Come Back My Love

Come Back My Love
67. Berlututlah


__ADS_3

'Jam tangan itu, bukankah jam tangan itu yang di gunakan pria tidak tau malu yang menciumku saat pesta?' Gumam Ruby dalam hati sambil membesarkan matanya.


'Apa itu Keenan?' batinnya.


"Berlutut lah, aku akan memaafkan mu jika kau berlutut meminta maaf." Ucapnya datar.


"Untuk apa aku berlutut? Apa aku melakukan kesalahan yang fatal hingga mengusik harga diri mu?" Jawab Ruby ketus hatinya terasa nyeri. Dia tidak menyangka kenapa Keenan setega ini?


"Ohh haha.... Ternyata kau tidak mengingat apa saja kesalahan mu?" Keenan berjalan pelan di sekitar meja nya lalu menyandarkan dirinya di ujung meja.


"Buka 2 kancing kemeja mu sekarang juga." Satu tangan Keenan di lipat di dada dan satunya lagi memegang dagunya.


"What? Maksud anda apa pak? Jangan berani mempermainkan bawahan seperti ini. Aku akan lapor.... "


"Lapor kemana? Atasan? Polisi? Silahkan saja. Sayang nya aku tidak gentar. Lakukan saja apa yang aku perintahkan. Lagian aku tidak menyuruh mu untuk telanjang di depan ku. Hanya membuka 2 kancing saja. Jika kau tidak melakukannya aku akan menambah hukuman untuk mu karena sudah melawan perintah ku" Tatapan tajam Keenan sangat mematikan sehingga membuat tubuh Ruby gemetar. Dia telah salah masuk ke dalam lubang buaya.


'Sungguh kau bajingan mesum. Apa aku serendah itu di mata mu.' Batin Ruby. Mata Ruby mulai berkaca-kaca karena amarah nya dan sakit di hatinya.


Melihat mata Ruby hendak menangis sontak membuat Keenan gelisah dia mencoba mengalihkan pandangannya.


Ruby menarik nafas panjang sambil memejamkan mata nya. Apa maksud Keenan. Kenapa dia melakukan hal ini. Berat rasanya hati Ruby. Keenan sungguh merendahkannya. Setetes air matanya jatuh. Membuat Keenan semakin tidak enak hati. Baru kali ini dia merasa sakit ketika melihat airmata seorang gadis.


Ruby perlahan membuka kancing kemeja putihnya, sudah 2 kancing bajunya terbuka. Dan Ruby hendak membuka kancing selanjutnya. Tiba-tiba terdengar suara Keenan yang buat tangan Ruby terhenti.


"Stop,,, aku sudah bilang hanya buka 2 kancing saja bukan semua nya." Keenan mulai panik. Jantungnya berdegup kencang.


"Kau terlalu percaya diri. Kau pikir aku ingin melihat tubuh krempeng mu." Nada suara Keenan sedikit meninggi.


Amarah Ruby semakin meruah. Ingin rasanya dia menendang pria di hadapan nya yang sudah banyak berubah ini.


"Keluarkan.... " Ucap Keenan singkat.


Ruby melotot matanya semakin memerah. Keenan semakin menjadi-jadi pikirnya.


"Keluarkan kalung yang kau pakai. Jangan berfikiran negatif. Cepat lakukan saja." Bentak nya. Tubuh Ruby yang tadinya gemetar kembali bertenaga. Dia begitu heran. Apa yang di inginkan Keenan sebenarnya.

__ADS_1


Ruby pun langsung mengeluarkan kalung bermata Ruby merah yang bersembunyi di dalam kemejanya.


Mata Keenan langsung berbinar setelah melihat kalung itu, dia merasa senang jika dia tidak salah orang. Ternyata memang Ruby orang nya. Terciptalah senyuman manis sekaligus sinis.


"Sudah... Masukkan kembali." Ucap Keenan datar dan singkat.


