
"Craaaang....!!! "
Sontak ketiganya langsung menoleh pada sumber suara tersebut.
"By,,,!!! " Ucap Keenan bangkit dari duduknya.
Wajah Ruby tampak Syok dan memerah. Apa yang dilihatnya barusan.
'Keenan dan wanita itu. Dan anak itu memanggilnya Daddy. Berarti dia,,,,' Batinnya, tangannya tampak bergetar dan kaki nya terasa lemah. Rasanya dia tidak sanggup lagi menompang tubuhnya.
"By,,, kau tidak apa-apa?" Tanya Keenan khawatir dan mulai berjalan menuju Ruby. Inez beralih menatap Keenan.
Ruby pun tersadar, dia langsung melihat gelas yang sudah berserakan di lantai.
"Ma,,, maaf pak, aku,,, aku tidak sengaja. Aku akan mengganti yang baru." Jawab Ruby dengan suara bergetar dan mata mulai berkaca-kaca. Dia mulai berjongkok untuk membereskan kekacauan yang sudah dia perbuat.
Keenan melihat itu langsung mencegahnya. Dia merasa tidak enak hati dan semakin gelisah.
"By jangan menyentuh beling itu, biar OB yang membersihkannya." Ucap Keenan yang sudah berdiri di hadapan Ruby.
"Ti tidak pak, biar aku yang membereskannya." Ujar Ruby yang masih tampak bergetar, airmatanya lolos mengalir begitu saja. Dia benci dirinya yang seperti ini. Ruby langsung cepat menghusap airmatanya agar Keenan tidak melihatnya.
"Ruby hentikan,,,,!!!" Teriak Keenan dengan nada sedikit membentak. Tangan Ruby pun terhenti.
OB pun langsung masuk ke ruangan Keenan karena mendengar suara pecahan dan suara Keenan yang lumayan keras.
"Maaf pak, biar saya saja." Ucap OB.
"Kemana saja kau? Kenapa Ruby yang membuat minumannya?" Teriak Keenan marah. Noah melihat itu langsung mendekati Inez dan Inez pun memeluknya. Mereka tidak pernah melihat Keenan marah seperti ini.
"Maaf pak, saya baru dari kamar mandi." Jawab OB sambil tertunduk.
"Cepat bereskan sekarang juga." Perintah Keenan. Ruby sudah berdiri sambil menunduk. Meramas tangannya sendiri.
"By kemarilah... " Ucap Keenan lembut sambil mengulurkan tangannya. Ruby mencegah Keenan dengan tangannya dan sedikit menjauh. Ruby mendongak menatap Keenan, matanya terlihat memerah. Keenan terenyuh melihat mata Ruby. Dia merasa gelisah takut Ruby berfikiran yang tidak-tidak.
"Sekali lagi saya minta maaf sudah membuat tidak nyaman. Saya permisi dulu pak. " Ruby membungkukkan badannya dan langsung bergegas pergi. Setalah berbalik airmatanya kembali mengalir.
'Astaga kenapa aku ini. Kenapa harus seperti ini lagi. Seharusnya aku biasa saja. Berarti selama ini Keenan sudah menikah dan memiliki anak. Kenapa aku tidak menyadarinya selama ini? Dan aku terlalu bodoh sudah tidur dengan suami orang. Kenapa aku terlalu gampangan sekali, kenapa tubuh ini tidak bisa menolaknya.' Ruby bermonolog sambil berjalan setengah berlari meninggalkan ruangan Keenan. Dia hendak turun tapi memalui tangga darurat. Agar tidak ada yang melihatnya menangis.
Dia terus berlari dan pada akhirnya dia kelelahan dan terduduk di tangga. Meratapi dan menangisi nasibnya. Ruby merasa kalah dan terpuruk karena mengetahui Keenan sudah menikah dan memiliki anak.
Dia bangkit membersihkan wajahnya yang basah dan kembali berjalan menuruni tangga lagi. Dia berusaha menahan diri sekuat tenaga.
Sementara Keenan masih terdiam berdiri ditempatnya tadi.
"Keen kami,,,,!!! " Ucapan Inez terhenti.
"Tetaplah disini aku akan keluar sebentar. Aku akan segera kembali dan aku yang akan mengantar kalian pulang." Ujar Keenan dan Inez menjawab dengan anggukan.
