
Ruby grusah-grusuh merasa gelisah dan tidak nyaman. Pelukan Keenan membuatnya tidak dapat tertidur dengan nyenyak. Perasaan campur aduk, antara deg-degan dan juga kesal. Pria ini benar-benar membuat Ruby mati kutu.
"Bagaimana aku bisa tidur nyenyak jika kau bergerak kesana kemari." Suara serak Keenan membuat Ruby terdiam dan berhenti bergerak.
"Apa kau merasa tidak nyaman?" Tanya Keenan.
"Sangat tidak nyaman." Jawab Ruby ketus.
"Kau memelukku dengan erat, aku sulit bernafas. Aku juga tidak nyaman tidur dengan pria asing."
"Lalu kau terbiasa tidur dengan siapa? Pria mu?" Tanya Keenan datar.
"Maksud mu apa, aku tidak pernah tidur dengan siapapun."
"Aku tidak percaya." Jawab Keenan semakin mendekap Ruby, wangi rambut dan tubuh Ruby begitu menenangkan bagi Keenan.
"Jangan seperti ini pak, kau bisa memanggil kekasih mu untuk menemanimu tidur." Ruby semakin kesal.
Keenan hanya tersenyum, mata nya masih terpejam. Dia perlahan mencium leher belakang Ruby hingga membuat gadis itu merinding. Tubuhnya terasa panas dingin. Ini benar-benar menggelikan.
"Aku hanya mengingikan mu untuk menemaniku tidur. Tidak ingin yang lain."
"Tapi aku tidak pak. Kau memiliki kekasih dan kau adalah bos ku. Ini tidak benar. Aku tidak bisa tidur dengan pria yang bukan pria ku." Ruby semakin di rundung amarah tapi dia tidak mampu berbuat apapun. Pelukan Keenan benar-benar mengunci tubuhnya. Dia berusaha mengeluarkan perkataan yang menyinggung Keenan.
"Ya sudah mulai hari ini aku akan menjadi pria mu dan kau adalah wanitaku. Jadi kau bisa tidur bersama ku dengan tenang." Keenan memutar tubuh Ruby agar menghadap ke arah dirinya.
"Aku hanya sekretaris mu pak. Tidak lebih." Ujar Ruby ketus.
"Jangan membantahku nona jika tidak ingin dihukum." Ancam Keenan.
Saat ini posisi mereka saling berhadapan dan sangat dekat. Ruby hendak protes lagi tapi bibirnya di tutup dengan ciuman Keenan yang begitu mengejutkannya. Bibir itu terasa dingin namun sangat lembut. Ruby tidak dapat berkata-kata. Pria ini benar-benar tidak tau malu. Tapi lagi-lagi Ruby kalah telak.
"Tidur lah, aku sangat lelah, sekian lama aku tidak pernah bisa tidur di malam hari dan kali ini aku ingin tidur." Ucap Keenan lembut tatapannya begitu sayu dan itu sangat menghipnotis Ruby. Ruby menatap lamat wajah itu.
Keenan menarik Ruby kedalam pelukannya dan gadis itu kini dapat menurut dan tidak gelisah lagi malah sebaliknya. Dia merasa nyaman tidur di dalam pelukan Keenan yang begitu hangat. Dengkuran halus kembali terdengar, Keenan sudah tertidur, sangat telihat jika pria ini begitu lelah.
'Apa Keenan benar-benar tidak bisa tidur malam selama ini, tidurnya begitu nyenyak?' Batin Ruby. Dia mulai menikmati pelukan Keenan dan perlahan matanya tidak dapat ia tahan hingga akhirnya dia pun tertidur.
Tidak perduli apapun mereka tidur layaknya seperti pasangan yang saling mencintai. Tidak perduli bahwa mereka sedang di rumah sakit.
Pagi harinya, Keenan terbangun terlebih dahulu. Tubuhnya terasa ringan, baru kali ini dia dapat tidur dengan nyenyak di malam hari semua karena Ruby yang berada di sampingnya. Terasa aneh bagi Keenan tapi dia menikmatinya. Dia menemukan kenyamanan pada gadis menyebalkan yang selalu mengacak-acak mood nya.
