyak warga berkerumun disana dan sepertinya ada korban tabrakan" jawab Nawan.
"Yasudah ayo kita turun, siapa tahu kita bisa membantunya" sambung Paulus.
Ajukan Paulus disetujui oleh semuanya. lalu mereka segera turun dari motornya dan berhamburan pergi menerobos kerumunan itu dan melihat siapa korban tersebut.
Dan alangkah terkejutnya Nawan melihat korban yang sudah berlumuran darah yang tidak lain adalah wanita yang sangat Familliar baginya.
Nawan lari memangku kepala wanita itu dan berteriak "Kenapa kalian hanya diam?!, cepat panggil ambulan sekarang" teriak Nawan.
Kemudian salah satu warga segera menghubungi salah satu rumah sakit untuk memanggil ambulan ke Tkp.
"Bersabarlah, lu wanita kuat gua yakin itu, lu harus bertahan" ucap Nawan
Nawan begitu khawatir dengan wanita itu, bahkan ia membuka jaketnya untuk menghentikan pendarahan yang luar biasa itu.
Bersambung...
Menurut kalian, siapakah wanita itu?. apakah dia Ratih? atau dia orang lain. kalau mau tau kelanjutannya, jangan lupa tav favorite supaya tidak tertinggal kelanjutan dari cerita Cinta Gadis Broken Home hehe
Oh iya, aku minta maaf ya karena jarang banget up teratur dan rutin馃檹, karena aku masih tahap merevisi karyaku yang tidak lain cerita yang sedang kalian baca ini馃 "Cinta Gadis Broken Home".
__ADS_1
Tapi walau begitu, tetap doakan aku ya supaya cepat selesai revisinya dan bisa rutin lagi untuk melanjutkan ceritanya.馃檹
Tetap dukung aku ya dengan cara Like, Koment dan saran, Vote dan Rate.馃馃