
Ruby beristirahat cukup lama, Keenan juga tidak mengganggu nya, dia membiarkan Ruby tidur hingga melewati makan siang nya. Namun pria tampan itu menyediakan makanan untuk Ruby makan setelah bangun.
Keenan masih sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ponselnya berdering, dia melirik siapa yang menghubunginya.
"Kakek...!!! " Keenan langsung meraih ponselnya dan menjawab panggilan dari Kakeknya itu.
"Kau benar-benar sudah tidak menganggapku ada Tuan Muda Kiel. Kenapa tidak pernah menghubungiku dan memberiku kabar?" Omel Newton Kiel.
"Kakek,,, bagaimana kabar mu? Maaf Kek, aku tidak bermaksud mengabaikan mu."
"Kenapa tidak memberitahuku kalau kau tidak bekerja di K-Group lagi? Kalian benar-benar sudah menganggapku sudah mati ya." Ucap Newton marah.
"Tidak Kakek, ceritanya panjang dan aku akan menceritakannya setelah kakek kembali dari luar Negri." Ucap Keenan sambil mengusap kasar wajahnya.
"Satu jam lagi temui aku di Mall dekat kantor mu. Kita harus bicara. Kita sudah lama tidak berbagi cerita. Apa kau tidak merindukan Kakek mu cucuku? " Ucapan Newton sontak membuat Keenan membesarkan matanya.
"Kakek sudah disini?" Tanya Keenan terkejut.
"Hhm,,,kenapa kau tidak senang?" Tanya Newton sinis.
"Bukan begitu Kakek, aku hanya terkejut kenapa tidak memberitahuku. Aku bisa menjemput mu." Ujar Keenan kesal.
"Tidak perlu pura-pura perduli, bilang saja kau tidak senang aku menemui mu."
"Aku justru sangat senang Kek, kenapa selalu berfikiran buruk padaku." Keenan terdengar seperti merengek.
"Tapi satu jam lagi aku ada Meeting dengan Klien."
"Aku akan menunggu mu, kabari saja jika kau sudah selesai."
"Baiklah kakek, aku akan menjemputmu jika aku sudah selesai." Jawab Keenan.
"Tidak perlu, kita bertemu di Mall saja."
"Huh,,, baiklah Kek. Sampai ketemu Kek."
"Sampai ketemu." Newton mengakhiri panggilannya.
Keenan mengehelakan nafasnya, dia tidak menyangka jika kakek nya sudah berada disini. Dia pasti kena amuk habis-habisan oleh Kakeknya karena tidak pernah memberi kabar.
Tiba-tiba pintu ruangan rahasia Keenan bergerak. Tampak Ruby dengan wajah bantalnya keluar dari ruangan itu.
"Kau sudah bangun?" Tanya Keenan sambil menyelesaikan pekerjaannya tanpa melirik Ruby.
"Kenapa tidak membangunkan ku. Ini sudah pukul 15.00 dan aku sudah tidur terlalu lama." Suara Ruby terdengar serak, dan hal itu membuat Keenan menoleh ke arahnya.
Mata Keenan tidak berkedip sedikitpun karena melihat wajah cantik Ruby saat baru bangun tidur, rambutnya di gerai begitu saja, wanita itu tampak hendak mengikat rambutnya hingga memamerkan leher dan tengkuk putih mulus Ruby yang membuat Keenan menelan saliva nya. Ruby terlihat sangat menggoda.
'Kau sudah tidak waras Keenan, bahkan kau tergoda melihat Ruby baru bangun tidur seperti ini, sadarlah Keenan.' Batin Keenan sambil mengedip-ngedipkan matanya. Dia langsung mengalihkan pandangannya.
"Kau tidur nyenyak sekali, mana mungkin aku membangunkannya." Ucap Keenan datar.
"Maaf ya, aku jadi membiarkan mu bekerja sendiri. Aku akan kembali ke meja ku. Terima kasih sudah mengizinkanku tidur di ruanganmu." Ruby sedikit membungkuk dan hendak melangkah keluar dari ruangan Keenan.
