Come Back My Love

Come Back My Love
119. Dimana Putriku?


__ADS_3

Di salah satu Restoran mewah Alex sedang duduk sendiri sambil memegang ponselnya. Dia sedang menunggu seseorang yang sudah membuat janji dengannya sebelumnya. Tidak berapa lama seorang wanita cantik menghampirinya. Seorang wanita paruh baya namun masih sangat cantik, dialah Rose Hill. 


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama Nak Alex." Ucap Rose merasa tidak enak. 


"Tidak masalah tante, aku juga belum lama menunggu."


"Sepertinya Kenny terlihat kecewa karena mendengar kau mengajak ku makan malam bersama tanpa mengajaknya. " Ucap Rose sambil tersenyum. 


Alex hanya tersenyum kecut. Dia tidak berharap mendengar cerita tentang Kenny. 


"Maaf tante tapi aku mengajak kesini untuk berbicara serius." Wajah Alex berubah datar. Rose semakin penasaran. 


"Tentang apa nak Alex. Kau membuat tante gelisah saja." Rose tampak sesikit khawatir melihat wajah datar Alex. 


"Santailah tante, ini bukan sesuatu hal yang mebahayakan tante." Ujar Alex tersenyum untuk mencairkan suasana. 


"Katakan lah nak Alex, ada apa sebenarnya."


"Sebentar ya tante, kita sedang menunggu satu orang lagi." Seru Alex dan Rose semakin bertanya-tanya. 


"Nah itu orangnya datang." Ucap Alex, Rose pun menoleh kebelakang dan melihat seseorang yang datang. 


"Ayah,,,!!! " Sapa Alex. 


"Maaf aku terlambat. Apa kalian sudah lama menunggu?" Tanya Max. 


"Baru saja Ayah. Kau masih mengenal Ayahku Tante?" Tanya Alex pada Rose. Rose tampak canggung. Max mengulurkan tangannya. 


"Aku ayah Alex, aku harap anda tidak melupakna ku begitu saja." Ucap Max bergurau. 


"Tentu saja tidak pak. Aku masih sangat mengingat anda. Mari silahkan duduk." Rose mempersilahkan Max untuk duduk. 


"Kita pesan makanan dulu ya." Alex memanggil pelayan dan mereka pun mulai memesan makanan. Tidak berapa lama makanan mereka pun tersaji di meja makan. Mereka segera menyantapnya sambil berbicara santai satu sama lainnya. Rose juga tidak merasa canggung lagi karena kedua pria yang ada di hadapannya ini begitu hamble dan asik di ajak berbicara. Setelah selesai makan Max dan Alex saling tatap, seperti ingin menyampaikan seauatu namun terlihat ragu. Keduanya bingung hendak memulai dari mana.


"Sebelumnya aku minta maaf karena membuat pertemuan yang mendadak seperti ini. Tapi sebenarnya aku sudah lama merencanakan ini semua dan hanya saja kali ini waktu yang tepat." Ucap Max. 


"Tidak masalah Tuan Max selagi ada kesempatan aku tidak keberatan untuk memenuhi undangan mu. Namun sedari tadi aku bingung sebenarnya ada apa?"


"Jangan tersinggung bila kami membahas hal ini padamu." Ujar Max dan Rose hanya mengangguk. 


"Aku ingin bertanya tentang keluarga mu. Suami atau anak mu." Max tampak to the point dan membuat jantung Alex berdebar. Di tambah lagi wajah Rose seketika berubah setelah pertanyaan yang dilontarkan Ayahnya. 


"Apa kau tidak nyaman dengan pertanyaanku? Kalau tidak nyaman kau tidak perlu menjawabnya." Max tidak ingin meneruskan bila Rose tidak bersedia. 


"Aku pernah menikah, namun sekarang tidak bersama-sama lagi. Dan anak, aku sudah tidak tinggal bersama dengan anak ku lagi.


" Dimana dia sekarang?" Tanya Max. 


"Sudah hampir 27 tahun aku tidak melihatnya lagi. Aku tidak tau dia dimana."


" Deg,,, " Jantung Max dan Alex pun berdegup dengan kencang.


"Seorang anak laki-laki atau perempuan kah?" Tanya Max. 


"Perempuan,,,!!! " Wajah Rose memerah, matanya mulai berkaca-kaca.


"Ayahku tidak menginginkan anak itu, karena aku menikah dengan pria yang tidak dia kehendakinya. Ayah berniat membuangnya namun aku mengetahui niat buruk nya. Lalu aku membawanya pergi dan menitipkannya kepada seseorang. Namun 8 tahun lalu saat aku mencari mereka, mereka sudah tidak berada di desa itu lagi. Dan ada yang mengatakan bahwa keluarga itu telah tiada." Rose menangis sejadi-jadinya. Alex merasa tersentuh. Alex memberikan tissue untuk Rose. Berbeda dengan Max yang tampak seperti kesal. 


"Aku bahkan belum sempat bertemu dengan putri ku." Hati Rose semakin sakit. 

