
Keenan melirik Ruby yang terlihat begitu kesal dengan tingkah Betty yang terus menggodanya. Hal itu membuat sebelah bibirnya naik dan mencoba mengerjai Ruby.
"Bagaimana pak? Apakah laporan saya ada yang salah?" Betty semakin mendekati Keenan.
"Duduklah, tapi jangan menyentuhku sama sekali." bisik Keenan pada Betty sambil menepuk pahanya.
Betty langsung berbinar, dia tidak menyangka Keenan ternyata meresponnya dengan sangat baik. Tanpa pikir panjang Betty duduk di pangkuan Keenan. Dan Keenan terlihat berbisik manja pada Betty.
"Jangan menyentuh kulit ku sedikit pun. Kau mengerti?" Bisik Keenan ketus tapi seolah dia membisikkan hal yang menggoda bagi Ruby.
Ruby membesarkan matanya. Merasa risih dan tidak nyaman. Dia tidak menyangka Keenan begitu mendamba wanita seperti Betty seolah dia selalu begitu terhadap semua wanita. Pantas saja dia dengan mudahnya melakukan hal diluar batas dengan Ruby. Hatinya terasa begitu panas tetapi dia berusaha menahan agar terlihat biasa saja. Dia menarik nafas panjang dan bergegas bangkit dari duduknya.
"Saya rasa saya sudah selesai membaca dan menandatangani kontrak ini pak Keenan. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Aku belum mengizinkan mu untuk pergi Nona Snow." Bentaknya, tapi matanya masih melihat Betty. Ingin rasa Keenan menendang wanita gila ini. keenan juga merasa kesal karena Ruby tampak biasa saja. Tidak sesuai dengan yang dipikirkannya.
"Tapi aku begitu mengganggu kalian pak. Kalian bisa melakukannya setelah aku pergi dari ruangan ini." Ruby pun melangkah ke arah pintu keluar.
"Jika kau berani melewati pintu, aku pastikan kau akan menyesali semuanya Nona Snow." Suara Keenan menggelegar dan penuh penekanan. Ruby menghentikan langkahnya.
"Lalu apa kau ingin aku menyaksikan kalian bermesraan disini?" Ruby membalikkan tubuhnya. Betty terlihat begitu heran. Ada apa dengan Keenan dan gadis ini.
__ADS_1
"Kembali." Ucap Keenan tegas.
Ruby kembali duduk dan menampilkan wajah kesalnya dengan bibir cemberut dan wajahnya begitu menggoda di mata Keenan. Ada sesuatu yang mulai bergerak naik. Keenan benar-benar tidak waras. Hanya melihat wajah kesal Ruby yang begitu menggemaskan baginya membuatnya sudah dalam tegangan tinggi.
Betty memperhatikan hal itu. Dia mengira Keenan terangsang karena Betty duduk di pangkuannya. Dia pun semakin berbinar. Dia memberanikan diri untuk tidak mendengarkan perintah Keenan untuk tidak menyentuhnya, tetapi wanita itu malah terangsang dan ingin memberikan tubuh nya untuk Keenan. Perlahan Betty mendekatkan wajahnya ke wajah Keenan. Ruby terus menatap keduanya. Jantungnya mulai melompat. Dia tau bahwa Betty ingin mencium bibir seksi Keenan. Tapi dia tidak menyangka jika Keenan menghindar dan sialnya pipi Keenan yang begitu dingin dan wangi dapat di nikmati oleh Betty. Keenan begitu terkejut.
Sialan.... ' Batin Keenan. Dia sempat percaya diri bahwa penyakitnya tidak akan pernha kambuh lagi tapi sayangnya tidak. Tubuh Keenan mulai bergetar dan wajahnya mulai memerah. Betty melihat hal itu ingin mendekatkan tangannya untuk menyentuh Keenan. Tapi dengan sigap Keenan menolak tubuh Betty hingga membuat gadia itu terjerembab ke lantai.
"Aaahh,,,, " Teriak Betty kesakitan. Bokongnya begitu sakit terhempas ke lantai. Ruby terpaku melihat keduanya. Dia syok dan tidak dapat berkata-kata. Ingin rasanya dia tertawa betapa pria itu begitu angkuh saat bersama gadis lain. Dan gadis yang sok menggoda itu malah terlihat seperti sampah.
"Pergi dan jangan kembali lagi. Mulai besok jangan perlihatkan lagi wajah mu padaku. " Tutur Keenan dengan nada suara tinggi. Wajahnya tampak memerah. Hal itu semakin membuat Betty takut, dengan cepat dia meninggalkan Ruangan Keenan.
Ruby masih terdiam melihat Keenan. Pria itu tampak aneh. Kenapa wajahnya memerah begitu dan tubuhnya terlihat bergetar.
Ruby mulai panik melihat Keenan yang sudah tidak karuan.
