
Disebuah rumah mewah kediaman Kiel. Suasana ruang keluarga sangat mencekam karena baru mendapat berita yang mengejutkan. Disitu Newton Kiel dan Anderson Kiel sedang berbincang serius.
"Jangan bilang ayah menjadikan Ramon sebagai tumbal. " Tanya Anderson pada sang ayah mengenai Ramon yang merupakan sepupunya telah hilang saat ingin mengunjungi Keenan di Kota N. Tadinya sang kakek yang akan berangkat karena sangat merindukan cucu kesayangannya, tetapi dia dan Ramon tau kalau musuh sedang mengintai mereka sehingga Ramon memutuskan untuk menggantikan sang paman yang juga merupakan Bos nya sendiri, Ramon berangkat ke Kota N guna untuk mengetahui niat apa yang ingin mereka lakukan.
"Tadinya aku yang akan berangkat ke Masion Keenan, tetapi aku dan Ramon mengetahui semua rencana mereka dari orang suruhan ku untuk mengawasi keluarga kita. Mereka dari satuan mafia bawah tanah. Jika aku yang berangkat mungkin saat ini aku sudah menjadi abu. Tapi Ramon mengorbankan dirinya, entah bagaimana nasib anak itu sekarang. " Jawabnya lesu.
"Bagaimana kalau mereka membunuh Ramon ayah" Tanya Anderson semakin panik.
"Tidak akan, karena tujuan mereka hanya ingin mengetahui dimana Keenan, dan rahasia perusahaan Kiel. "
"Lalu apa yang harus kita lakukan yah untuk mencari dimana Ramon? "
"Orang suruhan ku sedang melacak keberadaannya. Bagaimana pun dia adalah keponakan sekaligus asisten pribadi ku yang sangat aku andalkan. "
"Betul sekali sampai Ayah lupa kalau anak ayah juga masih ada dan sangat ingin di andalkan oleh ayahnya sendiri. " Sindir Anderson.
"Aku tidak ingin melibatkan mu untuk masalah pribadi di masa lalu. Aku tidak ingin kau menjadi korban, begitupun Keenan. Kau putra ku satu-satunya, dan Keenan Cucu laki-laki yang sangat aku cintai dan akan menjadi penerus keluarga Kiel setelah dirimu, aku sangat yakin anak itu pasti bisa lebih maju dibanding kita, itu sebab nya banyak pesaing-pesaing bisnis kita yang ingin menjatuhkan keluarga Kiel dengan melumpuhkan pewaris keluarga Kiel terlebih dulu. Aku tidak menginginkan itu. " Jawab Newton pelan.
"Asal ayah memberiku izin aku akan segera melumpuhkan mereka semua, apalagi itu menyangkut keselamatan Keenan, dia putraku, sudah menjadi tugas ku menjaganya ayah." Ucapnya meyakinkan sang Ayah.
"Keenan dalam bahaya, mereka tidak boleh tau dimana Keenan berada."
"Apa ayah yakin Mansion di Kota N itu aman untuk Keenan? " Tanyanya khawatir.
"Saat ini hanya itu tempat teraman. Hubungi Keenan, aku ingin berbicara dengannya. "
"Baik ayah. " Segera menghubungi Keenan, tetapi tidak ada jawaban dari anak itu.
"Tidak di angkat, mungkin anak masih marah karena belakangan ini dia tidak pernah mengangkat telpon dariku ataupun Sandra. "
"Dia juga melakukan itu padaku. Anak itu terlalu keras kepala. Dia juga sering mengabaikanku" ucap Newton miris.
__ADS_1
"Sudahlah ayah, Keenan hanya merajuk, tidak akan membenci kita. Dia juga senang berada disana karena setiap harinya aku selalu bertanya kondisi nya pada Toto."
"Syukurlah kalau begitu, kalau Keenan menghubungimu tolong katakan aku mencarinya. " Sambil melangkah ke arah kamar nya.
Anderson menghelakan nafas melihat kesedihan ayahnya. Dia tau ayahnya sangat menyayangi putranya yang saat ini sedang menjauhinya karena kesal.
**
Di ruang kelas, Clarissa baru masuk kelas, dan saat ingin duduk, Clarissa melihat kursi di depan semua nya sudah terisi penuh, yang kosong tinggal kursi nomor dua dari belakang tepatnya didepan kursi Keenan yang saat ini sedang sibuk bermain game dari ponselnya. Clarissa terlihat ragu, mau tidak mau Clarissa harus duduk disitu karena tidak ada kursi kosong lagi. Clarissa pun berjalan menuju tempat duduknya, sekilas melirik Keenan yang juga sedang melirik nya lalu kembali melihat ponselnya. Clarissa pun duduk. Tanpa dia sadar ada sepasang mata yang terus melihat Clarissa dari awal masuk hingga duduk. Siapa lagi kalau bukan Leon. Jesika yang melihat itu langsung melempar gumpalan kertas yang sengaja dibuatnya untuk melempar Leon yang duduk di seberang bangkunya.