Keenan pun keluar ruangan dan tidak melihat Ruby di mejanya. Dia pun langsung berlari menuju lift. Dia ingin mengejar Ruby dan akan menjelaskan semuanya. Walau dalam benak Keenan menolak tidak perduli karena Ruby bukanlah siapa-siapa baginya. Namun hatinya juga terus bergejolak dan merasa tidak ingin Ruby berfikiran buruk tentangnya terlebih Dia melihat Ruby menangis dan syok.
Ruby sudah di lantai dasar dan hendak keluar, dia berjalan cepat dan tanpa melihat-lihat jalannya. Tiba-tiba dia menabrak seseorang. Tubuhnya hampir oleng tapi orang yang di tabraknya itu langsung menahan dan menangkap tubuh Ruby.
"Kau baik-baik saja?" Suara baroton pria yang terdengar begitu gagah menggelitik telinga Ruby dan seketika sadar.
"Ma maaf Tuan saya tidak sengaja." Wajah dan mata merah Ruby mendongak menatap pria yang di tabraknya itu. Pria itu langsung terlihat syok dan terkejut setelah melihat Ruby. Pria ini seperti mengenalnya.
"Kau,,, kau,,, kau Clarissa?" Tanyanya dengan suara gagap.
__ADS_1
Ruby menatap lamat wajah pria itu, mengingat-ingat siapa pria di hadapannya sekarang ini.
"Josh,,,!!! " Ucap Ruby.
"Benar ini Clarissa kan?" Tanya Josh dengan wajah berbinar dan matanya mulai berkaca-kaca. Ruby pun mengangguk.
Josh langsung menarik Ruby dalam pelukannya.
"Kau masih hidup Clarissa, syukurlah." Mata Josh tampak basah dan memeluk Ruby erat-erat.
"Josh semua mata melihat kita." Ungkap Ruby tidak nyaman. Josh pun melepas pelukannya. Keenan melihat hal itu dari kejauhan. Keningnya berkerut. Dadanya terasa sesak.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Josh sambil melirik nametag yang dipakai Ruby.
"Ruby Snow? Kau? Jangan bilang kau Ruby sekretaris Keenan." Mata Josh semakin melotot.
Ruby mengangguk dan tangisnya kembali pecah. Josh membelai bahu Ruby.
"Astaga aku sangat tidak menyangka, dunia sesempit ini. Dan bagaimana bisa, bukankah satu desa mengatakan kau sudah tiada masuk kedalam jurang.
" Ada seseorang menyelamatkanku." Ujar Ruby.
"Kau baru menangis Sa?" Tanya Josh.
"Tidak, mata ku kelilipan. Apa begitu terlihat?" Tanya Ruby dan di angguki oleh Josh.
"Kau masih sama seperti dulu. Tapi aku sungguh senang Sa, aku senang sekali kau sehat dan kau juga sudah bertemu Keenan." Josh sangat senang ternyata Clarissa selama ini dekat dengan Keenan.
"Dia tidak mengingatku sama sekali. Tidak mengingat kisah kami dulu. Dia melupakan begitu saja."
Josh tersenyum kecut, dia ingin menceritakannya namun waktu dan tempatnya tidak tepat.
"Kenapa kau tidak memberitahu Keenan bahwa kau Clarissa? Dia mengalami,,,,"
"Menikah, Ruby dia belum,,, "
"Ehem,,, " Keenan datang dan berdehem memotong ucapakn Josh yang belum terselesaikan. Kedua nya langsung menoleh ke arah Keenan. Ruby dengan cepat menghapus airmatanya.
"Keenan,,, " Ucap Josh sedikit canggung.
"Kalian tau ini kantor? Seenaknya berpelukan di depan orang banyak." Ucapnya ketus.
"Sorry Keen aku hanya terlalu bersemangat bertemu Cla,,,maksud ku Ruby." Josh sesikit salah tingkah.
"Kau mengenalnya?" Tanya Keenan curiga.
"Tentu saja, dia,,, dia teman lama ku. Aku tidak menyangka kalau sekretaris yang sering kau bicarakan adalah teman lama ku."
Ruby menghelakan nafas lega. Josh dapat di percaya. Keenan masih tampak tidak senang.
"Aku harus pergi pak. Aku izin pulang lebih dulu." Ujar Ruby.
"By aku ingin bicara, aku ingin menjelaskan sesuatu." Ucap Keenan.
"Maaf pak aku harus pulang sekarang." Ruby sedikit membungkuk dan beranjak pergi.
