Come Back My Love

Come Back My Love
08. Sudah Tau Masih Mau Bertemen


__ADS_3

"Apa kau pernah melawan? Apapun yang aku lakukan yang kau tau hanya diam. Padahal kau bisa saja melakukan pembalasan. Aku benci kenaifan mu ca."


Mendengar panggilan yang dulu sering diucap Leon Clarissa mengerutkan keningnya. Ya dulu Leon sering memanggilnya dengan panggilan Caca, dia mengatakan itu panggilan sayangnya pada Clarissa. Dulu Clarissa selalu tersenyum saat Leon memanggilnya seperti itu. Tetapi sekarang dia merasa risih. Karena Leon bukanlah Leon yang dulu. Leon sudah banyak berubah. Clarissa sempat menyayangi Leon, sempat menganggap Leon teman baiknya. Tetapi setelah Clarissa mengetahui perasaan Leon terhadapnya membuat Clarissa menjaga jarak, terlebih keluarga Leon melarangnya untuk berteman dengan Clarissa karena status keluarga Clarissa dibawah rata-rata. Lebih tepatnya keluarga Leon tidak ingin berinteraksi dengan orang yang tidak selevel dengan mereka. Mengetahui hal itu Clarissa menarik diri. Clarissa dengan telak menolak cinta Leon. Semenjak itu hubungan mereka memburuk, karena Clarissa memilih untuk memberi jarak dan menghindari Leon tanpa memberitahu alasannya pada Leon, setiap Leon bertanya Clarissa lebih memilih diam dan itu yang membuat Leon mulai kesal dan membencinya. Tetapi tidak benar-benar membenci. Dia selalu memanfaatkan keadaan bagaimana caranya agar terus berinteraksi dengan Clarissa. Jika berbicara baik-baik dengan Clarissa, gadis itu pasti acuh dan diam membisu walau mereka berada di kelas yang sama. Jadi Leon memilih untuk mengganggu Clarissa, menghina, membuly agar Clarissa tetap berbicara dengannya walau dalam kondisi yang tidak mengenakkan.


"Berhenti memanggilku seperti itu. Aku jijik mendengarnya. " Ucap Clarissa ketus.


Darah Leon mendidih, ingin rasanya Leon mencekik dan memeluk Clarissa dalam waktu bersamaan. Dia benci perasaan ini. Leon memukul kuat kasur ditepi ranjang sontak membuat Clarissa terkejut. Saat ini tatapan tajam Leon menatap Clarissa, pria tampan itu menatap nya sangat dekat dengan mata mulai berkaca-kaca. Mereka saling tatap dalam beberapa waktu, dan dering Ponsel Leon menyadarkan mereka. Leon pun mengangkatnya.


'Kau dimana? Kenapa tidak menemuiku? Dalam waktu 5 menit tidak datang, kita putus.' Ucap gadis dari dalam ponsel Leon dan langsung memutus panggilan. Leon menghela nafas.


"Pergilah, ratumu yang paling sempurna sudah memanggilmu." Sindir Clarissa sinis.


"Cemburu? " Tanya Leon sedikit berbunga.


"Bermimpilah, bahkan memikirkanmu saja aku tak sudi." Jawab Clarissa dengan santai tetapi mematikan.


Leon tersenyum sinis, Clarissa benar-benar keterlaluan, ucapannya selalu berhasil memprovokasi Leon.


"Lekas sembuh, aku sudah tidak sabar ingin menyiksamu lebih dari sebelumnya." Ucap Leon kesal.


"Lakukan sesukamu, aku sungguh tidak perduli." Clarissa membuang muka dan menatap keluar jendela. Leon pun beranjak pergi dengan hati kesal. Hubungannya dengan Clarissa benar-benar sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Leon selalu berharap seperti itu tapi setiap Leon memulainya ujung-ujungnya Clarissa membuatnya naik darah.


Air mata Clarissa menetes, memikirkan hidupnya yang entah sampai kapan dikelilingi orang-orang yang membencinya. Selama ini dia tidak pernah merasa sendiri karena merasa masih memiliki orang tua yang selalu ada untuknya tapi kenyataan sangat kejam, bahkan mereka pun bukan orang tua kandungnya. Clarissa merasa semakin asing, sendiri, entah pada siapa dia akan bersandar. Clarissa kembali menangis histeris dan tersedu-sedu. Dia sendiri sekarang, dan itu membuatnya semakin sakit. Dia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


Di depan ruang UKS Leon bertemu dengan Lucu, Lucu langsung melotot inya.


"Sedang apa kau? Kau menyakitinya lagi? Bentak Lucy.


