Cinta Gadis Broken Home

Cinta Gadis Broken Home
Bab 50


__ADS_3

MASIH FLASHBACK


Setibanya di rumah sakit terdekat, Raina langsung mendapatkan perawatan dari dokter dan tenaga medis yang ada di RS tersebut.


Papi Adipati berdiri di depan IGD dengan cemas. Sedangkan dia sedang memikirkan mengenai saudara kembar Raina.


Beberapa guru dari pihak sekolah datang ke RS tersebut untuk mencari kabar mengenai Raina dan Raisa.


" Maaf pak atas kelalaian kami..." Ucap ketua rombongan sekolah tersebut.


" Simpan dulu kata maaf kalian..." Ucap Papi Adipati dengan dingin tanpa melihat ketua rombongan itu. Karena pikiran sedang kalut, cemas sudah bercampur aduk.


Drrt...drrt..


Ponsel Papi Adipati berbunyi dan terlihat asistennya menelepon.


" Hem.."


" Maaf pak, saya sudah kerahkan orang orang kita, dan mengecek cctv yang berada di daerah tersebut. Sudah ada beberapa nomor plat mobil yang kita dapatkan, dan saat ini sedang di periksa di kepolisian.. "


" Perhatikan semua hal hal kecil, jangan diabaikan..." Ucap Papi Adipati


" Baik pak..."


Tuut..tuut.


Asisten Papi Adipati memutus sambungan telepon tersebut.


Drrt...drrt..


Ponsel Papi Adipati berbunyi lagi. Kali ini anaknya Rakha yang menghubunginya.


" Halo.."


" Pi... Gimana?" Ucap Rakha dengan nada kuatir di seberang sana.


" Raina masih di IGD, Raisa belum diketemukan..." Ucap Papi Adipati dengan lemah.


" Pi.. Aku dan mami mau menyusul kesana besok pagi pagi sekali...kak Rama sepertinya tidak bisa kesana secepatnya, tetapi dia juga sedang berusaha sulaya bksa kesana... " Ucap Rakha


" Pi, apa ada musuh bisnis papi yang ada di


Bali ? " Tanya Rakha lagi


" Seingatku tidak..tetapi aku akan buat perhitungan dengan mereka jika itu benar.."


Terlihat dokter dan perawat keluar dari IGD.


" Nanti lagi, papi mau bicara dengan dokter.."


Tutt


" Bagaiman keadaan anak saya dokter ?"


" Kita bicarakan diruangan saya, mari..." Ajak dokter dan segera menuju ke ruangannya.


Polisi menempatkan beberapa personilnya untuk berjaga jaga di RS atas permintaan Papi Adipati. Bukan hanya polisi, tetapi juga dari anak buah Papi Adipati.


Kini Papi Adipati sudah duduk di ruangan dokter yang menangani Raina.


" Saya atas nama pihak RS turut prihatin apa yang menimpa dengan putri bapak... Dan sekarang putri bapak sudah di periksa menyeluruh dan sudah diberi obat. Tetapi dia sedang dalam keadaan syok. Dia tidak bisa mengingat kejadian sebelumnya. Ingatannya hanya sampai ketika taksi mogok dan mereka menumpang mobil seseorang...menurutnya pasti mereka berdua kenal baik dengan orang ini, tetapi dia tidak bia mengingat siapa...seperti samar samar gitu.."


Papi Adipati menghembuskan nafasnya kasar dengan mata terpejam.


" Putri anda tidak mengalami kekerasan. Luka luka di badannya adalah luka seperti terkena benturan. Kalo menurut penglihatan saya, lukanya seperti dilemparkan dari mobil.


" Ya Allah..." Papi Adipati menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menunduk. Hatinuy sakit mendengar apa yang menimpa putri tercinta dia.


" Dukungan dari keluarga yang terpenting saat ini... Dia pasti sangat bersedih apalagi dari yang saya dengar, kembarannya belum di temukan... " Tutur dokter dengan iba.


" Baik dokter..mohon lakukan apa saja untuk putri saya.." Ucap Papi Adipati


" Itu sudah pasti pak..kami akan lakukan yang terbaik.."


" Apakah saya sudah bisa menemui putri saya ?"


" Sudah bisa pak, tetapi tolong jangan dipaksakan jika dia belum mau berbicara...karena takutnya kondisi dia makin lama pulihnya.."


" Baik dokter..terima kasih.." Ucap Papi Adipati sambil berdiri dan keluar dari ruangan itu menuju ke IGD di RS tersebut.


Papi Adipati masuk dan melihat putrinya dengan luka di tangan dan sedikit di wajah.


Tetapi dihatinya masih kuatir atas keberadaan Raisa.


Papi Adipati menggenggam tangan Raina dan menciumnya. Raina yang merasakan tangannya digenggam membuka matanya.


Air matanya turun di pipinya.


