
Hati Alex terasa sakit saat menyaksikan Ruby dan Keenan bermesraan, persaan Alex belum berubah. Pria itu masih berharap pada adik angkatnya itu. Alex pun keluar meninggalkan pesta. Hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Saat di depan rumah Alex melihat Kenny sudah mengganti kostum, penampilannya sangat berbeda dari sebelumnya. Kali ini Kenny hanya memakai Jacket dan celana Joggernya. Tidak lupa memakai topi dan maskernya. Alex mengerutkan keningnya dan berniat untuk mengikuti Kenny.
Di perjalanan Kenny terus mengumpat. Dia merasa kesal hingga tidak bisa menikmati pesta dengan sepenuh hati.
Kenny mengendarai mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi. Dia sengaja memasang musik dengan keras agar penat dihatinya sedikit berkurang.
Sementara di belakang Alex sudah mengikutinya dengan menaiki taksi.
"Kenapa dia membawa mobil sekencang itu. Apa dia ingin mati." Alex menggerutu.
Sesampainya di Club Bar tempat biasa Kenny datangi.
Bar itu tampak sunyi. Kenny melenggang masuk kedalam. Alex yang baru tiba langsung turun dan mengikuti Kenny kedalam.
Ternyata gadis itu sudah memesan sebuah private room, dia ingin menenangkan dirinya di tempat ini sendiri.
"Silahkan masuk Nona." Ucap pelayan pada Kenny. Pelayan itu masuk sambil membawa banyak minuman dan snack untuk Kenny.
"Terima kasih." Ucap Kenny.
"Panggil kami jika anda perlu sesuatu Nona." Ujar Pelayan.
"Hhm,,,jangan mencoba masuk jika aku tidak memanggil kalian!!! Ucap Kenny ketus.
"Baik Nona."Jawab pelayan itu.
Kenny langsung membuka topi dan maskernya. Memang jika di New York dia lebih menjaga imagenya di depan orang banyak, karena dia merupakan salah satu artis di New York. Dia tidak ingin muncul rumor yang tidak baik tentang dirinya.
Kenny mulai menuang minuman dan langsung meneguknya. Dia bersandar di sofa sambil memijat pelipisnya. Dia benar-benar frustasi kali ini.
"Aku bahkan tidak mampu mengatakan padanya kalau aku menyukainya. Aku malah menahan perasaan ini sendiri. Dia sama sekali tidak peka dengan sikapku selama ini. Sial,,,,!!! " Ucap Kenny mendengus kesal sambil meneguk champagne secara terus menerus. Dia juga mencoba minuman yang lebih beralkohol.
Alex sudah mondar mandir mencari Kenny, namun dia belum juga menemui gadis itu. Dia mencoba memberanikan diri untuk melihat setiap Private room yang ada di bar itu.
Alex masuk di private room pertama namun sialnya tidak ada Kenny melainkan sepasang kekasih sedang memadu kasih.
"Sialnya,,, aku sangat benci tempat ini, dimana Kenny." Omel Alex merasa kesal. Namun dia tidak menyerah.
Semua private room sudah dia periksa, hanya tinggal satu ruangan lagi yang berada di pojokan. Alex pun memberanikan diri untuk masuk.
Ternyata benar Kenny ada di ruangan itu dalam kondisi setengah mabuk. Dia perlahan-lahan masuk sambil menatap Kenny yang tampak frustasi. Bersandar di sofa sambil memegang gelasnya.
"Ehhem,,," Alex berdehem dan seketika membuat Kenny kesal. Dia mengira itu palayan.
"Sudah aku katakan jangan masuk jika aku tidak memanggil kalian." Teriak Kenny marah.
"Pelankan suara mu. Kau sungguh tidak cocok berteriak seperti itu." Suara Alex membuat Kenny langsung menoleh. Dia mengenal betul suara bariton itu.
"Alex,,,!!! " Wajah Kenny menegang setelah melihat wajah pria yang sedang dalam fikirannya itu. Kenny mencoba mengucek matanya karena dia merasa tidak yakin pria ini benar-benar Alex.
"Kenapa kau kemari? Sementara pesta belum selesai." Tanya Alex yang sudah duduk di sebelahnya.
"Aku tidak suka acara nya." Jawab Kenny datar.
"Kau bisa masuk ke kamar bukan malah pergi kesini. Kau tau ini sudah malam." Suara Alex terdengar kuat.