Ruby masih terlelap, dia juga tampak begitu nyaman tidur dipelukan Keenan. Dia menatap lamat wajah Ruby, dari alis yang rapi, bulu mata yang lentik, hidung kecil yang mancung dan jatuh ke bibir seksi Ruby. Pemandangan yang indah dipagi hari batin Keenan sambil tersenyum. Dia merpikan anak rambut Ruby yang berserakan. Perasaan Keenan kembali seperti di dalam mimpi nya kemarin saat bertemu Clarissa. Kenyamanan yang sama. Dia yakin Clarissa adalah wanita yang mengunci hatinya selama ini. Tapi sayangnya Keenan tidak dapat melihat jelas raut wajah gadis itu.
__ADS_1
"Dia seperti dirimu." Ucapnya pelan dan sangat lembut.
Ruby menggeliat, Keenan langsung memejamkan matanya berpura-pura masih tidut, perlahan Ruby membuka matanya dan pandangan pertamanya langsung melihat wajah tampan bak raja yunani yang begitu menggetarkan hati. Lama Ruby menatapnya dengan fikirannya sendiri.
"Sejauh apapun aku berusaha menjauh, tapi takdir seolah terus mempermainkan ku untuk terus dekat denganmu Keen." Celetuk Ruby pelan dan terdengar miris, Keenan dapat mendengarnya. Dahinya terlihat mengerut dan perlahan matanya terbuka.
Mata Ruby membesar, dia terkejut saat mata elang Keenan menatapnya tajam.
"Apa maksud perkataan mu tadi?" Tanya Keenan dengan suara serak tapi terdengar begitu tegas.
"Ti,, tidak pak, aku tidak mengatakan apapun. Kau pasti salah dengar." Ruby salah tingkah.
"Jangan membohongiku. Aku mendengarnya dengan jelas." Keenan memegang erat tangan Ruby.
"Aku hanya salah bicara pak. Maafkan aku."
"Apa kau menyembunyikan sesuatu?" Pertanyaan Keenan semakin menuntut Ruby. Pegangannya semakin kuat dan membuat Ruby meringis kesakitan.
"Sakit pak, tanganku sakit." Mata Ruby berkaca-kaca. Terlihat seperti akan menangis.
Tok,,, tok,,, tok. Terdengar ketukan pintu dari luar, sepertinya perawat akan masuk memeriksa mereka berdua.
Keenan langsung melepas pegangannya dan meninggalkan bekas merah di tangan Ruby. Aitmata Ruby mengalir begitu saja.
"Masuk...." Teriak Keenan. Dan tidak berapa lama dua perawat masuk membawa sarapan untuk Ruby dan Keenan. Keduanya kembali diperiksa. Jonas juga masuk membawa perlengkapan untuk Keenan. Dia menatap bosnya yang wajahnya terlihat cerah. Tampaknya tidur sang bos sangat nyanyak, tapi dia heran kenapa tatapannya begitu menakutkan. Apa yang sudah terjadi. Jonas berbalik melirik Ruby yang sepertinya baru menghapus airmatanya. Dia yakin memang terjadi sesuatu.
"Astaga nona ada apa dengan tangan mu? Kenapa memerah begini?" Tanya salah satu perawat. Semua mata tertuju pada Ruby. Begitu pun Jonas. Dia meletakkan paper bag milik Keenan dan langsung menghampiri Ruby. Dia menarik tangan Ruby untuk melihat lukanya. Sikapnya jelas membuat Keenan semakin memanas.
"Ruby kenapa bisa memerah seperti ini?" Tanya Jonas keceplosan. Keenan menatap Jonas dengan tatapan membunuh. Bisa-bisanya mereka terlihat begitu dekat.
"Aku baik-baik saja pak. Ini hanya kecelakaan kecil saat di kamar mandi. Sebentar lagi juga akan hilang." Jawab Ruby sambil melirik Keenan. Dia sadar bahwa Keenan sedang marah.
"Biar di poles salep pereda nyeri ya. Mungkin hanya perih sedikit tapi tidak akan lama." Ucap Perawat.
"Terima kasih suster. Suster kapan aku bisa pulang. Aku sudah merasa baik sekarang." Tanya Ruby.
