
"Tidak, kau salah besar. Mereka yang tulus padamu akan melihat kebaikan dan ketulusanmu. Lalu kenapa bisa ada Leon?" Tanya Lucy kembali.
"Saat aku mendengar Jesika dan Keenan berbicara ternyata Leon sudah ada di belakang ku. Jadi dia membawa ku pergi dari sana dan berniat mengantar ku pulang kerumah. Tapi aku menolaknya. Dia menggenggam tangan ku dengan kuat dan mengatakan tidak akan melepaskan ku lagi dan tidak akan membiarkan aku bersama dengan laki-laki lain. Aku tak mengerti maksudnya apa, tanpa sadar dia mau mencium ku."
"Apa? Leon mau mencium mu? Tapi tidak sempat kena kan Sweety? Yang benar saja dia itu. Brengsek sekali. " Ucap Lucy geram.
"Tidak, Keenan datang dan langsung memukul Leon. Leon mencoba membalas tapi saat akan memukul Keenan aku menghalanginya hingga pukulan itu mengenaiku." Ujar Clarissa menjelaskan.
"Kau menghalanginya? Astaga sayang setelah apa yang dia katakan tentang mu kau masih melindunginya. Kau memang luar biasa." Lucy menepuk kening nya sendiri karena heran melihat sahabatnya yang terlalu baik.
"Kau benar-benar sudah tergila-gila pada pria itu ya." Ucap Lucy menyindir sambil tersenyum.
"Tidak lucu Cy. Jangan pasang wajah seperti itu." Ketus Clarissa.
"Tidak akan ada lagi perasaan apa-apa untuk nya Cy, karena aku bukan lah siapa-siapa. AKu tidak layak dengan siapa pun. Benar yang dikatakan Keenan. Aku saja yang terlalu bawa perasaan saat dekat dengan nya. Terlalu over thingking. Dengan tak tau dirinya punya perasaan lebih." Clarissa kembali menundukkan wajah nya. Hati nya begitu sedih.
"Kau selalu begitu sweety. Aku sangat menyayangkan sikap mu. Terlalu sering merendahkan diri sendiri."
"Kau tidak berada di posisiku Cy, siapa pun akan pikir panjang dekat dengan ku. Apa lagi setelah tau aku bukan anak ayah dan Ibu ku." Pandangan Clarissa mengarah ke depan dan mata nya kembali mengeluarkan bulir bening.
"Apa maksud mu? Jangan bergurau." Lucy terkejut mendengar pernyataan Clarissa.
"Aku tidak bercanda Cy, aku bukan anak kandung dari Ayah dan Ibu ku." Clarissa menangis. Lucy yang mendengar hal itu langsung menutup mulut nya merasa tidak percaya.
"Kau serius Sweety?" Tanya Lucy sambil memegang tangan Clarissa yang sedikit bergetar.
"Bagaimana kau bisa tau kalau paman dan bibi bukan orang tua kandung mu?"
"Ibu ku mengatakannya sendiri dan aku mendengar semua nya." Clarissa mencoba kuat dan menahan tangis nya agar tidak keluar lagi.
__ADS_1
Lucy langsung memeluk Clarissa. Dan terus menguatkan sahabatnya itu.
"Apa kau sudah mengetahui nya sejak lama?
Clarissa menjawab dengan anggukan.
"Kenapa tidak memberitahu ku. Aku ini sahabat mu. Kapan pun kau ingin bercerita aku siap mendengarkan nya sweety. Kau tidak sendiri. Aku ada untuk mu." Lucy mengelus lembut punggung Clarissa yang masih terus menangis. Pantas saja Ibu Clarissa selalu galak dan tidak pernah bersikap baik pada Clarissa. Pikir Lucy. Sungguh malang nasib sahabatnya itu.
"Kau harus kuat ya. Semua pasti akan baik-baik saja." Lucy mulai melepas pelukannya.
"Pasti, aku baik-baik saja. Kau tenang saja." Clarissa mencoba untuk tersenyum walau Lucy tau Clarissa masih memaksakan dirinya padahal sesungguhnya sahabat nya ini sedang hancur. Apalagi setelah kejadian tadi. 'Sunggu luar biasa hati mu sayang. Aku selalu merasa beruntung berteman dengan mu' Ujar Lucy dalam hati.
"Sekarang kita pulang, jangan menangis lagi. Aku tidak tau bagaimana menjelaskan semuanya ketika orang tua mu bertanya kenapa dengan penampilan dan wajah mu yang sembab ini.
