
Ruby meletakkan tas nya dan langsung menuju dapur. Mengeluarkan bahan makanan yang akan di masak. Tanpa berbicara dengan Keenan Ruby sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Begitupun dengan Keenan, dia duduk sambil memegang tabletnya. Sesekali dia melirik Ruby yang sedari tadi diam tanpa kata.
Keenan merasa heran biasanya Ruby selalu ribut, ngoceh ini itu tapi kali ini dia diam tetapi tetap bekerja dengan ulet. Hal itu malah membuat Keenan gelisah. Dan bertanya-tanya ada apa dengan Ruby. Tiba-tiba ponsel Ruby di atas meja bergetar. Tadi nya Keenan tidak perduli tetapi ponsel terus bergetar. Keenan pun melihat siapa yang menghubungi Ruby malam-malam seperti ini.
'Richard, kenapa Richard bisa mengetahui kontak Ruby, padahal tadi aku tidak memberikan kontak Ruby pada pria itu. Mudah sekali dia mendapat kontak Ruby.' Batin Keenan kesal. Wajahnya di tekuk, datar dan tidak bersahabat.
Wangi masakan Ruby pun mulai tercium. Keenan semakin merasa lapar, ditambah lagi hati nya sedang tidak baik-baik saja.
Ruby menyajikan makanan di atas meja dan setelah selesai dia membuka apron masaknya dan mulai merapikan dirinya di depan cermin dekat dapur.
Keenan sudah duduk di depan makanan yang di sajikan Ruby, mata pria itu terus memandang Ruby. Dia pun mulai menyantap makanan tersebut.
"Aku sudah selesai. Aku pulang sekarang ya." Ujar Ruby dan langsung mendapat tatapan tajam bak elang dari Keenan.
"Kenapa buru-buru, kau juga belum makan makanan ini." Jawab Keenan datar.
"Aku sudah makan pak. Silahkan lanjut makan anda dan aku permisi pulang dulu." Ruby mulai beranjak tetapi langkahnya terhenti karena Keenan menarik tangan Ruby.
"Tunggu sampai aku selesai makan. Aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah mulai larut malam."
"Tidak perlu, ini masih jam 11, aku bisa pulang sendiri." Jawab Ruby.
"Jangan membantahku, aku tidak suka di bantah." Ucap Keenan ketus.
Ruby menghela nafas, dengan berat hati dia kembali duduk di hadapan Keenan yang sudah kembali menyantap makanannya. Masakan Ruby benar-benar membuatnya semangat untuk makan. Dia melupakan program dietnya.
"Tadi ponselmu berdering." Ucap Keenan datar.
"Benarkah?" Ruby langsung memeriksa ponselnya.
"Darimana Richard tau nomor mu?" Tanyanya ketus.
"Oh mungkin dari asistennya. Tadi asistennya meminta kontak wechat ku dan aku memberikannya."
Keenan langsung tertawa menyela. Richard benar-benar licik.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Ruby heran.
"Sudah berbicara sejauh mana kalian berdua? Bukankah tadi kau terlihat cuek padanya. Kenapa malah dengan santai menerima pertemanan wechatnya.
" Aku dan dia belum banyak bicara, hanya sekedar chatingan biasa saja. Perkenalan dan aku rasa itu wajar-wajar saja. Dia juga Klien kita." Jawab Ruby santai dengan senyuman polosnya.
"Jangan termakan omongan kosongnya. Dia itu seorang Casanova. Banyak wanita yang dia dekati dan di ajak kencan setelah itu dia tinggalkan begitu saja."
"Hhm entah lah, sejauh ini yang aku tau dia itu baik dan humoris dia juga tampan. Dia banyak bergurau dan cukup menghibur. Sepertinya seru jika dekat dengannya." Ruby menjawab sambil membalas pesan Richard.
Dahi Keenan berkerut, dia semakin jengah mendengar ucapan Ruby yang memuji pria lain.
"Jadi kau berniat dekat dengan nya?" Tanya Keenan geram.
"Tidak ada yang salah kan jika kami dekat, dia seorang lajang, aku juga begitu." Jawab Ruby asal.
Keenan kembali tertawa menyela. Dia sangat kesal Ruby menanggapi dengn santai.
"Kenapa tertawa seperti itu? Apa ada yang salah pak?" Tanya Ruby.
"Jangan samakan dia dengan dirimu. Belum tentu sama" Ketus Ruby. Dia tersinggung mendengar ucapan Keenan.
"Jadi menurut mu aku seperti itu?" Tanya Keenan semakin kesal.
