
Kenny kembali ke Apartement Keenan. Ketika masuk kedalam, ruangan tampak gelap. Kenny heran. Biasa nya juga lampu selalu menyala.
Kenny langsung menyalakan lampu dan betapa terkejutnya Kenny saat melihat ruang tamu.
"Kakak,,,,!!! " Teriak Kenny menghampiri Keenan yang sudah terduduk lemah tak berdaya. Dengan banyak botol minuman beralkohol yang terjejer di atas meja.
"Kakak apa yang kau lakukan? Kenapa minum alkohol sebanyak ini? Apa yang terjadi padamu kak?" Tanya Kenny.
"Minggir lah. Jangan ganggu aku. Aku sedang ingin sendiri." Jawab Keenan dengan suara serak dan kondisi yang sangat mabuk.
"Kakak kenapa? Apa yang terjadi? Kakak tidak pernah menyentuh minuman beralkohol. Ini membahayakan kesehatanmu kak." Kenny mengambil semua botol minuman agar Keenan tidak minum lagi.
"Aku tidak perduli. Aku hanya ingin minum." Teriak Keenan.
"Apa yang terjadi kak? Kakak seperti orang putus cinta saja. Kakak baik-baik saja kan dengan kak Ruby? " Tanya Kenny penasaran.
"Jangan sebut namanya, aku tidak ingin mendengarnya lagi."
"Kalian bertengkar kak? Kenapa bisa? Kalian baru saja berpacaran dan kenapa sekarang sudah bertengkar?"
"Aku membencinya." Keenan bangkit dari duduk nya, dengan jalan meper pria itu langsung berjalan menuju kamarnya.
"Kakak aku belum selesai. Kenapa kakak membencinya. Aku melihat kalian saling mencintai."
Keenan tidak menjawab, dia tetap berjalan dan hanya melambaikan tangannya.
Tiba-tiba ponsel Kenny berbunyi. Ada pesan singkat masuk. Kenny pun langsung membuka dan membacanya. Wajahnya langsung berbinar ketika membaca pesan tersebut yang ternyata pesan sari Alex.
"Sudah dirumah? Bersihkan diri lalu tidur ya. Aku merindukan mu."
Kenny pun membalas pesan Alex sambil sumringah.
"Aku juga merindukanmu." Jawabnya.
Hati Kenny sangat senang karena Alex perlahan menunjukkan keseriusan pada dirinya.
Keesokan harinya di Emerald Corporate.
Ruby berjalan mondar-mandir disekitar meja kerjanya. Dia menunggu kedatangan Keenan. Ruby ingin menjelaskan semuanya pada Keenan.
Semalaman Ruby menghubungi Keenan namun pria itu tidak menjawabnya. Ruby juga sempat mendatangi apartement nya namun Keenan sudah mengganti kode sandinya, Ruby semakin gelisah dan takut terjadi sesuatu padanya.
Tidak berapa lama pria yang di tunggu-tunggu pun datang. Pria itu sedang sibuk dengan ponselnya sehingga tidak melihat Ruby sama sekali. Keenan melakukannya dengan sengaja karena saat ini dia tidak ingin melihat Ruby.
"Keenan,,,!!! " Panggil Ruby lembut.
Namun pria itu tidak menoleh.
Pria itu terus masuk ke ruangannya. Ruby mengikutinya dari belakang.
"Keenan,,,!!! " Ruby menghalangi Keenan dan pria itupun berhenti, menatap nyalang Ruby.
"Ada apa?" Tanya Keenan datar.
"Aku ingin bicara, tolong dengarkan aku dulu Keen."
"Bicara apa? Bicara lah jika itu urusan pekerjaan." Jawab Keenan kembali berjalan dan duduk di kursi kebesarannya.
"Keenan beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua nya. Kejadian semalam tidak seperti yang kau bayang kan. Aku tidak berniat untuk membohongi mu."
"Tidak berniat tapi kau memang ingin membohongiku." Timpal Keenan.
"Tidak Keenan, sebenarnya aku,,,!!! "
"Nona Snow sekarang masih jam kerja. Silahkan kembali ke meja mu dan bekerjalah secara profesional. Jangan membahas hal yang tidak penting terlebih itu masalah pribadi di saat jam kerja berlangsung. Kau paham?" Ucap Keenan dingin dan tegas.
__ADS_1
Ruby terdiam, wajahnya suram kembali.
"Dan satu lagi, jangan masuk jika aku tidak memanggilmu." Ucap Keenan memperingati.
