
Hari berganti hari ujian kenaikan pun sedang berlangsung, dengan santai Clarissa mengerjakan semua soal-soal ujian, dia mengesampingkan masalah yang saat ini bergelamut, menggangu pikirannya. Hubungannya dengan sang ayah tetap hangat seperti biasa walaupun Clarissa lebih banyak diam dan Teddy sang ayah lebih memilih mengalih-alihkan pembicaraan agar Clarissa tidak kembali bertanya tentang orang tua kandungnya. Begitupun Clara, semenjak kejadian itu Clara banyak diam karena Clarissa juga sering menghindarinya. Dia paham bahwa anak itu menjaga jarak agar tidak ada lagi interaksi diantara mereka. Clara sedikit bernafas lega. Clarissa menjalani kehidupannya seperti biasa membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah, dia tidak bertanya maupun berbicara pada sang ibu. Walau dalam hati Clarissa masih berharap Clara mau menerimanya dengan tulus, sebenci-bencinya ibu tirinya itu Clarissa tetap menyayangi ibu nya setulus hati. Hanya saja saat ini Clarissa tidak ingin ibu nya marah dan mengatakan hal-hal yang membuatnya sakit hati. Clarissa bingung harus bagaimana, dia sangat ingin tau cerita tetangnya di masa lalu seperti apa, walau Clarissa juga akan sulit menerima orang tua nya yang sudah membuangnya begitu saja. Tapi dia tetap penasaran siapa orang tua nya yang sudah tega membuangnya. Dia yakin suatu saat semua akan terungkap. Entahlah.
Disekolah juga terlihat damai, Clarissa juga tidak merasakan gangguan apapun dari teman-teman sekitarnya terutama Leon, sejak kejadian Clarissa pingsan Leon jg lebih bnyak diam, padahal biasanya sangat berisik dan tak habis-habisnya mengganggu Clarissa. Entah apa yang sedang dirasakan pria itu. Tapi Clarissa merasa masa bodoh. Leon bukan hal yang penting. Begitupun Keenan, Keenan begitu dingin dimanapun dia berada. Saat ini Keenan juga sedang kesal pada keluarganya karena berjanji untuk mengunjunginya tapi hingga saat ini mereka tak kunjung datang. Keenan menolak seluruh panggilan, Ayah, ibu beserta kakek nya. Tetapi mereka juga paham temprament anak mereka yang akan membaik dengan sendirinya. Karena begitulah sifat semua keturunan Kiel.
Hasil Ujian pun selesai. Masing-masing murid melihat hasil ujian mereka di papan pengumuman. Semua sudah tertera nilai dan peringkat yang sudah digabung dari seluruh kelas. Biasanya Clarissa diurutan pertama, kali ini dia turun peringkat, karena peringkat pertama di isi oleh Keenan sang murid baru yang memiliki otak yang cerdas dan IQ yang tinggi. Clarissa menanggapinya dengan santai karena total nilai Clarissa juga tidak turun dari tahun sebelumnya malah meningkat, tetapi dia tidak bisa mengimbangi nilai si murid baru itu. Saat di depan papan pengumuman.
"Sweety sayang sekali kau turun peringkat, murid baru itu hebat sekali bisa mengalahkanmu. Aku sangat senang melihat orang-orang yang membencimu semakin sakit perut melihat nilai mu" Ucap Lucy serius sambil cemberut kecewa.
Clarissa pun tersenyum.
"Mengapa kau yang kecewa, nilai ku juga tidak turun. Bukan hal yang serius sayang, mau aku lebih unggul juga mereka tidak akan bersikap baik padaku. Jadi abaikan saja" Jawab Clarissa tenang.
"Paling tidak itu bisa menyumpel mulut mereka. " Lucy semakin kesal. Dan seketika matanya sedikit membolak karena melihat Keenan datang bersama Josh. Semua orang memberinya jalan. Tempramen pria ini begitu mendominasi. Siapapun tidak bisa berkutik.
"Lihat, kau hebat, kau baru masuk di sekolah ini sudah mendapat peringkat pertama saja. Aku semakin kagum melihatmu."
Keenan hanya sekedar melirik, bukan hal yang penting karena dia sudah terbiasa mendapat nilai memuaskan dimana pun dia belajar.
"Kau akhirnya bisa mengalahkan gadis manis itu." Josh berbisik sambil menunjuk Clarissa menggunakan mulutnya. Keenan pun langsung beralih melihat gadis yang Josh maksud dan segera dia melihat liat peringkat dan membaca nama gadis itu yang tepat dibawahnya.
'Clarissa Ruby' bacanya dalam hati.
"Dia bukan gadis yang manis, tapi gadis bermulut sadis."