"Setelah sarapan Nona dan Tuan sudah bisa pulang. Kondisi kalian sudah membaik, tapi tuan anda harus kontrol setiap minggunya. Ini pesan dari dokter. Kebetulan beliau sedang ada operasi." Ujar perawat pada Keenan.
"Hmm,,, " Jawab Keenan singkat.
Keenan dan Ruby pun sarapan tanpa ada pembicaraan sedikit pun. Setelah selesai sarapan Jonad membantu Keenan bersiap dan Ruby pun juga membantu.
"Nona Snow biar kami mengantar mu ya." Ucap Jonas.
__ADS_1
"Tidak perlu pak, saya bisa naik taksi, tidak perlu repot-repot." Jawab Ruby sungkan.
"Tidak, ini juga pesan dari Bos Keenan. Beliau yang menawarkan. Jangan menolak ya." Jonas tersenyum ramha pada Ruby. Lagi-lagi hal itu di saksikan oleh Keenan. Pria itu benar-benar ingin merobek mulut manis Jonas.
"Jangan terlalu lama berbasa basi. Jangan membuang waktu ku." Celetuk Keenan menyindir dan segera bergegas keluar ruangan. Jonas dan Ruby mengikutinya dari belakang.
Di perjalanan tidak ada pembicaraan sedikit pun. Keenan duduk bersila sambil memegang tablet nya dan memeriksa beberapa pekerjaan yang sudah tertunda. Lain hal dengan Ruby, gadis itu hanya diam sambil menatap ramainya jalanan.
Jonas melihat kedua nya dari kaca mobil. Dia sangat penasaran sebenarnya apa yang terjadi di antara kedua makhluk ini batinnya.
Akhirnya tiba di Apartement Ruby.
"Kita sampai, benar ini apartement anda Nona Snow?" Tanya Jonas.
"Betul pak, terima kasih banyak sudah mau mengantar saya. Terimakasih pak Keenan." Ucap nya sungkan.
"Hmm,,, apa kau bisa tidur di apartement sempit seperti ini?" Sindir Keenan melirik Ruby dengan tatapan menyela.
"Ini lebih baik daripada bangkar Rumah sakit pak." Jawab Ruby tegas. Keenan kembali bersikap menyebalkan.
"Tapi kau sangat nyenyak tidur malam ini Nona" Sindir Keenan menyeringai sontak membuat Wajah Ruby memerah.
Jonas menatap keduanya. Dia yakin pasti terjadi sesuatu pada mereka saat di rumah sakit tadi.
"Terima kasih atas tumpangannya. Saya permisi dulu. " Ruby undur diri dan turun dari mobil. Keenan sempat meliriknya beberapa waktu, tapi saat Ruby menoleh ke arahnya dia langsung membuang muka. Ruby sedikit membungkuk dan Jonas melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Mobil itu pun melaju meninggalkan apartement sederhana Ruby.
"Tampaknya kau begitu dekat dengan sekretarisku Jonas. Apa kau tertarik padanya?"
Jonas langsung salah tingkah, pertanyaan bos nya sungguh membuatnya malu.
"Tidak bos, hanya sekedae rekan kerja saja bos. Ruby juga gadis yang baik dan ramah." Puji Jonas.
"Jaga jarak padanya jika kau masih ingin bekerja dengan ku." Ucap Keenan ketus.
Jonas melotot, dia begitu terkejut dengan pernyataan bosnya.
'Apa bos Keenan sedang cemburu ya? Sementara jika dengan Inez bos Keenan malah memberiku kesempatan untuk dekat dengannya' Batin Jonas bertanya-tanya.
'Apa jangan-jangan bos menyukai Ruby?' Jonas terus bergumam dalam hati. Dia benar-benar penasaran dengan sikap bos nya sekarang. Bos nya bagaikan ABG labil yang sedang cemburu.
"Baik bos, saya mengerti yang bosa ucapkan. Saya akan berusaha menjaga jarak dengannya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya bos." Ujar Jonas.
__ADS_1
"Jangan salah paham, aku hanya tidak ingin ada cinta lokasi di sekitar ku. Apalagi terjadi di perusahaanku." Ucap Keenan mengarang. Jelas dia sangat cemburu terlebih Ruby selalu bersikap sangat manis dan ramah pada Jonas.