
***
Dikediaman Max.
"Kau sudah menyelidikinya?" Tanya Max pada anak buahnya.
"Ini bos data-datanya." Ken memberikan data yang di minta oleh Max. Max langsung membaca dan betapa terkejutnya dia.
"Rose Hill,,, ternyata benar memang dia. Terima kasih Ken, kau bekerja sangat cekatan." Ucap Max pada anak buahnya itu.
"Sama-sama bos, kalau begitu saya izin keluar dulu bos."
"Silahkan Ken." Max masih membaca semua tentang Identitas Rose Hill hal yang tertera di dalam berkas-berkas.
"Aku harus bicara pada Alex dulu. Untuk memperjelas ini semua." Max menutup berkasnya dan membawa berkasnya pulang kerumah.
***
Di Restoran Ruby dan Josh sudah selesai makan siang dan hendak beranjak kembali ke kantor. Namun tiba-tiba ponsel Josh berdering. Priaitu melihat siapa yang memanggilnya.
"Keenan...? " Ucap nya sambil melirik Ruby yang juga sedang melihatnya. Josh langsung menjawab panggilannya.
"Yes Dude? Ada apa?" Tanya Josh To the point.
"Josh,,,Aku butuh obat sekarang juga. Bisa kah kau mengantarnya ke apartemen ku." Suara Keenan terdengar serak dan lemah..
Josh tersenyum jahil, dia tau Keenan sengaja mengerjai nya, berbohong penyakitnya kambuh agar Ruby segera kembali ke kantor.
"Aku sedang ada pertemuan Keen. Obat untuk apa?" Tanya nya berpura-pura.
"Kambuh lagi Josh, tolong aku, aku butuh obat itu. Obat kemarin sudah aku buang karena aku fikir aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Tolong aku josh. Sakit,,,ini tetlalu sakit" Rintih Keenan.
"Kau sedang berpura-pura kan? Sudahlah Keen jangan bergurau, aku tau kau ingin Ruby segera kembali ke kantor kan? Ruby akan segera tiba dikantor kau,,,,!!! " Belum selesai Josh bicara panggilan itu pun terputus.
"Ada apa Josh?" Tanya Ruby.
"Keenan minta obat. Aku yakin dia sedang bergurau karena tidak ingin kau berlama-lama disini bersama ku. Buktinya tadi dia mengikuti kita seperti pengintit, dia duduk di ujung sana." Seru Josh sambil tertawa.
"Jadi itu Keenan Josh? Aku mengira hanya mirip. Tapi perasaanku jadi tidak enak. Keenan tidak pernah bercanda seperti itu Josh." Ujar Ruby khawatir.
"Aku yakin dia pasti sedang bercanda. Kau tenang saja. Ayo kita kembali sebelum dia marah besar.
" Pria yang menabrak ku tadi wajah nya sangat menyeramkan, memerah seperti tersiram airpanas. Padahal sebelumnya aku melihat wajah nya sangat tampan." Ucap salah satu pelayan. Dia berbicara dengan salah satu temannya.
Josh dan Ruby mendengar nya. Keduanyapun saling tatap.
"Keenan beneran kambuh Josh, bagaimana ini?" Ruby tamoak khawatir.
"Aku sedang tidak membawa obat, jika aku mengambilnya ke rumah pasti memakan waktu yang lama. Atau begini saja, sekarang kau ke apartemen Keenan, mungkin kau lah obat yang dibutuhkan Keenan."
"Josh bukan waktunya untuk bercanda. Keenan sedang dalam bahaya." Ruby tampak sedikit kesal.
"Aku tidak bercanda By, aku serius. Karena kau bisa meredakan penyakitnya. Pergilah, aku tidak bisa kesana karena ada pekerjaan." Bohong Josh. Dia sengaja berbohong agar Ruby yang pergi ke apartemen Keenan.
