
Setelah Nawan menelpon, Randi mencoba untuk memantapkan tekadnya lagi untuk menuruti Ayah nya untuk melanjutkan sekolah di jerman.
"Bagaimana dengan penawaran Appa Ran?" tanya Pak Pratama sekali lagi.
"Akan ku pikirkan, sekarang aku harus pergi. permisi" ucap Randi lalu pergi begitu saja.
"Permisi ya Om, woy ayo Pau" ajak Henri.
"Keras kepala" celetuk Pak Pratama lalu duduk santai di kursinya.
Randi segera pergi dari hadapan Ayah nya karena ia sudah sangat muak dengan semuanya, lalu memutuskan untuk segera menemui Ratih.
Disisi lain, Ratih yang hendak tidur kini terbangun dengan teriakan histeris dari mulutnya.
Nawan dan yang lainnya segera membuka mata daro tidur mereka karena kaget dengan suara histeris Ratih.
"An, ada apa dengan Ratih? " tanya Tomi dengan panik.
"Gua akan melihatnya" ucap Nawan yang langsung masuk kedalam.
Didalam Ratih sudah duduk sambil melipat kedua kakinya dan menutup kupingnya, entah apa yang membuatnya histeris sampai sebegitunya.
"Dek kenapa dek? " tanya Nawan yang langsung memeluk tubuh Ratih.
"Gua mau pergi saja Kak, disini banyak sekali orang jahat. gua gak mau dilecehkan dan di maki-maki lagi, gua capek Kak" ucap Ratih yang histeris ketakutan dipelukan Nawan.
"Semua akan baik-baik saja Dek, lu tenang ya tenang" ucap Nawan sambil mengelus rambut Ratih.
"Gua mau ketemu Randi dan pergi Kak, gua gak mau lagi disini ayo Kak kita pergi!" ajak Ratih yang kini mulai melepas pelukan Nawan.
Nawan melepas pelukannya dan membiarkan Ratih beranjak melangkah sambil menggandeng tangan Nawan yang kini mulai meneteskan air matanya.
"Ya Allah, tolong sembuhkan Ratih. kuatkan dia dan berikan dia ketegaran" ucap batin Nawan.
Namun, disaat Ratih sudah membuka pintu. Tiba-tiba langkahnya terhenti karena dihadapannya sudah ada Randi.
Cepat sekali Randi sampai, karena jarak sekolah dan rumah sakit dimana Ratih dirawat itu sangatlah dekat. apalagi bagi Genk motor, jalanan gak ada apa-apanya karena itu memang sudah makanan sehari-harinya.
"Mau kemana?" tanya Randi dengan dingin.
"Kak ini Randi?" tanya Ratih yang kini menoleh kepada Nawan.
"Iya Rat, dia Randi." jawab Nawan.
__ADS_1
"Bisa gua bicara dulu sama Randi kak?, baru kita pergi?" ucap Ratih meminta izin.
"Baiklah, tapi lepaskan tangan gua dulu" ucap Nawan.
Ratih pun melepas tangan Nawan, lalu Nawan langsung mengecup kening Ratih dan melangkah kedepan. Namun langkahnya berhenti saat sudah berada disamping Randi.
"Hem" dehem Nawan.
"Iya Kak, maaf gua gak bermaksud" ucap Randi yang terhenti.
"Bicaralah dulu dengan Ratih, tapi lu jangan tekan dia sehingga depresinya semakin jadi, paham lu? " ucap Nawan.
"Baiklah Kak, gua mohon izin ya" ucap Randi.
Nawan pun mengangguk dan pergi meninggalkan Ratih dan Randi didalam. berdua.
Suasana menjadi hening, lalu Randi meggenggam tangan Ratih dan menuntunnya duduk kembali di brangkar.
"Ratih, kenapa nakal? " tanya Randi dengan lembut sambil mengelus rambutnya.
"Gua sudah gak kuat Ran, gua mau pergi jauh untuk bahagia lu juga" jawab Ratih.
"Lu gak perlu pergi kemana-mana Rat, karena gua besok akan pergi ke jerman untuk melanjutkan sekolah dan kuliah" ucap Randi.
"Kenapa begitu?, gua gak mau lu ke jerman. gua mau lu disini" balas Ratih.
Ratih hanya tertawa kecil dan memegang tangan Randi lalu menggenggamnya sambil menatap mata Randi dengan sayu dan sendu.
