Come Back My Love

Come Back My Love
141. Titik Terendah


__ADS_3

Sesampainya di Pemakaman. 


Ruby turun dari taksi dan langsung berlari sambil terisak hingga sampai di depan makam putri tercintanya.


Leon yang juga baru tiba juga turun dari mobilnya dan mengikuti Ruby dari belakang. Dia bertanya-tanya makam siapa yang Ruby kunjungi. Hingga Leon berhenti beberapa jarak dari tempat Ruby. Leon menatap dengan serius apa yang dilakukan Ruby. 


"Aku benar-benar tidak sanggup, masalah di hidupku yang bertubi-tubi terus menghantamku. Kenapa kau tidak mengajakku bersama mu nak? Aku sungguh tidak sanggup menjalani semua ini. Kenapa semuanya seakan ingin membuat aku benar-benar hancur. Tidak bisakah aku bernafas lega dan bahagia sebentar saja? Kenapa hanya masalah saja yang menghampiri ku? Apa aku terlahir untuk terus menderita? Tidak ada yang mengerti perasaanku. Semua orang mengatakan cinta, mengatakan rindu, justru kenapa malah mereka yang menyakiti hati ini? Ibu kandung yang tiba-tiba datang mengatakan rindu setelah berpuluhan tahun tanpa bertanya bagaimana perasaan ku selama ini yang merasa di sia-siakan dan di buang begitu saja? Memiliki cinta yang juga tidak pernah hilang, terus ada dimana pun dan kemana pun aku pergi namun kenapa dia juga melemparkan banyak derita untukku. Beribu ancaman dan teror yang aku terima, kebencian yang terus mengintaiku dan bahkan aku tidak tau dimana letak kesalahan ku sampai mereka membenciku seperti itu. Aku tidak pernah merasa menyakiti siapapun. Tapi kenapa seolah aku banyak merebut kebahagiaan orang lain sementara mereka tidak pernah tau derita apa yang aku alami selama ini. Kenapa dunia ini terlalu kejam? Kenapaa???" Teriak Ruby sekuat-kuatnya sambil menangis histeris. 


Gadis itu terkulai lemah hingga terduduk di sebelah makam. 


Leon mendengar semuanya dan membuat hatinya teriris, tanpa terasa airmatanya mengalir begitu saja setelah mendengar semua curahan hati Ruby. Begitu malang nasib nya selama ini batin Leon. 


Leon perlahan mulai mendekati Ruby, gadis itu tidak sadar sama sekali karena dia masih terisak terduduk sambil menundukkan kepalanya. 


Leon membaca tulisan di batu nisan tersebut. 


'Rachel Kiel, 8 tahun lalu.' Batin Leon sambil membesarkan matanya. Hatinya terasa berdesir. 


Leon ikut terduduk karena shock, hingga membuat Ruby tersadar dan mengangkat kepalanya. 


"Leon,,,!!! " Ucap Ruby dengan wajah yang sudah sangat sembab dan mata yang memerah.


"Apa dia anak mu dan Keenan?" Tanya Leon dengan tatapan datar. 


Ruby masih diam, dia menatap Leon dan bingung hendak berkata apa. Airmatanya tidak berhenti mengalir. Segala kesedihan didalam hatinya akhirnya pecah. 


Leon manatap mata yang penuh penderitaan itu dan langsung menarik Ruby kedalam pelukannya. 


Tangis Ruby semakin pecah dan kali ini benar-benar tidak terkontrol lagi. 


"Apa Keenan juga tidak tau hal ini?" Tanya nya lagi dan Ruby menjawab dengan gelengan kepala. 


Leon benar-benar hancur setelah mendengar semuanya. Hidup Ruby benar-benar penuh dengan penderitaan.


"Bagaimana kau bisa bertahan dengan kondisi seperti ini? Jika aku menjadi dirimu aku tidak akan sanggup Ca." Ucap Leon yang juga ikut menangis. 


"Aku sudah tidak sanggup lagi Leon, aku lelah, aku lelah sekali." Isak Ruby. 


"Aku mengerti Ca, aku mengerti." Sahut Leon sambil mengelus lengan Ruby. 


Tiba-tiba suara tangisan Ruby tidak terdengar lagi. 


"Ca,,, kau baik-baik saja?" Leon menggoyang pelan tubuh Ruby. Nyatanya gadis itu sudah tidak sadarkan diri lagi. 