"Tapi aku takut Josh, aku jadi canggung karena sudah tau semua nya." Seru Ruby merasa ragu.
"Pergilah, tidak ada waktu lagi karena Keenan juga tidak bisa dihubungi. Aku takut Keenan kenapa-kenapa." Paksa Josh.
"Josh,,, kau ini." Geram Ruby sambil memukul lengan Josh. Dia pun langsung berlari keluar restoran dan memanggil taksi. Ruby semakin panik karena Keenan tidak mengangkat panggilannya.
"Keenan,,,,Semoga kau tidak kenapa-napa." Ujar Ruby panik.
Tidak berapa lama Ruby pun tiba di apartement Keenan. Dia terus berlari karena perasaannya semakin tidak karuan. Sesampainya di depan pintu apartemen Ruby langsung menekan Sandi yang biasa dia masukkan ternyata Keenan belum juga menggantinya. Ruby pun berhasil masuk, namun tidak melihat Keenan di ruangan. Dadanya mulai sesak, dia langsung berlari ke arah kamar, karena dia yakin Keenan pasti di kamar. Tapi sayang nya Keenan juga tidak ada dikamar.
__ADS_1
"Keenan,,, kau dimana?" Teriak Ruby semakin panik.
"Keenan,,,!!! " Panggilnya lagi.
"Takk,,, " Terdengar sesuatu di walk in closet di kamar Keenan. Ruby langsung berlari kesana dan betapa terkejutnya dia melihat Keenan sudah terkapar di lantai dengan tidak memakai baju. Dia hanya memakai celana panjang santainya yang berwarna hitam.
Ruby berlari menghampirinya.
"Keenan,,, kau baik-baik saja?" Ruby mengangkat kepala Keenan dan meletakkannya diatas paha nya. Pria itu dalam keadaan setengah sadar. Wajah dan tubuh nya memerah.
"Keenan,,,sadarlah, kita kerumah sakit ya." Ruby menggosok-gosok telapak tangan Keenan yang terasa sangat dingin.
"By,,, sakit." Rintih Keenan pelan, tubuhnya semakin bergetar.
'Bisa-bisanya bilang aku obatnya. Mana buktinya. Keenan semakin sakit begini. Bagaimana cara nya aku bisa membawa nya ke Rumah sakit' Batin Ruby dan terus menggosok telapak tangan Keenan.
"Keenan tenang lah, aku akan panggil ambulan dulu ya, tetaplah disini." Ruby hendak beranjak namun Keenan menahannya. Dia memegang tangan Ruby dengan erat.
"Jangan pergi By, tetap disini, jangan tinggalkan aku." Keenan merintih, suaranya nyaris tidak terdengar. Dia semakin mempererat genggamannya.
Ruby terenyuh melihat kondisi Keenan. Dia perlahan membelai lembut wajah Keenan. Begitu tampan dan lembut. Wajahnya tampak dingin, tegas namun penuh dengan kesedihan.
"Maaf karena aku kau sudah mengalami banyak hal yang sangat menyakitkan selama ini." Ucap Ruby pelan. Airmatanya mulai mengalir jatuh dan tidak sengaja mengenai pipi Keenan.
Pria itu tersadar dan perlahan membuka matanya. Melihat Ruby menangis dia langsung memegang pipi Ruby dan mengelus lembut airmatanya.
"Kenapa menangis? Aku tidak selemah yang kau lihat. Sebentar lagi aku akan berdiri tegak untuk memberimu hukuman." Ucap Keenan lemah.
"Sudah seperti ini masih saja sanggup mengancamku." Ruby kesal namun airmatanya masih mengalir.
Keenan perlahan tenang tidak bergetar seperti tadi, ruam merahnya juga mulai mereda. Ruby benar-benar tidak menyangka, sentuhannya benar-benar menyembuhkan Keenan.