"Pelankan suara mu. Aku tidak suka mendengar mu berteriak dan marah." Kenny meneguk minumnya lagi dan kembali menuang kembali ke gelasnya.
"Mau minum? Minumlah, aku tau suasana hati mu juga kurang baik." Kenny tersenyum kecut sambil meneguk kembali minumannya. Namun dengan sigap Alex menahannya.
"Sudah hentikan, sudah berapa banyak yang kau minum. Kau sudah sangat mabuk" Alex semakin kesal.
Kenny mengibaskan tangan Alex yang sedang memegang tangannya.
"Jangan berlagak perduli. Kau tidak akan mengerti mengapa aku berada disini." Kenny kembali menyandarkan dirinya di sofa.
"Ada apa dengan mu? Sikapmu aneh sekali." Tanya Alex.
"Aku sedang cemburu, aku sedang marah dan kesal. Kau tau? Melihat orang yang kita cintai menatap dalam wanita lain. Aku juga tau kau juga sedang merasakan nya." Lirih Kenny meneguk kembali minumannya.
Alex menarik nafas dan sejenak berfikir. Alex langsung meneguk Wine langsung dari botol nya.
Fikirannya kembali mengingat kemesraan Keenan dan Ruby. Hatinya semakin sakit.
Kenny menatap Alex dengan heran.
"Apa yang kau rasakan?" Tanya Ruby.
"Rasa sakit yang tidak terbendung. Mencoba beralih namun gagal. Hatiku masih tetap padanya."
__ADS_1
Hati Kenny terasa mencelos. Dia mengerti apa yang Alex rasakan karena dia juga merasakan hal yang sama.
"Lalu bagaimana jika ada seseorang yang diam-diam menyukaimu. Apa kau tidak akan membukan hatimu untuk dia?" Kenny menatap Alex penuh harap.
"Jika dia ingin bahagia lebih baik jangan menyukaiku. Karena aku jelas belum bisa memberikan hatiku padanya." Alex kembali meneguk minumannya. Kepalanya mulai sempoyongan.
"Kau kejam sekali" Cetus Kenny.
"Aku memang kejam, aku akan berbicara gamblang pada wanita bodoh itu. Kalau aku memang sedang mencintai orang lain." Suara Alex mulai serak.
Kenny menyeringai namun airmatanya mengalir begitu saja.
Alex melihatnya menangis dan berkata.
"Kau menangis? Untuk apa? Untuk pria yang kau sukai?" Alex tertawa menyela.
"Kenapa tertawa? Kau mengejekku?" Kenny kesal.
"Iya aku mentertawakan mu. Kau terlalu bodoh untuk menagisi pria itu. Berhentilah jika kau merasa itu menyakitkan." Saran Alex.
"Lalu kenapa kau tidak berhenti? Bukankah kau juga sama seperti ku? Kau tau wanita itu tidak akan menerima cintamu. Wanita itu menyukai orang lain. Aku bisa melihat dari matanya, dia menyukai Kakak ku, begitupun sebaliknya. Tidak bisakah kau melihat pancaran cinta di antara mereka? Kenapa malah menyuruhku berhenti." Kenny semakin kesal.
"Karena aku tau pria yang kau maksud adalah aku." Alex menatap sayu mata Kenny yang juga sedang menatapnya.
"Jadi selama ini kau tau aku menyukai mu dan kau dengan sengaja mengabaikan ku?" Lirih Kenny dengan airmata yang terus mengalir.
Alex menganggukkan kepalanya dengan wajah penuh penyesalan.
Alex juga merasa kasihan pada Kenny, namun dia belum bisa membuka hatinya. Dia juga bukan pria yang baik.
Kenny membuka botol Wine baru dan langsung meneguknya hingga habis.
Alex menahan Kenny namun wanita itu tetap kekeh. Dengan deraian airmata dan perasaan yang hancur.
"Hentikan Kenny." Alex menarik kasar botol wine itu hingga dari tangan Kenny hingga terjatuh dan pecah di lantai.
"Kau benar-benar tidak punya hati." Ucap Kenny sarkas dengan pandangan kebencian.
"Maaf Ken,,, Berhentilah, aku bukan pria yang baik untuk mu. Kau terlalu baik untuk ku." Ucap Alex mulai gelisah. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas.