"Kau belum makan siang, makanlah dulu, aku sudah membeli makanan untuk mu." Ucap Keenan sambil menunjuk makanan di meja tamu yang ada di hadapan Ruby. Keenan tampak canggung hingga tidak berani berbicara sambil menatap Ruby.
Ruby melirik Keenan yang sibuk dengan Laptopnya. Dia tidak tau saja kalau Keenan berpura-pura bekerja.
"Kenapa repor-repot begini." Ruby merasa tidak enak.
"Sudah,,, makanlah, setelah ini kau harus pergi ke suatu tempat." Ujar Keenan berpura-pura cuek. Padahal saat ini jantungnya berdegup kencang tidak karuan.
"Kemana? " Tanya Ruby penasaran dan Ruby seketika tidak berkutik setelah mendapat tatapan tajam dari pria tampan itu.
"Baiklah aku akan makan." Jawab Ruby langsung duduk di sofa dan menyantap makanan yang sudah Keenan beli.
"Kau sudah makan? Mau makan bersama" Tanya Ruby.
"Hah? Apa?,, ahh tidak, aku sudah makan." Jawab Keenan gagap. Dan Ruby pun mengangguk sambil menyantap makanannya.
Tidak lama akhirnya Ruby selesai makan. Dia tidak sadar sedari tadi Ruby tidak lepas dari tatapan Keenan. Namun pria itu tampak sedang berpura-pura bekerja.
"Enak?" Tanya Keenan.
"Hhm,,, sangat enak." Jawab Ruby.
"Lidahku paling tau mana makanan yang enak dan tidak." Ujar Keenan angkuh, Ruby hanya tersenyum mendengarnya.
"Sekarang katakan aku harus kemana." Tanya Ruby duduk tegak di sofa sambil menatap Keenan. Keenan melepas kaca matanya dan beranjak dari kursi kerjanya, berjalan menghampiri Ruby. Dia duduk di hadapan Ruby sambil memberikan sebuah kartu lagi pada Ruby.
"Ini apa lagi?" Tanya Ruby dengan alis berkerut.
"Minggu depan kakek ku berulang tahun, bisa bantu aku mencari kado untuknya? Aku sebenarnya kurang paham dalam memilih kado."
"Ohh,,, lalu kenapa memberi ku kartu lagi? Kartu mu yang kemarin juga belum aku kembalikan." Celetuk Ruby.
"Pegang saja untuk mu, kau juga tidak pernah menggunakannya."
"Bagaimana kau tau, aku sudah menggunakannya untuk biaya perobatan Alex."
__ADS_1
"Iti berbeda,,, maksud ku membeli sesuatu keperluan untuk mu."
"Aku tidak butuh apapun. Aku masih punya uang untuk memenuhi kebutuhanku." Jawab Ruby sedikit kesal.
"Kau keras kepala sekali." Ucap Keenan.
"Aku akan membelikan kado itu menggunakan kartu mu yang sebelumnya." Seru Ruby sambil menyerahkan Kartu itu kembali pada Keenan.
"Jika kau memberikan semua kartu mu padaku, aku akan menghabiskan semua nya. Dan aku akan membawa kabur semuanya." Ancam Ruby berpura-pura.
"Ambil saja, aku tidak akan jatuh miskin hanya karena kau menghabiskan uang ku. Lagian kau ingin kabur kemana? Kau fikir bisa pergi dengan mudah dari ku? Aku tidak akan membiarkannya begitu saja" Ucap Keenan dengan angkuh.
Ruby terdiam, wajahnya kembali bersemu, memerah seperti tomat.
"Kenapa wajah mu memerah seperti itu? Kau pasti merasa berbunga mendengar ucapanku?" Tanya Keenan sambil tersenyum menuntut.
