
"Kau menyukainya?" Tanya Josh blak-blakan.
"Kau terlalu blak-blakan Dud." Jawab Keenan kesal. Hal itu membuat Josh tersenyum.
"Jonas hubungi Ruby sekarang dan suruh dia ke rumah sakit sekarang juga." Ucap Keenan kesal. Dia benar-benar kesal karena saat dia bangun Ruby tidak berada di sampingnya.
"Ta,,, tapi bos mungkin dia masih istirahat, kemarin dia juga sempat di rawat, tapi setelah keluar dari ruangan anda dia langsung memutuskan untuk pulang." Ujar Jonas menjelaskan.
"Hubungi dia sekarang, jika dia menolak, pecat saja dan suruh dia bayar pinaltynya." Keenan semakin kesal.
Josh dan Jonas saling tatap. Wajah Josh tampak memainkan matanya seolah mengatakan agar segera melakukan apa yang Keenan perintahkan.
"Baik bos, saya akan segera menghubungi Nona Snow." Jawab Jonas mengambil ponselnya.
Sementara Jonas sedang menghubungin Ruby, Keenan malah sibuk mengatur perawat untuk memasukkan 1 bangkar/ranjang di kamarnya dan tepatnya di sebelahnya. Hal itu membuat Josh sakit kepala. Sahabatnya benar-benar sudah tidak waras. Dia selalu melakukan hal di luar nalar dan tidak masuk diakal.
"Kau yakin mau 1 ruangan dengan gadis itu? Kondisi mu belum begitu pulih dan aku yakin gadis itu tidak akan bersedia. Kau terlalu berlebihan Dud. Jangan membuatnya tidak nyaman." Ucap Josh sambil mengusap kasar wajahnya.
"Aku tidak perduli. Dia sekretaris pribadi ku. Dia harus terus bekerja walau aku sedang sakit. Dia tidak boleh makan gaji buta. Aku membayar gajinya mahal." Ucap Keenan ketus.
Josh hanya menghelakan nafas nya dengan kasar. Dia benar-benar tidak mengerti apa maksud sahabatnya itu. Tiba-tiba ponsel Josh berdering. Ternyata itu panggilan dari rumah sakit ditempatnya bekerja. Rumah sakit lain selain MNC Hospital.
"Aku harus pergi Dud, ada panggilan mendadak. Aku harus melakukan operasi. Segera kabari aku jika terjadi apa-apa. Kau mengerti?"
"Hhm,,, pergilah. Kau juga terlalu bawel berada disini. Membuat aku semakin sakit" Ucap Keenan ketus. Dan Josh tersenyum mendengar hal itu. Sahabatnya memang paling aneh. Tapi dia tau Keenan adalah sahabat yang sangat baik walau mulutnya terlalu pedas dan ketus.
"Aku pergi dulu." Josh hendak mencium Keenan. Dan Keenan langsung menghindar.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Keenan sarkas.
"Mau mencium mu, mana tau setelah mendapat ciuman ku kau langsung sembuh." Canda Josh.
"Sialan kau... " Keenan melempar bantal ke arah Josh yang sudah tertawa.
"Baiklah aku pergi dulu. Bye... " Josh langsung beranjak pergi.
Wajah Keenan masih tampak kesal. Ruby tak kunjung tiba.
"Kenapa lama sekali. Apa dia baik-baik saja?" Keenan bermonolog sambil melihat bangkar di sebelahnya yang sudah dia siapakan untuk Ruby beristirahat. Tidak berapa lama terdengar suara ketukan pintu, Keenan langsung pura-pura tidur.
__ADS_1
Ruby masuk dengan wajah lesu. Masih pucat dan juga sembab seperti baru menangis, tapi dia mencoba kuat karena tuntutan pekerjaan yang harus dijalaninya. Kali ini Ruby berjanji tidak akan mau tau tentang masalah pribadi Keenan. Dia sudah lelah menangis sepanjang malam hingga membuat wajahnya sembab.
Dia berjalan perlahan kearah Keenan, menatap lirih wajah pria itu. Sakitnya semakin terasa, padahaldia berusaha menghindari perasaan-perasaan seperti ini.
Ruby duduk di sebelah Keenan, sempat melirik bnagkar yang ada di sebelah Keenan. Dalam fikirannya mungkin itu untuk kekasihnya yang semalam menemaninya.
'Tapi dimana dia sekarang?' Batin Ruby. Dia menarik nafas dan langsung melihat Keenan yang masih nyaman dengan tidurnya.
"Kenapa malah memanggilku. Bukankah ada yang menemani mu disini." Ucapnya pelan namun Keenan dapat mendengarnya. Keenan diam-diam tersenyum. Entah kenapa walau dia sangat kesal pada Ruby, dia senang Ruby mengatakan hal itu.
Ruby menatap lamat wajah Keenan yang masih terpejam. Sangat damai.
'Andai dirimu sedamai wajah mu Keenan.' Batin Ruby.
"Sampai kapan menatap ku seperti itu?" Tanya Keenan datar sontak membuyarkan lamunan Ruby.
"Pak kau sudah sadar? Tanya Ruby langsung bangkit dan gelagapan.
"Hhm,,, kau meninggalkanku setelah aku menyelamatkan mu?" Tanya Keenan dengan tatapan Sarkas.
"Hhm maaf pak,,, aku,,, aku..!!! " Ruby bingung menjawab apa.
"Kenapa kau tiba-tiba menjadi gagap? Aku yang terluka kenapa malah kau yang terlihat aneh?"
"Kau berbohong,,,,!!!" Ujarnya ketus.
Ruby membesarkan matanya, pria ini benar-benar bisa membaca fikirannya.
