
"Pantas saja dia tidak terlihat asing, ternyata dia artis yang sedang naik daun. Tapi masa bodoh, yang terpenting dompet ku sudah aku temukan kembali." Ujar Alex sambil menaikkan kedua bahu nya. Dia segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke hotel. Malam nanti Alex akan menghadiri pernikahan temannya.
***
Malam harinya di Apartement Ruby. Gadis itu terus berbaring di tempat tidur. Rasa lapar membuat nya terbangun. Ruby pun menuju dapur dan membuka kulkas untuk melihat apakah ada stok makanan yang bisa dia makan. Ternyata saat membuka kulkas terlihat bahwa kulkasnya kosong. Tidak ada satu pun makanan yang bisa dia makan. Bahkan bahan masakan juga habis. Dia terlalu fokus bekerja hingga lupa belanja keperluan bulanan. Hanya tersisa susu. Ruby pun menghela nafas sambil menuang susu di dalam gelas.
Dia sangat lapar, tapi untuk keluar rumah rasanya sangat berat. Tubuhnya belum fit betul. Dia pun segera mengambil ponselnya untuk memesan makanan delivery.
Tiba-tiba bel berbunyi, Ruby belum sempat memesan makanan, dia pun langsung membuka pintu dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang datang.
"Pak Keenan,,,,! Kenapa datang malam-malam begini?" Tanya Ruby syok.
"Bisa persilahkan aku masuk dulu? Ini sangat berat." Ucapnya datar. Keenan datang membawa banyak makanan dan juga bahan makanan yang bisa di masak.
Ruby terpaku saat pria menyebalkan itu masuk dengan lantang.
Keenan meletakkan semua barang bawaannya di meja. Lalu dia memhempaskan tubuhnya di sofa mini yang lembut milik Ruby.
"Melelahkan sekali." Eluh Keenan sambil bersandar.
"Dari mana kau tau unit ku disini pak?" Tanya Ruby kikuk.
"Itu bukan hal yang sulit, aku bertanya pada reseptionis." Keenan masih mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Lalu kenapa kesini. Bukannya masih sakit? Seharusnya kau istirahat dirumah pak."
"Aku tidak bisa istirahat dengan tenang dirumah. Aku sangat lapar tapi aku tidak ingin makan apapun, hanya ingin masakanmu." Ujar Keenan.
"Tapi aku sedang libur masak pak, aku sedang lelah." Eluh Ruby.
"Tidak masalah, aku sudah menyiapkan 2 porsi steak untuk kita berdua. Bisa bantu sajikan di piring?" Ucap Keenan santai.
Ruby benar-benar tidak habis fikir melihat tingkah bosnya yang aneh. Tadi dia marah dan sekarang dia bersikap seperti tidak terjadi apapun. Dengan lancang malam-malam berkunjung kerumah wanita lain. Padahal memiliki kekasih.
Ruby bangkit dan menyajikan steak yang Keenan bawa untuk mereka makan berdua.
'Kebetulan sekali dia datang membawa makanan, tau saja aku sedang lapar.' Diam-diam Ruby tersenyum manis. Keenan sempat melihatnya. Jarang-jarang Keenan melihat senyuman manis itu.
__ADS_1
"Ehem,,, kau sedang senang? Atau kau memang senang aku datang?" Tanya Keenan percaya diri.
Wajah Ruby berubah datar. Dia malu Keenan melihatnya tersenyum. Dia langsung salah tingkah.
Ruby selesai menyajikan makanan di meja. Keenan pun langsung menuju meja makan.
"Kau sudah lama tinggal disini?" Tanya Keenan sambil menyantap steak.
"Belum lama, semenjak bekerja di Emerald Corporate." Jawab Ruby yang juga sedang menyantap makanannya.
"Sendiri?" Tanya Keenan lagi.
Ruby tak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengangguk. Keenan sempat menyipitkan matanya merasa tak percaya.
"Kekasihmu,,, apa dia selalu datang?" Ruby langsung menatap Keenan.
"Tidak,,, aku tidak memiliki kekasih." Jawabnya singkat dengan wajah sulit di artikan.
"Aku tidak percaya." Celetuk Keenan.
"Apa?" Ruby tidak mendengar jelas apa yang di ucapkan Keenan.
"Terserah mau percaya atau tidak. Bukan hal yang penting bagi ku Pak Keenan." Jawab Ruby santai.
"Tapi iti bagus, berarti tidak ada yang keberatan aku datang kesini setiap harinya."
"Aku yang keberatan pak." Jawabnya refleks. Tatapan Ruby juga seperti tidak suka.
"Bicara lah yang santai saat berdua. Bukankah dengan Jonas kau juga minta begitu?" Sindir Keenan.
Ruby tidak menjawab, dia melanjutkan makannya.
"Kenapa kau tinggal di Apartement kecil seperti ini?"
"Aku nyaman tinggal disini. Ini sudah lebih dari cukup untuk ku." Ruby semakin malas menjawab pertanyaan Keenan.
