
Sesampainya di Restauran. Keenan berjalan lebih dulu sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana. Sementara Ruby memgikutinya dari belakang sambil membawa berkas-berkas penting untuk Meeting.
Mereka menuju Private Room yang sudah di pesan sebelumnya dan kebetulan Klien sudah datang menunggu keduanya.
Di Private Room sudah ada dua orang pria yang sedang duduk. Saat melihat Keenan dan Ruby kedua nya langsung berdiri. Mereka pun saling berhadapan. Mata salah satu pria di hadapan mereka langsung tertuju pada Ruby. Pria itu tampak berbinar dan jatuh hati pada Ruby. Dia langsung mengulurkan tangannya kepada Ruby dengan agresif. Keenan yang melihat itu langsung mengerutkan kening nya.
"Hai,, selamat pagi. Senang bertemu dengan mu Nona." Ucap Richard, pria yang sedari tadi memperhatikan Ruby.
"Perkenalkan aku Richard Hill dan ini asistenku." Ruby yang tadi nya terpaku, ragu-ragu untuk menyambut tangan Richard. Tapi akhirnya Ruby mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pria itu.
"Ruby, Sekretaris Pak Keenan,,,!!!" Ujar Ruby sambil menjabat tangan Richard. Cukup lama Richard memegang tangan Ruby sambil menatap Ruby sambil tersenyum.
Keenan pun mulai jengah. Akhirnya dia menarik tangan Ruby dan menggantinya dengan tangannya sendiri untuk berjabat tangan dengan Richard.
"Kau terlalu lama memandang sekretarisku Pak Richard." Sindir Keenan sambil meremas sedikit jari-jari Richard. Richard sedikit meringis.
Ruby sempat merasa tidak nyaman. Karena tatapan Richard begitu mendominasi.
"Yah,,, selamat datang pak Keenan yang terhormat. Salah sendiri, kenapa memiliki sekretaris yang begitu cantik dan juga hot." Bisik Richard. Gigi-gigi Keenan mulai merapat dan saling bersentuhan. Keenan menahan amarahnya. Dia sudah menebak hal ini akan terjadi.
Ruby tidak mendengar apa yang mereka katakan. Keenan langsung membawa Ruby duduk. Sementara Richard masih terus tersenyum melihat Ruby. Ingin rasanya Keenan menonjok Kliennya itu.
"Bisa kita mulai sekarang? Aku masih ada jadwal lain." Ucap Keenan dingin dan Richard sudah duduk dan mulai untuk mempresentasikan bisnisnya.
__ADS_1
Ruby hanya diam dan tampak terlihat cuek. Tapi hal itu semakin membuat Richard tergoda. Keenan sadar jika fokus Richard hanya pada Ruby. Dia menyesal menyetujui kerja sama dengan perusahaan Hill. Setelah menyetujui kerja sama tersebut Keenan ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu.
"Sudah selesai. Kami harus pergi. Karena masih ada Meeting lainnya." Ucapan Keenan masih terdengar datar dan dingin.
"Kenapa buru-buru sekali Keenan? Kita sudah lama tidak berbincang-bincang. Setidaknya mari kita makan dulu. Kenapa kau begitu kaku padaku? Bicaralah yang santai seperti biasanya. Apa dengan tidak menghadiri Meeting dengan klien lain Emerald akan bangkrut? Tidak kan?" Ejek Richard. Keenan pun kembali duduk. Ruby masih diam memikirkan hal saat di apartement tadi. Dia tidak bisa mengalihkan fikirannya dan itu cukup membuatnya gelisah. Ruby sama sekali tidak memperdulikan percakapan Keenan dan Richard.
"Saat melihat Ruby aku seperti merasa tidak asing Keen. Dia sangat mirip dengan seseorang. Kau jangan overthingking dulu Keen. Aku melihatnya karena memang sangat mirip dengan seseorang.
"Siapa?" Tanya Keenam datar.
"Bibi ku. Dia sangat mirip dengan Ruby. Ruby,, aku sungguh senang bertemu dengan mu." Goda Richard lagi.
Ruby hanya tersenyum tanpa menjawab, Keenan masih memasang wajah ketatnya.
"Maaf pak, saya ke kamar mandi dulu." Izin Ruby pada Keenan dan Keenan hanya mengangguk. Ruby pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ketiga orang pria yang ada di ruangan itu.
"Perasaan mu saja. Aku biasa-biasa saja. Aku hanya ingin kau profesional. Jangan samakan pekerjaan dengan dunia mu yang sesungguhnya." Ketus Keenan.
