Come Back My Love

Come Back My Love
123. Peringatan Keras


__ADS_3

Rombongan Keenan pun sampai di Bandara, Keenan berjalan bersama Ruby, Jonas dan beberapa bodyguard lainnya. New York belakangan ini tidak aman terlebih di negaranya ini Keenan memiliki banyak pesaing bisnis yang selalu berusaha menjatuhkan bahkan berbuat jahat padanya serta keluarganya.


Ruby yang tampak kecil sendiri pun berjalan di belakang Keenan. Pria tampan itu berjalan dengan gagah dengan tempramen yang dingin, semua mata tertuju padanya.


Di depan dekat parkiran Josh menunggu kedatangan mereka, dia berdiri di sisi mobil sambil memegang ponselnya.


Rombongan Keenan pun menghampiri Josh.


"Hei Dude. Bagaimana kabar mu?" Sapa Josh sambil melagakan kepalan tangannya dengan tangan Keenan.


"Seperti yang kau lihat" Jawab Keenan dengan wajah yang masih tampak datar dan dingin.


"Hai By,,,bagaimana dengan mu?" Sambil melambaikan tangannya.


"Hai Josh, aku baik Josh, bagaimana dengan mu?" Ruby balik bertanya dengan ramah.


Keenan melirik keduanya dengan tatapan bengis.


"Aku sangat baik, apalagi setelah melihat mu. Kau cantik sekali hari ini." Goda Josh sambil melirik Keenan yang sudah terlihat geram.


"Kau sudah mengatur penginapan kita?" Tanya Keenan mengalihkan.


"Sudah, kau tenang saja, aku sudah memesan 2 execitive suite untuk kita. Tapi tunggu sebentar aku masih menunggu seseorang. Sebentar lagi dia akan tiba." Ujar Josh.


"Kau ingin aku menunggu berapa lama? Kau tau aku tidak suka menunggu." Keenan menggerutu. Ruby hanya tersenyum, Keenan memang sangat bawel.


"Tenang lah Dude, sebentar lagi dia akan tiba. Nah itu dia,,!!! " Tunjuk Josh pada sebuah mobil mewah yang menghampiri mereka.


Semua mata tertuju pada mobil tersebut. Semua nya tampak penasaran kecuali Keenan. Pria itu benar-benar cuek dan tidak mau tau siapa yang mereka tunggu.


Pintu mobil mewah itu terbuka dan tampak seorang yang sangat tidak asing keluar dari mobil tersebut.


"Lucy,,,,!!!" Ujar Ruby membesarkan matanya dan betapa terkejutnya dia melihat gadis cantik itu adalah sahabatnya.


"Sweety Pie,,,,,!!!!" Teriak Lucy sambil merentangkan tangannya.


Ruby langsung berlari dan sedikit menyenggol lengan Keenan.


"Lucy,,,!!! " Teriak Ruby menghampiri Lucy dan keduanya pun saling berpelukan.


Ruby tampak menangis bahagia, begitu pun dengan Lucy. Dia sangat bersyukur Ruby sahabatnya masih hidup.


Keenan menatap nyalang kedua wanita yang saking berpelukan itu dan menatap Josh secara bergantian.


"Mereka bersahabat." Seru Josh pada Keenan sambil menatap bahagia kedua wanita itu.


"Dia pacar mu?" Tanya Keenan pada Josh.


"Hhm hampir. " Jawab Josh singkat.


"Kau tidak pernah bercerita padaku." Sindir Keenan sambil menyeringai.


"Nanti aku akan cerita. Kau kenal dia?" Tanya Josh.


Keenan menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak mengenal wanita itu.


"Syukurlah kalau kau tidak ingat. Kalau kau ingat berarti kau sudah sembuh."


"Apa maksudmu? Jangan berbicara bertele-tele padaku Josh." Ucap Keenan geram.


"Tidak,,, lupakan saja." Ujar Josh.


"Aku sangat merindukan mu Sweety Pie." Lucy mempererat pelukannya.


"Aku juga, aku sangat merindukanmu. Aku tidak menyangka akhirnya kita bisa bertemu lagi." Ruby melepas pelukannya.


"Kau masih cantik seperti dulu sayang." Puji Lucy.


"Kau juga sangat cantik, ibu dokter yang berwibawa. Aku bangga padamu." Ruby memeluk Lucy kembali.

__ADS_1


"Jangan pergi lagi ya. Aku sungguh sakit ketika kehilanganmu." Airmata Lucy mengalir tiada habisnya.


Josh menghampiri kedua wanita cantik itu.


"Nanti menangisnya di lanjutkan lagi ya. Sekarang gantian dulu. Apa kau tidak merindukanku cantik? " Tanya Josh menggoda Lucy.


Lucy tersipu malu dan langsung memeluk Josh di depan semua orang. Ruby tersenyum bahagia. Mereka tampak serasi di mata Ruby.


Lain hal dengan Keenan, dia tampak semakin jengah melihat adegan yang begitu membosankan.


"Aku merindukanmu." Bisik Lucy pada Josh dan membuat pria itu senang.


