
Selamat pagi Nona Snow. Kebetulan sekali kita langsung bertemu. Ini adalah tes kesehatan Tuan Keenan. Semalam beliau sempat di larikan ke rumah sakit karena kaki nya terluka akibat..... " Ucapak Jonas terhenti tak kala mendapat lirikan dari Sean yang seakan menguping pembicaraan mereka.
"Tendangan mu mengakibatkan tulang keringnya sedikit bergeser jadi saat ini beliau tidak dapat bekerja dan harus di rawat jalan di Apartement nya. Jadi saya kesini di perintahkan untuk memanggil Nona Snow untuk ikut saya ke tempat Pak Keenan. Dan anda harus mempertanggung jawabkan perbuatan anda." Ucap Jonas serius dan lumayan tegas.
Ruby terpelongok mendengar ucapan Jonas yang di rasa tidak masuk akal.
"Sebentar pak, maaf, saya memang menendangnya tetapi saya rasa tidak sampai membuat tulang nya bergeser." Ruby tertawa miris.
"Anda bisa cek sendiri hasil scanning nya. Disini sudah tampak jelas bagaimana tulang nya bergeser." Jonas memberikan sebuah amplop besar berisi hasil scanning Keenan. Ruby pun dengan cepat mengambil dan membuka amplop itu. Dia merasa ini sangat aneh, tapi setelah dilihat-lihat hasil scanning nya memang asli.
"Sebaiknya sekarang anda ikut saya. Saya khawatir Tuan Keenan akan melaporkan anda ke pihak yang berwajib jika tidak ikut dengan saya." Ancaman Jonas sontak membuat Ruby bergetar.
"Baiklah aku akan ikut, tapi bagaiman dengan pekerjaan ku. Aku punya deadline pagi ini yang harus aku selesaikan." Ruby melirik Sean dan Sean sedikit mengangguk dan tangannya melambai menyatakan sebaiknya Ruby ikut dan semua akan aman ditangan nya.
"Saya sudah membicarakan semua nya kepada kepala pemasaran dan beliau menyetujui nya. Tambah Jonas meyakinkan Ruby.
" Baiklah, aku ikut dengan mu. " Ruby menghelakan nafasnya. Kali ini habis lah dia. Padahal dia sudah berfikir tidak ingin bertemu Keenan lagi. Pria itu benar-benar memuakkan bagi nya.
Jonas pun melangkah dan di ikuti oleh Ruby yang berjalan menunduk dan dia sempat berselisih dengan Rain, Rain menoleh tetapi tidak berani bertanya. Karena dia tau siapa pria yang bersama Ruby. Dia hanya menatap kepergian Ruby dan bertanya-tanya ada apa dengan Ruby.
"Di perjalanan, Ruby duduk di kursi belakang sementara Jonas yang membawa mobilnya. Jonas berencana membawa Ruby ke Apartement Keenan karena saat ini Pria itu sedang terbaring lemah di Apartement nya.
Sesampainya di Apartemen Keenan. Ruby sempat berbinar melihat kemewahan gedung Apartement milik Keenan. Sangat luas, besar dan mewah. Baru kali ini dia masuk ke dalam Apartement semewah ini. Jonas membukakan pintu Apartement.
__ADS_1
"Silahkan masuk Nona." Ujar Jonas mempersilahkan Ruby masuk. Ruby lagi-lagi pangling melihat isi di dalam Apartement Keenan yang tak kalah mewah, semua barang-barang tersusun rapi, sangat bersih dan pastinya sangat wangi. Siapapun yang berada di dalam ruangan ini tidak akan ingin keluar lagi.
"Tuan Keenan ada di dalam kamar nya. Sebaiknya anda masuk kedalam. "
"Apa anda tidak waras? Mana mungkin aku masuk ke dalam kamarnya.
" Ini adalah perintah Nona menurutlah, jangan sampai anda membuat hari Tuan Keenan semakin buruk. Anda boleh lihat sendiri keadaannya di dalam. Silahkan masuk." Paksa Jonas, wajah nya sudah berubah lebih sadis. Didalam hati nya berkata betapa keras kepala nya gadis ini.
Ruby pun masuk dengan langkah yang berat. Kaki nya bergetar karena lagi-lagi dia harus bertemu dengan Keenan. Ruby sudah berada di dalam kamar Keenan. Kamar dengan nuansa hitam klasik. Kamarnya sangat luas, wangi dan sangat dingin. Dan tubuh nya bertambah dingin ketika melihat pria yang begitu tampan sedang tertidur pulas di ranjangnya yang super besar. Bak Raja di sebuah kerajaan.
