
Di ruang perawatan.
Sebaiknya malam ini Nona di rawat disini dulu untuk pemulihan. Karena tekanan darah anda juga tidak normal, saya khawatir jika anda pulang terjadi sesuatu.
"Tapi dok,,,,," Ruby bangkit.
" Baik dokter. Nona Snow silahkan menurut, ini demi kondisi anda." Ucap Jonas tegas dan membuat Ruby tak bisa berkutik. Dia pun kembali berbaring.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." Ucap dokter ubdur diri.
"Terima kasih dokter." Ujar Jonas.
"Apa saya perlu menghubungi keluarga anda nona? " Tanya Jonas.
"Tidak pak, jangan beri tahu mereka pak. Aku tidak mau mereka khawatir." Cegah Ruby.
"Baiklah kalau begitu anda harus istirahat total, saya akan berjaga diluar, jika anda perlu sesuatu panggil saya ya." Ungkap Jonas yang tetap datar.
"Hhm,,, pak bisa kah bicara yang santai saja dengan ku. Sepertinya kita juga seumuran. Alangkah baiknya kita bicara tidak terlalu kaku seperti ini. Aku yang jadi sungkan."
"Maaf Nona saya begini karena perintah pak Keenan. Saya tidak ingin beliau marah."
"Setidaknya bicara lah yang santai saat tidak ada Pak Keenan ya." Mohon Ruby.
"Baiklah kalau begitu. Istirahat ya. Atau kau mau makan sesuatu?" Jonas mulai berbicara santai dengan Ruby.
"Tidak, aku sedang tidak lapar, tolong kabarin aku perkembangan kondisi pak Keenan ya."
"Iya kau tenang saja, pak Keenan tidak akan kenapa-kenapa. Dia pria yang sangat kuat." Jelas Jonas.
Ruby pun tersenyum tanpa bisa berkata-kata.
'Dia itu memang selalu sok kuat, selalu ingin menyelamatkan orang lain padahal itu juga mengancam keselamatannya, tapi dia tetap kekeh. Dia selalu keras kepala.' Batin Ruby Dia menundukkan kepalanya sembari senyuman yang penuh dengan kesedihan.
__ADS_1
Jonas melihat hal itu merasa iba. Dia mengerti yang dirasakan Ruby. Walau dia sering tidak mengerti kenapa bos nya bersikap berbeda hanya pada Ruby.
"Aku keluar dulu ya. Aku mau lihat Pak Keenan dulu apa sudah keluar dari ruang IGD." Ruby menjawab dengan anggukan.
Diluar ruangan Ruby Jonas berpapasan dengan Josh yang baru keluar dari ruang IGD.
"Pak Josh bagaimana keadaan Pak Keenan? Apa anda sudah bertemu dengannya?" Tanya Jonas Khawatir.
"Sudah aku baru saja dari dalam. Keenan belum sadar tapi dia tidak apa-apa. Kita hanya menunggu dia sadar dan bagaimana respon kepalanya yang terkena pukulan itu."
"Mudah-mudahan pak Keenan baik-baik saja." Ungkap Jonas.
"Kau tidak memberitahukan Keluarganya kan Jonas?" Tanya Josh
"Tidak pak. Saya yakin Pak Keenan juga akan melarang aku memberitahu mereka."
"Baiklah, itu lebih baik. Apalagi sekarang mereka sedang dalam masalah. Kalau begitu aku bisa bertemu dengan sekretaris Keenan yang bersama nya tadi?" Josh penasaran ingin mengenal Sekretarisnya.
"Baiklah kalau begitu aku permisi ya, mungkin sebentar lagi iNez akan datang, dia ingin menemani Keenan malam ini disini."
"Tapi pak, kenapa Inez bisa tau? Apa pak Keenan tidak keberatan pak?
" Tidak,,, kau tenang saja. Aku pergi dulu ya, kabari perkembangan Keenan padaku dan aku akan segera kembali."
"Baik pak Josh, terima kasih." Jonas sedikit berbungkuk. Tidak berapa lama Keenan keluar dari IGD dan di pindahkan di ruang perawatan.
Tidak berapa lama Inez pun datang, kali ini dia datang sendiri tanpa Noah. Inez menghampiri Jonas yang sedang duduk bersandar sambil memejamkan matanya.
"Jonas,,,!!! " Panggil Inez lembut.
Jonas membuka matanya dan langsung memasang wajah datar pada Inez. Inezsudah terbiasa melihat respon Jonas seperti itu dan dia selalu mengabaikannya dam Inez selalu bersikap tidak terprofokasi oleh sikap Jonas.
"Langsung masuk saja. Tapi aku minta padamu jangan menyentuh kulitnya sedikit pun. Kau boleh mendekatinya tapi jangan menyentuhnya." Ujar Jonas memberi peringatan pada Inez.
__ADS_1
Inez terdiam sejenak setelah mendengar ucapan Jonas yang menurutnya sangat kejam, tapi dia kembali mengingat tempo hari saat dia mencium Keenan dan respon tubuhnya membuat Inez terkejut dan kali ini dia tidak akan berani mengambil resiko lagi. Karena kondisi Keenan juga sedang tidak baik-baik saja.