"Apa kau kekurangan uang untuk bisa memilih Apartement yang lebih layak? "
__ADS_1
"Jika ingin mengomentari tempat tinggal ku silahkan tinggalkan tempat ini sekarang pak. Aku tidak memintamu untuk datang kesini. Jika kau tidak nyaman, alangkah baiknya pergi dari sini pak. Maaf jika aku tidak sopan. Tapi ini tempat tinggalku. Kau tidak berhak bicara semaumu." Ruby tampak marah, Keenan hanya menatapnya serius. Dia benar-benar suka melihat Ruby marah. Sebelah bibirnya terangkat dan menampilkan senyuman.
"Aku hanya bercanda, kenapa kau begitu serius?" Keenan meletakkan sendoknya. Dia sudah selesai makan.
Ruby masih terus cemberut. Dia merapikan bekas makan mereka. Dia heran sudah tengah malam Keenan belum juga pulang. Dia bingung hendak berbuat apa. Keenan sedang asyik dengan tabletnya. Dia sedang mengerjakan pekerjaan kantor yang sudah tertinggal.
"Apa saja jadwalku untuk besok By?" Tanya Keenan lembut tanpa melihat Ruby. Matanya masih fokus pada tablet nya.
"Aku sudah kirim ke email mu tadi. Kau bisa cek sekarang." Jawabnya ketus.
"Hm,,," Keenan langsung membuka emailnya dan melihat jadwalnya besok yang ternyata begitu padat. Keenan sempat menghelakan nahas dengan kasar. Sepertinya malam ini dia harus tidur nyenyak agak besok bisa menyelesaikan semua Jadwal pertemuan tanpa ada kendala sedikit pun.
"Aku akan tidur disini malam ini. Besok pagi kita berangkat ke kantor sama-sama. Karena kita ada meeting pagi." Ujar Keenan santai.
Ruby membulatkan matanya. Dia terkejut mendengar ucapan Keenan.
"Lalu kau akan tidur dimana? Disini cuma ada 1 kamar." Ruby mulai panik.
"Kau panik? Aku bisa tidur di sofa malam ini." Ucap Keenan sambil menyeringai.
"Terserah mu saja. Aku harus istirahat, sudah larut malam." Ruby langsung bergegas meninggalkan Keenan sendirian yang masih berjibaku dengan pekerjaannya di tablet.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.00, Keenan mengulatkan badannya yang terasa pegal. Dia juga mulai mengantuk. Entah kenapa ruangan Ruby memiliki pengharum yang menenangkan hingga membuatnya ingin berlama-lama ditempat ini walau tempatnya sangat jauh berbeda dengan apartement nya. Matanya juga terus minta di tutup.
Keenan berjalan menuju kamar Ruby. Dia mencoba membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak di kunci.
"Gadis ini benar-benar ceroboh. Bagaimana jika ada yang masuk kedalam." Keenan masuk kedalam kamar Ruby. Tampak bersih dan jiga rapi. Dengan pengharum yang sama. Dia melihat gadis itu sudah terlelap, tampak damai.
Keenan melihat ranjang Ruby yang tidak terlalu besar, tapi masih bisa menampung satu orang lagi.
Keenan pun tanpa rasa malu merebahkan dirinya di sebelah Ruby. Dia tidak perduli jika dia terlihat mesum dan tidak tau malu. Yang penting malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak malam ini tanpa gangguan.
Keenan dan Ruby sudah tidur berhadapan. Bedanya Ruby sudah terlelap sementara Keenan masih nyaman menatap wajah Ruby.
Perlahan Keenan menarik tubuh Ruby, gadis itu benar-benar terlelap dengan nyenyak karena dia tidak sadar jika Keenan sudah menariknya kedalam pelukan Keenan.
'Aku benar-benar pria memalukan. Semenjak bertemu Ruby sepertinya urat maluku sudah terputus. Aku seperti pria mesum yang tidak bermoral. Aku terlihat seperti pria kahausan belaian. Tapi aku tidak perduli. Bahkan aku sungguh menikmatinya dan walau dengan gadis yang menyebalkan seperti Ruby. Tapi nyatanya ini lah yang aku butuhkan dan aku cari selama ini. Andai saja kau Clarissa. Tanpa fikir panjang aku akan menjadikan mu wanitaku. Tapi kau bukan Clarissa. Aku masih menunggunya hingga saat ini. Aku masih penasaran mengapa dia begitu melekat di hatiku. Dan untuk mu Ruby. Sejauh aku nyaman, aku tidak akan melepaskanmu. Dan aku bisa berhenti jika aku ingin.' Batin Keenan bermonolog sambil membelai rambut Ruby. Dia semakin mendekap Ruby dengan erat.
__ADS_1
Keenan pun akhirnya terlelap tanpa gangguan. Dia tidur dengan nyaman. Ruby benar-benar menjadi sesuatu yang luar biasa untuk Keenan.