Cinta Gadis Broken Home

Cinta Gadis Broken Home
Bab 45


__ADS_3

Tiga bulan sudah terlewati. Persiapan pernikahan Rama dan Hania sudah rampung sekitar 70%.


Pekerjaan mereka juga makin sibuk saat ini, karena ditambah dengan pembukaan " KLINIK UNTUK SEMUA " akan segera dibuka.


Selain lekerjaan utama masing masing, Rama dan sahabatnya fokus dengan pembukaan klinik ini. Hania dan sahabatnya juga cukup membantu. Vey dan Vina membantu menyebarkan keberadaan akan klinik ini supaya bisa menjangkau orang orang yang kurang mampu.


Tenaga kesehatan juga sudah di rekruit untuk membantu Rama dan sahabatnya menjalankan klinik ini. Para dermawan juga sudah banyak menyumbangkan dana bagi klinik ini.



" Kenapa wajah lo kayak belom di setrika Han ? " Tanya Vey yang heran hari ini wajah Hania kusut banget.



" Bad mood Han?" Tanya Vina lagi.



" Maklum aja, udah seminggu gak ketemu dengan calon suami.." Sierra yang menjawab



" Yaelah...itu kan tetangga, kalo kangen yah tinggal samperin tuh rumah..gak ada yang bakal usir lo koq..." ucap Vey



Hania hanya mencebik dan membuat wajahnya makin cemberut.



" begini nich kalo udah deket dekat mau nikah, pasti bakal banyak godaan dan masalah.. Dan biasanya inti dari masalah datang tuh dari mereka sendiri.." ucap Vina



" Bener Han..sodara gw sampe batal nikah karena mereka bertengkar hanya karena masalah dasi cobak.." seru Sierra



" Lo pada koq bikin gw makin takut yah...gak ada yang bisa hibur gw kah?" Keluh Hania



" Bukannya gak mau hibur lo, tapi skarang lo harus pake logika jangan pake perasaan...ntar kalo malam pertama baru lo pake perasaan...hahahaha.." Ucap Vey



" Hush tuh mulut..pinter aj.." Ujar Vina sambil ikut tersenyum



" Gw gak tahu kenapa tiba tiba merasa aneh... Akhir akhir ini Rama sering gak balas pesan gw...Telpon juga jarang diangkat...Kalo pun diangkat buru buru banget...menurut lo gimana?" Ucap Hania sendu



" Hmm..kalo kata Reza mereka sih lagi sibuk dengan klinik. Kita kan gak bisa bantu 100%, sedangkan mereka walaupun sibuk bisa dengan kapan saja kesana..." Ucap Sierra.



" Tapii..gw ingat sesuatu deh..." Kata Vina



" Lo dua minggu lalu ada ketemu Rama gak?" tanya Vina



" Gw sebulanan ini hanya ketemu pas fitting baju...itu pun Kak Rama langsung pergi..trus pas pilih undangan...masih sempat makan siang bareng...Setelah itu gak lagi.." Jawab Hania dengan lesu



" Nah, waktu itu weekend, akutuh lagi nongkrong di cafe deket dengan klinik bareng sepupu gw... Gw liat ada kak Rama disana juga, sama cewek mungkin seumuran kita juga...terus.. Han..Han...koq lo nangis..." Ucap Vina panik karena tiba tiba melihat Hania yang sudah berlinang airmata.

__ADS_1



Sierra memeluk Hania dan mendelik ke arah Vina supaya diam.



" Jangan cemas Han, gak mungkin kan kak Rama begitu.. Mending kamu tanya dia deh..." Ucap Vey dengan menatap Hania sendu.



Bagi mereka, semenjak persahabatan mereka terjalin, baru kali ini Hania menangisi laki laki, karena dia sangat menutup hatinya dengan mahluk yang bernama laki laki.



" Aku sudah salah membuka hatiku..hik..hiks... Harusnya aku tidak jatuh dalam pelukannya.. Hiks..hiks...Kalo memang seandainya tidak mau meneruskan ini, harusnya dia menyelesaikan urusannya denganku dulu, bukan? Aku akan merelakannya koq..hiks.." Hania menangis sesenggukan karena akhirnya dia bisa melepas semua beban yang dia rasakan saat ini.



Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Orang itu hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia pun langsung berbalik menuju ke ruangannya, melupakan tujuan awalnya.



Dia menuju ke ruangan bosnya dan membuka pintunya dengan kasar tanpa mengetuknya terlebih dahulu.



Didalam ada mami Tia, Papi Adipati, Rakha dan Raina, mereka terlonjak kaget karena melihat Hendra menahan amarah.



