
Disebuah kamar hotel.
Dua sejoli yang baru memadu kasih kini sudah tertidur setelah pergulatan panas mereka yang begitu menguras tenaga. Setelah melakukannya dengan berbagai gaya dan dengan pelepasan berulang kali, akhirnya keduanya tepar.
Keduanya tampak tidur sambil berpelukan. Dengan tubuh yang hanya di balut selimut putih tebal.
Ruby melenguh dan menggeliat, badannya terasa pegal. Keenan pun ikut terbangun. Dia sedikit merenggangkan pelukannya agar Ruby merasa nyaman.
"Kau sudah bangun?" Tanya Keenan dengan suara seraknya.
"Hhm,,!!! " Jawab Ruby sambil mendongak melihat pria yang saat ini medekapnya. Entah hubungan apa yang sedang ia jalani bersama Keenan.
"Sekarang pukul berapa?" Tanya Ruby.
"Pukul 01.00. Tidurlah lagi, malam masih panjang." Keenan mengeratkan pelukannya sambil mengelus lembut rambut dan punggung Ruby.
"Sandiwara mu begitu totalitas tuan." Ucap Ruby memejamkan matanya sambil tersenyum.
Keenan mengerutkan keningnya. Dia berfikir apa maksud perkataan Ruby.
"Apa semua tampak seperti bersandiwara?" Ujar Keenan terdengar kecewa.
"Bukankah kau mengatakan semua hanya bersandiwara?" Tanya Ruby.
Keenan langsung melepas pelukannya dan menatap intens mata Ruby yang juga sedang menatapnya.
"Dan kau rela bersandiwara dengan memberikan tubuhmu pada pria yang tidak kau sukai?" Keenan menatap penuh harap.
Ruby tidak menjawab, dia hanya tersenyum.
"Mengapa kau tersenyum? Apa kau juga seperti ini pada pria lain?" Tanya Keenan mulai geram.
"Menurutmu bagaimana? Apakah aku terlihat seperti wanita seperti itu?"
"Ruby,,, " Keenan mengerang kesal sambil memegang bahu Ruby.
Ruby mendekatkan tubuhnya ke tubuh Keenan. Dia langsung memeluk pria itu.
"Jika kau menganggap ini sandiwara maka anggaplah aku bersandiwara."
"Jadi perasaanmu tergantung padaku." Suara Keenan terdengar kecewa.
Ruby mengangguk, di dalam hatinya terasa bergejolak.
"Berarti selama ini aku terlalu percaya diri menganggapmu menyukaiku. Menyedihkan sekali diriku ini" Ucap Keenan sambil mengelus punggung Ruby.
"Kau tidak tertebak Tuan, aku tidak berani berharap. Aku hanya melakukannya sesuai hatiku. Kalau tentang dirimu aku tidak tau sama sekali. Karena kau juga baru mengatakan bahwa aku hanyalah mainan mu dan kapan pun bisa kau campakkan begitu saja. Lalu setelah beberapa waktu kau menunjukkan kalau kau seolah menginginkanku dan tidak ingin jauh dariku. Aku yang bodoh ini harus bagaimana? Lebih menyedihkan lagi menjadi aku bukan?" Ucap Ruby miris. Kepalanya masih berada di dada bidang Keenan. Keenan yang sambil memainkan rambut Ruby mendengarkan dengan patuh.
"Kenapa kau tidak menolaknya."
"Sudah aku katakan aku melakukannya sesuai hatiku. Terkadang aku rasa sangat membencimu tapi terkadang aku merasa bahagia melakukan banyak hal dengan mu."
Keenan mempererat pelukannya dan sambil mengecup kening Ruby.
"Maafkan aku, aku selalu tidak peka terhadapmu. Dan kalau di ingat-ingat, sepertinya aku belum pernah mengutarakan isi hatiku padamu." Keenan diam sejenak, tatapannya terlihat lurus kedepan.
"Sebenarnya aku amat sangat menyukaimu." Ucap Keenan dengan suara serak namun begitu indah di dengar.