"Apa kau pergi karena cemburu?" Tuduh Keenan.
"Apa maksud mu pak?" Tanya Ruby merasa tersudutkan.
"Kau menangis setelah keluar dari ruanganku setelah melihat wanita yang menemaniku bukan?" Senyum menyeringai Keenan mulai muncul hal itu membuat Ruby kesal.
"Atas dasar apa aku cemburu padamu pak. Itu tidak benar." Jawab Ruby tegas.
"Lagi-lagi kau berdusta. Lalu karena apa lagi kalau bukan karena cemburu. Kau menangisiku melihat aku terluka karena menyelamatkan mu? Itu tidak mungkin Ruby."
"Kepala anda mungkin sedikit bermasalah pak setelah terkena pukulan, aku akan panggilkan dokter ya." Ruby mencoba berbalik badan. Tapi Keenan langsung menarik tangan Ruby, menarik kuat hingga tubuhnya terjatuh di atas dada Keenan. Jarak mereka sangat dekat hingga membuat jantung keduanya berdegup dengan kencang.
'Entah kenapa aku merasa Ruby mirip dengan gadis yang ada di dalam mimpiku. Clarissa,,, ya Clarissa. Tapi apa mungkin hanya perasaan ku saja.' Batin Keenan sambil menatap lamat wajah sendu Ruby.
__ADS_1
'Ya Tuhan,,, aku sudah mencoba melepas diri dari pria ini, tapi semakin aku menjauh dia semakin menarik ku untuk mendekat. Tolong bantu aku.' Batin Ruby terlihat lirih. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Tubuh mu hangat, tidak seperti biasanya. Apa kau masih sakit?" Tanya Keenan lembut sambil memegang kening dan pipi Ruby.
Ruby terpaku. Pria ini benar-benar random. Terkadang lembut dan terkadang sangat kasar.
"Aa aku baik-baik saja pak." Ruby mencoba melepaskan diri dari dekapan Keenan tapi pria itu masih menahan tubuhnya dengan erat.
"Aku akan memanggil dokter pak, tolong lepaskan aku." Ruby merasa tidak nyaman.
"Apa masih ada yang sakit?" Tanya Keenan kembali dengan lembut.
"Tidak pak, aku sudah baik-baik saja." Jawab Ruby semakin salah tingkah.
Keenan menekan tombol untuk memanggil perawat, tidak berapa lama dua perawat dan 1 dokter masuk ke ruangan Keenan. Posisi mereka belum berubah. Keenan tanpa rasa malu terus mendekap Ruby walau ada orang yang datang. Tidak dengan Ruby, wajah gadis itu benar-benar bersemu merah. Seakan dia ingin menutupi wajahnya dengan bantal karena malu. Dokter dan perawatnya pun senyum-senyum malu.
"Tolong periksa dia, bangkar ini untuk nya. Dia baru saja terluka tapi tadi malam dia melarikan diri." Ucap Keenan menyerahkan tangan Ruby pada salah satu perawat.
"Oh ini Nona semalam yang tiba-tiba pulang, seharusnya anda di rawat, wajah anda juga terlihat begitu pucat." Ucap sang dokter.
"Nona semalaman kau menangis apa tidak lelah." Ujar salah satu perawat menggoda Ruby. Ruby semakin kehilangan muka.
"Kalian juga melihatnya?" Tanya Keenan.
"Tentu saja, semua mata tertuju padanya yang sedang menangis berjongkok di depan rumah sakit. Mungkin karena anda masih belum sadarkan diri pak." Sang perawat kembali menggoda sambil memeriksa Ruby dan segera memasang infus pada Ruby yang terlihat begitu lemah. Ruby benar-benar kehilangan kata-kata. Dia begitu malu hingga rasanya ingin mengubur dirinya sendiri.
Keenan terdiam mendengar ucapan perawat tadi.
'Apa sesakit itu sampai membuatnya menangis seperti itu. Apa benar karena Inez atau karena hal lain.' Batin Keenan bertanya-tanya. Dia begitu penasaran apa penyebab Ruby sampai menangis sesakit itu. Keenan kembali melirik Ruby yang sudah terbaring di ranjang..
"Sudah selesai, saya harap Nona jangan kabur lagi ya. Anda benar-benar lemah saat ini. Untung saja pak Keenan kembali membawa nya kesini." Ucap dokter itu pada Ruby dan Keenan.
"Dia tidak akan berani kabur lagi dok. Jikadia kabur aku sendiri yang akan menghukumnya." Sindir Keenan membuat mata Ruby yang tadi nya tetpejam langsung terbuka.
"Baiklah kalau begitu kaminkeluar dulu. Untuk kondisi Pak Keenan juga sudah mulai membaik, kembali istirahat agar cepat pulih ya Pak."
"Terima kasih dokter. Malam ini para perawat tidak perlu masuk kedalam untuk memeriksa kami. Sediakan saja lebih awal obat atau makanan yang harus di makan. Aku dan dia ingin benar-bemar istirahat malam ini tanpa ada gangguan.
Dokter dan para perawat pun saling lirik dan kembali tersenyum. Sementara Ruby, perasaan nya mukai tidak enak dan tidak karuan. Apa maksud perkataan Keenan.
"Baiklah pak. Demi kenyaman kalian kami akan menyediakan semuanya terlebih dahulu. Kami keluar dulu ya." Ucap dokter undur diri dengan kedua perawatnya yang masih berbisik-bisik sambil tersenyum.
__ADS_1
Keenan ikut tersenyum, dia paling senang menggoda Ruby. Malam ini dia benar-benar bisa satu ruangan bersama gadis yang menurut Keenan menyebalkan sekaligus menggemaskan.