Ingin rasanya Ruby memaki pria sialan yang ada di hadapannya ini. Memukulnya sekuat tenaga. Sikap Keenan seolah Ruby adalah orang asing yang bisa di permainkan dan hal itu semakin membuat hati Ruby sakit.


"Sekarang berlutut lah, meminta maaf dengan cara yang tulus." Keenan tersenyum sarkas.


"Apa maksud anda pak? Kenapa saya harus berlutut minta maaf? Saya akan minta maaf tapi tidak berlutut. Saya melakukan kesalahan juga bukan karena saya sengaja. Saya terjatuh dan air di ember itu mengenai bapak." Ucap Ruby tegas.


"Kau tidak ingat apalagi kesalahan mu? Apa perlu aku mengingatkan nya?" Keenan kembali menyeringai. Keenan berjalan mendekati Ruby hingga berdiri tegap di depan gadis itu. Ruby mendongak menatap nanar wajah Keenan. Karena tubuh pria itu jauh lebih tinggi. Perasaannya campur aduk. Antara kesal, marah dengan kondisi jantung yang berdebar-debar. Dia kembali menatap wajah Pria ini dengan dekat, sangat dekat. Seakan seperti mimpi. Ruby menatap dalam mata Keenan pria yang selama ini ada di dalam hati dan fikirannya. Tapi mengapa Pria ini seakan asing baginya? Airmata Ruby keluar begitu saja. Kali ini airmata itu tidak dapat dibendungnya lagi.


Dahi Keenan mengkerut. Dia ikut hanyut dalam tatapan Ruby.


'Mata ini, kenapa terasa tidak asing. Dan,,, mengapa dia menangis. Aku belum melakukan apapun padanya, kenapa mata nya menyiratkan rasa sakit yang begitu dalam' batin Keenan. Tangan Keenan refleks menyentuh pipi Ruby. Menghapus lembut airmata Ruby. Tanpa sadar dan lupa akan Alerginya yang bisa saja kambuh. Kini kedua tangannya sudah tertaut di wajah cantik Ruby. Mengelus lembut pipi Ruby.


Mata Ruby terpejam menikmati sentuhan lembut tangan Keenan yang dulu sangat di sukainya. Dia merasa pria ini seakan kembali mengisi hatinya yang dulu kosong.


Ruby membuka kembali mata nya dan melihat wajah Keenan yang semakin dekat dengan wajahnya. Tangan Keenan beralih ke tengkuk Ruby dan perlahan menarik Ruby agar dapat menautkan bibir Ruby ke bibirnya.


"Kau sudah mengingatnya? Tatapan Keenan berubah menjadi tatapan menyela.


"Mengingat beberapa hari yang lalu sudah menuduh pria yang menyelamatkan mu sebagai orang yang menyekap mu?" Ucap nya ketus.


Ruby membesarkan mata nya. Dia mengira yang Keenan maksud adalah mengingat tentang mereka 8 tahun lalu. Tangis nya semakin pecah kali ini dia merasa sangat membenci Keenan.


"Kau begitu menyukai ciuman ku? Kau begitu menikmatinya baby?" Suara serak Keenan begitu menggoda. Tapi tidak dengan Ruby. Dia tidak tergoda sedikitpun. Darahnya mendidih dan akan segera meledak. Sebuah tamparan keras pun menyentuh pipi lembut Keenan.


Pria itu terkejut bukan main, tetapi itu hanya sebentar. Keenan langsung tersenyum dengan tatapan menyela.


"Kau benar-benar bajingan Keenan." Ucap Ruby ketus airmatanya terus mengalir.


Entah kenapa hati Keenan terasa mencelos. Ucapan Ruby benar-benar mengusik telinga dan hati nya.

__ADS_1


"Heii,,, kau berbicara seolah kita sudah lama saling mengenal Nona. Padahal kita baru beberapa kali bertemu."


Hati Ruby semakin sakit, Keenan benar-benar melupakannya. Ruby tidak sanggup berlama-lama berada di dekat Keenan. Dia bisa mati berdiri.


