
"Alex tante harus menemuinya Lex, tante tau dia sedang bersedih. Dia menangis Lex." Rose menangis merasa khawatir setelah Alex menunjukkan Ruby adalah putrinya.
Betapa sakit hatinya ketika pertama kali melihat putrinya tumbuh besar dengan deraian airmata, dia melihat saat hatinya terluka.
"Tante harus tenang, jangan mengagetkan Ruby dengan cara seperti ini. Saat ini Ruby sedang mempunyai misi penting di keluarga ini dan lain kali aku akan menceritakannya pada tante. Kali ini biarkan Ruby sendiri dan jangan membuatnya syok dengan cara tante mendekatinya dan mengaku bahwa tante adalah ibu kandung nya. Ini bukan waktu yang tepat tante. Aku akan menghibur Ruby." Tukas Alex menenangkan Rose.
"Tante tidak akan mengatakan kalau Tante adalah Ibu nya. Paling tidak biarkan Tante menghiburnya. Tante mohon." Rose memohon pada Alex.
"Baiklah tante, tapi tolong kontrol diri tante. Jangan sampai semua nya kacau." Ujar Alex dan di angguki oleh Rose.
Rose pun mulai menghampiri Ruby yang sedang duduk sendirian di tepi kolam. Dia tampak menangis.
Tiba-tiba dia melihat sebuah sapu tangan di hadapannya.
Ruby mendongak dan melihat siapa yang memberikan nya Sapu tangan.
Ruby mengernyitkan dahi nya. Dia tidak mengenali orang yang ada di hadapannya ini.
"Ambil lah nak. Hapus airmata mu." Ucap Rose lembut pada Ruby.
Ruby langsung tersenyum dan mengambil sapu tangan yang di berikan wanita yang ada di hadapannya.
"Terima kasih nyonya. " Ungkap Ruby.
"Kenapa menangis, kau sudah sangat cantik begini kenapa merusaknya." Rose mengambil bedak dari dalam tas nya dan langsung memberikannya pada Ruby.
Ruby menatap wanita itu dengan heran. Ruby sempat menolaknya. Namun wanita itu tetap kekeh dan dengan berani merapikan make up Ruby. Mempoles sedikit agar tidak terlihat baru menangis.
"Sudah, sudah rapi kembali. Kau sudah kembali cantik. Sekarang segera hampiri kekasihmu sebelum dia di ganggu wanita lain.
" Terima kasih Nyonya." Ruby tampak berbinar, entah mengapa hatinya terharu dengan sikap wanita asing ini.
"Panggil aku Rose." Ujar Rose sambil tersenyum.
"Terima kasih Tante Rose."
"Sama-sama sayang. Ingat, jangan menjadi wanita yang lemah. Kau harus kuat agar tidak ada yang berani menindasmu. Dan jangan biarkan airmata ini keluar untuk orang yang tidak penting." Nasihat Rose.
Ruby pun dengan senang hati mengangguk. Dia merasa tenang, wanita ini begitu keibuan.
"Aku permisi dulu. Bye." Ujar Rose pamit.
Rose berjalan meninggalkan Ruby. Tangisnya pecah namun tidak bersuara. Dia tidak ingin Ruby mendengarnya dan mengetahui semua nya sekarang.
Langkahnya semakin jauh. Rose memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Putriku,,, maafkan Mama." Ujar Rose terisak.
Ruby kembali kedalam acara. Tamu semakin ramai. Terlebih lagi saat ini sedang ada dansa bersama pasangan masing-masing.
__ADS_1
Ruby mencari-cari Keenan yang belum terlihat sedari tadi.
Pandangannya langsung terhenti ketika melihat Jessika sedang menahan Keenan agar tidak pergi dari nya. Pria iti tampak dingin namun dia juga tidak bisa asal menolak Jessika. Dia tidak ingin merusak repotasi siapapun.
"Mau berdansa denganku?" Ajak Jessika pada Keenan .
"Tidak, aku tidak bisa. Aku harus mencari kekasihku." Jawab Keenan dingin. Sambil memcari-cari keberadaan Ruby.
"Jangan bersandiwara di depanku Keenan. Aku tau kau dan Ruby hanya bercanda. Aku yakin kalian tidak memiliki hubungan apa-apa." Ujar Keenan tampak kesal.
"Jangan ikut campur. Hubunganku dengan Ruby jauh lebih spesial. Jangan mencoba masuk." Sindir Keenan.
Jessika mendengus kesal, dia berusaha mencari cara agar Keenan jatuh ditangannya.
Jessika berjalan namun berpura-pura jatuh dan segera dia posisikan jatuh di pelukan Keenan.
Tangan kokohnya itu refleks menagkap tubuhnya. Hingga terlihat Keenan dan Jessika sedang berpelukan.
Tubuh Keenan seakan mulai merespon, Keenan langsung menolak tubuh Jessika.
Ruby memyaksikan kejadian itu dan betapa terkejutnya dia. Jessika memeluk Keenan dengan mesra dan begitu intim.