__ADS_1


"Kenapa kau menitipkannya pada orang lain? Dan Kenapa tidak kau sendiri yang merawatnya?" Tanya Max ketus. Alex menatap heran pada sang ayah. 


"Jika aku yang merawatnya, ayah ku akan tetap berusaha memisahkan kami dan bahkan mengancam membunuh putri ku agar aku tidak hidup bersama putri yang tidak memiliki ayah. Aku tidak bisa melakukan itu." Rose sesugukan. 


"Tante tenang lah." Alex memegang bahu Rose. 


"Kau mengenal kalung ini?" Tanya Max datar. Mata Rose langsung tertuju pada sebuah kalung bermata Ruby merah.


"Kalung ini,,,!!! "


"Kalung yang pernah kau tanyakan pada Alex."


Rose meraih kalung itu, dan membaliknya. Dan Rose semakin histeris. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Dia memeluk kalung itu sambil menangis. 


"Ini kalung putri ku, ini kalung yang aku pakaikan padanya sebelum meninggalkannya."


Alex merasa syok, ternyata kecurigaan ayahnya benar dan terjawab sudah. 


"Dimana kalian menemukan kalung ini dan dimana putriku berada?" Tanya Rose sambil menangis.


Max tidak menjawab dan Alex menatap wajah ayahnya yang berubah menjadi tidak suka. 


"Tuan aku mohon beritahu aku dimana Rubyku berada. Apakah dia sehat? Atau apakah benar dia sudah tiada?" Rose menangis semakin histeris dan memohon pada Max agar memberitahu keberadaan Ruby. 


Max membuang muka nya, satu sisi dia kasihan namun dia juga tidak menyukai Rose karena merasa sudah membuang Ruby. 


"Kau tidak akan bisa bertemu dengannya." Ucap Max. 


Rose menatap Max. 


"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa bertemu dengannya?"


"Rubyku masih hidup. Ya Tuhan syukurlah,,, katakan dimana dia sekarang Tuan, aku siap menghadapi kebenciannya terhadapku namun tolong beritahu aku dimana keberadaannya. " Rose menyatukan kedua tangannya memohon pada Max. 


"Ayah,,,!!! " Seru Alex merasa kasihan. 


"Dia sudah terlalu banyak menderita, aku tidak akan membiarkannya bersedih kembali setelah bertemu dengan mu. Aku tidak ingin putriku menderita lagi setelah tau kau adalah ibunya. " Bentak Max dan langsung bangkit meninggalkan Rose dan Alex. Rose ikut beranjak namun Alex menahannya. 


"Tuan,,,Tuan,,, tolong jangan pergi, beritahu aku dimana putri ku berada. Tuan,,,,!!!! Teriak Rose yang susah terduduk di lantai, semua mata tertuju pada Rose yang sedang menangis. 


" Tante bangun lah,,,!!! " Alex membantu Rose berdiri dan membawanya kembali duduk. Rose tampak tidak berdaya. 


"Aku bersalah, aku memang bersalah. Tolong ampuni aku." Rose menangis lirih sambil menundukkan kepalanya. 


"Tante tanang ya, kita fikirkan bagaimana cara terbaik agar Tante bertemu dengan Putri tante."


"Alex bantu tante, tolong batu tante Lex. Tante ingin bertemu dengan Putri tante." Mohon Rose memegang tangan Alex. 


"Iya tante tenang lah, aku akan berusaha untuk tante. Tapi tante harus tenang dulu." Alex menepuk pelan bahu Rose. Wanita itu pun mulai tenang setelah menangis beberapa waktu. Alex hampir kualahan menghadapinya. 


***


Di Apartemen Ruby. 


Keenan bangun di pukul 21.00, dia keluar dari kamar Ruby dan melihat Ruby sedang menyiapkan makanan untuk mereka. Lagi-lagi Keenan melihat pemandangan yang menenangkan, dia berasa seperti memiliki seorang istri yang selalu berada di dekatnya. Ruby juga tampak seperti seorang istri yang patuh dan sempurna. Hanya dengan piyama pendek dan rambut di ikat tinggi asal serta menggunakan Apron di dapur Ruby terlihat begitu cantik dan menggoda. Keenan sampai tidak berkedip melihatnya. Dia pun berjalan menghampiri Ruby yang sedang membersihkan dapurnya. Dia tidak menyadari kedatangan Keenan. Pria itu lalu mendekat dan langsung memeluk Ruby dari belakang. 


Tubuh Ruby menengang, dan terkejut dengan aksi orang yang tidak di ketahui siapa. Ruby langsung menarik tangan Keenan dan langsung refleks memplintirnya. 


"Aaarghhh,,, Ruby,,!!! " Teriak Keenan. 

__ADS_1


Ruby langsung melotot karena terkejut, dia tidak menyangka jika itu adalah Keenan. Ruby langsung melepaskan tangan Keenan. 


"Ma,, maaf Keenan."


"Aahh,,, ini terlalu sakit By." Rintih Keenan memegangi tangannya. 


Ruby langsung meraih tangan Keenan dan membawanya duduk di sofa. 


