
Hingga akhirnya Nawan sampai dirumah sakit lalu langsung bergegas pergi, karena kecerobohan dia, ia sampai tersandung lalu jatuh.
"B**o, ngapain lu disini!" bentak Nawan pada batu.
"**Hilih batu aja lu bentak bang😇, orang bukan serem liat lu karena pimpinan genk malah serem karena lu demwn marahin apapun walau itu bentak mati. astoge.." celetuk Author.
"Diem lu Dek, dah lu fokus lanjut aja dari pada gua pecat dari sepupu" balas Nawan.
"Eh iya iya hehe, yuk next dan jangan lupa like, koment, vote hadiah, dan rate kabur" teriak Author.
Dan Author langsung kembali fokus menulis karena takut dengan Nawan sang sepupu brokokok wkwkw. Next kembali kecerita gaes**..
Setelah memarahi batu yang diam tidak bernyawa haha, Nawan pun segera melanjutkan langkahnya.
...****************...
Tidak lama kemudian Nawan membuka pintu ruang rawat yang didalamnya terdapat Rosa yang tengah makan siang sendirian.
"Hallo Ros, boleh gua masuk?" tanya Nawan.
"Silahkan An, masuklah kedalam tidak perlu izin juga tidak apa-apa" ucap Rosa dengan riang gembira.
"Lu lagi makan, alhamdulillah cepat sembuh ya" ucap Nawan lalu duduk dikursi.
"Bagaimana, Ratih sudah ketemu?" tanya Rosa.
"Sudah Ros, dia sekarang ada dirumah Randi. nanti gua akan kesana tapi setelah gua memastikan kalau lu baik-baik saja" jawab Nawan.
"Gua baik-baik saja ini hanya luka kecil, lu tidak usah khawatir An, lebih baik lu kerumah Randi dan temui Ratih" ucap Rosa.
"Keadaan lu tidak ada baik-baiknya sama sekali Ros, mau sekuat apapun lu bohong sama gua, trik itu tidak akan mempan" balas Nawan dengan wajah datarnya.
Rosa hanya terdiam dan menaruh mangkuk bubur itu di nakas, lalu memegang tangan Nawan dan menatapnya.
"Mau bagaimanapun juga, Ratih adalah Adik lu An. dia lebih penting dibanding gua yang bukan siapa-siapa lu. jadi temuilah dia, pasti dia akan bahagia melihat lu" ucap Rosa.
Nawan menatap Rosa dan tersanjung melihat kebaikan dan kelembutan hatinya. hingga tiba-tiba jantungnya berdetak begitu kencang menandakan bahwa benih cinta sudah mulai tumbuh dihati Nawan.
"Oh ya An, aku baru sadar.. ini wajah lu kenapa?" tanya Rosa yang fanik.
Rosa menatap wajah Nawan yang penuh luka lebam dimana-mana. lalu menekan tombol di dekat brangkar dan datanglah Suster untuk memeriksa keadaan Pasiennya.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya Suskter.
"Iya Sus, hehe maafkan saya karena merepotkan anda . bisakah saya rawat dirumah saja?" tanya Rosa.
"Keadaan anda masih belum pulih Mbak, biarlah dirawat dulu supaya cepat sehat" jawab Suster.
"Iya Ros, kok lu malah bilang gitu. ada apa?" tanya Nawan.
__ADS_1
"Gua mohon" ucap Rosa.
"Baiklah Sus" ucap Nawan sambil memberikan kartu namanya dan melepas infus ditangan Rosa.
Setelah itu, Nawan menggendong Rosa ala bridal style dan melangkahkan kakinya. namun sebelum itu, ia menghentikan langkahnya dan mengucapkan sepatah kata demi kata.
"Tolong sampaikan kepada salah satu Dokter dirumah sakit ini yang bernama Dion Prajasa untuk segera kerumah Pratama lalu berikan kartu nama saya untuk bukti bahwa saya sendiri yang memintanya datang, terimakasih Sus saya permisi dulu" ucap Nawan lalu melangkahkan kakinya lagi.
Rosa yang melihat wajah Nawan dengan dekat hanya tersenyum lalu senyuman itu dibalas dengan tatapan mata Nawan yang sayu tidak seperti biasanya yang tajam bahkan menakutkan.
"Terimakasih An" ucap Rosa.
"Yang penting lu senang" ucap Nawan lalu meluruskan pandangannya lagi.
Rosa kembali diam dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Nawan. setelah itu Nawan keluar dari rumah sakit dan menurunkan Rosa diatas jok motor sport nya.
"Tunggu sebentar" ucap Nawan.
"Lu mau apa?" tanya Rosa.