'Dia mengatakan tidak ingin bertunangan tapi baru di tinggal sebentar sudah bermesraan dengan wanita lain." Hati Ruby terasa bergemuruh.
Jessika melihat wajah Keenan mulai memerah. Dia mengira Keenan merasa canggung.
Tubuh Keenan mulai bergetar. Dia tidak membawa obat karena mengira Ruby ada di sebelahnya.
Ruby menoleh setelah mendengar suara Keenan memanggilnya.
Sandra juga sempat menoleh ke arah putra nya, melihat wajah putranya memerah.
'Apa kambuh lagi?' Batin Sandra mulai panik.
Sandra hendak menghampiri Keenan namun langkahnya terhenti ketika melihat Ruby berlari ke arah Keenan.
"Keenan,,,!!! " Ruby datang dengan wajah khawatir. Dia langsung menolak Jessika agar menjauh dari Keenan.
"Aahh,,,!!! " Teriak Jessika yang hampir terjatuh.
"By,,, tolong aku." Keenan merintih kesakitan. Wajah Keenan tampak tidak berdaya.
Tanpa banyak kata Ruby langsung memeluk Keenan. Memeluknya dengan penuh cinta.
"Maaf aku membiarkanmu lama menunggu." Ucap Ruby semakin mempererat pelukannya.
"Jangan pergi lagi." Ucap Keenan lembut sambil memeluk erat tubuh Ruby dan sambil memejamkan matanya. Tubuh yang tadinya hampir ambruk seketika bertenaga kembali saat Ruby memeluknya.
Semua mata tertuju pada kedua nya. Ada yang berbisik dan mulai berbicara yang tidak-tidak. Sebahagian orang ada yang kagum melihat kemesraan mereka.
__ADS_1
Jessika sangat kesal dan malu, dia memutiskan untuk pergi meninggalkan dua orang yang sedang bermesraan itu.
Anderson mendekati istrinya.
"Ada apa dengan Keenan? Tanya Anderson pada Istrinya.
" Sepertinya penyakitnya kambuh setelah Jessika menyentuhnya. Gadis Samuel itu beranr-benar tidak tau malu. Dan sepertinya aku mengerti mengapa dia menyukai Ruby." Ujar Sandra sambil tersenyum.
Anderson menatap istrinya dengan heran.
Ruby memeluk sambil mengelus punggung Keenan dengan lembut. Mereka berpelukan seperti orang yang sedang berdansa. Ruamnya pun mulai menghilang.
"Baru saja aku tinggal sebentar, tapi kau sudah memeluk wanita lain saja." Sindir Ruby.
Keenan tersenyum sambil bergoyang kesamping kiri dan kanan mengikuti alunan musik.
"Justru itu, mulai sekarang jangan pernah pergi jauh-jauh lagi dari ku. Kau paham? "
"Hhm,,,!!! Jawab Ruby mengangguk.
Keenan mulai memberi sedikit jarak. Posisi mereka benar-benar intim dan tubuh Keenan mulai normal kembali.
Dia menatap Ruby dengan wajah sayunya. Ruby juga mendongak saat menatap Keenan.
" Apa kau cemburu melihatnya?" Tanya Keenan sambil tersenyum menatap Ruby dalam-dalam.
"Tentu saja tidak." Ruby mencoba mengalihkan pandangannya. Dia mulai salah tingkah. Keenan tertawa dan langsung menangkup wajah Ruby dan langsung mencium mesra gadis itu.
Beberapa orang di sekitar mereka bersorak kegirangan. Begitupun dengan Josh dan Lucy. Lucy semakin mengeratkan genggaman tangannya yang sedaritadi bergandengan tangan dengan Josh.
Sandra juga kegirangan melihat putranya yang terlihat begitu Cool.
"Putraku keren sekali." Ucap Sandra berbinar.
Samuel melihat kemesraan keduanya, mendengus kesal dan langsung pergi meninggalkan Anderson.
Anderson hanya menatap punggung Samuel tanpa mencegahnya.
Kakek Newton juga ikut tersenyum dan langsung meninggalkan pestanya untuk kembali ke kamar. Pria setua dirinya tidak sanggup lagi mengikuti pesta hingga selesai.
Keenan masih semangat menciumi bibir Ruby yang begitu menggoda, sedari tadi dia menahan diri dan pada akhirnya Keenan bisa melepas keinginannya untuk menghabisi gadis yang sudah menjadi candunya.
Ruby mulai sulit bernafas dan mencoba menghindari Keenan. Pada akhirnya ciuman itu pun terlepas.
"Semua orang melihat kita." Ujar Ruby malu.
"Baiklah kalau begitu mari kita lanjut di hotel." Keenan tersenyum nakal dan membuat wajah Ruby memerah.
Keenan langsung menarik Ruby dan membawa Ruby kembali ke hotel.
__ADS_1
Yang lainnya bersorak kegirangan. Sepasang kekasih ini benar-benar menjadi pertujukan menarik di acara ini.
Lucy dan Josh tertawa sambil geleng-geleng kepala.