"Ti,, tidak, aku hanya kepanasan setelah makan tadi." Jawab Ruby salah tingkah.
"Kau selalu berdalih." Keenan menyipitkan matanya.
"Baiklah,,, kalau begitu aku harus pergi sekarang sebelum sore." Ruby bangkit dari duduknya dan hendak pergi namun Keenan menarik tangan Ruby dengan kuat hingga membuat gadis itu terduduk di pangkuan Keenan. Hal itu sontak membuat Ruby gelagapan, jantungnya berdegup kencang, wajah Keenan sangat dekat dengannya. Masih tampak memerah.
Keenan membelai lembut pipi Ruby dan berkata.
"Aku belum selesai, kenapa kau ingin cepat-cepat pergi." Tanya Keenan sambil berbisik ditelinga Ruby.
"Aku,,, aku,,,!!! " Ruby tiba-tiba gagap.
"Jengan pernah berfikir untuk pergi dariku, aku tidak akan membiarkanmu menjauh, seperti perkataan yang kau ucapkan tadi malam, kau tidak akan kemanapun bukan. Buktikanlah... "
"Kau mendengarnya?" Tanya Ruby khawatir.
"Ya,,, sampai membuatku memikirkannya sepanjang malam." Keenan semakin mendekatkan wajahnya.
Ruby semakin tersipu malu, wajahnya semakin memerah, dan jantungnya seakan ingin lepas.
Bibir Keenan hampir mengenai bibir Ruby, namun terhenti ketika kedua nya mendengar ketukan pintu.
Keenan mengerang kesal, Ruby juga dengan cepat menjauh dari Keenan.
"Pergilah, aku akan menjemput mu nanti setelah selesai Meeting." Ucap Keenan.
"Tidak perlu aku temani?" Tanya Ruby.
"Tidak,,, aku akan pergi sendiri. Aku ingin bertemu dengan Richard." Celetuk Keenan. Dia sengaja tidak mengajak Ruby karena dia tidak ingin Ruby dan Richard bertemu.
"Hm,,, baiklah, aku pergi dulu." Ruby pun bergegas pergi dan di depan pintu berpapasan dengan Jonas yang sudah membawa berkas untuk Meeting. Ruby tersenyum, begitu pun Jonas, Jonas tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum pada gadis cantik itu.
"Kau selalu saja datang di saat yang tidak tepat." Ucap Keenan kesal.
Jonas langsung paham ucapan bos nya itu.
"Maaf bos, tapi bos yang memanggil saya untuk mempercepat Meeting hari ini. Dan semua sudah siap bos." Jawab Jonas.
"Huhh,,, baiklah, kita berangkat sekarang." Ajak Keenan.
***
Ruby mendatangi Mall di dekat kantor, berjalan sendiri sambil melihat-lihat kado apa yang cocok untuk di berikan pada Kakek Keenan.
Ruby melihat sebuah toko yang menjual barang-barang antik dan Ruby berniat masuk kedalam, namun belum sampai pintu masuk dia mendengar suara ribut-ribut di sebelah toko yang ingin dikunjunginya.
"Heii tua bangka, apa kau tidak bisa melihat? Kau tidak lihat aku sedang buru-buru. Dengan sengaja menabrakku hingga barang-barangku berserakan begini." Ucap pria sekitar 20an tahun sedang membentak seorang pria yang jauh lebih tua darinya. Pria tua yang tampilannya begitu sederhana, pria bertongkat itu pun menjawabnya.
"Kau yang menabrakku, mengapa kau yang marah padaku." Ucap Pria tua itu.
"Jadi kau balik menuduhku? Kau tidak tau aku siapa? Orang tua ku orang yang berpengaruh di negri ini dan kau tidak akan bisa mengunjungi Mall besar ini lagi jika mencari masalah denganku." Ancam anak itu.