Alex membuka Jasnya dan beberapa kancing kemejanya.
"Bagaimana dengan gadis itu. Kau bahkan tau dia tidak mencintaimu." Teriak Kenny.
Hati Kenny semakin hancur mendengar ucapan Alex. Alex benar-benar menolak cintanya.
"Aku membenci mu Lex. Aku benci dirimu." Teriak Kenny sambil menangis.
Kenny langsung bangkit walau tubuhnya sempoyongan. Dia hendak pergi namun Alex menarik tangan Kenny.
Wajah pria itu memerah, dadanya tampak naik turun. Kenny terkejut melihat sikap Alex.
"Apa yang kau campurkan di minuman ku?" Tanya Alex dengan wajah sarkas.
"Apa maksudmu?" Tanya Kenny bingung.
"Jangan berpura-pura Kenny." Bentak Alex sontak membuat Kenny terkejut dan takut.
"Apa yang kau campurkan diminuman ku? Apa kau sengaja menjebakku?" Alex semakin meraung menahan panas dalam tubuhnya.
"Tidak, aku tidak melakukan apapun Lex, apa maksud mu. Ada apa dengan wajah mu? Kenapa memerah begini? Ucap Kenny sambil membelai wajah Alex.
Pria itu langsung merasakan sentuhan Kenny seperti sengatan listrik. Sentuhan Kenny membuatnya semakin bergairah.
Alex menahan tangan Kenny dengan genggaman yang kuat.
"Kau mencampurkan obat di minumanku bukan? Kau sengaja ingin menjebakku agar malam ini aku tunduk padamu?" Tuduhan Alex membuat Kenny semakin syok. Genggaman Alex juga membuatnya meringis kesakitan.
"Aku tidak melakukan apapun Lex, tolong lepaskan aku. Ini sakit." Rintih Kenny sambil menangis.
Alex menarik kasar tubuh Kenny dan menghempaskannya ke sofa. Kenny ketakutan bukan main. Dia melihat wajah Alex yang di penuhi gairah birahi yang sepertinya tidak bisa dia kendalikan.
"Kenadalikan dirimu Lex, jangan berbuat macam-macam. " Racau Kenny.
"Kau yang sengaja membuatku seperti ini. Ini yang kau inginkan bukan?" Alex mulai mendekati Kenny dan mulai mengkukung tubuh Kenny.
Kenny ketakutan, tubuhnya terasa bergetar. Dia benar-benar tidak menyangka Alex sekasar ini.
"Kau sengaja mencampur obat perangsang di minuman itu agar kau bisa menikmati malam bersama ku, bukan begitu Kenny?" Alex mulai membelai wajah Kenny dengan lembut dan menggoda.
Kenny semakin panik dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia sama sekali tidak bisa melawan tubuh Alex yang menimpanya. Di tambah lagi tubuhnya juga dalam keadaan mabuk.
__ADS_1
Alex membuka seluruh kancing bajunya dan dadanya yang bidang pun terpampang.
"Kau tidak sebaik yang ku kira Kenny. Kau sama saja dengan wanita murahan di luar sana." Bentak Alex.
Perkataan Alex bak petir yang menyambar. Hati Kenny semakin hancur lebur. Dia sama sekali tidak menyangka Alex memandangnya rendah seperti ini.
"Aku memang menyukai mu, aku benar mencintaimu tapi aku bukan wanita murahan seperti yang kau fikirkan." Kenny terisak, airmatanya terus mengalir.
"Hapus airmata busuk mu itu. Aku jijik melihatnya." Alex benar-benar menghina Kenny habis-habisan.
Dia wanita yang tulus dan suci merasa ternodai dengan perkataan Alex.
"Lepaskan aku sialan." Teriak Kenny.
"Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau lakukan." Alex membuka bajunya hingga bertelanjang dada.
"Jangan Lex, jangan lakukan itu." Mohon Kenny terisak.
Alex mendekatkan wajahnya dan langsung mencium Kenny dengan brutal. Dada dan nafasnya tampak memburu.
"Lex jangan." Kenny mencoba mendorong Alex namun nihil, pria itu tetap menjejernya dengan ciuman dan sentuhan yang begitu menggoda.
Kenny meronta namun tubuhnya merespon dengan baik.
Alex melepas ciumannya dan menyeringai menatap Kenny yang sudah mulai bergairah dan merespon Alex.
