Come Back My Love

Come Back My Love
87. Menunggu


__ADS_3

Wajah Ruby tampak biasa saja seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Ruby berusaha profesional dan melupakan yang sudah terjadi. Sementara Keenan berharap lebih terlebih mereka sudah melewati pergulatan yang mengairahkan.


'Kenapa dia biasa saja?' Batin Keenan kesal sambil melirik wanita yang sudah memenuhi otaknya beberapa hari ini.


Sementara Ruby tidak menatapnya sama sekali.


"Saya permisi dulu pak." Ucap Ruby sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Tunggu..." Ungkap Keenan membuat Ruby menghentikan langkahnya.


"Ada apa dengan mu? Apa terjadi sesuatu? Apa kau tidak menyukai pekerjaan mu?" Keenan memberikan banyak pertanyaan yang membuat Ruby menaikkan alisnya. Wajah menyebalkannya kembali muncul.


"Tidak pak, tidak ada terjadi apa-apa, semua pekerjaan bisa di handle. Pak Jonas juga sangat baik." Ucap Ruby mengarang, padahal di dalam hatinya dia sungguh muak dengan sikap Keenan yang tidak merasa bersalah sekalipun. Perkataan Ruby sontak membuat wajah Keenan semakin tajam apalagi setelah mendengar Ruby memuji Jonas begitu baik padanya.


'Dasar kau Jonas.' batin Keenan ngedumel.


"Oh iya ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Tapi bukan masalah pekerjaan. Saya harap pak Keenan punya waktu sebentar setelah pulang kerja.


" Kenapa tidak mengatakan sekarang saja?" Keenan mulai penasaran.


"Tidak pak, ini masih jam kerja. Kalau bapak keberatan atau tidak punya waktu saya siap menunggu kapan pak Keenan punya waktu luang." Perkataan Ruby terlalu kaku hingga membuat Keenan tidak nyaman.


"Baiklah, kalau begitu kita bertemu di apartemenku saja, tapi sebelumnya aku kinta tolong padamu untuk singgah ke supermarket untuk membeli kebutuhan dapur ku. Ini catatannya.


Ruby membesarkan matanya seakan tidak perca dengan apa yang di ucapkan Keenan. Tapi dia tidak bisa menolak perintah Keenan. Mau tidak mau dia harus melakukannya.


"Baik pak." Jawab Ruby sambil menerima catatan yang harus di belanjakan dan juga sebuah kartu untuk membayar demua belanjaannya.


"Pinnya 262626."Ucap Keenan.


"Baik pak, kalau begitu saya permisi dulu pak" Ruby langsung balik badan dan segera pergi dari ruangan Keenan sebelum pria itu berubah fikiran.


Keenan tersenyum simpul. Dia senang melihat semua respon Ruby saat kesal, marah, dan juga manja saat berada di sampingnya seperti waktu itu. Keenan kembali membayangkan aktifitas kemarin dan dengan cepat di buyarkannya.

__ADS_1


"Aku benar-benar sudah tidak waras." Ungkap Keenan dan kembali memeriksa semua berkas-berkas yang ada di hadapannya.


***


Sepulang kerja Ruby langsung berbelanja ke supermarket dekat apartemen Keenan. Membeli semua keperluan yang sudah di listkan bos nya itu. Ruby terus memaki Keenan yang begitu menyebalkan.


"Dia selalu bertingkah seenaknya. Dasar sialan... " Maki Ruby sambil menghentak-hentakkan kakinya. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada pesan masuk.


"Mungkin aku akan sedikit telat pulang kerumah karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Kau bisa memasak terlebih dahulu untuk makan malam kita. Keenan."


"Astaga pria ini benar-benar membuat kesabaranku habis. Dia seolah memberi pesan kepada istrinya saja." Wajah Ruby ketika bersemu kemerahan. Perasaannya campur aduk. Kesal dan juga membuatnya salah tingkah. Padahal hanya sebuah pesan. Ruby mencoba mengalihkan dan pergi ke kasir untuk melakukan pembayaran.


Selesai berbelanja Ruby langsung menuju Apartement Keenan dengan Taxi dan sesampainya di pintu Apartement Keenan. Ruby menekan Password pintu yang belum Keenan rubah sama sekali.


"Apa dia tidak takut aku mencuri di apartement nya. Dia belum mengganti passwordnya sama sekali." Ucap Ruby sambil masuk ke dalam. Kondisi apartementnya masih sama seperti sebelumnya. Benar-benar bersih dan wangi. Siapapun yang berkunjung akan senang dan betah berlama di dalam.


Ruby meletakkan semua belanjaannya di atas meja dan mulai menyusun satu per satu di tempatnya. Setelah selesai menyusun Ruby mulai memotong daging dan juga sayuran yang akan di masak.