"Apa kita akan disini sampai besok?" Sindir Keenan membuat ketiga orang yang di hadapannya itu menoleh ke arahnya.


"Itu dia si angkuh, Hadeh,,, dia tidak pernah berubah. Masih seperti dulu, angkuh dan menyebalkan." Ujar Lucy dengan tatapan menyela saat melihat Keenan.


Ruby dan Josh tertawa mendengar Lucy menggerutu seperti dulu.


Keenan balas menatap Lucy dengan tajam. Keenan tidak mengerti mengapa wanita itu menatapnya dengan sinis.


"Kita gerak sekarang sebelum dia murka ya." Ujar Josh.


"Nanti kita ngobrol lagi ya. Aku kesana dulu."


"Pergilah Sayang sebelum singa itu mengamuk." Ejek Lucy kesal.


Ruby tersenyum dan kembali menghampiri Keenan.


Keenan, Ruby dan Jonas menggunakan mobil yang Josh bawa dan Josh naik ke mobil Lucy. Mereka pergi menuju penginapan.


Keenan bisa saja langsung pulang ke kediaman keluarga Kiel. Namun dia tidak ingin. Dia lebih memilih menginap di hotel.


Sesampainya di hotel, Josh sudah menerima dua kunci kamar yang sebelumnya sudah dia pesan. Satu kunci dia serahkan kepada Ruby dan satu nya lagi dia pegang.


Ruby dan Lucy berjalan bergandengan bersama Lucy, hal itu membuat Keenan tidak suka. Walau mereka sahabatan Keenan tetap tidak senang melihatnya, hal itu membuatnya berjarak dengan Ruby.


Sesampainya di depan kamar Josh membuka satu kamar untuk dia tempati bersama Keenan dan Jonas dan satu nya lagi untuk Ruby dan Lucy.


"Lalu kau ingin sekamar dengan siapa? Executive suite hanya tersisa 2."


"Ruby, ikut denganku." Celetuk Keenan membuat semua nya terngangak. Wajah Ruby langsung memerah karena malu.


"Yang benar saja kau mau sekamar dengan Ruby. Kalian belum menikah." Lucy tampak marah.


"Dia sekretarisku. Kemanapun aku pergi dia harus ikut bersama ku." Jawab Keenan ketus.


"Tidak bisa, kau tidak boleh satu kamar dengannya. Jangan memanfaatkan keadaan Tuan muda." Repetan Lucy membuat Keenan sakit kepala.


"Urus dia, jangan membuatku semakin sakit kepala." Ujar Keenan kepada Josh.


"Yang Lucy katakan benar Dude. Sebaiknya kita bertiga sekamar dan mereka para gadis satu kamar." Josh berbicara sambil menarik Keenan masuk kedalam kamar. Jonas hanya tersenyum melihat mereka.


"Ruby,,, jangan pergi, ikutlah denganku." Rengek Keenan. 


"Ayo kita masuk Sweety, aku tidak akan mengijinkan mu sekamar dengannya." Lucy menarik Ruby masuk kedalam kamar.


Keenan dan Ruby sama-sama saling menoleh.


Wajah Keenan tampak frustasi dan Ruby tau kalau Keenan pasti kesal. Namun dia hanya bisa terseyum.


Di dalam Kamar Ruby dan Lucy.


Ruby meletakkan kopernya di sisi ranjang sementara Lucy sudah bergelayut di atas ranjang.


"Ahh nyaman sekali Sweety, rasanya aku ingin tidur saja." Ujar Lucy. Ruby tersenyum dan menghampiri Lucy. Dia menatap lamat wajah sahabatnya itu. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan Lucy. Matanya kembali berkaca-kaca.


"Kau menangis Sweety? Apa kau bersedih karena tidak bisa satu kamar dengan pria tengik itu?" Tanya Lucy membuat Ruby menangis sambil tersenyum.


"Tidak,,, apa yang kau katakan. Aku seperti ini karena terharu akhirnya bisa bertemu dengan mu lagi. Kau tau betapa bahagianya aku." Ruby menghapus airmatanya.

__ADS_1


Lucy duduk di sebelah Ruby dan menggenggap tangan Ruby.


"Aku juga sangat senang bisa bertemu dengan mu sayang. Aku sudah mendengar semuanya dari Josh. Aku turut bersedih dan merasa tidak menyangka kau bisa mengalami hal sepahit itu. Andai saja aku bersama mu. Kita akan menjalani nya bersama-sama." Lucy menyatukan wajahnya ke wajah Ruby. Mereka kembali menangis.


"Bisa bertemu dengan mu lagi seperti ini sudah membuat ku sangat bahagia." Ujar Ruby.


"Tidak asyik memanggil mu Ruby, aku lebih senang memanggil mu Clarissa. Josh melarangku memanggil mu Clarissa. Pria itu benar-benar merepotkan saja." Lucy kembali menggerutu.


"Keenan tidak seburuk itu, jangan terlalu membencinya." Ucapan Ruby sontak membuat sahabatnya bertanya-tanya.