Ruby langsung mendongak terkejut mendengar pengakuan Keenan.
"Maukah kau menerima perasaan ku?" Keenan mengakui perasaannya pada Ruby.
"Berapa banyak wanita yang kau perlakukan seperti ini?" Tanya Ruby sambil tersenyum.
"Hanya kau dan kau adalah wanita pertama." Sahut Keenan tegas.
__ADS_1
"Deg,,, jantung Ruby berdegup kencang. Darahnya terasa berdesir.
" Terima perasaanku, aku akan menunjukkan semua sisi terbaikku padamu agar kau juga dapat menunjukkan jati diri mu yang sesungguhnya padaku tanpa harus berpura-pura."
Bulir bening di pipi Ruby lolos begitu saja. Dia sangat tidak menyangka Keenan menyatakan perasaannya.
"Apa kau mau menerima perasaan ku?" Tatapan Keenan penuh harap.
Dan Ruby menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang.
Keenan pun ikut tersenyum bahagia. Dia merasa hatinya begitu lega. Dia juga tidak tau kenapa bisa begitu.
Dia benar-benar meyakinkan hatinya bahwa dia benar-benar menyukai Ruby.
"I Love You By." Ucap Keenan lembut sambil tersemyum sumringah.
Ruby langsung mengecup bibir Keenan dengan spontan. Pria itu juga tampak senang.
"Tapi aku bukan wanita yang pantas untuk mu. Benar apa yang di Katakan Papamu. Mau di rias bahkan memakain apapun yang mewah tidak akan mengangkat derajad ku untuk bisa bersanding denganmu."
"Aku tidak perduli. Karena yang menentukan jalan hidupku, bukan orang lain." Jawab Keenan tegas dan langsung menangkup wajah Ruby dan melahap habis bibir Ruby.
Ciuman panas itu pun terulang lagi, hasrat keduanya pun kembali menggebu. Keenan hendak mencium leher Ruby namun tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara ponsel Keenan yang berdering.
Keenan mendengus kesal. Dia tidak jadi melanjutkan aksinya.
"Angkat dulu." Pinta Ruby.
"Hhm,,,!!! " Wajah Keenan tampak malas namun dia tetap tersenyum hangat pada Ruby.
Keenan meraih Ponselnya di atas Nakas. Dia melihat teenyata Kenny yang menghubunginya.
"Kakak,,, tolong aku." Suara Kenny terdengar menangis.
"Apa yang terjadi padamu Ken? Ada apa?" Tanya Keenan panik.
"Tolong jemput aku kak." Rintih Kenny.
"Dimana kau sekarang Kenn? Kenapa kau menangis?"
Ruby ikut panik dan sedikit mengangkat tubuh polosnya.
"Baiklah kakak akan kesana sekarang. " Keenan langsung mengakhiri panggilannya.
"Ada apa Keen? Ada apa denga Kenny?" Tanya Ruby penasaran dan panik.
"Aku harus ke Bar tempat biasa berkumpul dengan teman-teman."
"Kenny disana sendirian.
"Apa? Malam larut begini? Apa yang terjadi padanya Keen" Tanya Ruby.
"Aku tidak tau dan aku harus melihatnya kesana sekarang."
"Aku ikut ya." Pinta Ruby memohon sambil bangkit tanpa menutup tubuh polosnya.
Keenan terdiam sambil menatap tubuh Ruby.
"Baiklah,,, cepat pakai baju mu sebelum aku kembali menerkam mu lagi seperti tadi.
Ruby tersenyum tersipu malu.
Keduanya pun bersiap untuk berangkat. Diperjalanan tidak ada yang berbicara sedikitpum. Wajah Keenan terlihat khawatir. Ruby tidak berani bertanya banyak. Sesampainya di bar.
Keenan dan Ruby langsung turun sambil berlari masuk kedalam bar. Keenan terus menggandeng tangan Ruby, dimana semua mata pria melihat Ruby dengan mata lapar.