" Loe koq jadi gak sopan gini??!! " Ucap Rama dingin



Hendra hanya menatapnya marah dan berbalik lagi..tiba tiba dia berhenti dan berbalik menatap Raina dengan sendu. Raina bingung dengan tatapan Hendra.




Hendra seolah olah murka dan tidak peduli lagi. Terserah mereka mau pecat silahkan saja. Dia membereskan mejanya, dan mengambil kotak kosong yang ada di ruangan itu dan memasukkan barang barang pribadinya.



Tiba tiba pintu ruangannya terbuka, Raina masuk dan menutup pintu kembali.



" Kak, kamu kenapa ? Apa yang membuatmu seperti ini?" Tanya Raina



Hendra masih diam dan membereskan barang barangnya.



" KAKKKK...jangan diemin aku...aku salah apa.." Raina berteriak karena kesal Hendra mengabaikannya.



Setelah Hendra beres dengan barang barangnya. Dia menatap Raina dengan dalam tapi ada kekecewaan disana.



" Raina... Aku masih gak ngerti dengan pemikiran keluarga kalian.. Begitu gampang membuang orang.." Kata Hendra



" Maksud kakak apa?" Tanya Raina bingung


__ADS_1


" Hania.. Apa kalian lupa dia siapa? Apa sebenarnya yang terjadi? Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan? Dan kalian tega buat anak orang menangis??!! " Hendra mengatakannya dengan lantang



Raina terkejut dan diam. Dia menatap Hendra sendu dan berkaca kaca.



" Kamu seorang wanita juga Raina.. Apa kamu tidak bisa merasakan bagaimana perasaannya ? Katakan pada keluargamu..selesaikan urusan Rama dengan keluarga Hania secepatnya..Baru kalian melanjutkan rencana kalian yang aku gak tahu apa itu.. " Hendra mengangkat barangnya dan meninggalkan Raina yang sudah menangis.



" Hiks..hiks...belum saatnya kalian tahu yang sebenarnya..biarlah kalian membenci kami...tapi kami harus melakukannya..maaf Hendra..Maaf Hania...hiks..." Raina menangis sesenggukan dan kembali ke ruangan Rama.



Lantai itu saat ini kosong, karena Anin yang sedang diutus Rama meeting dengan klien karena dia tidak bisa hadir.



" Kenapa sayang" tanya mami Tia yang melihat Raina masuk dengan menangis



" Kak Hendra marah mi..hiks.. Dia meminta untuk segera selesaikan urusan kak Rama dengan Hania dulu, baru melanjutkan rencana kita..hiks..aku sedih mendengar Hania menangis..." Ucap Raina sesnggukan



Rama menutup matanya dan bersandar ke kursi kebesarannya.



Mami Tia juga sudah berkaca kaca. Papi Adipati langsung memeluk mami Tia, karena dia tahu bagaimana sedihnya mami Naya dan Hania nantinya.



Sedangkan Rakha hanya menunduk. Dia tahu ketika Vina mengetahuinya, bukan tidak mungkin Vina pasti akan berpihak dengan Hania dan akan meninggalkannya.



" Hania..maaf..tunggulah sebentar..." Batin Rama



" Aku gak mau yah pi, Hendra ninggalin aku karena masalah ini... Aku sudah bilang kan..beritahu mereka yang harus tahu...jangan diam.. Kakak lupa kalo Hania punya luka batin dengan papinya? Aku yakin, dia akan melepas kakak dan gak akan pernah percaya lagi dengan yang namanya laki laki.. Walaupun semuanya berjalan dengan mulus, tetapi lukanya akan sangat sulit disembuhkan karena kepercayaannya pada kita semua hancur...hiks...mami.. tante Naya akan membenci mami..." Ucap Raina masih dengan menangis



" Naya...maafkan aku...hiks..hiks..papii..apa kita sangat kejam?" ucap mami Tia



" Tentu mi..." Ucap Rakha dan berdiri.



" Aku pulang duluan..." Rakha salim ke mami dan papinya.



" Aku ikut Kha.." Ucap Raina yang mengikuti Rakha sampai lupa salim.



" Fiuhhh...ini memang berat Ram... Tapi tidak ada jalan lain..semoga akan tepat waktu.." Ucap papi Adi.



Rama hanya diam dan sedang membayangkan wajah Hania yang sedang menangis. Hatinya perih dan sakit hanya dengan membayangkannya. Sampai papi Adi dan Mami Tia beranjak pulang, Rama masih melamun.


__ADS_1


__ADS_2