"Mata mu bagai anjing yang sedang kelaparan. Tidak beralih sedikit pun dari gadis itu" Ejek Jesika dengan suara pelan.
Leon pun salah tingkah dan kalang kabut yang kedapatan sedang melirik wanita lain.
"Kau terlalu banyak berfikir baby. " Jawab Leon mengalihkan.
Jesika pun mengepalkan tangannya dengan raut wajah kesalnya. Dibalas senyuman manis dari Leon, tapi mata Leon tidak lepas melirik Clarissa yang duduknya tepat dibelakang Jesika. Leon Menggeser kursi nya ke samping Jesika.
"Jangan coba-coba merayuku, jaga jarak, hampir saja aku tidak masuk kelas spesial ini, itu semua karena mu. " Ucap Jesika.
"Kenapa malah menyalahkan ku, salah sendiri kenapa peringkat mu terlalu jauh. " Jawab Leon mengejek. Jesika semakin cemberut mendengar ucapan Leon.
"Apa beda nya dengan mu tuan, kau sama sepertiku jadi hentikan omongan mu yang tidak berbobot itu. "
"Kau yang memulainya sayang. " Leon mulai kesal. Bukan kesal karena ucapan Jesika melainkan kesal melihat Clarissa yang sedikitpun tidak melirik nya.
'Wanita ini kenapa selalu saja membuatku kesal, sedikitpun tidak melihatku. Awas saja. ' Batinnya sambil melirik Clarissa.
Hari ini belum belajar normal seperti biasa.
Clarissa hendak menggeser kursinya, tidak sengaja kaki kursinya itu menginjak kaki Keenan yang sedang selonjoran di bawah kursi Clarissa.
__ADS_1
"Aauu.... " Teriak Keenan.
Semua mata tertuju paka Keenan, jerit nya membuat teman satu kelasnya kaget begitupun Clarissa kaget mendengar jeritan Keenan dan langsung melihat ke belakangnya, melihat Keenan sambil menunjuk-nunjuk kaki kursi Clarissa. Clarissa terlonjak kaget melihat kaki Keenan berada dibawah kaki kursi Clarissa.
"Ma,,, maaf. " Clarissa mengangkat kursinya dan segera berjongkok melihat kaki Keenan.
Keenan memegang Kaki nya yang sakit.
" Kalau geser kursi lihat-lihat dulu. Ini sakit.. " Ucap Keenan meringis kesakitan.
"Maaf aku tidak sengaja." ucap Clarissa lembut.
"Sini aku lihat."
Saat memegang kaki Keenan, tangan Keenan juga hendak memeriksa kakinya dan tak sengaja tangan mereka bersentuhan dan seketika itu mereka saling menatap satu sama lain. Jantung Keenan berpacu dengan cepat, begitupun Clarissa. Detakannya terasa sangat kuat sehingga mereka akan mengira orang-orang disekitarnya bisa mendengarkan suara jantung mereka. Cukup lama dan sangat dekat, tetapi tidak lama mereka pun di sadarkan oleh Josh yang sedari tadi memperhatikan mereka. Clarissa dan Keenan pun salah tingkah.
"Biar aku lihat ya. " Ucap Clarissa lagi.
"Tidak perlu, singkirkan tangan kotor mu itu. " Jawab Keenan ketus sambil menjauhkan kakinya.
Clarissa mendongak melihat Keenan yang berada di atas kepalanya dan menatap lamat wajah tampan nya pria itu, dan berfikir Laki-laki ini tampan tetapi entah terbuat dari apa mulut sadisnya itu.
"Ijinkan aku melihatnya. " Ucap Clarissa lembut.
'Suara mu terlalu lembut, apa kau sengaja menghipnotis ku Nona' Batin Keenan sambil menggigit bibir bawahnya menahan sakit sekaligus menahan hal lain yang dia pun tak mengerti itu apa.
Mendengar itu Leon merasakan panas di seluruh tubuhnya. Begitu pun dengan Jesika yang kesal karena hingga saat ini dia belum berhasil mendekati Keenan. Apalagi sekarang semakin sulit karena Leon juga berada di kelas yang sama.
'Keenan, please give me Your heart' batin Jesika sambil melirik damba sang pujaan hati.
"Baiklah jika kau keberatan. Aku tidak akan memaksamu. " Jawab Clarissa dan kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
Keenan kesal dan sedikit menyesal menolak tawaran Clarissa..