
"Siapa nama mu." Tanya Keenan dengan suara datarnya. Ruby menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah Keenan.
"Jika kau ingin berkenalan, katakan saja, bukan dengan cara mengurung ku di ruangan ini dan mencium ku sesuka hatimu." Jawab Ruby dengan ketus.
"Tapi kau dengan senang hati membalasnya Nona. Apa kau tidak ingat? Apa aku perlu mengingatkan mu lagi " Ucap Keenan sambil menyeringai.
"Aku yang menyelamatkan mu, bahkan kata terima kasih pun tidak keluar dari mulut manis mu." Sindir Keenan.
Tiba-tiba hati Ruby mencelos, terasa nyeri seperti dejavu. Ruby menarik nafas panjang dan mencoba membuyarkan pemikirannya. Kembali menatap tajam pria bertopeng di hadapannya.
"Bermimpilah, karena aku tau semua adalah tipu muslihat mu saja. Sungguh memuakkan." Ruby semakin menggerutu. Dan Keenan tersenyum menyela.
" Yah terserah mu saja, yang jelas aku tau kau sangat menikmati ciuman ku." Sebelah alis Keenan naik yang jelas Ruby tak dapat melihatnya. Tapi dia dapat merasakan dinginnya sikap Pria ini terhadapnya.
Ruby mengerutkan dahinya. Merasa semakin dibuat kesal oleh Keenan dan dengan cepat Ruby meninggalkan Keenan di ruangan itu sendiri.
Keenan tersenyum kecut sambil memegang bibirnya. Wanita tadi benar-benar aneh. Apa dia tidak sadar siapa yang menyelamatkannya. Malah berbalik menuduh nya. Seketika wajah Keenan kembali serius ketika mengingat ciuman panasnya dengan wanita asing tadi. Dan melihat ke arah tubuh nya yang sama sekali tidak mengeluarkan ruam merah. Dan sesuatu dibawah sana sudah hidup dan berdiri tegang. Dan rasanya ingin minta dikeluarkan. Keenan bernafas lega. Senyuman ceria itu pun kembali tercipta.
"Aku harus menemui Josh" Ucap Keenan bermonolog dan langsung berdiri dan beranjak dari tempat tadi.
Keenan meraba saku nya untuk mengambil Ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Periksa seluruh CCTV di gedung ini hingga gudang penyimpanannya. Dan berikan rekamannya nya padaku di senin pagi." Ucap Keenan dengan nada datar.
"Baik bos, siap laksanakan. " Jawab Jonas dengan lantang. Benar yang dia pikirkan, belum 1 jam bos nya sudah memberinya tugas. Jonas menghelakan nafasnya dengan kasar.
***
Acara pun selesai, Ruby masih duduk menunggu Sean yang sedang ke Toilet. Steve dan Dino sedang sibuk dengan para gadis dan Troy sudah kembali lebih dulu. Sesekali Rain melirik Ruby yang tampak kesal. Ruby merasa dosa apa dia bisa bertemu dengan pria dingin yang begitu mesum tadi. Wajah kesalnya terlihat begitu jelas. Dan semua tak lepas dari pandangan Rain. Dengan ragu-ragu Rain mencoba bertanya pada Ruby.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Rain sambil memberikan segelas minuman dingin tapi bukan Alkohol.
"Hmm,, aku baik-baik saja. " Jawab Ruby singkat. Dalam hati nya tumben sekali pria ini bertanya baik-baik. Ruby sempat melirik Rain sekilas.
"Tapi wajah mu tidak mengatakan demikian. Kau dalam kondisi tidak baik-baik saja." Celetuk Rain membuat Ruby mendekati wajah pria itu.
__ADS_1
"Apa kau seorang peramal?" Mengerjap-ngerjapkan mata nya. Sontak membuat Rain salah tingkah.
"Bu,,, bukan itu maksud ku. Aku hanya bertanya apa yang aku lihat." Rain tergagap.
"Dan tumben kau banyak bicara hari ini. Apa kau mabuk?" Ruby semakin mendekatkan wajahnya ke mulut Rain. Pria tampan itu membesarkan mata nya.
"Kau yang mabuk, berapa banyak alkohol yang kau minum? Tanya Rain sambil menjauhkan dahi Ruby dengan jari telunjuknya.
" Tidak, aku tidak mabuk." Ruby kembali ingin meneguk alkohol yang ada di hadapannya, dengan sigap Rain menahannya.
"Sudah cukup, jangan minum lagi. Kau sudah mabuk sekali. Sebaiknya kau pulang. Aku akan mengantar mu." Rain menarik tangan Ruby dan langsung di tepis oleh Ruby.
"Ternyata kau ramah juga, aku pikir kau begitu angkuh." Ucap Ruby dengan suara khas mabuk nya.