"Haha,,, aku yakin kau sedang cemburu pada sekretaris cantik mu itu. Sudahlah mengaku saja. Kau ada mainkan dengan sekretaris mu itu? Zaman sekarang sangat lumrah bos mengencani sekretarisnya sendiri." Richard tertawa hingga tawanya begitu bergema di ruangan itu.
"Jaga ucapanmu, itu tidak benar. Jangan asal bicara." Ucap Keenan menepis.
"Jika kau tidak menyukainya, serahkan dia padaku. Aku akan menjadikannya sekretaris yang paling bahagia. Aku akan memberikannya kenikmatan saat bekerja di ruanganku dan membuatnya menjerit setiap saat dengan ku.
__ADS_1
Amarah Keenan pun bergejolak. Dia langsung menarik kerah baju Richard. Dia benar-benar tidak tahan mendengar ucapan Richard.
"Pak Keenan apa yang kau lakukan" Cegah asisten Richard. Sementara Richard masih tersenyum menyela.
"Sekali lagi aku katakan jaga ucapanmu Rich, walaupun kau klien terbaikku, aku tidak akan segan-segan memutus kerja sama kita dan aku ingatkan sekali lagi jangan pernah mengganggu orangku." Ucap Keenan memperingatkan.
Richard kembali tertawa. Dia memang senang membuat Keenan naik darah.
"Tenang saja aku tidak akan merebutnya dari mu. Aku hanya terkejut, Ruby sangat mirip dengan tante ku Rose Hill. Hanya saja Ruby versi muda nya. Boleh aku minta kontaknya? " Tanya Richard kembali menggoda Keenan.
"Bermimpilah." Ketus Keenan dan langsung beranjak meninggalkan Richard dan asistennya. Richard masih tertawa melihat Keenan seperti itu.
Di kamar mandi, Ruby sudah selesai dan segera keluar. Saat di depan kamar mandi tangan Ruby di tarik kuat oleh tangan kekar dan menariknya ke sudut ruangan kosong dekat kamar mandi. Mulut Ruby sudah ditutupi dengan tangan besar itu. Mata Ruby terbelalak karena melihat pria yang di hadapannya itu tak lain adalah Keenan. Mata Keenan tampak merah seperti sedang manahan amarah. Perlahan Keenan melepaskan dekapan tangan Keenan pada Ruby.
"Keenan apa yang kau lakukan." Ucap Ruby sedikit terengah karena mulutnya ditutupi tangan besar Keenan.
"Aku peringatkan kembali padamu. Jangan gunakan pakaian ini lagi saat pergi keluar dengan ku. Kau mengerti, kau tidak boleh menggoda apalagi sampai dekat dengan klien kita? Kau mengerti?"
"Tapi aku,,,,, " Belum sempat Ruby menjelaskan bibirnya langsung di lahap habis oleh Keenan. Keenan tidak membiarkan Ruby berkata sepatah katapun. Keenan sudah dengan susah payah menahan gejolak yang timbul sejak di apartement tadi. Tapi dia gagal. Dia benar-benar tergoda oleh pesona Ruby. Keenan terus menautkan bibirnya ke bibir Ruby. Gadis itu awalnya tidak membalas tapi lama kelamaan Ruby pun membalas ciuman bergairah itu. Keenan semakin menggila. Dahi Keduanya saling bersentuhan. Nafas mereka sama-sama terengah-engah. Mereka hampir kehabisan nafas karena ciuman panas yang diberikan Keenan.
"Jangan membantahku jika kau tidak ingin di hukum lebih dari ini By." Keenan membelai rambut Ruby dengan lembut dengan tatapan tajam namun mendamba.
"Aku tidak ingin orang ku menjadi pusat perhatian di depan khalayak ramai seperti tadi. Kau mengerti?" Ucap Keenan dan di angguki oleh Ruby.
__ADS_1
Keenan kembali mencium bibir Ruby. Hal itu terus berlanjut. Ruby juga membalas ciuman itu. Keenan benar-benar candu pada bibir lembut Ruby. Ruby melingkarkan tangannya ke leher Keenan. Membalas ciuman demi ciuman yang Keenan berikan. Bibir mereka saling bertautan dalam waktu yang cukup lama.
"Kau tidak bisa melarangku sejauh ini Keenan dan membatasi ku dekat dengan siapapun. Kau hanya bos ku dikantor. Tidak lebih." Ucap Ruby pelan dan tiba-tiba menggigit bibir bawah Keenan. Hingga membuat pria itu meringis kesakitan. Ada sedikit darah segar yang keluar dari bibir bawah Keenan. Ruby tidak perduli, dan Ruby segera pergi meninggalkan Keenan di tempat itu.