
Di kediaman Max.
Ruby terbangun karena Alarm nya berbunyi. Pelan-pelan Ruby bangkit, badannya terasa remuk dan kepalanya begitu sakit. Mungkin karena semalam terkena hujan terlalu lama.
Ruby pun duduk sambil memegang kepalanya. Berat rasanya untuk pergi bekerja tetapi dia masih karyawan baru. Tidak mungkin sering tidak masuk. Apalagi belakangan ini Ruby lebih sering bekerja bersama Keenan. Hingga pekerjaannya pun di handle oleh Sean. Ruby merasa tidak enak hati.
Ruby meraih ponselnya di atas nakas sebelah ranjang nya. Dan mengaktifkan kembali benda pipih itu. Ruby melihat ada beberapa pesan masuk. Matanya membesar ketika membaca pesan itu.
"Pagi ini kau langsung ke Apartement ku, untuk menyiapkan sarapan ku dan membantu ku bersiap ke kantor. Aku sudah meminta Jonas untuk memberitahukan kepada bos mu" Tulisnya.
"Kenapa harus kesana lagi? Dia fikir aku asisten pribadinya. Apa gunanya pak Jonas di sampingnya. Kepalaku semakin sakit, jika seperti ini bagaimana bisa aku mengurus pria itu lagi." Ruby semakin frustasi.
Lalu Ruby teringat kejadian semalam, sepertinya dia melihat Keenan, Keenan datang menghampirinya dan menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
"Apa itu benar Keenan ya. Atau hanya khayalanku saja. Tapi tidak mungkin. Bukankah kakinya masih cedera." Ruby bermonolog dan perlahan bangkit menuju kamar mandi. Dia berjalan perlahan. Tubuh dan kepalanya benar-benar sakit.
Selesai bersiap, Ruby turun dari kamarnya dan hendak berangkat ke apartement Keenan. Alex dan Max yang sudah berada di meja makan terkejut.
"Selamat pagi... " Sapa Ruby lemah dan menghampiri Max dan Alex.
"Selamat pagi sayang, apa kau baik-baik saja? ada apa dengan wajah mu? " Max langsung memeluk Ruby.
"Aku baik-baik saja ayah. Aku sangat merindukan ayah."
"Ayah juga sangat merindukan mu. Kau jarang pulang dan ayah juga sibuk pergi ke markas." Eluh Max.
"Wajah mu pucat sekali By. Apa kau yakin berangkat kerja hari ini?" Tanya Alex khawatir.
"Aku baik-baik saja kak. Aku tidak pakai make up pagi ini. Karena sudah terlambat. Makanya tampak pucat." Ruby mengarang cerita padahal sebenarnya tubuhnya benar-benar tidak enak dan kepala nya masih sakit. Tapi dia menyembunyikan nya agar Max dan Alex tidak khawatir.
"Apa kau yakin?" Tanya Alex lagi.
"Yakin kakak, aku baik-baik saja. Percaya padaku." Ruby tersenyum sumringah meyakinkan Alex daj Max.
__ADS_1
"Sering-sering lah pulang kerumah. Ayah akan masakkan makanan kesukaan mu."
" Siap bos. Aku berangkat sekarang ya. Ayah jika ayah perlu sesuatu atau sedang dalam masalah, ingat jika ayah masih punya aku, aku akan selalu ada untuk ayah. Aku memang anak perempuan yah tapi aku masih bisa di andalkan. Aku akan melakukan apapun untuk ayah dan juga kakak. Hanya kalian yang aku punya" Ucapan Ruby sontak membuat Max dan Alex terkejut. Mereka saling tatap. Kenapa Ruby bicara seperti itu seolah dia mengetahui masalah yang di alami oleh ayahnya.
"Sayang apa yang kau ucapkan. Ayah baik-baik saja. Dan ayah selalu ingat kalau ayah memiliki putri yang bagitu cantik dan juga baik. Ayah pasti cerita jika ayah memerlukan sesuatu." Max merasa bersalah karena sudah menyembunyikan hal besar pada Ruby.
Ruby terdiam, ayah nya terus berusaha menyembunyikan segalanya agar dirinya tidak mengetahui apapun.
'Aku berjanji akan mencari uang yang banyak untuk membantu ayah.' batin nya dan langsung tersenyum.
"Aku berangkat dulu ya. Bye Ayah, kak." Ruby beranjak sambil melambaikan tangannya.
"Kau melupakan sesuatu nona cantik." Ucap Alex dan membuat Ruby menghentikan langkahnya
"Kau tidak menyentuh sarapan buatanku sedikitpun dan kau juga melupakan bekal mu. Jangan biasakan hidup tidak sehat seperti itu. " Omel Alex membuat Ruby tersudut. Ruby pun berbalik dan mengambil bekal yang sudah di siapkan oleh
"Maaf kak aku lupa. Terimakasih bekalnya kak, dan maaf aku selalu merepotkan mu kak.