"Ca Kau pingsan? Ca bangun ca." Leon panik dan langsung mengangkat tubuh Ruby yang sudah terkulai lemah.


Leon langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit Ruby langsung di tangani oleh dokter. 


"Dia baik-baik saja, dia sudah diberi suntikan agar dapat istirahat total. Tampaknya dia sedang stres berat, kelelahan dan juga shock. Apa dia baru mendengar berita yang mengejutkan?" Tanya dokter itu pada Leon. 


"Iya dok."


"Tolong di jaga fikiran dan hatinya. Ibu hamil tidak boleh stres ataupun kelelahan. Berbahaya untuk ibu dan juga bayi nya."


"Apa? Hamil dok?" Leon membesarkan matanya karena terkejut. 


"Iya dia sedang hamil dan baru 2 minggu. Saya permisi dulu ya." Ujar dokter dan langsung pergi meninggalkan Leon. 


Badan Leon langsung lemah dan dia terduduk di bangku depan ruangan Ruby. Betapa tidak menyangkanya Leon mendengar berita ini. Apa yang harus dia lakukan.


"Semua ini pasti karena Keenan si Bajingan itu. Dengan santainya dia ingin menikah dengan wanita lain dan mencampakkan wanita yang selama ini memberikan seluruh hidupnya untuk pria bejat itu. Aku tidak akan melepaskan mu Keenan." Ungkap Leon geram sambil mengepalkan jari-jarinya. 


Leon langsung masuk ke ruangan melihat Ruby. Wanita cantik itu tidur dengan nyaman. Terlihat betapa lelahnya dia selama ini. Wajahnya sangat pucat dan tubuhnya yang semakin kurus. Leon merasa iba melihat kondiai Ruby. Namun dia juga bingung harus berbuat apa.


'Andai saja aku belum menikahi gadis itu pasti saat ini aku lah yang akan menemanimu dan bertanggung jawab terhadap hidupmu Ca.' Batin Leon. 


Leon merogoh ponselnya di dalam saku dan segera menghubungi asisten pribadinya. Dan panggilan itu langsung tersambung. 


"Ke ruangan ku sekarang juga, ambil flashdisk yang ada di dalam laci. Segera kirim file vidio yang ada di dalam Flashdisk itu sekarang juga padaku. 


"Siap Bos, segera di laksanakan." Jawab asisten pribadi Leon. 

__ADS_1


"Aku akan menghancurkan mu sehancur hancurnya Keenan. Dan tidak akan membiarkan mu tenang sedikit pun." Ucap Leon sambil menggenggam erat ponselnya. 


Leon masih setia menunggu Ruby sadar, dia duduk di sebelah bangkar Ruby, menatap lamat wajah gadis yang semenjak dulu di cintainya. 


Banyak penyesalan yang Leon rasakan saat melihat wajah Ruby. Bagaimana pun Leon salah satu orang yang selalu menyakiti Ruby. Tanpa mengetahui bagaimana penderitaannya selama ini. 


Tiba-tiba ponsel Leon berbunyi. Ada pesan masuk dari Asistennya. 


"Maafkan aku Ruby, aku sedikit melibatkanmu disini. Namun percaya lah aku tidak bermaksud menghancurkan mu. Aku melakukannya agar Keenan menyadari kesalahannya dan aku sangat berharap dia merasa menyesal dan juga hancur."


***


Keenan berjalan menyusuri hutan, hutan yang begitu menyeramkan, sangat rimbun dan hanya terdegar suara binatang-binatang hutan saja. 


Keenan melihat seklebat bayangan seorang wanita yang berlari-lari di hutan tersebut. 


Keenan langsung mengejar bayangan itu. Hingga dia tiba di pinggiran jurang yang begitu curam. Jurang yang tidak asing baginya. 


Keenan melihat seorang wanita yang sangat cantik duduk di pinggir jurang itu dengan busana putihnya. 


Keenan sempat merinding karena takut kalau wanita itu bukan manusia. 


Namun semakin dekat Keenan merasa mengenali wanita cantik itu. 


"Clarissa,,,!!! " Panggil Keenan. Wanita itu menoleh. Bayangan wajahnya sedikit tidak jelas padahal jarak mereka tidak begitu jauh. 


"Keenan,,,!!! " Sahut wanita itu menoleh sambil tersenyim manis. 


