Come Back My Love

Come Back My Love
07. Terlalu Suka Membuang Waktu


__ADS_3

Clarissa keluar dari kamar nya, pagi-pagi buta, bersiap untuk berangkat ke sekolah dengan penampilan mata bengkak seperti biji kenari. Tetapi Clarissa tidak perduli itu. Melihat kedua orang tua nya di meja makan, Clarissa langsung pamit berangkat. Ayah nya menatap dengan sendu.


"Bukannya masih demam sayang? Libur lah untuk satu hari ini saja. Kau butuh istirahat. Ayah akan kesekolah untuk memberitahukan kau tidak bisa masuk." Bujuk Teddy.


"Tidak ayah. Aku sudah baikan dan akan semakin sakit jika terus berbaring. Lagian sebentar lagi akan ujian semester, aku tidak ingin ketinggalan pelajaran" Sambil melirik ibu nya yang sama sekali tak melihatnya. Melihat itu hati Clarissa terasa pedih. Dan dia mencoba mengabaikannya.


"Aku berangkat dulu ayah."


"Ayah akan mengantarmu. Tunggu sebentar." Clara menatap suami nya, dan setelah itu Teddy mengambil kunci sepeda motornya.


"Bawa bekal makan mu disekolah. " Ucap Teddy sambil memberikan kotak bekal untuk Clarissa.


"Terima kasih ayah." Clarissa pun beranjak tanpa mengatakan apapun pada ibunya.


Melihat itu Clara menghelakan nafas dengan kasar. Dia lelah dengan semua ini.


Sebaik apapun usahanya tetap saja dia tidak bisa menerima Clarissa dengan hatinya.


Diperjalanan tidak ada pembicaraan apapun, Clarissa maupun Teddy sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Mereka seperti orang asing. Teddy takut memulai pembicaraan yang berujung Clarissa akan bertanya lebih banyak tentang dirinya. Teddy tidak sanggup menjelaskan semuanya. Hatinya sangat sakit. Sesampainya di sekolah.


"Terima kasih ayah." Clarissa sedikit menunduk. Teddy merasa risih.


"Sudah berapa kali kau mengucap Terima kasih nak. Ayah tidak suka mendengarnya. Kita seperti orang asing" Ucap Teddy sedih.


'Aku memang orang asing yang tidak tau asal usulnya yah' Gumam Clarissa yang hendak menangis.


"Tersenyumlah nak, senyummu sangat manis, ayah ingin selalu melihatnya. Tidak akan ada yang berubah. Ayah selalu menyayangimu sepenuh hati ayah. Selamanya akan seperti itu."


Bulir bening dari mata Clarissa pun lolos begitu saja. Saat ini hatinya sangat hancur, seharusnya dia sangat senang mendengar perkataan ayahnya, tetapi entah mengapa malah terasa sesak di dada.


"Boleh ayah memelukmu? Teddy merentangkan tangannya.


Clarissa pun menghamburkan dirinya ke pelukan ayahnya dengan tangis sejadi-jadinya. Dia sangat mencintai ayahnya. Dia tidak sanggup menerima kenyataan kalau Teddy bukanlah ayah kandungnya.


Teddy melepas pelukannya. Dan menghapus air mata Clarissa.

__ADS_1


"Mata mu sudah seperti biji kenari, sangat jelek, jangan menangis lagi anak ayah yang paling cantik. " Senyum Teddy tulus.


Clarissa pun ikut tersenyum sambil sesegukan.


"Aku masuk dulu, ayah hati-hati dijalan. Nanti jangan menjemputku, sepertinya sepedaku sudah bagus kembali. " Clarissa tersenyum.


"Baiklah, sampai ketemu dirumah sayang. " Lelaki yang belum terlalu tua itu pun pergi dengan hati yang bercampur aduk.


Keenan sedari tadi berdiri di balik mobil nya, tadinya dia ingin masuk ke kelas tetapi setelah melihat sepasang ayah dan anak sedang berbicara serius, dia mengurungkan niatnya. Keenan menghelakan nafasnya, mengapa dia harus mendengar percakapan yang sama sekali dia tidak mengerti dan tidak penting juga, tetapi telinganya menolak untuk tidak mendengarkan.


"Terlalu dramatis." Ucapnya sambil berjalan dengan tangan dimasukkan kedalam saku celana.


Saat jam pelajaran berlangsung Clarissa tidak bisa fokus belajar, kepalanya kembali sakit dan sempoyongan, mungkin karena belum sarapan pagi. Dia tidak berselera untuk menyantap bekal yang diberi oleh ayahnya. Pikirannya masih tidak karuan.


Bel istirahat pun berbunyi, Clarissa segera bangkit dan hampir saja jatuh, kepalanya semakin sakit, tapi dia tetap menahanya. Dia harus segera ke UKS untuk mengambil obat sakit kepala. Dia berjalan perlahan keluar kelas, pandangannya semakin tidak jelas, tetapi Clarissa tetap memaksa untuk terus berjalan, hingga akhirnya Clarissa jatuh tepat didepan kelas XI-A, murid disekitarnya terkejut tetapi tidak ada yang berani menolong Clarissa, mereka hanya menonton sambil berbisik-bisik. Keenan yang baru keluar kelas melihat ada yang tergeletak dilantai, dan melirik sekitarnya yang tidak ada satupun yang mau menolong.