"Tidak,,, aku sangat senang di repotkan oleh adik bawel seperti mu." Alex menghusap-usap kepala Ruby.
Sesampainya di sana. Keenan sudah duduk di sofa ruang tamu. Ruby masuk tanpa menyapa Keenan. Ruby melirik kaki Keenan yang masih terbalut perban. Begitupun Keenan, Keenan melirik wajah Ruby yang terlihat sangat pucat.
Ruby langsung menuju dapur dan mulai memasak. Dia mencoba melupakan rasa sakit di kepalanya. Pagi ini dia memasak sup jamur kesukaannya. Dia tidak tau apa Keenan menyukainya atau tidak. Dia juga tidak perduli.
"Apa kau sedang sakit? Kenapa wajah mu pucat? " Tanya Keenan memecah keheningan. Ruang tamu berdekatan dengan dapur.
"Tidak,,, aku hanya lupa memakai lipstik." Jawab Ruby sambil mulai memotongi bahan-bahan yang dibutuhkan. Ruby masih penasaran kemarin apa benar iti Keenan. Tapi kaki pria kemarin tidak ada perban sedikitpun.
"Pak boleh aku bertanya?" Ucap Ruby. Keenan menoleh melihat Ruby.
"Hhm,,, ada apa?
" Semalam apa bapak pergi keluar?" Tanya Ruby ragu-ragu.
__ADS_1
Keenan langsung terkejut, jangan-jangan Keenan akan ketahuan.
"Tidak, aku di rumah saja. Terlalu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Bohong Keenan. Sambil melirik Ruby dengan wajah polosnya.
'Berarti aku salah orang." Batin Ruby sambil memegang kepalanya yang kembali sakit. Tidak berapa lama Ruby pun selesai memasak. Dia menyediakannya sarapan lezat untuk Keenan. Aroma masakan Ruby benar-benar menggugah selera. Keenan langsung menyantap makanan nya tanpa bersisa.
Masaknnya tidak di ragukan lagi. Sup ini benar-benar nikmat. Tapi kenapa penampilan Ruby pagi ini tidak seperti biasa. Wajahnya sangat pucat.' batin Keenan.
"Kemarilah. Kita makan sama-sama."
Ruby mengerutkan keningnya. Kenapa pria ini berubah menjadi lembut. Sungguh susah di tebak. Ruby mau tidak mau menurut dan mengambil makanannya untuk makan berama.
"Ruby mengeluarkan bekal yang di berikan Alex. Nasi goreng buatan Alex benar-benar imut. Alex sengaja menghias bekalnya agar Ruby berselera. Ruby pun melihat bekalnya sambil tersenyum. Hal itu membuat Keenan bertanya-tanya.di
'Kenapa dia senyum-senyum. 'Batin Keenan.
Tapi Ruby menutupnya kembali, dia sama sekali belum selera untuk makan.
"Kenapa tidak jadi makan? Apa makanan jelek itu tidak enak? Ejeknya.
" Aku belum lapar, nanti aku akan memakannya." Jawabnya singkat.
"Apa kau buat bekal mu sendiri?"
"Tidak, ini diberikan seseorang." Jawaban Ruby membuat telinga Keenan panas. Ada apa dengan Keenan.
"Siapa?"
"Aku tidak perlu memberitahunya pada anda kan pak. Itu bukan hal yang penting untuk mu pak. Sekarang habiskan makanan mu dan aku akan membantu mu menyiapkan pakaian dan setelah itu kita berangkat." Ruby berdiri sambil memegang kepalanya. Rasanya seperti berputar-putar tapi lagi-lagi Ruby mengabaikannya. Dia tetap memaksakan diri untuk menyelesaikan semua nya sendiri. Keenan melihat nya bingung, ada apa dengan gadis ini. Kenapa dia begitu bersemangat sementara wajah nya benar-benar terlihat tidak sehat. Dia melihat Ruby mondar mandir membersihkan dapur dan sudah berani masuk ke kamar Keenan untuk mengambil pakaian kerja dari Walk in closet. Keenan sudah selesai makan dan kembali duduk di ruang tamu.
"Jangan memaksakan diri, kalau tidak sanggup katakan saja." Teriak Keenan tetapi tidak mendapat sautan dari Ruby sama sekali. Pria itu masih duduk santai di sofa sambil membaca koran. Beberapa menit berlalu Ruby tak kunjung keluar kamar. Keenan merasa ada yang tidak beres.
"Ruby,,, kau sedang apa? Kenapa lama sekali?" Teriaknya tetapi tidak ada jawaban dari gadis itu. Keenan mengambil tongkatnya dan menyusul Ruby ke kamar, saat di didepan pintu kamar mata Keenan terbelalak.
__ADS_1
"Ruby... " Teriak Keenan