"Pak anda baik-baik saja?" Suara Ruby tak kalah bergetar.
"By.... " Tangan Keenan seolah memanggil dan lama kelamaan dia terjatuh dari kursinya. Sontak membuat Ruby begitu terkejut dan langsung berlari menghampiri Keenan.
"Keenan,,, kau baik-baik saja?" Ruby sudah berada di sisinya Keenan.
__ADS_1
"Tolong aku, ucap keenan dengan suara pelan dan bergetar. Keenan sudah terduduk di lantai dengan kondisi wajah merah begitu pun tangan-tangannya.
"Keenan wajahmu." Ruby refleks memegang wajah Keenan dengan kedua tangannya. Hal itu membuat Keenan terkejut dan kembali menatap wajah Ruby. Wajah Keenan tampak tidak berdaya.
"Mengapa wajah mu memerah seperti ini?"
Ruby membelai lembut wajah Keenan.
"Tolong bawa aku ke ruangan itu." Keenan berbicara tertatih dan tampak sesak.
"Ruangan mana? Tanya Ruby sambil melihat-lihat tidak ada ruangan disitu.
"Bantu aku dorong rak buku-buku itu."
Ruby mengangguk dan memapah Keenan. Dia masih bingung ruangan mana yang di maksud Keenan. Keenan mendorong rak buku yang ada di hadapannya. Ruby masih memapahnya dan gadis itu sangat terkejut karena dibalik rak itu ada ruangan. Bisa dibilang itu adalah kamar karena terdapat kasur besar dan lemari. Sama seperti kamar biasanya. Ruby membaringkan Keenan di ranjang tersebut. Mata pria itu tampak terpejam tapi tubuhnya masih bergetar Ruby membuka jas keenan dan setelah itu membuka beberapa kancing kemeja Keenan agar tidak terasa panas. Melihat Keenan tak berdaya seperti itu membuatnya luluh dan rasa kesalnya hilang begitu saja. Dia masih terus membelai wajah Keenan, dan dada Keenan yang sedikit terekspos karena beberapa kancing yang sudah dibuka. Ruby memberanikan diri mengusapnya lembut. Tiba-tiba tangan Ruby berhenti ketika tangan Keenan memegang tangannya yang berada diatas dadanya. Tampaknya Keenan mulai tenang. Dia membuka mata nya dan langsung melihat mata Indah yang ada di hadapannya. Dia tidak menyangka penyakitnya bisa mereda tanpa harus meminum obat. Tetapi harus mendapatkan sentuhan dari Ruby. Tubuhnya masih terlihat bergetar tetapi tidak sehebat tadi.
"Ada apa dengan mu?" Tanya Ruby pelan dan begitu lembut. Keenan terus menatapnya tanpa henti. Matanya yang tadinya terlihat merah sekarang mulai berkurang. Dengan cepat Keenan menangkup tengkuk Ruby dan kembali melahap bibir Ruby. Menikmatinya dengan perlahan, pelan tetapi sangat dalam. Ruby masih terlihat kaku dan tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Keenan.
Ruam merah itu pun perlahan menghilang, beriringan dengan ciuman panas Keenan dan Ruby.
Keenan melepas sesaat ciuman itu karena merasa mulai kehabisan nafas. Tetapi tidak lama Keenan kembali mencium Ruby. Semakin menarik Ruby ke atas tubuhnya. Gadis itu juga mulai membalas Ciuman Keenan yang jujur saja begitu di sukainya entah sejak kapan. Bibir itulah yang sudah mengambil ciuman pertamanya.
__ADS_1
Sekarang posisi Keenan sudah berada di atas Ruby. Entah bagaimana cara nya dengan tanpa sadar Ruby sudah masuk kungkungan Keenan. Ciuman mereka sama sekali tidak terlepas. Keenan semakin menyadari bahwa penyakitnya semakin hilang ketika bersentuhan dengan Ruby. Gadis ini benar-benar perisai baginya. Dia tidak ingin kehilangan Gadis ini dan tidak akan membiarkan nya pergi jauh darinya. Ternyata rencananya menjadikan Ruby sekretarisnya benar-benar menjadi kenyataan. Gadis ini semakin membuatnya menggila. Dia masih terus mencium Ruby dan tangannya mulai menggerayangi tubuh Ruby. Perlahan membuka kancing kemeja Ruby. Ruby tidak sadar dengan hal itu. Dia terus menikmati bibir seksi Keenan. Dan tanpa sadar bahwa kancing bajunya hampir semuanya terbuka tetapi tangan Keenan masih terus bekerja dan ciumannya masih terus berlanjut.
Ciuman Keenan mulai beralih ke leher Ruby dan mulai berjalan jatuh ke atas dada Ruby yang di tutupi oleh bra berwarna hitam. Tubuh Gadis itu mulai meronta karena sentuhan Keenan benar-benar membuatnya gila.