"Lalu apalagi. Bukan kah kau juga mempekerjakan aku karena tujuan tertentu? Tidak ada angin tidak ada hujan kau meminta ku untuk jadi sekretarismu. Padahal banyak calon lain yang bisa kau tunjuk. Apa agar kau bisa melakukan hal sesukamu, merendahkan ku, menghina bahkan melakukan hal yang tidak masuk di akal pikiranku. Atau apa kau melihat ku dari sisi yang lain? Aku terlihat bodoh bukan? gampangan dan mudah di rayu. Seperti itu kan aku di matamu?" Ungkap Ruby meluapkan isi hatinya.
"Jangan asal bicara padaku. Ingat aku adalah bos mu. Aku bisa saja menendang mu sekarang juga jika aku mau."
"Lakukan lah. Tunggu apalagi? Kau bisa memecatku sekarang juga." Lirih Ruby.
"Tidak semudah itu untuk berhenti dari Perusahaan ku. Aku masih ingin kau bekerja dengan ku."
"Untuk apa? Melayani mu sebagai pembantu atau pemuas nafsu?" Mata Ruby mulai berkaca-kaca karena tersulut emosi.
"Ruby,,," Teriak Keenan dan membuat Ruby terkejut. Suara Keenan begitu kuat. Dia begitu tersinggung dengan ucapan Ruby. Karena dia benar-benar tidak ada niat seperti itu. Walau awalnya Keenan hanya penasaran pada Ruby.
__ADS_1
"Jangan memancing amarahku By, aku hanya mengingatkan mu untuk berhati-hati dengan Richard. Jangan sampai kau menyesal." Ungkap Keenan memperingatkan.
"Aku seharusnya lebih berhati-hati padamu pak. Richard tidak melakukan apapun. Hanya sekedar berkenalan dan itu tidak lebih. Kenapa kau harus khawatir? Aku hanya sekretarismu bukan kekasihmu. Jangan bersikap berlebihan. Walau aku miskin dan tidak memiliki status sosial yang tinggi, tapi aku bebas dekat dengan siapapun. Bukankah kau juga seperti itu?"
Keenan mulai kualahan menghadapi Ruby. Gadis itu benar-benar memprovokasinya.
"Kau bisa melakukan apapun dengan ku sementara kau memiliki kekasih. Bagaimana bisa kau mengatakan rindu pada wanita mu sementara kau juga tidur dengan wanita lain? Aku sungguh tidak habis fikir. Apa kau fikir aku wanita murahan?" Teriak Ruby menangis sambil tertawa menyela. Dia menahan amarahnya sejak tadi dan akhirnya dapat ia luapkan pada Keenan. Ruby ingin beranjak tapi Keenan masih menahan tangannya.
"Apa yang kau katakan aku tidak mengerti. Mengatakan rindu pada siapa maksud mu? Kita sedang membahas Richard, kenapa kau malah memarahiku dan berbicara yang tidak-tidak?." Keenan memegang erat tangan Ruby.
"Jelas aku marah, kau pria tidak punya hati, kau selalu bertingkah semaumu. Aku membenci mu." Tangis Ruby pecah dan Keenan menjadi panik. Dia bingung kenapa Ruby menangis seperti ini. Pdahal dia hanya bertanya tentang Richard walaupun perkataannya sedikit menyinggung Ruby.
Keenan menarik Ruby dalam pelukannya. Dia menenangkan gadis itu. Dia jadi merasa bersalah.
"Maaf,,,aku tidak bermaksud menyinggung mu. Aku hanya mengingatkan. Aku tidak ingin kau masuk perangkap Richard. Bagaimana pun kau adalah orang ku. Wajar aku memgingatkanmu. Apapun yang terjadi kau akan menjadi tanggung jawabku." Ucap Keenan sambil mengelus punggung Ruby yang sedang menangis.
"Tapi kau menyinggungku seolah aku wanita murahan yang tidak pantas didekati pria manapun." Ruby semakin tersedu. Dia mulai masih tenang di dalam pelukan Keenan.
"Sstt,,, tidak aku tidak bermaksud. Maafkan aku By." Keenan merasa menyesal sudah mengatakan ini.
Ruby melapas pelukan Keenan dan mulai menjauhi nya.
"Aku harus pulang." Ucap Ruby.
"Biar aku antar." Jawab Keenam spontan.
"Tidak perlu pak, aku bisa sendiri."
"Jangan keras kepala. Aku akan mengantarmu pulang. " Keenan mulai kesal lagi. Dia memang susah mengendalikan emosi jika berhadapan dengan Ruby.
"By,, perkataan yang kau maksud tadi. Aku mengatakan rindu pada siapa?" Keenan masih penasaran.
"Tadi pagi. Bukankah kau mengatakan akan menemui pacar mu karena kau merindukannya." Ucao Ruby polos.
Keenan berfikir sejenak dan mengingat kejadian pagi tadi. Tiba-tiba senyum simpul Keenan tercipta. Dia baru ingat jika tadi dia menghubungi Inez. Tapi dia tidak merasa mengatakan rindu pada Inez. Ruby benar-benar salah paham.
__ADS_1