" Papi..." Lirih Raina


Papinya mengangkat wajahnya dan melihat putrinya yang sedang menatapnya dengan air mata berlinang.


" Iya nak..yang mana yang sakit ?"


" Raisa...hiks..hiks..."


" Kita berdoa yah semoga Raisa bisa segera ditemukan tanpa kurang apapun.." Ucap Papi Adipati dengan lembut.


" Papi...hatiku gelisah pi..hatiku terasa sakit...Raisa pasti sedang kesakitan pi...hiks hiks.." Tangis Raina karena di merasakan perasaan yang tidak enak. Mungkin karena kontak batin dengan saudara kembarnya, apa yang dirasakan Raisa, diapun bisa merasakannya.


" Tidak apa apa sayang...kita panjatkan doa supaya Raisa segera kembali..." Ucap Papi Adipati dengan mencium tangan Raina.

__ADS_1



Sedangkan di hotel tempat semua siswa menginap sedang terjadi kehebohan atas yang menimpa Raisa dan Raina.



Semua diminta segera masuk ke kamar masing masing. Semua tidak diperbolehkan keluar hotel lagi. Polisi juga ada yang berjaga di sekitar hotel atas permintaan beberapa orangtua yang berpengaruh untuk menjaga anak anak mereka.



Pada pukul 4 pagi, terlihat Ricko dan Kiky masuk hotel.



Mereka langsung menuju lift untuk menuju kamar mereka. Kiky masuk dengan mengendap ngendap takut teman sekamarnya terbangun.



Kiky segera masuk ke selimutnya dan memejamkan matanya. Tanpa dia sadari, teman sekamarnya belum tidur karena ketakutan dia hanya sendiri dikamarnya.



" Darimana dia...kenapa kamar jadi bau begini..." Batin teman sekamar Kiky tetapi dia tidak terlalu peduli dengan itu.



Sedangkan Ricko, saat dia baru mau memasuki kamarnya ada seseorang yang menyapanya.



" Baru pulang pak ?"



" Ya Allah.." Ucap Ricko dengan mengelus elus dadanya karena kaget



" Kenapa pak? Bapak baru pulang...trus koq berkeringat banget..." Ucap rekan gurunya



" Oh..tidak apa apa..tadi saya berlari masuk hotel.." Ucaonya



" Oh begitu...bapak sudah tahukan kabar mengenai Raina dan Raisa ?"



" Tadi saya sudah dengar...makanya saya keluar sebentar untuk cari angin.." Ucapnya




Ricko masuk kamarnya dan segera mandi karena sudah merasa sangat gerah.



Pagi pagi sekali Mami Tia dan Rakha sudah tiba di RS dimana Raina dirawat.Sedangkan mami Tia menangis sepanjang perjalanan karena kuatir dengan Raisa.


Rakha hanya bksa menenangkan Mami Tia dan memintanya untuk terus berdoa.


cklek


Pintu kamar itu terbuka dan terlihat Papi Adipati yang tertidur di kursi samping ranjang Raina dengan menggenggam tangannya.


Raina membuka matanya dan melihat maminya ada di ruangan itu bersama kakak keduanya.


" Mami...hiks..hiks. "


" Sayang..hik..hiks.." Mami Tia menhampiri Raina dan memeluknya denganberat.


" Mami... Raisa..huhuhu.." katanya dengan menangis sesnggukan.


" Ssssst..Raisa pasti segera ketemu.."


Papi Adipati terbangun karena mendengar suara didalam kamar itu.


Dia berdiri dan Rakha menghampirinya juga langsung memeluknya. Mungkin karena dia laki laki, jadi berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis.


" Mami, aku bermimpi Raisa menangis...dia terlihat sangat tersiksa mi..huhuhu..dan..dan...dia bilang.." Sakit..sakit...aku gak kuat...huhuhuhu...terus Raisa berpamitan mami...huaaa..." Raina menangis histeris karena dia merasa sesuatu yang buruk menimpa saudara kembarnya.


" sssst...itu hanya mimpi...yakinlah semua baik baik saja...Raisa anak yang kuat..kalian putri mami yang kuat...mari kita sholat dan berdoa supaya Allah melindunginya...hiks.."


Mami dan Raina berpelukan dan masih sambil menangis.


Drrt...drrrt...


Ponsel Papi Adipati berbunyi dan terlihat asistennya menghubunginya.


" Halo.."


" Pak... Polisi sudah menghubungi saya, katanya mereka menemukannya dan sedang menuju ke RS yang sama dengan bapak berada sekarang...Saya juga sudah menuju kesana.." Ucapnya


" Alhamdulilah...baik trima kasih..."


Papi Adipati memutuskan sambungan telponnya.


" Raisa sudah ditemukan..." ucap Papi Adipati dengan lega

__ADS_1


" Alhamdulilah..." Mami Tia dan Rakha mengucapkan syukur tetapi tidak dengan Raina. Dia merasakan sesuatu yang buruk.