"Kau terlalu sombong anak muda. Aku tidak perduli kau anak siapa. Disini kau tetaplah bersalah. Jangan balik menyalahkan orang lain." Jawab Pria Tua itu dan membuat anak muda itu naik darah, dia mendorong kuat pria tua itu hingga membuat pria tua itu terjerembab di lantai. Melihat hal iti Ruby langsung menghampiri kedua nya.
Anak muda itu hendak mengangkat tangannya untuk memukul pria tua yang di dorongnya tadi namun dengan sigap Ruby menangkap tangan anak muda itu dan langsung memplintirnya dengan keras.
Anak muda itu langsung mengngerang kuat karena kesakitan.
"Berani-beraninya kau melawan orang yang lebih tua dari mu." Ruby masih menahan plintirannya sampai Anak muda itu kapok."
"Sakit,,, sakit,,, lepas,,, tolong lepaskan." Teriak anak laki-laki iti kesakitan, namun kaki nya berusaha ingin menendang Ruby, namundengan sigap Ruby menghindar dan balik menendang anak muda itu hingga terpental ke lantai.
Pria tua itu kagum melihatnya.
"Jangan kembali lagi jika kau masih ingin hidup." Ancam Ruby sambil menunjuk wajah anak itu.
"Aku akan membalasmu sialan." Ucap anak itu dan langsung berlari meninggalkan Ruby, banyak mata yang menyaksikan kejadian itu. Dan mereka tampak kagum melihat keberanian Ruby.
Ruby langsung menghampiri pria tua iti dan hendak menolongnya.
"Mari Tuan aku bantu." Ruby mengulurkan tangannya.
Pria tua itu dengan senang hati meraih tangan Ruby.
__ADS_1
"Terima kasih nak, sudah membantuku." Ucap Pria tua itu."
"Tidak masalah tuan, anak muda tadi sudah sangat keterelaluan. Apa ada yang sakit?" Tanya Ruby penuh perhatian. Namun pria tua itu masih terus menatapnya kagum.
"Siapa nama mu nak?" Tanya pria itu.
"Ruby,,, panggil aku Ruby."
"Nama yang cantik, cantik seperti orangnya." Goda pria itu.
"Perkataan mu membuat ku tersanjung Tuan, tapi aku tidak tertarik pada pria tua." Celoteh Ruby hingga membuat pria itu tertawa.
"Kau bisa saja nak. Panggil aku Kakek Ton, salam kenal nak Ruby."
"Salam kenal juga kakek penggoda. Pasti waktu muda kau sangat pandai merayu bukan?" Tanya Ruby lagi.
"Kau tau saja nak." Jawab pria itu. Dan kedua nya pun tertawa terbahak.
"Kau hendak kemana nak?" Tanya Kakek Ton pada Ruby.
"Tadinya aku ingin ke toko ini kakek. Bos ku minta bantuan untuk membeli hadiah untuk kakeknya." Jawab Ruby.
"Kebetulan sekali nak, kakek juga ingin ke tempat itu. Mari sama-sama mencari. Aku juga sepertinya tertarik dengan barang-barang antik disini.
"Mari kakek, syukurlah kita satu tujuan yang sama, jadi aku bisa bertanya padamu kado mana yang cocok." Mereka berdua pun berjalan masuk ke dalam toko itu.
Didalam toko keduanya sibuk memilah-milah apa yang cocok.
"Kau sudah menemukannya?" Tanya Kakek Ton.
"Belum kakak, aku masih bingung membeli apa." Jawab Ruby sambil melihat-lihat.
"Kau tau dia menyukai apa? "
"Bagaimana aku tau, bos ku tidak memberitahukan aku bagaimana sosok kakek nya. Kalau menurut pemikiran ku pasti Kakek ini sangat kejam dan dingin sama seperti cucunya." Ucap Ruby asal.
"Benarkah? Kalau begitu kau bisa membelikan barang yang cocok dengan temprament nya, seperti tongkat kokoh seperti ini, pisau tajam antik seperti ini atau senjata tajam lainnya."