Leon tidak menggubris ucapan Lucy, dia segela meninggalkn Lucy.


" Dasar sialan,,, " Ucap Lucy kesal. Dian pun masuk ke ruang UKS untuk menemui sahabatnya dan dia mendapati Clarissa sedang menangis sejadi-jadinya dan sesegukan.


"Sweety Pie,,, " Lucy terkejut, Lucy berlari dan langsung memeluk sahabatnya itu. Clarissa pun memeluk Lucy dengan erat, dan tangisnya semakin menjadi, suaranya membuat Lucy panik.

__ADS_1


"Ada apa denganmu? Kenapa menangis seperti ini? Tenanglah,,, " Mengelus punggung Clarissa untuk menenangkannya.


"Apa terlalu sakit? Menangislah jika memang membuat mu tenang." Lucy semakin mempererat pelukannya.


Entah berapa lama Clarissa menangis, tetapi Lucy masih sabar menunggu sahabatnya tenang. Clarissa pun mulai tenang.


"Sudah lebih baik? Lucy memberi jarak.


Clarissa menghapus sisa air matanya. Dan kembali duduk menyandarkan tubuhnya di ranjang.


"Sudah mau cerita? " Tanya Lucy lembut.


Clarissa hanya diam menatap Lucy. Dia belum sanggup untuk menceritakan segalanya pada Lucy, karena saat ini dia juga belum tau kejelasannya.


"Baiklah, jangan cerita jika tak ingin, tapi jika kau butuh seseorang untuk mendengarkan mu. Ingat aku masih hidup dan memiliki telinga yang luas untuk menerima ceritamu. " Canda Lucy yang membuat Clarissa tersenyum.


"Nah begitu lebih baik. Punya senyum manis tapi selalu di simpan-simpan, sayang sekali Nona."


"Apa Leon menyakitimu?


"Syukurlah, kalau tidak tanganku sudah sangat gatal ingin menghajarnya. " Ucapnya sambil menahan amarah.


"Lalu kenapa kau bisa pingsan? "


"Aku demam tinggi, dan kepala ku sangat sakit, saat ingin ke UKS aku malah sudah tidak sadar apa-apa lagi. "


"Leon yang membawamu kesini? " Tanya Lucy dengan suara berbisik.


Clarissa menggeleng.


"Lalu siapa yang membawamu kesini?" Tanyanya semakin penasaran.


"Em,,,, anak baru yang kemarin diKantin. " Jawabnya lembut.

__ADS_1


Lucy langsung membolakkan matanya.


"Are you sure?" Lucy tak menyangka pria ketus bermulut iblis itu mau membantu orang lain.


Clarissa menggangguk yakin.


"Tapi disaat aku sadar, aku tak melihatnya. Malah Leon yang ada disini. " Desahnya.


"Berarti kau berharap dia disini? Tuduh Lucy sambil senyum-senyum.


" Bu,, bukan begitu, aku hanya heran saja. " Jawab Clarissa salah tingkah.


"Hhm,,, kau memang beruntung Nona. Semua gadis pasti berharap bisa bersentuhan dengan Laki-laki bak dewa itu." Lucy berbinar.


"Biasa saja." Ucapnya Clarissa cuek.


"Hhmm,,, kau selalu begitu. Baiklah nanti aku akan mengantarmu pulang dengan supirku. Aku tidak ingin kau pulang sendiri dalam keadaan sakit begini."


"Jangan berlebihan, aku masih sehat dan masih bisa pulang sendiri. Lagian aku masih sanggup naik sepeda. Aku akan istirahat disini sampai jam belajar berakhir, jadi aku bisa memulihkan tubuhku. Kau kembalilah ke kelas."


"Berbicara dengan mu memang tidak pernah bisa menang. Kau sangat keras kepala." Mengejek Clarissa sambil tertawa.


"Sudah tau masih mau berteman. " Ucap Clarissa.


"Sudah aku katakan, kau spesial. Walau keras kepala tapi hatimu sangat baik. Rupamu juga cantik seperti hatimu. "


"Aku tidak punya uang untuk membayar pujian mu Nona, kau membuatku melayang. "


Mereka pun tertawa bersama-sama. Seketika dia menatap sayang sahabatnya Lucy. Dia hampir melupakan sahabatnya itu.


Ya Clarissa tidak sendirian. Lucy selalu ada untuknya. Dan dia berharap seterusnya seperti itu.


"Baiklah Sweety aku harus kembali ke kelas. Istirahat lah, semoga kau lekas sembuh. Dahh" Lucy pun pergi kembali ke kelasnya.

__ADS_1


"Tentu,,,!!! " Jawab Clarissa dengan senyum termanis nya.


__ADS_2