Keenan benar-benar tidak mau mendengar penjelasannya.
"Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu." Jawab Ruby dan langsung berbalik keluar dari ruangan. Airmatanya mengalir karena merasa di abaikan.
Keenan tidak menatapnya sama sekali. Perasaan pria itu seakan beku terhadap gadis itu. Namun ada rasa sakit yang masih menyelimuti hatinya.
Keenan dan Ruby melewati makan siangnya. Mereka sama-sama tetap diam di kursi mereka masing-masing.
Ruby tidak berselera untuk makan. Apalagi masalah yang di hadapinya benar-benar menyita perasaannya. Perihal ibu kandung dan juga Keenan. Dia lebih memilih meyibukkan diri untuk mengalihkan fikirannya.
Tidak berapa lama seseorang datang menghampiri Ruby.
"Permisi,,, !!! " Ucap seorang wanita.
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" Jawab Ruby sambil mendongak dan menyapa kembali. Matanya langsung menyipit setelah melihat siapa wanita yang ada di hadapannya. Wanita cantik nan seksi dengan pakaian minim namun tetap terlihat elegan. Bentuk tubuh yang bagus membuat Ruby berdegup kencang.
"Jessika,,,!!! "
"Aku ingin menemui Keenan." Ujarnya angkuh.
"Keenan sedang sibuk. Kembalilah jika kau sudah membuat janji padanya lebih dulu."
Jessika menyeringai. Ingin rasanya dia menjambak rambut dan memukul wajah Ruby.
"Keenan yang memintaku kesini."
Ruby tertawa menyela merasa tidak percaya. Karena dia tau Keenan tidak menyukainya.
"Itu tidak mungkin."
"Ya Jes? " Jawab Keenan.
"Aku sudah di depan ruangan mu tapi kekasih mu, Uppss mantan kekasih maksud ku, melarang ku masuk." Ujar Jessika menyela.
Ruby sontak kaget mendengar ucapan Jessika.
'Mantan kekasih?' Batin Ruby dengan hati berdesir.
"Langsung masuk saja, kenapa harus melapor padanya."
Jawab Keenan ketus dan langsung mematikan panggilannya.
Ruby langsung menoleh. Dia tidak menyangka Keenan berubah secepat itu.
"Kau sudah mendengarnya? Kau hanya sekretaris bukan kekasihnya lagi. Jadi kau harus ingat itu." Ejek Jessika dan langsung masuk ke ruangan Keenan.
Ruby terduduk di kursinya. Hatinya benar-benar hancur. Keenan mengakhiri hubungan mereka secara sepihak. Ruby menundukkan kepalanya. Airmatanya tidak bisa di ajak kompromi.
Didalam ruangan Keenan.
"Kenapa tiba-tiba memanggil ku datang ke kantor mu?" Tanya Jessika dengan suara menggoda.
"Jangan salah paham. Papa ku memintaku untuk mengajak mu menghadiri pelantikan perusahaan baru sahabatnya. Dia memaksa ku mengajak mu." Jawab Keenan datar.
"Bukan karena kau sudah putus dengan Ruby?" Ejek nya.
Keenan melirik ke arah Ruby. Gadis itu tampak menundukan kepalanya terlihat seperti menangis. Hati Keenan menjadi gusar. Keenan gelisah melihat Ruby menangis. Namun Keenan berusaha tidak perduli.
"Itu bukan urusan mu. Aku meminta mu kesini cuma ingin memberikan beberapa syarat saat pergi kesana."
"Kalau aku tidak mau bagaimana."
__ADS_1
"Tidak masalah, bukan hanya kau yang menginginkan pergi bersama ku. Kau bisa pergi sekarang." Sahutnya angkuh.
"Kau terlalu angkuh Keen, untung saja aku menyukai mu sejak dulu." Senyum Jessika lagi-lagi menggoda Keenan.
Jessika menghampiri tempat duduk Keenan.
Keenan menatap siluet gadis yang ada di hadapannya itu. Jessika sangat cantik dan menggoda, siapa pun pria akan jatuh hati jika melihatnya menggoda seperti itu. Namun tidak untuk Keenan. Saat melihat Jessika dia malah membayangkan wajah menggoda Ruby saat berada diatasnya. Namun gadis itu juga saat ini membuat hatinya patah.
Jessika sudah berasa di samping Keenan dan langsung duduk di pangkuan Keenan.
"Katakan padaku apa persyaratannya." Tanya Jessika sambil membelai dada Keenan dengan jari telunjuknya.