Lucy menatap Keenan dan Clarissa secara bergantian. Lucy tau jika Keenan dan Josh sedang membicarakan sahabatnya. Clarissa yang sibuk dengan buku bacaannya tidak memperdulikan hal sekitar. Walau dia sadar Keenan sedang berada disitu. Pria yang sudah menolongnya tempo hari. Dia bingung bagaimana cara berterima kasih dan dia lebih memilih cuek dan pura-pura tidak sadar saja.
__ADS_1
"Kalian sedang membicarakan temanku?" Tanya Lucy.
Keenan dan Josh saling lirik satu sama lain sambil tersenyum sinis.
"Kau terlalu percaya diri nona." Jawab Josh
"Heii culun, semenjak berteman dengannya kau semakin bijak ya. Biasanya juga tertunduk kemana-mana."
Josh mati kutu.
"Dan kau jangan berbangga diri dulu. Kau hanya beruntung kali ini, kedepannya temanku pasti akan lebih unggul darimu. " Ucapnya remeh pada Keenan yang sedari tadi hanya melihat Clarissa.
Clarissa pun langsung melirik Lucy dan langsung mencubit sikunya.
"Terima kasih sudah mengingatkan ku. " Keenan menjawab dan langsung berjalan melewati Clarissa, sedikit melirik gadis yang sedang meliriknya juga membuatnya tersenyum remeh. Dan diikuti Josh yang menunduk tidak berani menatap keduanya.
"Kau juga yang memulainya. " Mencubit pipi Lucy sambil berjalan meninggalkan papan pengumuman.
"Hei kau membelanya? Ada apa dengan mu? " Teriak Lucy sambil mengejar Clarissa.
"Jika dia sombong mana mungkin kemarin itu dia mau membawaku ke UKS?" Jawab Clarissa kelepasan.
"Apa? Memberhentikan langkahnya sambil menahan Clarissa.
" Kau berhutang penjelasan padaku Sweety. " Mata Lucy membola meminta penjelasan.
__ADS_1
"Maaf aku lupa mengatakannya." Jawab Clarissa sedikit panik.
"Kenapa kau baru mengatakannya padaku? Ini berita yang mengejutkan. Bagaimana mungkin pria bertemprament itu mau menolongmu.
Clarissa menaikkan kedua bahunya.
" Itu kenyataannya, disaat tidak ada yang menolongku malah dia yang dengan cepat membawa ku ke UKS. Tapi sudahlah, sudah berlalu. " Clarissa mengibaskan tanganya.
"Apa kau sudah berterima kasih padanya?
Clarissa hanya menggeleng.
" Astaga,,, kau lebih parah darinya" Memukul kening nya karena heran melihat tingkah sahabatnya yang terlalu jaim.
"Aku bingung cara mengucapkan nya bagaimana. Dia terlalu ketus."
"Sejak kapan kau jadi wanita penakut Sweety? Jangan bilang itu karena Keenan. Hadehh,,, aku menyukai kepolosan mu sayang. Tapi tenang saja, masih banyak waktu. Karena dengar-dengar peringkat 1-30 akan masuk di kelas spesial, itu tandanya kau dan dia akan berada di dalam satu kelas. " Lucy meloncat kesenangan. Sebaliknya Clarissa merasakan kegelisahan.
"Sayangnya aku tidak bisa bergabung dengan kalian, aku peringkat ke 50. Tapi tidak masalah, aku bisa memantau kalian dari kelas sebelah."
"Kenapa kau begitu bersemangat? Tanya Clarissa.
" Entah kenapa melihat tempramen kalian masing-masing, aku rasa kalian sangat cocok. Cantik dan tampan. Emosionalnya naik turun. Kalian sepertinya sangat serasi jika di sandingkan. Beda jika bersama Leon, Leon memang tampan tetapi Keenan lebih dari segalanya, tidak punya cela sedikitpun" Lucy berkhayal Jauh.
"Jangan bicara sembarangan." Clarissa menarik sedikit daun telinga Lucy dan langsung bergegas pergi ke kelasnya. Lucy pun tersenyum dan segera menyusul sahabatnya yang sudah bersemu.
__ADS_1
**
Waktu pun berlalu setelah libur sekolah mereka masuk kembali, sesuai seperti yang dikatakan Lucy. Kelas mereka kembali dibagi beberapa bagian dimana untuk peringkat pertama hingga 30 menempati kelas spesial. Begitupun Jesika dan Leon, mereka masuk peringkat ke 60 tetapi tetap bisa masuk di kelas spesial dikarenakan beberapa hari lalu orang tua mereka datang ke sekolah untuk melakukan negosiasi dan akhirnya mereka bisa masuk di kelas spesial itu. Lucy bisa saja melakukan hal itu, dengan memanfaatkan nama Ayahnya. Tetapi dia tidak tertarik melakukannya. Karena hal itu sangat memalukan baginya.