
Masih di gedung tua.
"Clarissa,,, " Keenan bangun dari tidurnya. Melihat ke samping kiri dan kanan tidak melihat Clarissa. Seketika Keenan panik. Tapi dengan segera dia menghembuskan nafas lega karena melihat Gadis itu sedang berdiri di dekat jendela menghadap ke pakarangan belakang yang semak belukar. Meratapi nasib menjadi gadis yang sudah tak suci lagi. Airmatanya terus mengalir. Bagaimana nasib nya di kemudian hari.
Keenan perlahan bangkit walau kepalanya masih sakit, dia memaksa diri untuk menghampiri Clarissa. Dia juga berjalan sempoyongan. Diam-diam dia memeluk Clarissa dari belakang. Menenggelamkan wajahnya di leher Clarissa. Hal itu membuat Clarissa begitu terkejut. Tubuhnya sempat menegang. Tapi karena melihat itu Keenan hatinya kembali tenang. Keenan memeluknya erat seakan tidak ingin berpisah dengan gadis ini lagi. Menghirup aroma di tubuh yang membuat Keenan candu pada Clarissa.
"Kenapa berdiri disini? Apa yang sedang kau pikirkan? " Tanya Keenan lembut. Clarissa hanya diam, dia menghapus air mata nya. Mencoba melepas pelukan Keenan. Tapi pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Tidak suka?" Kembali Keenan bertanya tapi tak mendapat jawaban dari Clarissa. Gadis ini terlalu betah diam.
"Apa kau tidak suka aku memeluk mu?Menyesal dengan apa yang sudah kita lakukan?" Keenan mengangkat kepala nya. Tidak bersandar di leher Clarissa lagi. Tapi tangannya masih memeluknya.
"Sudah tidak berguna untuk menyesal, semua tidak bisa kembali seperti semula." Jawabnya miris dan airmatanya kembali menetes.
"Apa kau menyesal karena melakukannya bukan dengan orang yang kau sukai?"
Clarissa menoleh ke samping tepat di wajah Keenan yang sedang menatapnya dengan serius. Sangat mengintimidasi. Perlahan Clarissa melepas pelukan Keenan dan memberinya jarak. Tampak Keenan sangat kecewa. Clarissa tidak tau apa yang sedang ia rasakan. Perasaannya bercampur aduk.
"Sebaiknya kita pergi dari tempat ini sebelum mereka datang menangkap kita lagi." Clarissa beranjak meninggalkan Keenan. Dengan sigap Keenan menahan tangan Clarissa.
"Apa kau tidak memiliki perasaan sedikitpun padaku?" Tanya Keenan dengan suara pelan.
Clarissa tidak bisa berkata-kata.
"Bahkan setelah kejadian ini? Tidakkah kau merasakan apa-apa?" Keenan mulai frustasi menghadapi diam Clarissa.
"Semua terjadi begitu saja. Pengaruh obat yang kita minum membuat kita tidak sadar dengan apa yang sudah terjadi. Jadi biarkan terjadi. Aku juga tidak menuntut mu apa-apa. Mungkin aku pantas mendapatkan ini semua untuk menebus nyawa yang sudah kau selamatkan." Jawab Clarissa tanpa perasaan.
__ADS_1
Keenan tersenyum miris. Perkataan Clarissa begitu menyakitkan bagi Keenan.
"Jadi menurutmu aku melakukan itu tanpa perasaan? Tidak bisakah kau melihat mataku? Tidak bisakah kau merasakan perasaanku?" Bulir bening keluar begitu saja dari mata indah Keenan. Hatinya begitu sakit.
"Aku tidak mengerti Keenan. Yang aku lihat dari mu saat itu, kau terlihat mahir melakukannya. Mungkin ini bukan yang pertama kalinya bagimu." Ucap Clarissa menundukkan kepalanya.
Keenan membesarkan matanya. Apa maksud ucapan Clarissa. Clarissa mulai melangkah meninggalkan Keenan.
"Clarissa Ruby,,, " Teriak Keenan dengan suara marahnya. Clarissa menghentikan langkahnya.
"Aku memang pernah tinggal lama di luar negri. Bukan berarti aku terbiasa hidup bebas dan melakukan **** bebas. Karena tidak sembarang orang yang bisa menikmati tubuhku, Ini pertama kali nya bagiku." Suara marah Keenan terdengar menggelegar di ruangan itu, membuat Clarissa merinding. "Kau wanita pertama." Ucapnya tegas dan berjalan melewati Clarissa yang terpaku karena ucapan Keenan. Keenan berjalan meninggalkan Clarissa. Clarissa merasa bersalah sudqmah bersikap menyinggung perasaan Keenan.