Ruby tidak bergerak, dia masih setia membiarkan Keenan terlelap di pangkuannya. Perlahan Ruby membangunkannya. Keenan bisa beristirahat dengan leluasa jika di tempat tidurnya.
Keenan perlahan membuka matanya yang tidak terlihat merah lagi. Namun wajah nya masih tampak sangat pucat.
"Kau bisa bangkit pelan-pelan? " Tanya Ruby.
"Hhm,,, " Jawab Keenan sambil mengangguk.
Ruby pun mulai bangkit dan membantu Keenan berdiri, walau sedikit kesulitan namun Ruby terus berusaha. Perlahan dia menggiring Keenan sambil ia papah Keenan menuju tempat tidur nya.
Keenan sudah berbaring di ranjangnya, Ruby mengambil air minum untuk Keenan dan langsung dia berikan pada Keenan. Keenan masih tampak sangat lemah namun tidak separah sebelumnya.
"Kita kerumah sakit sekarang? Kau harus di periksa, aku takut ada sesuatu yang membahayakan mu." Ungkap Ruby khawatir.
"Tidak,,,aku sudah merasa lebih baik." Jawab Keenan pelan.
"Ingin makan sesuatu?" Tanya Ruby lagi dengan lembut dan Keenan hanya menggeleng kepala. Ruby menghelakan nafasnya.
"Baiklah, sebaiknya kau istirahat, aku akan menunggu di luar, jika perlu sesuatu panggil aku saja." Ucap Ruby, lama Ruby menatap Keenan, sebenarnya Ruby ingin sekali memeluk Keenan mengingat apa yang sudah di dengarnya dari Josh. Jujur saja hati Ruby meluluh, walau dia tau Keenan sama sekali tidak mengingatnya. Hatinya bahagia sekaligus sakit. Dua rasa ini timbul secara bersamaan. Ruby hendak melangkahkan kaki nya namun Keenan menahan tangannya.
"Jangan pergi, tetap lah disini." Mohon Keenan dengan wajah nya yang tampak pucat.
"Tapi aku harus,,,,!!! " Belum sempat Ruby melanjutkan omongannya, Keenan sudah menarik tangannya dengan kuat hingga membuat gadis itu terjatuh di atas dada Keenan.
"Kenapa kau selalu membantahku?" Seru Keenan menggeram.
"Maaf Keenan, tapi aku,,,!!! Keenan dengan mudah mengangkat tubuh Ruby dan membaringkannya di sebalah dirinya.
" Tidak ada tapi-tapian, temani aku tidur, beberapa hari ini aku tidak tidur dengan baik karena mu." Ungkap Keenan jujur. Semenjak kejadian Ruby mabuk dan keduanya saling menjauh membuat Keenan semakin kacau, dia tidak bisa makan dengan baik, dan tidurnya juga tidak teratur, bahkan dia tidak tidur di malam hari hingga pagi tiba.
"Jangan pergi kemana pun, jangan biarkan aku sendirian disini." Keenan menarik Ruby kedalam pelukannya, jantung Ruby berpacu dengan kencang, Ruby juga dapat mendengar denyut jantung Keenan yang tak kalah kencang.
__ADS_1
"Jantung mu berdetak dengan cepat. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ruby.
"Hhm,,, itu hanya terjadi saat aku bersama mu." Ceplos Keenan dan membuat Ruby tersipu malu. Ruby mendongak, dia melihat Keenan memejamkan matanya namun pelukannya begitu erat hingga membuat gadis itu tidak bisa kemana-mana.
Perlahan terdengar dengkuran halus dari pria itu menandakan kalau Keenan sudah terlelap.
Ruby masih merasa canggung, bagaimana pun posisi seperti ini sangat intim. Namun perlahan Ruby pun mulai nyaman, matanya juga sangat mengantuk. Akhirnya dia ikut tertidur di dalam pelukan pria yang masih di fikirkannya sejak 8 tahun lalu hingga saat ini.
***
Club Gym Alex.