"Lalu, jika kita baru beberapa kali bertemu, kau bisa dengan lancang mencium ku?" Bentak Ruby.


"Hhm mungkin memang terlihat seperti gampangan dan bukan itu saja. Itu karena kau tidak mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Itu membuat ku sangat kesal. Dan kali ini aku hanya mengingatkan mu saja." Tatapan sinis Keenan begitu mematikan.


"Apa gampangan? Kau tidak lebih dari seorang bajingan Keenan. Aku bukan wanita murahan yang bisa kau cium sesukamu."


"Lantas kenapa kau membalasnya Nona. Mulut mu bisa mengelak tapi tidak dengan respon tubuh mu. Dan perbaiki cara bicara mu. Kau harus ingat aku masih atasan tertinggi di Perusahaan ini. Kau bisa saja ku tendang kapan pun aku mau. " Ancam Keenan.


"Tendang saja. Aku lebih baik jatuh miskin dan tidak memiliki apa-apa dibanding harus bekerja dengan pria sialan seperti mu. " Ruby langsung melayangkan satu tendangan ke kaki kering Keenan hingga membuat pria itu berteriak kesakitan. Keenan pun tertunduk memegang kaki nya yang sakit.


"Itu bukan apa-apa Tuan. Aku juga tidak lupa kalau kau adalah pimpinan tertinggi disini. Jika aku tidak ingat, keluarga mu sudah menyiapkan makam khusus untuk mu." Ucap Ruby sambil menunjuk Keenan dengan jarinya. Ruby pun langsng bergegas pergi meninggalkan Keenan yang sedang mengeluh kesakitan membanting pintu dengan keras. Sontak membuat Jonas yang sedang duduk di luar terkejut dan langsung bergegas masuk keruangan Keenan. Jonas sempat berselisih dengan Ruby. Gadis itu tidak melihatnya sama sekali. Gadis itu tampak tidak baik-baik saja. Wajah nya tampak basah seperti baru menangis. Apa yang bos nya lakukan batinnya.


"Dasar gadis sialan....!!! " Teriak Keenan dengan Nada sekuat-kuatnya. Jonas pun datang menghampiri Keenan yang sedang meringis kesakitan.


"Anda baik-baik saja bos?" Jonas memapah Keenan duduk ke Sofa


"Ada apa dengan kaki anda bos?"


"Gadis sialan itu menampar dan menendangku." Jawab nya kesal.


"Apa? " Jonas kaget bukan main. Dia langsung mengingat penyakit Bos nya yang sama sekali tidak terlihat.


"Bos anda baik-baik saja setelah gadis itu menampar anda?" Tanya Jonas sambil melotot.


Sejenak Keenan terdiam dan langsung melihat seluruh tubuh nya yang sama sekali tidak ada reaksi apa-apa. Alergi itu sama sekali tidak kambuh. Tiba-tiba Keenan tersenyum hingga membuat Jonas mengerutkan dahi nya. Ada apa dengan bosa nya.


"Bos kenapa anda tersenyum? Anda baik-baik saja?" Tanya nya Khawatir.


"Kau lihat sendiri bagaimana. Aku sangat baik. Alergi ku juga tidak kambuh bahkan saat aku mencium nya." Ceplos Keenan.


"Apaa???? Bos mencium Nona Snow?" Jonas terkejut dan merasa mengerti mengapa Ruby menangis saat keluar dari ruangan Bos nya.

__ADS_1


Keenan diam saja tidak menjawab pertanyaan Jonas. Kali ini dia benar-benar yakin bahwa bila bersentuhan dengan Ruby penyakitnya tidak akan kambuh.


"Yeesss,,,,!!!! " Teriak Keenan kegirangan. Jonas sampai heran melihatnya. Setan apa yang merasuki bos nya. Kenapabegitu bersemangat setelah bertemu dengan Nona Snow.


__ADS_2