Rain belum sempat menjawabnya Sean sudah kembali dari Toilet.
"Sorry guys aku membuat kalian lama menunggu. Ayo Ruby kita harus segera pulang. Aku pusing sekali karena minuman sialan itu. Jelas Sean dan di anggukin Ruby.
"Tentu saja boleh, kau boleh menginap di apartemen ku kapan pun kau mau. Letaknya tidak jauh dari kantor kita."
"Baik lah." Ucap Ruby singkat.
"Aku akan mengantar kalian. Tidak ada penolakan." Ucap Rain memaksa sambil mendorong lembut tubuh Sean dan Ruby.
"Aku tidak akan mungkin bisa menolak kabaikan mu sobat." Jawab Sean menggoda.
Sesampainya di parkiran. Rain membuka pintu mobil nya hendak mempersilahkan Ruby duduk di samping kemudi. Tapi Ruby dengan sigap mendorong Sean agar duduk di sebelah Rain. Sean tampak heran begitu pun Rain yang terlihat sedikit kecewa.
"Aku sedikit pusing, aku akan duduk dibelakang." Ucap nya sambil tersenyum membalas tatapan Rain.
Di perjalanan Sean terus mengoceh, tapi Ruby sama sekali tidak menyahutinya. Dia berdiam diri duduk bersandar sambil memijat pelipisnya. Tatapannya juga begitu datar. Menghadap jalanan dengan pemikiran nya sendiri. Rain melirik Ruby dari pantulan kaca mobil. Dia begitu penasaran apa yang terjadi pada Ruby. Kenapa gadis itu seperti sedang memiliki banyak masalah. Sesekali dia melihat mata Ruby terpejam seperti sedang mengingat sesuatu yang sangat berat.
Sesampainya di apartement Sean. Sebuah apartement sederhana yang tampak mulai sunyi karena sudah tengah malam.
__ADS_1
"Thanks sobat sudah mengantar kami. Hati-hati di jalan." Ucap Sean yang tampak sudah begitu mengantuk.
"Terima kasih Rain." Ucap Ruby singkat. Dan pria itu hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Masuk lah, aku akan pergi setelah kalian masuk." Ujar Rain.
"Waahh,,, mengapa hari ini kau begitu so sweet? Baiklah, kami masuk dulu ya. Sekali lagi terima kasih. Bye,, " Sean melambaikan tangannya sambil beranjak. Beda dengan Ruby yang hanya tersenyum dan sedikit membungkuk untuk memberi salam. Gadis itu memang sangat berbeda batin Rain. Setelah kedua nya sudah tidak terlihat Rain pun menginjak pedal gas nya dengan senyuman yang manis. Jarang sekali pria itu tersenyum.
"Apartement mu nyaman sekali. Ingin sekali rasa nya aku tinggal disini." Ucap Ruby sambil merebahkan tubuh nya di Sofa.
"Apartement ku sangat kecil, maklum saja ya jika berantakan."
"Tidak, ini sangat nyaman. Bisa pesan kan 1 untuk ku? Sepertinya aku membutuhkan tempat tinggal di dekat kantor juga supaya tidak memakan waktu yang banyak untuk pergi bekerja." Ucap Ruby sambil mengendus-endus wajah nya di bantal.
"Kau serius by?" Tanya Sean meyakinkan dan Ruby menjawab dengan anggukan.
"Baiklah besok aku akan bertanya pada pemiliknya, sepertinya di unit ini masih ada yang kosong."
Ruby tersenyum kecut dan kembali befikir mungkin ini adalah yang terbaik untuk memperbaiki segalanya.
'Mungkin dengan aku tinggal terpisah, Kak Alex bisa melupakan perasaannya dan mencari wanita lain yang lebih baik. Aku tidak bisa terus menerus bergantung padanya.' batin Ruby.
"Kau sudah minta izin pada Ayah mu kalau kau menginap disini? "
"Aku sudah mengirimnya pesan, dan ayah tidak keberatan." Jawab Ruby.
"Ya sudah mandi dan ganti pakaian mu, gunakan pakaian ku saja. Setelah itu kita istirahat. Masuklah ke kamar disitu ada kamar mandi"
"Baiklah Nona cantik. Kenapa kau begitu cerewet hari ini? Ejek Ruby.
" Karena kau terlalu cantik hari ini. Tidakkah kau menyadari semua mata pria melihatmu? Pasti semua wanita di sekitar tadi iri padamu. Aku sampai tidak percaya diri berjalan di samping mu."
__ADS_1
"Kau terlalu berlebihan sayang. Aku mandi dulu ya." Ruby beranjak dari ruang tamu mengarah ke kamar Sean.
'Sean tidak perlu tau kejadian tadi.' Batin Ruby.