Gadis itu sibuk dengan aktivitasnya. Tampilannya sedikit berantakan. Tapi dia tidak perduli asal pekerjaannya cepat selesai dan Ruby bisa pulang cepat.


Ruby melihat jam yang sudah pukul 19.30 tapi Keenan juga belum pulang. Ruby memutuskan untuk menunggu Keenan di Sofa ruang tamu. Ruby setengah berbaring dan tidak berapa lama Ruby pun tertidur.


Setengah jam pun berlalu. Keenan akhirnya pulang. Pria itu masui dan meletakkan jas nya di gantungan. Dan pandangannya beralih pada gadis yang sedang tertidur pulas di sofa. Keenan pun menghampiri Ruby. Berjongkok sambil menatap gadis itu. Keenan tersenyum melihat wajah lelah Ruby. Dia merapikan rambut yang menghalangi wajah Ruby dan menyelipkannya di telinga.


"Maaf sudah membuat mu menunggu." Ucap Keenan lembut sambil membelai rambut Ruby.


Ruby pun menggeliat, karena terganggu mendengar suara Keenan. Dia membuka matanya dan pandangan pertamanya jatuh pada Keenan yang juga sedang menatapnya. Betapa terkejutnya Ruby dan gadis itu langsung


laku mengantuk dan tanpa sadar aku tertidur??Ruby gelagapan dan juga malu.


"Hhm,,, " Keenan berdiri dan berjalan menuju daput. Dia sangat lapar dan sengaja tidak makan di luar agar bisa makan bersama Ruby.


"Kemarilah aku ingin makan, purut ku sudah sangat lapar. Setelah ini kau boleh melanjutkan tidurmu." Ungkap Keenan.

__ADS_1


"Tidak pak setelah makan aku akan kembali pulang. " Jawab Ruby.


Keenan tidak menjawab, dia mulai sibuk menyantap semua makan yang di masak Ruby tanpa melewatkan 1 makanan pun. Ruby melihat hal iti lumayan senang, Keenan sangat menghargai masakan Ruby. Karena menurutnya masakakan Ruby begitu enak. Makanya berbagai cara Keenan lakukan utuk tetap dekat.


"Aku sudah selesai. Aku harus pulang sekarng ya." Ujar Ruby.


Keenan langsung menatapnya tajam dan membuat Ruby sedikit merinding.


"Lalu kau ingin mengatakan apa saat di kantor tadi. Sekarang kita sudah di luar jam kantor. Kau boleh berbicara biasa saja, kali ini aku bukan bos mu.


Ruby pun langsung merogoh tasnya untuk mengambil sesuatu.


Keenan menatapnya intens. Dia selalu penasaran dengan gadis ini walau sering membuatnya kesal.


"Ini aku kembalikan padamu." Ruby menyerahkan sebuah Black Card milik Keenan.


"Kenapa di kembalikan. Kau bahkan belum menggunakannya?" Wajah Keenan mulai suram.


"Terima kasih tapi aku tidak membutuhkannya." Ucap Ruby datar. Melihat hal itu Keenan emosi dan merasa perbuatan baiknya di abaikan.


"Kenapa kau begitu sombong. Banyak wanita yang menginginkan berada di posisimu. Bukankah semua wanita memiliki hobby yang sama yaitu senang menghabiskan uang dari prianya." Ejek Keenan.


"Tapi kau bukan pria ku. Dan Aku juga bukan wanita mu. Anggap saja semua terjadi begitu saja dan disini aku yang bersalah. Dan setelah ini anggap kita tidap pernah melalakukan apapun. Aku,,, aku baik-baik saja."


"Aku memaksamu untuk mengambil kartu itu dan gunakan untuk membeli apapun yang kau mau." Nada suara Keenan mulai meninggi.


"Terima kasih pak tapi aku tidak membutuhkannya. Aku memang orang susah tapi bukan berati karena kau sudah mengambil semuanya kau bisa membayarku dengan uang mu. Maaf aku bukan wanita seperti itu.


" Lalu kau mau apa? Apa setiap kau tidur dengan pria kau melakukan ini untuk menaklukkannya?"


Ruby membesarkan matanya, matanya mulai berkaca-kaca. Ruby segera bangkit dan mengambil tas nya.


"Aku memang murahan di depan mu tapi aku bukan wanita yang bisa kau remehkan dengan uang mu. Terima kasih atas segalanya." Ruby memberikan kartu itu langsung ke tangan Keenan. Dan Ruby langsung pergi meninggalkan Keenan.

__ADS_1


"Ruby,,, " Teriak Keenan dan langsung mengejar Ruby. Dia kembali melihat Ruby menangis.


__ADS_2