"Ran, gua gak mau Ayah lu merestui kita dengan syarat. karena cinta itu datang dari hati dan tanpa syarat" ucap Ratih dengan senyuman indahnya.
"Tapi Rat" ucap Randi terhenti oleh Ratih.
"Jika memang Ayah lu bahagia dengan cara gua menjauh dari lu, maka gua akan menjauh dan membiarkan lu bahagia dengan senyuman indah yang akan terukir juga di wajah Ayah lu" ucap Ratih dengan tegar tanpa rasa sedih.
"Kalau lu pergi maka gua pun akan pergi Rat, karena kalau gua disini lu di lain tempat ya buat apa?, semua percuma" ucap Randi.
"Semua gak akan percuma Ran, lu Pria yang sempurna Ran, bahkan lu punya segalanya dan terjamin masa depannya. beda dengan gua yang tiada arah didikan maupun masa depannya. kalaupun gua pergi, lu pasti akan cepat mendapat pengganti dan hidup bahagia selamanya" ucap Ratih menasihati Randi.
"Gua gak mau dengan siapapun Rat, karena gua cuma mau lu bukan yang lain." balas Randi yang keras kepala.
"Sudahlah Ran, lebih baik lu pulang sekarang dan biarkan gua pergi" ucap Ratih yang menahan tangis.
Randi langsung memeluk Ratih dan mengecup pucuk kepalanya, dan Ratih juga membalasnya sambil mengelus punggung Randi.
__ADS_1
"Kita akan pergi bersama dan hidup bersama Rat, gua gak akan meninggalkan lu ataupun pergi tanpa lu" ucap Randi.
"Kita gak bisa bersama Ran, Ayah lu gak setuju dengan kedekatan kita apalagi kita mempunyai hubungan lebih" jelas Ratih.
"Tapi Amma merestui kita Rat, dan itu sudah lebih dari cukup untuk gua" ucap Randi.
"Tapi Ran" ucap Ratih yang terhenti oleh Randi.
Tanpa pikir panjang, Randi langsung melepas pelukan itu lalu memberikan kecupan yang begitu lama di bibir sexy Ratih dan melepasnya.
"Kita akan hidup bahagia Rat, jika lu pergi maka gua pun pergi. lu mau kan hidup susah senang dengan gua?" tanya Randi lalu mengelus pipi Ratih.
Ratih hanya mengangguk namun ia melepas tangan Randi dan mengecup kedua tangannya.
"Gua mau kita bahagia dan hidup bersama tapi nanti, setelah gua selesai sekolah dan kembali dengan restu Appa lu yang ikhlas tabpa pamrih. " ucap Ratih yang masih teguh dengan keputusannya.
Seketika Randi hanya bisa terdiam membisu, karena ia sadar kalau memaksa itu adalah hal yang tidak baik.
"Pulanglah Ran, kasihan Amma lu pasti khawatir di rumah" titah Ratih.
"Baiklah Rat, tapi kabari gua jika lu sudah mau berangkat ke LN ya" ucap Randi.
"Tentu" balas Ratih sambil tersenyum.
Setelah itu, Randi memeluk Ratih lagi dan melepasnya dengan senyuman dan rasa yang campur aduk.
"Gua pamit ya Rat, dadah" ucap Randi lalu pergi.
Ratih pun tersenyum sambil menahan rasa sakit dan sesak didadanya, pusing dikepalanya, bahkan hidungnya sudah mulia mimisan.
Setelah itu Ratih menekan bel darurat didekat brangkar dan pingsan tak sadarkan diri.
Randi, Nawan dan yang lain langsung panik ketika suara bel serta para awak medis langsung berlarian ke ruang ICU.
"Ran kenapa Ratih? " tanya Nawan dengan khawatir.
"Gua gak tau Kak, tadi Ratih baik-baik saja" balas Randi yang khawatir juga.
"Dok ini ada apa?" tanya Nawan pada Dokter.
"Pasien tidak sadarkan diri dan nafasnya pun kembali tersenggal, kalian tidak usah khawatir., kami akan bekerja semaksimal mungkin" ucap Dokter lalu menutup pintu ICU.
...****************...
__ADS_1
Baik, segitu saja episode kali ini 馃槆 Author tutup dan jangan lupa di fav aja love nya biar gak ketinggalan ceritanya Cinta Gadis Broken Home.
Setelah di fav, jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, koment, rate dan vote jika anda suka dan jika tidak suka pun tidak apa-apa karena Author tidak memaksa馃榿.