"Ruby tunggu." Panggil Josh. Ruby pun menghentkan langkahnya dan berbalik melihat Josh. Josh menghampirinya.
"Ini kartu nama ku. Segera chat aku, aku akan menghubungimu. Banyak hal penting yang ingin aku ceritakan padamu." Ucap Josh pelan dan Ruby pun mengangguk. Keenan menyipitkan matanya. Dia semakin tidak nyaman melihat kedekatan Ruby dan Josh.
__ADS_1
Ruby sudah pergi dan Josh masih menatap nya dengan wajah Iba.
"Tumben kau kemari. Ada perlu apa?" Tanya Keenan datar.
"Kenapa kau ketus sekali Dude? Kau marah aku mendekati sekretarismu?"
"Kau bicara apa? Ikut aku keruangan. Aku ingin bicara."
"Aku juga, aku begitu merindukan mu, sudah lama kau tidak menghubungi ku." Josh merangkul Keenan tapi wajah pria itu masih datar dan merasa tidak senang memgingat kedelatannya dengan Ruby.
Di ruangan Keenan. Inez dan Noah masih duduk bersama menunggu kedatangan Keenan. Tidak berapa lama Keenan dan Josh pun masuk.
"Ehh Nez kalian disini ternyata. Hai Noah,,, apa kabar anak pintar?" Sapa Josh.
"Hai paman dokter, sudah lama kita tidak bertemu. Kabarku sangat baik paman." Jawab Noah bersemangat.
'Pantas saja Clarissa menangis, ternyata ini yang dia lihat. Kasihan sekali nasib gadis itu. Keenan benar-benar harus ku beri pelajaran.' Batin Josh menggeram.
"Maaf ya kalian jadi lama menunggu." Ujar Keenan.
"Tidak apa-apa, kami juga akan pulang karena Noah harus beristirahat.
"Kalian baru tiba kenapa buru-buru mau pulang?"
"Iya aku juga baru dapat panggilan dari butik jadi aku harus kesana lebih dulu lalu pulang ke apartemen."
"Baiklah aku akan mengantar kalian." Ucap Keenan. Dahi Josh mengerut.
"Tidak Keenan. Biar kami pulang sendiri. Josh juga ada disini. Tidak mungkin kau meninggalkannya disini." Jawab Inez.
Tiba-tiba Jonas masuk mengantar berkas. Dia sedikit kaget karena di ruangan bos nya sedang ramai.
"Hai paman Jonas." Noah berlari menghampiri Jonas.
"Hai ganteng, ternyata kau disini." Jonas menggendong Noah.
"Aku merindukan Daddy jadi aku dan Mommy mampir kesini."
"Ohh inisiatif yang bagus anak pintar." Sindir Jonas dan Inez pun melirik Jonas. Jonas selalu berhasil membuatnya tidak berkutik.
"Jonas bisakah kau mengantar Inez dan Noah. Aku ada sedikit urusan dengan Josh." Ucap Keenan. Jonas melirik Inez yang juga sedang melihatnya.
"Keenan tidak perlu repot, aku akan pulang dengan Noah naik taksi." Sahut Inez.
"Aku tidak akan membiarkan kalian pulang naik Taksi. Jonas"
"Baik Bos aku akan mengantar mereka." Jawab Jonas.
"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu ya. Noah beri salam pada Daddy dan juga paman Josh. Kita harus pulang sekarang sayang.
Noah turun dari gendongan Jonas dan menghampiri Keenan. Keenan berjongkok dan memeluk anak itu.
" Maaf ya sayang Daddy tidak bisa menemanimu main lebih lama dan Daddy juga tidak bisa mengatar kalian." Ucap Keenan sambil mengelus rambut lembut Noah.
"Tidak masalah Daddy. Aku mengerti Daddy sedang sibuk. Lain kali kita bertemu lagi." Celetuk anak itu.
"Tentu nak. Daddy akan cari waktu luang supaya kita bisa main bersama. Bagaimana? "
"Siap Bos." Jawab Noah sambil tersenyum senang.
__ADS_1
"Anak pintar." Ucap Keenan sambil tersenyum. Noah terus menatap Keenan yang terlihat begitu baik dan lembut pada Noah.
"Aku pulang dulu Daddy. Bye paman Dokter." Noah melambaikan tangannya dan mereka bertiga pun meninggalkan ruangan Keenan.