"Apa mata kalian buta? Membiarkan manusia pingsan seperti ini malah kalian tonton. Dimana hati kalian?" Apa Keenan juga memiliki hati? Keenan memaksa dirinya untuk menghampiri murid yang pingsan itu dan dia melihat ternyata gadis itu adalah Clarissa.


"Astaga,,,heii bangun." Keenan jongkok dan menepu-nepuk pipi Clarissa.


"Eegh,, " Clarissa sedikit menggeliat, setengah sadar dan membuka matanya, pandangannya tidak begitu jelas melihat Pria yang begitu dekat dengannya, pria yang memiliki kulit tidak terlalu putih, memiliki rahang yang tegas, hidung yang sangat mancungsangat samar terlihat, dan Clarissa tau siapa Pria yang menggendongnya ini. Clarissa pun kembali kehilangan kesadarannya. Ketika hendak sampai ke UKS langkah Keenan terhenti karena Leon menghalangi jalannya.


"Apa yang terjadi padanya." Tanya Leon sedikit panik.


Kening Keenan berkerut, dan dia berfikir apa perduli nya Pria ini. Bukannya kemarin dia yang terus mengganggu Gadis bodoh ini.


"Bisa kau menyingkir dari hadapanku? Bukan waktu yang tepat untuk bertanya." Ucap Keenan.


"Serahkan dia padaku, biar aku yang mengurusnya." Balas Leon


"Kau terlalu suka membuang waktu orang lain, minggir... " Keenan menabrak bahu Leon dan meninggalkan pria itu.


Seketika Leon ternganga dan kembali sadar untuk mengikuti Keenan ke UKS. Sesampainya ke UKS Keenan membaringkan Clarissa di ranjang UKS. Perawat di UKS pun segera memeriksa Clarissa.


"Ada apa dengannya? Tanya si perawat sambil memeriksa Clarissa.

__ADS_1


" Dia pingsan didepan kelas dan sepertinya dia demam, tubuhnya terlalu panas. "Jawab Keenan tegas. Leon hanya terdiam berdiri di belakang Keenan, entah apa yang pria itu fikirkan saat ini.


Keenan melirik Leon dan dia pun segera meninggalkan UKS karena merasa tidak perlu berlama-lama ditempat ini. Saat berhadapan dengan Leon tatapan Keenan sangat mendominasi, tatapan tajamnya membuat Leon sedikit merinding. Dan segera dia memalingkan wajahnya. Keenan pun pergi.


"Bagaimana keadaannya? Tanya Leon.


"Sudah tidak apa-apa, dia hanya demam tinggi, setelah istirahat beberapa waktu panas nya akan turun." Perawat itupun segera meninggalkan Leon dan Clarissa.


Leon mendekat ke ranjang Clarissa, dia menatap sendu wajah gadis itu, tampak begitu tentram walau masih terlihat sangat pucat. Leon takut-takut mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Clarissa. Tetapi dia memberanikan diri.


"Kenapa jadi seperti ini? Apa semua ini karena ulahku semalam?" Timbul perasaan bersalah di hati Leon, entah apa yang dirasakannya saat ini.


"Aku benci melihat diam mu. Ingin rasanya aku mengacaukan kehidupan mu. Tapi entah kenapa aku juga merasakan sakit di waktu yang sama." Ucap Leon pelan sambil menggenggam erat tangan Clarissa.


Clarissa menggeliat, segera Leon menarik tangannya, sepertinya Clarissa sudah mulai sadarkan diri. Clarissa perlahan membuka matanya dan yang pertama dilihatnya adalah Leon.


"Leon,,, " Ucap Clarissa dengan suara lemah dan berusaha bangkit.


"Jangan memaksakan diri. " Ucap Leon ketus.


Leon membantu Clarissa bangkit dan menyandarkan nya di sandaran ranjang.


Clarissa sedikit risih dengan sikap Leon, kenapa Leon yang ada disini menemaninya. Karena seingat Clarissa bukan Leon yang membawanya ke UKS, mata Clarissa melihat sekitar ruang UKS tapi dia tidak menemukan Pria itu.


"Kau mencari siapa? Pria itu? " Tanya Leon ketus.


"Tidak. Mengapa kau disini? Pergilah... " Jawab Clarissa yang tak kalah ketus.


Leon tersenyum sarkas.


"Ya entah untuk apa aku disini. Aku juga tidak mengerti." Jawab Leon sambil menatap Clarissa dengan lamat.


"Aku mohon untuk saat ini jangan berbuat onar dulu. Aku sedang tidak punya tenaga untuk melawan." Clarissa berbicara tanpa menatap Leon.


"Apa kau pernah melawan? Apapun yang aku lakukan yang kau tau hanya diam. Padahal kau bisa saja melakukan pembalasan. Aku benci kenaifan mu ca."

__ADS_1


__ADS_2