
Sebuah Rumah mewah di kawasan perumahan elit di New York. Seorang pria paruh baya sedang menikmati sarapannya bersama istrinya.
"Sayang tolong ambil ponselku di atas nakas kamar." Ucap Samuel pada Clara.
"Ehm,,, " Jawab Clara dan langsung mengambil ponsel samuel. Tidak lama Clara kembali membawa ponsel Samuel dan memberikan kepada suaminya.
"Terima kasih sayang." Ucap Samuel lembut dan Clara tersenyum hangat pada suami nya.
Samuel langsung menghubungi seseorang dan tidak berapa lama panggilan itu tersambung.
"Iya Ayah...?" Jawab Jessika.
"Kenapa belum tiba? Ayah menunggu mu di rumah. Kau dimana Jessika? Ucap nya kesal.
" Ayah bisa tenang tidak, aku sedang ada pekerjaan dan mungkin beberapa hari lagi aku tiba di rumah.
"2 minggu lagi Tuan Besar Newton Kiel berulang tahun dan kau harus hadir karena disitu lah waktu yang tepat untuk memperkenalkan mu pada keluarga Kiel."
"Huuh,,,!!! " Jessika menghelakan nafas dengan kasar.
" Dan masih soal perjodohan ayah?" Tanya Jessika.
"Lalu apalagi. Ayah sangat menantikan hari dimana kau berjodoh dengan Keenan." Ujar nya dengan tegas.
"Baik Ayah aku mengerti, tapi izinkan aku beberapa hari lagi untuk menyelesaikan pekerjaan ku disini." Jessika sangat kesal karena lagi-lagi ayahnya membahas perjodohannya. Dan tidak pernah bertanya bagaimana kondisinya saat ini.
"Kau mau bicara dengan Ibu mu?" Tanya Samuel pada Jessika.
"Tidak ayah, lain kali saja, aku sedang sibuk. Aku tutup dulu. Bye Ayah. " Tanpa mendengar jawaban Samuel Jessika pun langsung mengakhiri panggilannya. Samuel cukup kesal dan pandangannya beralih pada Clara sang istri. Clara tampak berkaca-kaca namu dia tetap tersenyum.
Samuel memegang tangan Clara dan membalas senyuman manis istrinya.
"Maaf sayang." Ucao Samuel.
"Aku tidak apa-apa, tidak perlu memaksanya." Jawab Clara tersenyum dan langsung menunduk.
"2 minggu lagi Tuan besar Kiel akan berulang tahun, bantu aku menyiapkan hadiah untuk nya ya. Dan sekalian aku ingin mengajak mu berbelanja."
" Baiklah." Jawab Clara lembut.
***
Di Apartemen Keenan. Ruby masih berhadapan dengan Pria menyebalkan yang ada di dunia ini.
"Kenapa kau tidur disini." Tanya Ruby ketus.
"Ini kamar ku." Jawab Keenan polos.
Ruby langsung melihat seisi kamar dan memang benar ini kamar Keenan. Ruby baru menyadarinya. Dan dia merasa malu.
__ADS_1
"Kenapa membawa ku kesini? Kau sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan bukan?" Tuduh Ruby.
Keenan langsung tertawa menyela, Ruby tidak mengingat kejadian malam tadi.
"Kau memaksa ikut denganku. Dan malah minta tidur dengan ku. Apa kau tidak ingat?" Tanya Keenan mengarang cerita.
Ruby membesarkan matanya. Dan merasa tidak percaya.
'Apa iya aku yang memaksanya. Astaga aku memang pemabuk yang payah. Jangan-jangan Keenan juga mendengar ucapan yang tidak seharusnya di dengarnya. Sial,,, " Gumam Ruby dalam hati.
"Apa aku melakukan sesuatu?" Tanya Ruby malu.
"Menurutmu setelah melihat kondisi kita pagi ini kita tidak melakukan apapun?" Ujar Keenan membuat Ruby semakin sakit kepala. Ingin rasanya Keenan tertawa sekuatnya melihat ekspresi Ruby.
"Siall,,,, kenapa kau membiarkan aku melakukannya? Kau bisa menolaknya Keenan." Rengek Ruby sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Bagaimana mau menolak, kau begitu agresif. Dan aku suka itu." Keenna berbicara di dekat telinga Ruby dan membuat gadis iti merinding.
"Aaaaghhh,,,, " Teriak Ruby dan Keenan semakin tersenyum senang.
"Bagaimana bisa aku menyerahkan diriku lagi pada suami orang." Ucapnya sambil menutupi wajahnya dengan selimut.
Keenan menarik selimut Ruby dan kembali ingin melihat ekspresi panik Ruby namun bukan hanya ekspresi panik. Dia juga melihat Ruby menangis.
"Kau menangis" Keenan sedikit menunduk melihat wajah Ruby yang sudah terlihat basah.
"Kau sudah terlalu banyak menangis tadi malam. Kenapa ini masih menangis lagi. Apa kau tidak lelah?"
Keenan merasa Iba dan tidak tega melihat tangisan Ruby. Ruby langsung bangkit dari tempat tidur dan hendak keluar namum Keenan menaham tangannya.
"By,,, maaf aku hanya bercanda. Duduklah."