"Apa kau sudah kembali bersama Keenan? Aku lihat dia begitu mengikat mu. Kalian sudah seperti sepasang kekasih."


Ruby langsung menunduk tanpa menjawab.


"Apa dia menindas mu lagi Sweety? Atau kalian memang sudah kembali bersatu?"Tanya Lucy curiga.


" Entah lah Cy. Aku tidak mengerti dengan sikap Keenan. Awalnya dia mengatakan hanya bermain-main denganku dan akan melepasku kapan pun dia mau. Namun terkadang dia juga menunjukkan sisi Keenan nya yang dulu. Begitu hangat dan lembut. Terkadang membuat aku dilema." Ucap Ruby miris.


"Kalau saja dia mengingatmu. Pasti dia akan menyesal mengatakan itu padamu. Dia tidak ingat sebucin apa dirinya padamu dulu." Cetus Lucy kesal.


"Biarkan semua berjalan begitu saja." Tatapan Ruby tampak pasrah.


"Kau masih mencintainya?" Tanya Lucy dengan tatapan yang dalam.


"Entahlah,,,aku tidak bisa berkutik saat bersamannya, aku tidak tau bagaimana perasaanku padanya. Aku juga tidak berani berharap. Keenan tidak pernah menegaskan perasaannya padaku. Dia hanya membutuhkan tubuhku untuk menyembuhkan penyakitnya." Ruby tertunduk, hatinya terasa sakit ketika mengatakan hal itu.


Lucy memegang erat tangan Ruby. Memberikan sedikit kekuatan untuk sahabatnya itu.


"Aku berdoa semoga kau segera mendapatkan kebahagiaan Sweety. Kau begitu menderita selama ini." Lucy begitu bersedih.


"Tenanglah, aku masih kuat melawan semuanya. Kalian bersama ku. Otomatis kekuatanku bertambah banyak." Ruby tersenyum manis. Dan Lucy kembali memeluk Ruby.


"Aku selalu mendukung mu sayang dan akan selalu ada untukmu. Aku berjanji."


"Lalu bagaimana hubungan mu dengan Josh?" Tanya Ruby mengalihkan.


"Semua pria sama saja. Dia hanya bertingkah seperti pacar tapi tidak pernah menegaskan hubungan apa yang kami jalani selama ini. Dia belum menyatakan cintanya padaku." Ujar Lucy kesal.


"Bersabarlah, mungkin dia sedang mencari waktu yang tepat."


"Asal dia tidak menyesal jika ada yang mengajak ku menikah lebih dahulu." Ucapan Lucy penuh dengan penekanan.


"Jangan lakukan itu. Apa kau tidak memiliki perasaan padanya?" Tanya Ruby.


"Bagaimana mungkin aku tidak punya perasaan padanya, setiap harinya dia selalu ada untukku." Seketika wajah suram Lucy berubah menjadi berbunga. Dia tersenyum kala mengingat perhatian yang di berikan Josh selama ini.


Mereka berdua pun tertawa terbahak. Lain hal di kamar sebelah, kamar yang ditempati oleh Keenan, Josh dan Jonas. Suasana begitu mencekam, dimana saat itu Keenan murka karena merasa di kelabui oleh Josh.


"Kau sengaja melakukan ini Josh?" Ucap Keenan kesal.


"Tidak, aku tidak menyangka Lucy mau ikut menginap. Aku hanya mengajaknya menghadiri pesta ulang tahun kakek." Josh tidak berbohong.


"Kau tau aku tidak bisa tidur nyenyak jika tidak bersama Ruby." Keenan merengek seperti anak kecil.


Josh dan Jonas saling tatap. Mereka kaget melihat tingkah Keenan seperti itu.


"Jadi selama ini kalian sudah sering tidur bersama?" Bentak Josh.


"Tentu saja." Keenan balik membentak Josh.


"Astaga,,, ternyata kau brengsek juga ya. Kau memanfaatkan tubuhnya untuk membuatmu merasa nyaman." Josh bangkit dan hampir lepas kendali pada Keenan. Jonas menahan Josh agar tidak bertengkar dengan Keenan.


"Aku tidak memanfaatkannya. Aku sudah benar-benar merasa nyaman dengannya."


"Aku tidak yakin, belum lama kau mengatakan kalau kau hanya bermain-main dengan Ruby dan akan menyampakkan Ruby ketika kau bosan. " Teriak Josh marah pada Keenan.


"Aku sudah meralat perkataanku. Jadi jangan mencegah apapun yang aku lakukan pada Ruby." Peringatan Keenan begitu tegas.


"Jika kau menyakitinya aku tidak akan memaafkan mu." Ancam Josh.

__ADS_1


"Kau siapa nya Ruby, berani-berannya mengancamku seperti itu. Aku tidak akan melepaskan Ruby sampai kapan pun." Tegas Keenan membuat Josh terdiam. Begitupun dengan Jonas, dia tidak pernah melihat kesungguhan bos nya itu.


"Pak Josh percayakan semua pada Bos Keenan. Dia tidak akan menyakiti Nona Snow." Jonas berusaha menenangkan keduanya.


__ADS_2