" Kalo begitu papi ama Rakha akan menunggu di depan. Mami temani Raina yah..." Ucap Papi Adipati


Mami Tia mengangguk tanda setuju.


Beberapa waktu kemudian, terlihat mobil ambulance memasuki area RS dan langsung diparkirkan di depan IGD.


Para perawat dan dokter jaga terlihat menyambut pasien dengan brankar yang sudah mereka siapkan.


Papi Adipati dan Rakha tidak bisa melihat jelas karena langsung dimasukkan ke dalam untuk mendapatkan perawatan. Akhirnya mereka menunggu di depan pintu IGD.


Asisten Papi Adipati juga sudah tiba di RS. Dia langsung menghampiri atasannya dengan sedikit menunduk.


Seorang petugas polisi berjalan mendekati mereka.


" Apa anda orang tua dari korban ?" tanyanya ke Papi Adipati


" Betul pak...saya papinya.."


" Kami menemukan korban di sebuah gubuk sekitar 3 KM dari lokasi penjemputan saudara kembarnya kemarin.. Dia ditemukan dua orang warga yang hendak ke kebun mereka... Mereka menghubungi kepala desa setempat dan dibantu untuk menghubungi kepolisian..."


" Kami juga harus mendalami kejadian ini, dan memeriksa beberapa saksi...Apakah kami sudah bisa berbicara sebentar dengan putri anda yang satunya ?"


" Tentu pak... Putra saya yang akan menemani bapak..saya mau menunggu putri saya disini saja.."


" Baik kalo begitu pak..."


Rakha mengantarkan petugas polisi tersebut dan membantu berbicara dengan Raina. Sama seperti dengan apa yang dikatakan dokter, Raina melupakan beberapa memorinya khususnya kejadian saat mereka naik ke mobil seseorang. Dokter juga sudah menyarankan untuk menunggu keadaan mental Raina pulih.


" Permisi pak.."


Seorang dokter menghampiri Papi Adipati.


" Ah iya dokter..gimana anak saya?"


" Hmm..keadaannya sangat memprihatinkan dan mengenaskan..maaf..dia..dia adalah korban pemerkosaan setelah itu dia disiksa.." Ucap dokter yang resah karena sedikit marah dengan kondisi korban yang mengenaskan.


" APAAAAA??? Ya Allah..." Papi Adipati berteriak karena syok.


Tiba tiba perawat keluar dari ruang IGD.


" Dokter..dokter... Pasien sudah sadar.."


Dokter segera masuk dan memeriksa keadaan Raisa.


Sedangkan Papi Adipati menelepon Rakha dan menyuruh dia membawa Mami Tia dan Raina untuk menuju ke IGD karena Raisa sudah sadar.


10 menit kemudian dokter keluar dan meminta keluarga mereka masuk untuk menemui Raisa atas permintaannya.


" Tungguuu...."


Rama baru saja tiba dengan berlarian dia akhirnya tiba tepat waktunya.


" Kak..." Ucap Rakha


" Mari masuk..." Ajak dokter


Saat mereka masuk, terlihat segala peralatan medis yang terpasang di tubuh Raisa.


Mami Tia dan Raina kangsung menangis.


Mami Tia membawa Raina untuk menghampirinya.


Raina mengambil tangan Raisa dan menggenggamnya.


" Ica..huhuhu..." Raina terisak


Raisa membuka matanya dan melihat seluruh keluarganya sudah ada disana.


Dia pun menangis melihat saudara kembarnya.


" Syukurlah kamu selamat Nana " Ucap Raisa dengan sedikit berbisik lemah tetapi masih bisa didengar.


Mereka berdua memanggil dengan panggilan sayang mereka. Hanya mereka berdua yang boleh pakai panggilan itu. Mami, papi dan kakaknya pun tidak diperbolehkan memanggil nama itu ke mereka berdua.


" Ica.. Aku takut.."


" ssst... A..a..ku p..per..gi yah...a..a..ku..gak..ku...kuat.." Ucap Raisa yang mulai terbata.


" M.men.de.kat..lah.." Ucap Raisa


Papi Adipati dan Rakha membantu Raina berdiri dari kursi rodanya.


Raisa membisikkan sesuatu.


Raina hanya mengekerutkan dahinya bingung mendengarkannya.


Kemudian Raina duduk lagi dan bergantian berbicara dengan orang tua dan kakak kakaknya.


Saat Rama mencium kening Raisa, tiba tiba Raisa berbisik "Kakak...Ki.....Ky.." tiiiiiiiiiiiitttttt


Tiba tiba alat yang ada didalam ruangan itu berbunyi. Mata Raisa tertutup dan tangannya terkulai lemas.


Mami Tia dan Raina menangis histeris sampai sampai perawat membawa mereka keluar dari ruangan tersebut.


Saat itulah mereka akhirnya kehilangan Raisa.


FLASHBACK OFF


__ADS_1


__ADS_2