Ruby melihat tangan Keenan yang masih memegang tangnanya dan Keenan langsung melepaskannya.
"Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu. Duduklah. " Ucap Keenan sambil menarik Ruby untuk kembali duduk di ranjang.
Ruby patuh dan kembali duduk di sebalah Keenan.
"Kenapa terlalu banyak minum? Kau mengatakan semua isi hati mu. Aku ingin mendengarnya lagi ketika kau sadar seperti ini.
Ruby membesarkan matanya.
" Apa yang aku katakan? Tidak yang aneh-aneh kan? Tanya Ruby sambil menggoyang-goyang tangan Keenan.
"Kau mabuk karena sedang cemburu." Ejek Keenan.
Ruby mendongak dan menatap Keenan. Wajahnya seketika memerah.
"Tidak, aku tidak cemburu, aku minum memang karena aku ingin." Ucap Runy berdalih.
__ADS_1
"Lalu ucapanmu tadi malam itu apa? Aku lupa merekamnya. Andai saja kau melihatnya. Mungkin kau akan kehilangan muka di depanku. Jujur saja tidak perlu sungkan lagi. Kau menyukai ku bukan?"
"Tidak, aku tidak menyukaimu dan tidak akan pernah. Apalagi menyukai suami orang. Ucap Ruby tegas.
Keenan menyeringai, dia semakin gemas melihat kebodohan Ruby.
"Suami siapa? Aku belum memiliki istri."
"Bisa-bisa nya kau tidak mengakui istri dan juga anak mu. Apa kau bukan manusia?" Ujar Ruby kesal. Keenan semakin tertawa.
"Kau memang gila." Celoteh Ruby. Keenan merubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Ruby. Sejenak menarik nafas. Lalu mengembuskannya dengan pelan.
"Aku belum menikah." Ucap Keenan.
Ruby menatap Keenan tidak percaya.
"Inez adalah temanku dan Noah itu putra nya yang sudah aku anggap seperti putra ku sendiri."
"Hahh,,, aku tidak percaya itu. Kau pandai sekali bersandiwara." Ruby tertawa menyela.
"5 tahun lalu aku bertemu dengan Inez di kota ini, aku menemuinya di jalanan dan kondisinya saat itu sangat memprihatinkan. Dia sedang hamil tua. Suami nya meninggalkannya sendiri di jalanan."
Ruby merasa terenyuh, satu sisi dia belum terlalu percaya pada omongan pria di hadapannya ini namun di satu sisi dia membayangkan bagaimana hancurnya Inez saat itu.
"Aku membawa nya ke rumah sakit dan ternyata saat itu juga bayinya harus di lahirkan karena jika tidak akan mengancam nyawanya dan juga bayi nya." Ruby mendengarkan Keenan dengan seksama hingga membuat matanya berkaca-kaca.
"Saat itu lahirlah Noah, bayi laki-laki yang sangat menggemaskan, tangisannya membuat hatiku bergetar dan aku tidak mengerti mengapa begitu. Aku merasa seperti terlahir sebagai seorang ayah." Keenan tersenyum menceritakan tentang bahagianya dia saat Noah di lahirkan. Aitmata Ruby jatuh begitu saja. Hatinya terasa terpukul dan kembali mengingat kejadian waktu itu.
"Kau tau, mata indahnya menatapku seolah aku adalah ayahnya dan semenjak itu aku memutuskan untuk ikut merawatnya. Dan mengangkatnya sebagai putra ku. Dia memanggilku Daddy dan itu adalah panggilan yang sangat menyenangkan yang pernah aku dengar." Keenan berbicara sambil menatap Ruby. Dia mengelus lembut pipi Ruby yang sudah basah.
'Andai saja kau tau Keen.' Gumam Ruby dalam hati.
"Lalu Inez?" Tanya Ruby.
"Dia sudah aku anggap seperti kerabat dekat, lebih tepatnya hanya sebatas saudara perempuan."
"Aku tidak percaya." Ruby mendumal pelan dan Keenan masih dapat mendengarnya.
"Terserah jika kau tidak percaya. Namun inilah kenyataannya. Dan Kau sudah salah paham Nona." Ucap Keenan sambil tersenyum jahil.
"Untuk apa kau menjelaskannya padaku. Kau fikir itu hal yang penting untukku?" Ruby salah tingkah.
"Aku hanya tidak ingin kau salah paham dan semakin menderita." Sindirnya.
"Apa? Yang benar saja. Kau terlalu percaya diri Pak. Kenapa kau malah tidak ingun aku salah paham? Jangan-jangan kau yang memiliki perasaan padaku." Tuduh Ruby sambil menyeringai dan Keenan langsung terdiam.
"Kenapa diam? Benar kan apa yang aku ucapkan?" Tanya Ruby lagi.
"Tidak, aku tidak menyukaimu." Jawab Keenan datar. Ruby pun ikut terdiam. Dan seketika wajahnya berubah.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu." Sahut Ruby dengan wajah kecewa dan langsung bangkit dari tempat tidur. Keenan tidak mencegahnya karena dia juga terdiam dan larut dalam fikirannya sendiri.
'Iya aku tidak menyukainya, hatiku bergetar hanya karena melihatnya mirip dengan Clarissa, ya pasti karena itu.' Gumam Keenan dalam hati.