"Sedang apa kau disitu. Jurang itu berbahaya dan kau bisa terjatuh. Kemarilah,,,!!! " Ajak Keenan. 


"Tidak Keenan, aku hanya menunggu mu disini, setelah ini aku akan pergi." Jawab Clarissa. 


"Apa yang kau ucapkan? Kembalilah padaku. Kita akan menikah. Kau bersedia bukan? Aku berjanji akan membahagiakan mu." Ucap Keenan. 


"Tidak, kau selalu berbohong, aku tidak mempercayaimu lagi Keenan. Aku akan pergi bersama gadis kecil itu. Dia sedang menunggu ku." Ujar Clarissa sumringah. 


"Kau lebih memilih pergi bersama anak itu dan meninggalkan ku?" Tanya Keenan, suaranya mulai serak dan terdengar panik. 


Wajah Clarissa perlahan-lahan terlihat jelas. Keenan mengerutkan dahinya ketika melihat wajah Clarissa. 


"Berbahagialah Keenan, aku akan ikut bahagia jika kau juga menemukan kebahagiaan mu. Aku harus segera pergi bersama gadis kecil ku yang sangat cantik itu, dia sangat lembut dan baik hati. "


" Ruby,,,? Kau kah itu By?" Tanya Keenan. 


Clarissa menganggukkan kepalanya sambil jalan menuju jurang. 


"Ruby jangan kesana kau bisa jatuh. Ruby,,, kemarilah. Jangan tinggalkan aku." Teriak Keenan panik. 


Ruby berjalan di pinggiran jurang sambil bermain-main. Senyumnya terlihat sumringah. Wajahnya tampak berseri. Sementara Keenan panik dan khawatir Ruby terjatuh. 


"By aku mohon kemarilah, ulurkan tangan mu. Pulanglah bersama ku." Ajak Keenan. 


Langkah Ruby berhenti dan dia berdiri membelakangi jurang. 


"Waktu ku tidak lama Keenan, aku harus pergi dan kali ini aku tidak akan muncul lagi dihadapanmu. Kau harus hidup dengan baik. Jaga dirimu ya. Aku juga akan baik-baik saja bersama dengan buah cinta kita. Keenan,,, aku sangat mencintaimu. Kemarin, hari ini dan untuk selamanya kau hanya cintaku." Ruby tersenyum sangat manis. 


Keenan menangis mendengar ucapan cinta yang begitu indah di dengar. 


"Kemarilah sayang kita akan hidup bersama." Ajak Keenan. 


"Kita tidak bisa bersatu karena kau akan selalu menderita jika bersama ku."


"Aku mencintaimu sayang. Aku akan selalu mencintaimu, selamanya perasaanku tidak akan pernah berubah. Ulurkan tangan mu. Kita akan pulang sekarang." Keenan memohon. 


Ruby menggelengkan kepala nya dan masih terus tersenyum. Wanita itu juga mulai melambaikan tangannya, senyuman yang sangat indah itu tidak pernah pudar. Sekarang Ruby berdiri bersama seorang gadis kecil yang juga sangat cantik. Sangat mirip dengan Ruby dan matanya indah seperti Keenan.


"Anak itu,,,???" Keenan bertanya-tanya. 


"Aku mencintaimu sayang." Teriak Ruby sambil melompat ke jurang bersama gadis kecil itu. 


"Tidakkkkkkkk,,,, ,,, !!!! " Teriak Keenan. 


Keenan terbangun dari tidurnya. Dia terduduk dengan banyak peluh di sekujur tubuh nya. Dia melirik sekitar kamar nya yang gelap. 

__ADS_1


Keenan langsung menghidupkan lampu kamar nya. Mengambil segelas air minum dan langsung meneguknya. 


Keenan memikirkan mimpinya barusan. Dia sungguh tidak mengerti mengapa dia selalu memimpikan Clarissa di jurang yang sama. Dan dia heran mengapa wajah Clarissa mirip dengan Ruby. Keenan meremas kuat rambutnya. 


"Anak kecil itu siapa lagi. Kenapa Ruby bilang dia buah cinta kami. Mimpi ini bisa-bisa membuat ku gila. Arrghh,,,!!! " Teriak Keenan mengerang. 


Dia sulit tidur namun ketika bisa tidur dia pasti bermimpi yang aneh-aneh. 


"Bagaimana keadaan Ruby saat ini? Apa dia baik-baik saja. Aku harus bagaimana sekarang."