Kenny datang dengan mengendarai mobil sendiri ke Club Gym milik Alex, kali ini dia datang sendiri karena Rose sengaja ingin membuat Alex dan Kenny lebih leluasa.
"Hai,,, sapa Kenny."
"Hai,,,selamat datang, silahkan masuk!!! " Ucap Alex dengan senyuman tipisnya.
"Aku bawa sesuatu untuk mu, aku dan bibi sengaja masak untuk mu. Makanlah selagi masih hangat."
"Tidak perlu repot-repot, aku jadi sungkan." Jawab Alex.
"Tidak perlu sungkan, aku senang melakukannya." Kenny berusaha seramah mungkin pada Alex. Namun pria itu masih tampak cuek.
"Kalau begitu aku terima, terima kasih bakool nyak. Lain kali tidak perlu repot-repot membuatkan ku makanan. Aku tinggal dulu ya." Ucap Alex beranjak meninggalkan Kenny.
Kenny merasa sedih, karena Alex sama sekali tidak ingin akrab dengannya. Hampir saja dia menangis namun dia menahannya.
Kenny memulai pemanasan sendiri dan mulai menggunakan peralatan olah raga mulai dari sepeda statis, mesin glutes, mesin Leg Press dan Treadmill.
Pada saat Treadmill Kenny melihat Alex sedang menjadi coach untuk gadis yang begjtu cantik yang ada di hadapannya. Keduanya tampak dekat, Alex juga tanpa sungkan memegang tangan, kaki maupun pinggang gadis itu. Hal itu membuat hati Kenny panas. Sementara dengan dirinya, Alex seperti enggan berinteraksi.
Kenny semakin kesal,dia mempercepat pergerakan conveyor belt pada Treadmill tersebut hingga membuatnya berlari kencang, semakin lama semakin kencang hingga membuat gadis itu kualahan. Pada akhirnya Kenny tidak sanggup dan mengakibatkan dirinya terjatuh dengan keras.
Semua mata tertuju pada Kenny terutama Alex.
"Kenny,,,,!!! " Teriak Alex langsung berlari ke arah Kenny yang sudah bersimpuh di lantai di dekat mesin treadmill yang digunakannya.
Alex menghampiri Kenny dan membantu Kenny duduk di kursi.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Alex khawatir.
Kenny hanya mengangguk. Kenny masih tertunduk.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Alex sambil memeriksa seluruh tubuh Kenny, hinggakaki nya.
"Aku baik-baik saja." Terdengar tarikan seperti orang yang sedang menangis.
"Kau menangis?" Tanya Alex sambil melihat wajah Ruby yang tertunduk. Tanyata benar Kenny sedang menangis.
"Apa ada yang sangat sakit? Biar aku bawa ke klinik."
"Tidak perlu, aku baik-baik saja, pergilah dengan gadis itu, abaikan saja aku. Aku bisa sendiri." Ungkap Kenny sambil membersihkan wajahnya yang sangat basah.
"Dia anak murid ku."
"Lalu aku? Kau membiarkan aku sendirian melakukannya. Apa aku berbeda dengannya? Kenapa? Apa kau masih belum mau berteman dengan ku? Aku melihat kau seperti enggan berbicara dengan ku. Jika kau punya masalah dengan ku katakan saja dan jika kau tidak nyaman aku disini katakan saja." Tangis Kenny semakin pecah, semua mata melihat keduanya. Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Apa maksud perkataan mu, kau terlalu jauh berdikir Nona." Ucap Alex.
"Kau benar, aku terlalu jauh berfikir tentang mu." Jawab Kenny, Kenny perlahan bangkit walau kaki smnya terasa sangat sakit namun perlahan-lahan dia berjalan keluar.
"Biar aku bantu." Ucap Alex menawarkan diri.
__ADS_1
"Tidak perlu." Jawab Kenny tegas dan Alex tidak mengejarnya lagi.