"Haha,,, itu sangat menyeramkan kakek, aku rasa tidak seperti itu juga." Seru Ruby dan membuat kakek ton tertawa.
"Aku hanya bercanda. Kau suka kopi nak?"
"Aku sangat suka kopi kakek, kau juga suka? "
"Yah,, aku juga sangat menyukai kopi, tapi karena aku sudah tua, aku hanya minum kopi hasil racikan sendiri yang pasti tidak berbahay untuk kesehatanku." Ucap Kakek ton.
"Kalau begitu aku membeli mesin meracik kopi saja bagaimana. Aku rasa kakek itu juga suka."
"Ide yang bagus nak. Mudah-mudahan saja dia juga suka kopi, kalau tidak bos mu akan sangat marah jika kau salah pilih." Tukas kakek Ton.
"Dia tidak akan marah kakek, apa kakek juga mau? Aku akan membelikannya satu untuk kakek." Ujar Ruby tulus.
"Tidak perlu nak, kakek tidak membutuhkannya. Kau pilih saja untuk bos mu."
"Huh kakek, baiklah kalau begitu." Ruby melirik sebuah mainan kunci berbahan keramik, bergambar seorang nenek dan kakek yang saling berpelukan. Ruby langsung mengambil nya dan mengambil 1 unit mesin meracik kopi. Dia langsung ke kasir untuk membayar nya.
Setelah selesai Ruby menghampiri Kakek Ton dan langsung memberikan mainan kunci itu padanya.
"Ini untuk kakek, spesial dari ku. Maaf aku hanya sanggup membeli barang ini. Ini tidak mahal kek, tapi aku yakin kakek akan menyukainya."
Kakek ton berbinar melihat nya. Baru kali ini dia bertemu dengan seorang gadis yang sangat tulus, padahal mereka baru bertemu namun sikapnya seperti sesang bersama kakek nya sendiri.
"Ini sangat bagus nak, kakek sangat menyukainya. Tapi kakek merasa tidak enak karena tidak membelikan mu apa-apa."
"Tidak apa-apa kakek, aku tidak membutuhkan apapun. Aku sangat sanang bertemu dengan mu. Aku merasa seperti memiliki seorang kakek." Ungkap Ruby.
"Kau tidak memiliki kakek?" Tanya Kakek Ton.
"Bagaimana aku memiliki Kakek, aku juga tidak tau siapa orang tua ku Kek." Celetuk Ruby membuat kakek Ton terdiam.
"Maaf nak, kakek tidak bermaksud.. "
"Tidak masalah kakek, aku baik-baik saja."
"Kalau saja cucu ku itu baik seperti mu aku akan menjodohkannya dengan mu."
"Kakek bisa saja. Aku juga bukan anak yang baik seperti yang kakek lihat." Ruby mengibaskan tangannya.
"Semoga kau selalu bahagia nak." Ucap Kakek To tulus
"Kakek juga, semoga kau selalu sehat dan juga bahagia." Ruby tersenyum hangat.
"Kita harus berpisah disini nak, karena aku harus bertemu dengan cucu ku, daritadi dia sudah sibuk menghubungiku. Dia sudah menunggu disana. Atau apa kau mau ikut bergabung?" Tanya Kakek Ton.
"Tidak kakek lain kali saja. Aku juga harus kesuatu tempat lagi."
"Baiklah nak, hati-hati dijalan ya. Terimakasih sudah membantu dan menemani Kakek."
"Terima kasih kembali kakek, kakek juga hati-hati, jika ada yang ingin berbuat jahat. Panggil nama ku sekuat-kuatnya. Aku akan datang." Gurau Ruby dan membuat Kakek Ton tertawa.
__ADS_1
"Aku deluan ya. " Ucap Kakek Ton mulai beranjak namun masih memandang Ruby.
Ruby membungkukkan badannya dengan sangat hormat, matanya juga tampak berkaca-kaca. Andai dia masih memiliki seorang kakek sebaik kakek Ton.