
Di taman sekitar kantor. Ruby duduk sendiri sambil menangis tersedu. Menangisi semua yang terjadi. Dia merasa kenapa seolah takdir mempermainkannya. Di saat Ruby ingin melupakan segalanya kenapa malah kembali bertemu. Perasaan Ruby bercampur aduk.
Tiba-tiba ponsel Ruby berdering tertanda ada pesan yang masuk.
"Kau dimana? Apa kau baik-baik saja Ruby? Aku tidak melihatmu di ruangan. Tolong dibalas Ruby." Rain mengirimnya pesan. Ruby pun menghapus airmata nya dan bergegas kembali ke ruangannya.
Ruby tidak membalas pesan dari Rain, dia pun berlari masuk ke dalam gedung, saat di depan lift tidak sengaja menabrak OB yang sedang membersihkan lantai dan lantai itu begitu licin. Ruby pun terjatuh menabrak ember berisi air tepat di depan lift. Secara bersamaan pintu lift terbuka dan ciprtaan air tersebut mengenai orang yang baru keluar dari lift. Betapa terkejutnya orang itu adalah Keenan dan Jonas. Tampak celana Keenan basah. Ruby pun langsung mendapat tatapan tajam tak mengenakkan dari pria dingin itu.
"Nona kau baik-baik saja? Ucap Jonas menghampiri Ruby.
Wajah Keenan semakin kesal melihat respon Jonas yang lebih mengkhawatirkan Ruby di banding dirinya.
Ruby membesarkan matanya melihat air tersebut mengenai pakaian CEO nya. Mengapa harus bertepatan mereka keluar dari lift batin Ruby dan Ruby yang tadi nya terduduk langsung bangkit dan membungkuk minta maaf.
"Maafkan saya Pak, saya tidak sengaja. Saya minta maaf pak. " Ruby terus membungkukkan tubuhnya dengan wajah paniknya. Tamatlah riwayatnya. Keenan melihat wajah nya dengan jelas.
"Lagi-lagi kau membuat ulah, dan kali ini sudah benar-benar fatal." Ucap Keenan dengan nada suara tinggi. Tubuh Ruby bergetar mendengar hal itu.
"Kau punya mata apa tidak?" Bentaknya.
"Bos, kita harus bertemu Klien." Jonas mengingatkan Keenan dan mencoba mengalihkan Bos nya agar tidak marah, karena bagaimana pun sebagai CEO Keenan harus menjaga sikap apalagi di saksikan banyak karyawan. Tapi kali ini yang Jonas lihat Bos nya tidak punya kesabaran jika melihat Ruby. Entah apa yang merasuki bos nya itu. Padahal biasanya Keenan adalah sosok Bos yang tidak pernah mempermasalahkan hal-hal sepele seperti ini. Ada apa dengan bos nya?
"Datang ke ruangan ku besok pagi pukul 09.00 tidak boleh telat 1 menit pun." Celetuk Keenan dan langsung bergegas pergi meninggalkan Ruby.
"Aaiishh,,, sial sekali hari ini." Ruby langsung membantu OB tadi membersihkan peralatannya.
"Tidak perlu nona. Biar saya saja ya. Nona bisa kembali melanjutkan pekerjaan Nona." Ujar OB pada Ruby.
"Saya minta maaf ya pak, saya benar-benar tidak sengaja." Ruby merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Nona." OB tersenyum melihat gadis cantik yang ada di hadapannya ini mana mungkin dia tega memarahinya.
"Kalau begitu saya deluan ya pak." Ruby undur diri sembari membungkukkan tubuhnya.
Gadis ini memang sangat tau sopan santun.
Di departemen pemasaran. Rain sudah berdiri sambil mondar mandir karena panik. Setelah melihat Ruby datang Rain menghelakan nafas lega.
"Akhirnya kau datang juga. Kau dari mana saja setelah dari ruang rapat? Kau baik-baik saja? Tanya Rain sontak membuat mata Sean dan Ruby terpaku. Ada apa dengan Rain? Tidak biasa-biasanya nya panik seperti itu.
__ADS_1
"Pertanyaan mu jelas membuat Ruby takut Rain, tidak biasa-biasa nya kau seperti ini. Pelan-pelah lah bertanya." Sindir Sean sambil senyum-senyum.
"Hhm,,,maksud ku tadi aku terlalu panik karena kau sudah di tegur pak Keeenan." Rain mencoba mengalihkan tetapi tetap membuat Sean senyum-senyum.
"Rain aku baik-baik saja. Tadi aku keluar sebentar mencari angin.
"Kenapa tiba-tiba pergi. Pak Keenan langsung membubarkan rapat setelah Mood nya rusak karena kita."
"Apa? Sampai begitu nya? Tempramen yang begitu mengerihkan." Tukas Sean membuat Ruby semakin tidak enak hati.