'Dia sepertinya menganggapku penjahat kelamin saja' batin Keenan kesal.
Ada perasaan lega di hati Clarissa setelah mendengar ucapan Keenan. Dia hanya tidak ingin besar kepala dan berharap lebih terhadap hubungan yang tidak jelas ini. Anggap saja semua kecelakaan yang tidak bisa di hindarkan. Clarissa mengehelakan nafas dengan kasar dan mulai melangkah mengikuti Keenan yang sudah berjalan lebih dulu keluar dari tempat itu.
"Ada apa Keenan? " Clarissa mulai panik.
"Ssst,,,mereka datang " Ucap Keenan sambil menutup mulut Clarissa dengan tangannya. Clarissa ketakutan dan memeluk pinggang Keenan dengan erat. Melihat respon tubuh Clarissa yang bergetar hebat. Keenan paham bahwa gadis di hadapannya begitu trauma dan begitu ketakutan. Keenan semakin mengikis jarak diantara mereka. Para penjahat itu melewati pohon besar tempat Keenan dan Clarissa bersembunyi.
Setelah para penjahat itu jauh, Keenan dan Clarissa pun keluar dari persembunyian mereka dan kembali melanjutkan perjalanan.
"Kita harus cepat pergi dari sini." Keenan menarik tangan Clarissa dan terus menggandengnya. Kali ini dia tidak akan membiarkan Clarissa terluka lagi. Membayangkan hal kemarin saja membuat dada Keenan terasa sakit. Dia menghentikan langkah nya dan memegang dadanya yang terasa begiti nyeri. Clarissa melihat hal itu langsung khawatir.
"Keenan kau baik-baik saja? Bagian mana yang sakit?" Tanya Clarissa sambil memegang dada Keenan. Keenan merasa tersanjung. Tapi saat ini dia sedang merajuk. Tidak ingin banyak bicara dulu. Paling tidak ini hukuman untuk Clarissa karena sudah menuduh nya sering tidur dengan banyak gadis.
"Aku tidak apa-apa. " Keenan menjauhi Clarissa. "Ayo kita cepat pergi dari sini." Keenan melanjutkan kembali perjalannya. Dan diikuti oleh Clarissa dari belakang.
__ADS_1
**
Di rumah Teddy. Dia sedang duduk bersama sahabatnya sambil menyeruput Coffee yang sudah di sediakan oleh Clara sang istri.
"Silahkan di minum Max, maaf aku tidak bisa menyajikan lebih." Ucap Teddy pada Sahabatnya yang bahagia saat di bangku SMA.
"Apa kau sudah mencari dimana Putriku? Tanya teddy lemah.
"Aku sudah mengerakkan semua anggotaku untuk mencari Clarissa. Aku juga sudah menganggapnya sebagai putri ku sendiri. Aku pasti akan menemukannya." Jawab Max sahabat Teddy.
"Berjanjilah pada ku, jika nanti aku harus pergi deluan. Kau harus menjaganya layaknya putri mu sendiri." Teddy begitu bersedih.
"Kau ini bicara apa. Kau harus melindunginya sampai kapan pun. Dia membutuhkanmu."
"Kau tau sendiri dia bukan putri kandung ku. Dan aku tidak tau sampai kapan dia akan bersama ku. Cepat atau lambat Clarissa akan dibawa pergi oleh keluarganya. Aku merasa sakit hanya dengan memikirkannya saja." Teddy begitu terpukul.
"Tenang lah, aku berjanji tidak akan meninggalkan nya. Aku akan menjaga nya sepenuh hatiku. Jawab Max tegas.
" Terima kasih Max. Kau memang sahabat terbaikku. Aku tau kelak dia akan di jemput kembali oleh keluarganya. Wanita itu sudah berjanji akan menjemput Clarissa. Tapi hingga saat ini belum ada tanda-tanda keluarga nya datang. Sangat malang nasib putri ku itu"
Teddy mengeluarkan kalung dari saku nya.
"Kalung? Milik siapa itu?" Tanya Max.
"Ini punya Clarissa. Kalung yang di bawa Clarissa saat bayi.
Max mengambil kalung itu dan membalik mata Ruby merah yang begitu indah. Max membesarkan mata nya setelah melihat tulisan di baliknya.
__ADS_1
"Ruby Hill?" Ucap nya.