"Kenapa menyuruhku masuk jika dia saja tertidur. Lalu buat apa kesini." Ruby menggerutu pelan tetapi dapat di dengar oleh Keenan. Pria itu pun menyeringai dengan mata terpejam.
"Kenapa masih berdiri disitu." Ucap Keenan datar dan matanya masih terpejam. Sontak membuat Ruby terkejut.
'Ternyata dia tidak tidur.' batin nya. Ruby pun berjalan perlahan ke arah Keenan.
Keenan pun membuka mata nya dan langsung menatap tajam Ruby yang sudah berdiri di sebelah ranjang nya. Keenan mencoba untuk duduk dan membuka selimut yang menutupi tubuh nya. Tampak sebelah kaki Keenan dibalut dengan perban. Mata Ruby pun langsung fokus ke arah kaki Keenan.
"Kau tidak melihat hasil ulah yang kau lakukan padaku? Apakah asisten ku tidak memberitahu mu? Ucapnya tak kalah ketus.
"Dia sudah menjelaskannya padaku. Tapi aku tidak menendang mu sekuat itu Keenan. Kenapa bisa sampai separah ini." Ceketuknya tanpa sadar.
Jantung Keenan berdegup kencang ketika Ruby memanggil nama nya tanpa embel-embel atasan dengan suara lembutnya. Keenan tidak protes karena dia senang mendengar nya.
__ADS_1
"Aku tidak perlu lagi menjelaskan nya panjang lebar padamu. Kau pasti sudah mendapat penjelasan dari Jonas. Dan sekarang kau harus tau berapa banyak kerugianku atas ulah mu ini. Aku tidak bisa bekerja dan pasti banyak melewatkan meeting-meeting peting dengan klien-klien ku. Jadi kau tau apa yang harus kau lakukan untuk menebus semua kesalahanmu."
Kepala Ruby seketika sakit memikirkan Keenan yang begitu menyebalkan. Entah apa lagi mau Bos nya ini.
"Aku tidak tau harus berbuat apa pak. Haruskah aku menemui klien-klien mu untuk menjelaskan bagaimana keadaan mu? Atau menyelesaikan semua tugas mu di kantor pak? Apa guna nya asisten mu." Bola mata Ruby berputar karena kesal.
"Kemampuan mu berfikir sangat pendek. Aku tidak butuh tenaga mu untuk menghandle semua pekerkaan ku. Kau hanya perlu mengurusku, lebih tepat nya merawat ku hingga sembuh."
"Apa????" Ucap Ruby terkejut.
"Kenapa kau terkejut, ini semua karena ulahmu. Kau harus bertanggung jawab." Nada suara Keenan semakin tinggi.
"Jika kau tidak brengsek aku tidak akan melukai mu. Seharusnya kau sadar kenapa aku melakukan hal itu.
" Tidak ada alasan apapun, mulai hari ini kau harus bekerja di apartemen ku hingga aku sembuh. Menyiapkan semua kebutuhanku dari bangun pagi sampai aku tidur. Celetuknya tegas.
Ruby membuka mulut nya lebar membentuk huruf "O", dia tidak bisa menjawab apa-apa lagi karena tidak akan pernah menang jika berdebat dengan Keenan. Dalam hal ini Keenan tidak pernah berubah. Seketika kedua nya diam dalam fikiran mereka masing-masing.
'Kenapa kau tidak mengingatku, kenapankau setega ini Keenan?' ujar Ruby dalam hati sambil menatap Keenan. Keenan pun membalas tatapan itu. Pria itu bertanya-tanya kenapa Ruby memandangnya sedalam itu. Keenan pun mencoba mengalihkan pandangannya.
"Aku lapar, masakkan sesuatu untuk ku makan pagi ini." Ucapnya datar.
"Memasak? Tidak bisakah di pesan saja pak?" Ruby mulai frustasi.
__ADS_1
"Aku sedang tidak ingin makanan dari luar. Aku hanya ingin makanan rumahan. Kau tau sendiri aku sedang sakit."
Ruby pun mengendus kesal dan segera keluar menuju dapur. Keenan tersenyum menang. Dia berhasil mengelabui Ruby dan semua berjalan dengan lancar. Dia harus memberi pelajaran untuk gadis itu.