"Maafkan aku, karena ulah ku semua menjadi kacau. Besok aku akan menjelaskan padanya ya saat ke ruangannya. Ruby tampak lesu.
"Untuk apa kau ke ruangannya? Tanya Rain kesal.
"Tadi aku kembali buat ulah dan besok aku di suruh menghadap Pak Keenan ke ruangannya.
"Aku siap menerima konsekuensinya Rain. Kau tenang saja ya." Ruby duduk di kursi nya dan seketika pikirannya melayang membayangkan Keenan yang seperti tidak mengenalinya.
'Keenan seperti tidak mengenaliku. Apa benar-benar sudah lupa. Tapi bagus lah, ini akan lebih baik. ' Ruby bermonolog dalam hati wajah nya kembali lesu.
Jam kerja pun berakhir. Ruby pun kembali pulang kerumah. Dia sengaja pulang agak sore agar bisa menghindari Alex. Saat memasuki rumah Ruby berjalan dengan santai melihat sekeliling ruang tamu tidak ada siapapun. Terdengar suara ke arah ruang makan, sepertinya itu adalah Ayah dan Alex.
"Ruby kau sudah pulang? Sapa Max pada Ruby yang masih berdiri.
" Sini kita makan bersama. Alex sengaja masak banyak untuk kita." Ucap Max.
"Baik Ayah... " Ruby pun duduk di kursi makan.
Ruby tidak melihat Alex sedikitpun. Hal itu membuat Alex mengerutkan dahinya. Kenapa lagi dengan Ruby.
__ADS_1
"Apa hari mu baik hari ini nak?" Tanya Max lembut.
"Lumayan baik ayah, dan kebetulan aku ingin membicarakan sesuatu." Ruby mencoba menenangkan dirinya dan dengan berani mengatakan hal ini pada Max dan Alex.
"Kau ingin membicarakan apa By? Tanya Alex penasaran.
" Hm,,, aku ingin kost, aku sudah mencari tempat tinggalnya. Kebetulan sangat dekat dengan kantor. Belakangan ini aku akan sibuk pergi ke lapangan, berhubung aku sering telat dan sering membuat ulah di kantor karena sering terlambat. Jadi aku memutuskan untuk kost yah. Akan lebih efesien yah. Ucap Ruby sambil tersenyum. Lain hal dengan Alex yang wajahnya sudah berubah drastis menjadi begitu menyeramkan. Tapi Ruby mecoba mengabaikannya.
"Kenapa begitu tiba-tiba Ruby mau pindah? Tanya Max lesu.
" Sebenarnya aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari ayah, dan mungkin ini adalah waktu yang tepat. Jarak rumah ini dengan kantor cukup membuang waktu yang banyak dan aku sudah sering terlambat karena sering ketinggalan angkutan. Ini akan mempengaruhi kinerjaku di kantor ayah.
Max pun menarik nafas dalam-dalam. Dia tidak bisa melarang Ruby karena apapun yang gadis ini ingin kan pasti harus tercapai.
"Baiklah, ayah memberimu izin. Tapi kau harus janji akan sering pulang. Mengerti? Wajah Max tampak muram.
" Baik ayah aku janji. Aku akan sering kesini jika libur." Senyuman Ruby terlukis begitu indah dan lepas. Tapi malah membuat Alex semakin kesal.
"Aku naik deluan ya yah, kak. " Ucap Ruby tanpa menatap Alex sedikitpun dan lanng naik ke lantai dua.
Saat membuka pintu kamar, seseorang ikut membuka pintu itu dan mendorong Ruby masuk ke kamar dan terdorong ke sudut ruangan yang agak gelap karena lampu kamar belum di nyalakan.
"Kak Alex... " Ternyata pria itu adalah Alex.
"Ada apa kak?" Tanya Ruby sedikit takut.
"Ada apa dengan mu? Kau,,, sepertinya kau sedang menghidariku bukan?" Geram Alex membuat Ruby takut.
"Apa maksud mu kak? Siapa yang menghindari mu?" Jawab Ruby mengalihkan.
"Jangan mencoba menyembunyikan apapun dari ku By. Kau tidak bisa berbohong padaku. Aku tau kau sengaja menghindari ku dari kemarin. Sekarang jelaskan kenapa tiba-tiba kau ingin pindah? Kau sudah tidak nyaman tinggal bersama ku dan Max? " Suara Alex terdengar tegas. Tidak pernah Alex bertindak seperti ini. Alex semakin mengikis jarak di antara mereka. Dan sekarang jarak nya begitu dekat membuat Jantung Ruby berdetak cepat.
"Kak apa yang kau lakukan? Aku sulit bernafas kak." Ujar Ruby pn
__ADS_1
"Katakan yang sebenarnya Ruby apa maksud dari semua ini dan kenapa kau tiba-tiba ingin pindah? Alex membentak Ruby dan semakin mempererat dekapannya.