"Bawel, tinggal tunggu doang hilih" jawab Nawan lalu menjauh dari Rosa dan mengambil ponsel genggamnya.
Rosa hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tingkah laku Nawan yang seperti orang sedang menelpon dengan serius.
Di sisi lain..
Tomi, Tiga semprul, Paulus dan Henri sudah tiba dan disambut dengan tenang oleh satpam yang memang sudah mengenal Paulus dan Henri, lalu mereka memarkirkan motor sportnya dan menghampiri Satpam itu.
"Hilih lu pau kuta kutu mulu, belum aja lu gua tebas kepalanya." balas Henri.
"Hehe ... sudah-sudah Tuan, kalian ini kalau bertemu pasti bertengkar terus. Tuan muda ada didalam dengan teman perempuan dan Nyonya besar" sambung Satpam.
"Baik pak, terimakasih.. ayo pau!" bentak Henri yang sudah duluan.
"Lah ditinggal.. makasih ya pak hehe" ucap Paulus sambil berlari mengikuti Henri dan yang lainnya.
Paulus mengejar Henri dan yang lainnya yang memang langkahnya aduhay aduhay gitu kan ahaha. sesampainya didepan rumah, Henri langsung menekan bel pintu dan dibuka langsung oleh Art disana.
"Eh Tuan Henri dan Pau, silahkan masuk" sapa Art.
"Terimakasih Mbok" balas Henri.
"Ayo kita masuk tidak usah malu-malu, anggap aja rumah sendiri hehe" ucap Paulus lalu mengajak mereka masuk.
Tomi dan Tiga semprul hanya mengikuti mereka dan melihat sekeliling rumah Nawan yang banyak sekali berbagai lukisan yang hampir ada disetiap sudut rumah Pratama.
"Hen, si Randi suka ngoleksi ginian?" tanya Julio sambil melirik kekanan dan kiri lukisan demi lukisan.
"Oh Biasa lah, Papahnya dia yang ngoleksi. mana mau tuh bocah ngoleksi ginian kan lu tau sendiri dia bagaimana" jawab Henri.
__ADS_1
"Eh iya juga ya haha" sambung Julio.
Henri hanya tertawa kecil melihat kepolosan Julio laku bertanya pada Art tentang Randi.
"Mbok, Randi dimana?" tanya Henri.
"Di ruang rawat dilantai atas Tuan, mari saya antarkan' jawab Art.
"Tidak usah Mbok nanti merepotkan, permisi ya Mbokk ucap Henri dan berlalu.
"Permisi Mbok" ucap Paulus, Tiga semprul dan Tomi dengan serentak.
Art itu hanya tersenyum dan berlalu pergi kedapur untuk menganbilkan camilan dan membuat Jus mangga untuk mereka.
...****************...
Sesampainya mereka didepan pintu ruangan tersebut. Paulus mengetuk pintu namun tidak ada yang membalas atau membukakan pintu tersebut.
"Lah tub anak berdua lagi apa didalam ya kenapa tidak ada yang menyahut" ucap Paulus.
"Sabar, coba ketum lagi" ucap Tomi.
"Gua saja yang ketuk" sambung Riko dan mengetuk pintu.
"Woy Ratih buka lu jangan mojok didalem" teriak Julio.
Ratih hanya tersenyum didalam bersama Randi. mendengar suara yang sangat familliar itu, ya suara khas si Julio siapa lagi yang suka buat onar dan polos selain dia kan.
"Mereka sudah tiba, ayo kita sambut" ucap Randi dan mulai beranjak.
"Jangan" cekal Ratih sambil memegang tangan Randi.
Randi menoleh "kenapa?" tanya Randi.
Ratih menarik tangan Randi sehingga ia terduduk kembali, lalu membisikkan sesuatu pada Randi.
"Lu mengerti kan?" tanya Ratih.
"Siap" jawab Randi.
Bersambung..
Nah kan mulai tebak-tebakan lagi pasti nih haha, kira-kira apa yang direncanakan Ratih sehingga Randi setuju yak?🤔entah hehe..
Kalau mau tau jawabannya, jangan lupa tav favorite supaya tidak tertinggal kelanjutan dari cerita Cinta Gadis Broken Home hehe
Oh iya, aku minta maaf ya karena jarang banget up teratur dan rutin🙏, karena aku masih tahap merevisi karyaku yang tidak lain cerita yang sedang kalian baca ini🤗 "Cinta Gadis Broken Home".
Tapi walau begitu, tetap doakan aku ya supaya cepat selesai revisinya dan bisa rutin lagi untuk melanjutkan ceritanya.🙏
__ADS_1
Tetap dukung aku ya dengan cara Like, Koment dan saran, Vote dan Rate.🤗🤗