"Duduklah,,, biar aku lihat mana yang sakit." Ruby memijat-mijat tangan Keenan. 


"Aarghh,,,!!! Keenan semakin berteriak, tapi kali ini teriakannya bergurau. Dia sangat senang melihat Ruby perhatian padanya. Jadi Keenan berpura-pura sakit. 


" Maaf ya, aku tidak sengaja, salah sendiri kenapa tiba-tiba muncul di belakangku." Ruby menyun. Keenan seketika gemas melihat ekspresin Ruby. 


"Tenaga mu lumayan juga." Ucap Keenan dengan wajah memelas. 


"Kau mengagetkanku. Apa masih sakit?" Tanya Ruby lembut. 


Keenan mengangguk dengan raut wajah manja dan pura-pura sakit. 


"Kau hanya pura-pura kan?" Pukul Ruby pelan. 


"Tidak,,,!!! " Jawab Keenan sambil tersenyum. 


"Dasar,,,kau ini." Ruby mencubit dan menggelitik perut Keenan. 


Keenan merasa geli, tapi Ruby tidak berhenti, dia terus menggelitiki tubuh Keenan. 


"Ampun By,,, ampun,,,!!! Keenan kualahan karena Ruby terus menggelitikinya. Posisi Keenan saat ini terbaring di sofa dan Ruby berada di atasnya sambil terus menggelitik pinggang dan perut Keenan. 


" By,,, sudah aku tidak sanggup lagi. Ampun,,, aku mengaku salah." Ucap Keenan dengan wajah memerah namun masih terus tertawa. Keenan mencari cara bagaimana caranyanya agar Ruby berhenti. 


"Sayang ampun,,,!!!" Teriak Keenan hingga membuat Ruby langsung berhenti saat mendengar Keenan memanggilnya sayang.


"Kau,,, tadi bilang apa?" Tanya Ruby memastikan. Ruby masih menimpa tubuh Keenan. 


"Sayang,,,!!! " Ucap Keenan tegas. 


Wajah Ruby seketika memerah, dia terdiam sambil menatap Keenan yang berada dibawahnya. 


Keenan pun menatapnya dalam, melihat wajah Ruby memerah membuatnya terlihat semakin menggemaskan. 


Keenan menarik tengkuk Ruby dan langsung melahap habis bibir manis gadis itu. Ruby membesarkan matanya, dia sangat terkejut. Ruby berusaha menjauh namun Keenan menahan tengkuknya agar tidak bisa menjauh. Ciuman itu semakin dalam, hingga membuat Ruby larut dalam gairah yang sama, dia mulai memejamkan matanya dan membuka mulutnya, hal itu membuat Keenan semakin bersemangat menghabisi gadis menggemaskan yang ada di hadapannya saat ini. Dia begitu candu dengan semua yang ada pada Ruby. 


Keenan terus menciumi Ruby sambil membuka kancing kemejanya, tubuhnya mulai panas dan gairahnya mulai tidak bisa di kontrol lagi. Ciuman Keenan beralih pada leher Ruby, Ruby juga tidak sanggup menahan gejolak yang ada. Hingga membuatnya lupa diri. Dia begitu menikmati sentuhan demi sentuhan dan juga ciuman dari pria yang selama ini memenihi fikiran dan hatinya. Keenan juga mulai membuka kancing piyama Ruby. Namun saat hendak membuka piyama Ruby. 


"Kruk,,,kruk,, kruk,,, " Terdengar suara yang muncul dari perut Ruby. Kedua nya pun sontak berhenti, saling tatap dan sama-sama tertawa. Keenan menarik Ruby kedalam pelukannya. 


"Kau lapar di saat yang tidak tepat." Ucap Keenan tersenyum sambil mengelus lembut punggung Ruby. Ruby pun tersenyum sambil menikmati sentuhan Keenan. 


"Ayo kita makan. Tampaknya cacing di perut mu tidak bisa di ajak kompromi." Ucap Keenan. 


Ruby tersipu malu, dia pun langsung bangun dan memperbaiki piyamanya. Entah apa yang dia fikirkan. Bisa-bisanya dia terhanyut oleh ciuman dan sentuhan Keenan. 


"Aku siapkan makanannya dulu." Ucap Ruby canggung. 


Keenan tersenyum mengingat aksinya yang terlalu berani. Namun bagaimana lagi. Hasrat yang dia pendam selama ini tidak bisa di bendung lagi. Ruby selalu bisa membangkitkannya walau hanya dengan memandang matanya saja. Keenan memperbaiki kemejanya yang kancingnya sudah terlepas semua. Dan menampilkan dadanya yang bidang. 


Keduanya sudah berada di meja makan, menyantap makanan yang sudah Ruby siapkan. Keenan sangat senang bisa menikmati makanan Ruby. Selalu nikmat dan dia jadi melupakan dirinya yang sedang menjaga kondisi tubuh idealnya. 

__ADS_1


Mereka makan tanpa kata, keduanya merasa canggung. Wajah Ruby juga terus bersemu kemerahan karena malu.


__ADS_2