Mereka pun saling tertawa satu sama lain.
**
"Sial,,,!!! "
"Kenapa malah Clarissa mendengar semua nya? Wajar saja dia marah padaku. Aaarhhh,,,, " Keenan memukul dinding kamar.
Tiba ponsel Keenan berdering. Segera Keenan mengambil dari saku celana nya dan ternyata itu panggilan dari sang Papa.
"Iya pa ada apa? Tanya nya ketus.
" Keenan kau harus mendengarkan papa baik-baik ya. Segera jauhi teman mu yang bernama Clarissa itu. Ternyata dia adalah anak dari salah satu mata-mata di Mansion kita." Keenan terlonjak kaget mendengar perkataan sang papa. Keenan menegakkan tubuh dan kepala nya. Seakan tidak menyangka akan penjelasan sang Papa.
"Jangan ngaco pa, pak Teddy sudah lama bekerja dengan kita di Mansion ini, tidak mungkin dia melakukan itu." Teriak Keenan mulai tidak tenang.
__ADS_1
"Papa juga merasa begitu. Tetapi pengawal papa mengatakan hal itu dan semua masuk di akal Keen. Percayalah. Saat ini papa mohon menjauhlah dari gadis itu dulu ya, kerena dia juga punya rencana buruk pada mu. "
" Itu tidak mungkin pa. Aku tidak bisa mempercayai nya begitu saja tanpa bukti yang jelas."
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang pasti aku sudah memecat nya. Papa tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu nak. Tolong jauhin Clarissa. Kau belum tau jelas siapa gadis itu. Dia pasti punya rencana buruk pada mu." Ucap Anderson khawatir. Keenan langsung memutus panggilan sang Papa. Dia tidak sanggup lagi mendengarkan apa yang di katakan Papa nya. Keenan terduduk di lantai di samping ranjang.
"Apa lagi kali ini. Masalah satu belum kelar tapi sudah ada masalah baru. Aku harus bagaimana. Apa mungkin Clarissa memang berniat jahat padaku. Tapi untuk apa. Jika pun benar kenapa dia tega."
Keenan memegang kepalanya meramas rambutnya. Hari ini hari yang melelahkan, kenapa terjadi banyak kesalahpahaman.
"Clarissaaaa,,, " Jerit Keenan geram.
**
Di kediaman rumah Teddy.
"Apa???
"kau di pecat? Kenapa bisa? Apa yang kau lakukan sehingga kau dipecat dari tempat kerja mu? Kau tidak berbuat apa-apa kan?
" Suami ku, kita hanya bergantung pada kerjaan mu itu. Darimana lagi kita mendaparkan uang? Ujar Clara meraung-raung.
"Aku di fitnah. Mereka menuduh ku menjadi mata-mata di Mansion itu untuk menghancurkan mereka. Padahal kau tau aku bekerja disana cukup lama, bahkan tidak terbesit oleh ku untuk berbuat jahat pada mereka." Teddy terduduk lemah di kursi makan.
"Kenapa mereka tega sekali pada kita. Ini semua pasti karena putri mu yang sudah berani mendekati putra mereka. Memang anak itu pembawa sial." Ucap Clara semakin marah.
"Hentikan Clara, ini tidak ada sangkut paut nya dengan Clarissa. Aku hanya di fitnah. Begitupun Clarissa. Tanpa mereka sadari Clarissa sudah berdiri di depan pintu bersama Lucy. Clarissa sudah mendengar segala nya. Begitupun dengan Lucy. Lucy memegang erat tangan Clarissa yang dingin. Clarissa begitu terkejut apalagi dengan Lucy.
"Ayah,,, " Panggil Clarissa. Dan Teddy menoleh. Betapa kagetnya dia melihat putri kesayangan nya datang. Clarissa melepas tangan Lucy dan berlari kepelukan sang ayah. Dengan tangisan yang tidak bisa di bendung lagi.
__ADS_1
"Apa benar ayah di pecat? Apa semua karena aku ayah? Tanya Clarissa tersedu.
" Tidak nak, semua hanya kesalahpahaman. Ayah hanya di fitnah. Tapi itu bukan masalah besar. Kau tenang saja ya. Ayah bisa mengatasi nya. Ini semua tidak ada hubungannya dengan mu. Jangan menangis lagi ya nak." Ucap Teddy menenangkan Clarissa sementara Clara hanya menggeleng-gelengkan kepala nya merasa suami nya terlalu memanjakan putri tiri nya itu.