Keenan frustasi memikirkan mimpinya, memikirkan Ruby yang tidak tau dimana keberadaanya dan memikirkan besok dia harus mendaftarkan pernikahan dengan Inez. 


Permasalahan ini sungguh membuatnya hilang akal. 


Keenan melihat ponselnya dan melihat ada pesan dari Inez. 


"Sampai ketemu besok di catatan sipil Keen." Keenan langsung melempar ponselnya ke kasur nya. 


Dia berharap Ruby menghubunginya dan membujuknya untuk tidak melakukan pernikahan ini. Namun dia malah pergi bersama Leon yang menurutnya adalah cinta pertama Ruby yang sampai saat ini Ruby sukai. 


Keenan membanting tubuhnya ke kasurnya. 


Pagi harinya di Rumah sakit. Ruby sudah sadarkan diri sekarang dia hendak pulang. Dia ingin kembali ke rumah Max. Dia tidak akan kembali ke Perusahaan Keenan dan untuk sementara waktu dia tidak akan pulang ke apartementnya. 


"Aku antar ya. " Leon menawarkan diri. 


"Kenapa kau masih disini? Kau itu punya istri seharusnya kau mengurusnya bukan malah disini bersama ku." Ruby menegur Leon habis-habisan. Marahnya seperti seorang ibu pada anaknya. 


"Setelah pingsan kau jadi tambah cerewet nona. Suntikan apa yang diberikan dokter hingga kau berubah seperti ini." Tanya Leon menggoda Ruby. 


"Aku tidak tau. Aku juga heran kenapa aku jadi bawel seperti ini." Ruby menggaruk-garuk kepalanya.


Leon tersenyum menatap Ruby. Dia senang melihat Ruby yang sudah tidak menangis lagi seperti tadi malam. Walau wajahnya terlihat sangat sembab. 


"Biarkan aku mengantarmu." Bujuk Leon lagi. 


"Aku bilang tidak perlu. Kau jangan keras kepala. Aku hanya pingsan. Aku masih sanggup pulang sendiri. Jangan memaksaku lagi. Kau tau aku tidak suka di paksa."


"Baiklah jika kau tidak mau. Tapi izinkan aku menemanimu sampai kau naik taksi ya.


Ruby hanya mengangguk. 


"Kau harus menjaga kesehatanmu, makan yang banyak agar tubuh mu tidak krempeng seperti ini." Ejek Leon bergurau. 


"Kau selalu mengejekku." Ruby cemberut. 


"Tidak, biasanya wanita selalu tanggap jika ada seseorang yang mengomentari tubuhnya. Aku hanya ingin kau sehat. Kau harus memikirkan janin di dalam perut mu." Celetuk Leon. 


Ruby langsung terdiam seakan tidak percaya yang Leon ucapkan. 


"Janin?" Tanya Ruby memastikan. 


"Jangan bilang kau tidak tau kalau kau sedang hamil?"


Ruby hanya menggeleng dengan tatapan datar. 


'Tapi itu tidak mungkin. Aku pernah mendengar Max bicara dengan dokter. Dokter mengatakan kalau aku akan sulit hamil karena keguguranku di masa muda berapa tahun lalu." Batin Ruby dengan tatapan khawatir. 


"Jangan sungkan padaku. Kau bisa berbagi cerita apapun padaku. Aku siap mendengarkannya."


"Tidak, kau itu pria beristri. Aku tidak akan melakukan itu." Ketus Ruby. Perkataan Ruby langsung membuat Leon terdiam. 


"Apa kau akan memberitahu Keenan?" Tanya Leon. 


"Tidak akan. Jika memang benar aku hamil tidak satu orang pun yang berhak terhadap anak ini selain aku. Ini milikku." Mata Ruby mulai berkaca-kaca karena mengingat Keenan. 


"Aku selalu mendukung apapun keputusan mu." Seru Leon. 


"Aku harap kau tidak memberitahukan kepada siapapun tentang hal ini. Aku akan membunuh mu jika kau berani melakukannya." Ancam Ruby. 


"Baik Bos, aku akan menuruti perintahmu." Leon mencoba menghibur Ruby.


Ruby mengalihkan wajahnya untuk menghapus airmatanya. Leon tau Ruby sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya. 

__ADS_1


Leon berjanji akan menjaga Ruby, dia tidak akan membiarkan Ruby kehilangan bayi nya lagi.


__ADS_2