"Baiklah, aku mengerti Jonas. Aku izin masuk dulu ya. Ini makanan untuk mu." Inez memberikan sebuat paper bag untuk Jonas yang beris makanan dan buahan. Jonas terpaku dan langsung dia terima tetapi wajah tetap datar.
"Terima kasih." Ucap Jonas singkat.
Inez langsung masuk ke ruangan Keenan wajah nya begitu khawatir. Tiba di dalam ruangan tampak Keenan terbaring tak berdaya di atas bangkar Rumah sakit. Terlihat pucat dan masih terpasang Infus di tangannya. Hati Inez terasa hancur melihat pria yang sangat di cintainya tak berdaya seperti itu. Dia pun menangis sejadi-jadinya.
Inez duduk di sebelah Keenan. Inginrasanya dia memeluk tubuh Keenan. Membelai wajah nya dan menggenggap tangannya untuk memberi ketenangan. Tapi tidak dapat dilakukannya karena takut Keenan semakin tersiksa.
"Kenapa bisa seperti ini Keenan? Sakit rasanya melihat mu seperti ini. Kau biasa terlihat kuat dan gagah dan kali ini kau begitu tidak berdaya. Katanya kau menyelamatkan seorang gadis. Siapa gadis itu hingga kau mempertaruhkan dirimu untuknya? Cepatlah sehat, aku dan Noah membutuhkan mu." Inez menangis sesugukkan. Lama dia menangisi Keenan. Tangannya dia letakkan di atas dada Keenan. Wanita itu mengelus lembut dadanya. Dia masih terus menangis.
Didepan pintu sepasang mata menyaksikan kejadian itu. Siapa lagi kalau bukan Ruby. Dia merasa tidak tenang berada di ruangannya. Dia selalu memikirkan Keenan dan akhirnya dia memutuskan untuk masuk keruangan Keenan. Didepan ruangan Keenan hanya ada Jonas, tetapi pria itu tertidur dan Ruby langsung masuk tanpa izin. Saat di dalam Ruby begitu terkejut melihat seorang wanita yang tidak jelas wajahnya karena sedang tertunduk menangis sambil mengelus dada Keenan. Aitmata Ruby lolos begitu saja. Perasaan sakit apalagi yang saat ini dia rasakan pada Pria yang seharusnya tidak diharapnya lagi.
"Bangunlah Keenan, aku dan Noah membutuhkanmu. Kami menunggu mu." Ucap Inez merasa putus asa. Dia tidak bisa tidur. Dia hanya bisa menangis dan terus menangis.
Ruby menahan suaranya dan tangisnya agar tidak terdengar wanita yang sedang bersama Keenan itu. Ruby merasa tidak tahan menyaksikan semuanya. Dia sudah mendengar semuanya. Mungkin wanita ini adalah wanita Keenan. Dia pun perlahan beranjak keluar dari ruangan Keenan tapi langkahnya sempat terhenti karena Jonas tengah menatapnya. Dia langsung cepat menghapus airmatanya agar Jonas tidak melihatnya. Tapi sayangnya pria itu dengan cepat sadar dan mengetahui bahwa Ruby sedang menangis.
"Ruby,,, kau menangis? " Tanya Jonas.
"Maaf Jonas aku harus pulang." Jawab Ruby dan langsung beranjak pergi tanpa menjawab pertanyaan Jonas.
"Ruby,,, kau belum begitu pulih. Kenapa kau keluar dari ruangan mu? " Teriak Jonas yang sama sekali tidak di gubris Ruby. Ruby terus berlari keluar Rumah Sakit. Dia kembali menangis. Hatinya terasa begitu sakit. Dia mencoba memukul-mukul dadanya.
"Kenapa sakit sekali rasanya. Kenapa aku harus merasakan ini lagi. Ruby kenapa kau bodoh sekali?" Tangis Ruby semakin menjadi, sampai dia berjongkok, sebagian mata melirik Ruby. Tapi Ruby tidak perduli. Lama dia berjongkok dan memutuskan untuk pulang dengan menggunakan Taksi.
Sementara didalam Jonas merasa bingung apa yang terjadi pada Ruby kenapa dia menangis setelah keluar dari Ruangan bos nya. Jonas pun mencoba masuk dan dia melihat pemandangan yang menurutnya sangat tidak mengenakkan. Inez tampak memegang lembut dada Keenan sambil menangis dan terus mengeluh. Jonas tidak menghampirinya. Dia kembali keluar dan kembali duduk.
"Apa Ruby menangis setelah melihat Inez dan Pak Keenan. Tapi kenapa harus menangis? Apa Ruby cemburu pada Inez?" Jonas bermonolog sambil menerka-nerka.
"Ahh sudahlah, wanita memang susah di tebak." Ucap Jonas dan segera mengambil ponselnya dan dia melihat banyak panggilan dari Sandra, Ibu dari Bos nya.
"Aduhh,,, Nyonya Sandra sudah menghubungiku berulang kali. Apa sebaiknya aku menghubunginya kembali? Tapi ini sudah tengah malam dan mungkin beliau sudah tidur. Lebih baik besok pagi saja." Ujar Jonas dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
__ADS_1