"Tubuhmu merespon dengan baik sayang. Kau benar-benar menginginkan ini ya kan?" Senyuman Alex tampak menyela.
Alex kembali melahap bibir Kenny dan wanita itu tidak melawan lagi. Dia ikut membalas ciuman Alex. Alex langsung membuka kasar jacket Kenny. Gadis itu tidak berdaya, tubuhnya hanya terbalut dalaman saja karena Alex dengan kasar membuka seluruh pakaian Kenny. Wanita itu menangis sejadi-jadinya. Namun Alex tidak perduli dan tidak berhenti sama sekali.
Alex terus menggerayangi seluruh tubuh Kenny. Tubuh yang sangat indah dan terawat.
"Kau begitu cantik, sayang nya kau rela melakukan apapun untuk merasakan tubuh pria yang kau sukai. Sudah berapa pria yang kau jebak seperti ini Kenny?" Ucap Alex sambil mencium serta menjilat leher Kenny hingga turun ke bagian dada Kenny.
"Aahh,,,!!! " Kenny mulai mendesah, hatinya sangat sakit mendengar ucapan Alex yang begitu menyayat. Namun dia tidak perduli lagi, sebab dia sudah masuk dan melangkah sejauh ini.
Gadis lugu itu mulai menggeliat, dia benar-benar menikmati setiap sentuhan Alex.
"Ahh,,, Alex, cepat lakukan Lex. Lakukan,,,!!! " Teriak Kenny mulai meracau, dia menjambak rambut Alex yang sudah berada di tengah kakinya. Pria itu sedang menikmati lembutnya inti gadis yang sudah dia hina.
"Kau begitu terawat sayang. Namun kau bukan gadis yang murni. Kau gadis yang sangat jahat." Alex menikmati cairan yang keluar dari inti gadis itu.
"Alex aku mohon, lakukanlah,,,!!! " Kenny merasakan gairahnya yang sudah hampir di ujung. Namun Alex berhenti. Membuat Kenny kesal.
"Kau begitu menginginkannya. Jangan sesali jika aku sudah masuk kedalam. Kau tidak akan bisa lari lagi." Alex menyeringai dengan mata yang merah.
Kenny tidak melihat Alex yang dia kenal. Pria ini benar-benar asing. Setelah ini dia tidak tau harus berbuat apa jika benar Alex melakukannya.
Alex yang sudah tanpa busana mulai menekan tubuh Kenny dan berusaha masuk kedalam dengan paksa.
Kenny terlihat meringis kesakitan. Jantungnya berpacu, dia sangat takut namun tubuhnya juga sudah menginginkan Alex.
Alex dengan kasar menekan nya masuk kedalam inti Kenny, membuat gadis itu menjerit dan menangis.
Alex mengerutkan dahinya.
'Kenapa sulit sekali untuk masuk.' Batin Alex.
Dengan satu hentakan lagi Alex benar-benar merasakan masuk kedalam.
Pria itu langsung tersenyum jahat dan mulai menggerakkan pinggulnya.
Melihat gadis di hadapannya kesakitan dengan deraian airmata, namun itu membuatnya semakin bersemangat.
Lama dia menikmati inti Kenny dengan berbabagai gaya. Sampai pada akhirnya dia sampai diujung pelepasannya.
Pria itu mengerang kuat dan menyemburkan cairan cintanya kedalam inti Kenny.
Pria itu terduduk mengatur nafas yang masih terasa memburu. Dan pandangannya terfokus pada sebuah cairan berwarna merah, tampak seperti darah.
Alex langsung bangkit dan melihat cairan apa itu dan ternyata memang benar adalah darah.
'Masih perawan.' Batin Alex, jantungnya berdegup kencang, Alex melihat gadis di hadapannya yang sudah tidak sadarkan diri. Membuatnya semakin takut.
"Kenny,,,Kenny,,,!!! " Alex mencoba menyadarkan Kenny. Tapi gadis itu tidak merespon.
Alex langsung menutupi tubuh Kenny dengan jasnya.
Alex terduduk di bawah Sofa sambil menjambak rambutnya sendiri. Kepalanya terasa begitu sakit
"Apa yang sudah aku lakukan. Siaalll,,,," Teriak Alex, dia mulai menangis. Dia sudah menodai gadis yang masih suci.
__ADS_1
Gadis yang menjebaknya ini ternyata masih perawan.