"Jangan menyentuh kulit ku dengan kulit mu." Ujar Keenan menatap Jessika.
"Kenapa? Kau tidak ingin ku sentuh? Kau yakin?"
Ruby melihat sapasang pria dan wanita bermesraan di dalam ruangan. Hatinya mencelos, jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Ada persyaratan lain?" Jessika menarik dasi Keenan hingga wajah mereka berdekatan. Hanya tinggal beberapa jarak saja.
Mata Keenan beralih menatap ke arah meja kerja Ruby. Gadis itu melihat kearah mereka dengan tatapan yang hancur, Keenan menyadari itu. Dia tau Ruby pasti sakit hati melihat kemesraan mereka.
Keenan langsung mematikan lampu dan menutup tirai ruangan nya dengan menekan remote yang ada di mejanya. Otomatis orang yang berada di luar tidak bisa melihat apapun kedalam ruangan.
Dada Ruby terasa sesak, rasanya dia ingin muntah karena membayangkan bagaimana jika Keenan dan Jessika melakukan sesuatu. Perut Ruby terasa sebah dan rasanya semua isi perutnya ingin keluar.
Ruby langsung berlari ke kamar mandi sambil menangis. Dan Ruby tidak sengaja menabrak Jonas yang sedang berjalan menuju ruangan Keenan.
"Maaf,,,!! " Ucap Ruby tanpa melihat Jonas dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Nona,,, kau baik-baik saja?" Tanya Jonas khawatir karena melihat Ruby menangis dan wajahnya tampak pucat. Namun Ruby tidak menjawab sama sekali.
Di dalam kamar mandi Ruby memuntahkan semua isi perutnya. Bayangannya masih tertuju pada kemesraan Keenan dan Jessika.
"Menjijikkan,,, aku membenci mu." Teriak Ruby sambil menangis. Untungnya tidak ada siapa pun disitu.
Sementara Jonas yang hendak ke ruangan Keenan tampak terpaku setelah melihat seorang gadis seksi baru saja keluar dari ruangan Keenan. Dia seperti mengenali gadis itu namun dia mengingat-ingat kembali siapa gadis itu.
Jessika menatap nyalang Jonas saat mereka berpapasan. Padahal Jonas sudah berusaha ramah dengan memberikan senyuman pada gadis itu.
"Pantas saja Nona Ruby menangis ternyata si Bos mulai berulah. Ck ck,,,!!! " Ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
"Selamat sore bos, ini laporan keuangan kita. Tadi saya hendak memberikannya pada Nona Ruby namun beliau tidak ada."
"Kemana dia?" Tanyanya tegas.
"Kalau tidak salah ke kamar mandi bos, dia berlari-lari sambil menangis dan hampir saja terjatuh karena menabrak saya. Saya tidak tahu apakah dia sedang memiliki masalah pribadi atau sedang patah hati." Sindir Jonas.
Keenan mengerutkan dahinya. Didalam lubuk hatinya yang terdalam dia begitu mengkhawatirkan Ruby.
Ruby memutuskan untuk pulang tanpa berpamitan pada Keenan, dia juga pulang saat jam kerja masih berlangsung. Kepalanya terasa sakit dan tubuhnya seakan lemah tak berdaya. Rasanya Ruby ingin segera berbaring. Dia tidak perduli jika Keenan marah, dia berharap Keenna juga memecatnya segera mungkin. Dia tidak akan berharap lebih pada Keenan. Ruby akan fokus pada dendamnya sendiri. Walau tanpa melalui Keenan. Ruby akan tetap masuk di keluarga Keenan dengan caranya sendiri.
Di pinggir jalan Ruby berjalan menuju Halte. Dia berjalan perlahan dan hendak menyebrang. Ruby tidak fokus karena fikirannya masih pada Keenan dan Jessika. Hingga saat ingin menyebrang Ruby tidak menyadari ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi hendak melewatinya. Namun tanpa sadar ada yang mendorong tubuh Ruby dan keduanya terpental ke sebrang jalan.
Disitu Ruby baru sadar kalau ada yang menyelamatkan dia dari bahaya.
"Apa yang kau lakukan? Kau ingin bunuh diri di jalanan seperti ini?" Tanya wanita itu.
Ruby langsung menoleh pada sumber suara yang lumayan dia kenali.
Wanita itu juga membesarkan matanya saat Ruby melihatnya.
"Clarissa,,,!!! "
"Ibu,,,!!! "
__ADS_1