__ADS_1
Keenan sampai di ruang private room tempat Kenny dan Alex.
Saat membuka pintu, betapa terkejutnya Keenan sampai terpaku di depan pintu. Melihat kondisi adik kesayangannya terkapar lemah di sofa tanpa busana dan hanya ditutupi dengan jacketnya sendiri. Dia juga melihat seorang pria yang dia kenal sedang tertidur duduk dibawah sebelah sofa dengan bertelanjang dada namun sudah memakai celana.
Tidak hanya Keenan, Ruby juga terkejut melihat kondisi didalam ruangan. Dia menutup mulut dengan tangannya sendiri.
"Kenny,,,,!!! "
"Kak Alex,,,!!! "
Kedua nya berteriak. Keenan dan Ruby berlari menghampiri Kenny yang sudah tidak sadarkam diri. Sementara Alex sontak terkejut melihat kedatangan Ruby dan Keenan. Dia langsung mundur.
"Kenny,,, bangun Ken, ini kakak. Bangun Kenn,,,!!! " Suara Keenan terdengar bergetar seperti mau menangis.
"Kakak,,,!!! " Kenny merintih setengah sadar.
"Aku akan membantunya memakai baju." Keenan mundur dan Ruby maju mendekati Kenny. Dia perlahan membantu Kenny memakai pakaiannya.
Keenan tampak mengepalkan kedua tangannya dan langsung berlari mendekati Alex.
"Bajingam kau Alex,,, berani-beraninya kau menodai adikku. Akan aku bunuh kau." Teriak Keenan murka sambil memukul wajah Alex, beberapa kali hingga membuat pria itu terjatuh ke lantai.
"Kak Alex,,, Keenan hentikan." Teriak Ruby yang sudah hampir selesai memakaikan pakaian Kenny.
Keenan terus memukul Alex sekuat tenaganya hingga membuat wajah Alex babak belur, mulutnya mengeluarkan banyak darah. Alex sama sekali tidak melawan karena dia memang merasa bersalah.
Ruby langsung bangkit dan melerai keduanya.
"Hentikan Keenan, Keenan stop, kau bisa membunuhnya jika seperti ini. Keenan,,,!!! " Teriak Ruby yang berusaha menahan Keenan yang tampak membabi buta.
"Aku memang akan membunuh pria bajingan ini Ruby." Keenan hendak menendang Alex yang sudah terkapar di lantai namun Ruby langsung menghentikannya dengan cara berada di bawah kaki Keenan.
Hampir saja tendangan itu mengenai wajahnya.
"Apa yang kau lakukan. Kau ingin aku memahan diri setelah melihat adik ku di perkosa seperti ini? Jawab aku Ruby." Teriak Keenan dengan mata yang merah dan mulai berair.
"Aku mengerti Keenan, tapi tenang lah. Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Ruby sudah menangis.
Melihat Ruby menangis Alex langsung bertenaga dan menjawab Keenan.
"Jangan pernah berteriak atau membentar Ruby, apalagi sampai membuatnya menangis." Ujar Alex marah.
"Aku seperti ini karena Kenny yang menjebakku. Dia mencampurkan obat perangsang ke minumanku." Teriak Alex.
Keenan semakin tersulut emosi dan kembali menarik tubuh Alex dan memukulnya dengan keras.
"Keenan,,,!!! " Teriak Ruby histeris.
"Adikku tidak mungkin melakukan hal sebodoh itu." Keenan langsung menghempaskan tubuh Alex ke lantai.
"Kak,, Kak Alex,,,!!!" Ruby meratapi Alex yang sudah tidak berdaya di lantai.
Keenan meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Kalian dimana? Segera ke Bar tempat biasa." Keenan langsung mengakhiri panggilannya. Tidak berselang lama beberapa bodyguard betubuh tinggi dan besar masuk kedalam ruangan untuk menangkap Alex.
"Bawa pria ini ke markas dan jangan biarkan dia lepas. Siksa dia sampai dia mau mengakui kesalahannya." Perintah Keenan.
"Baik Bos." Jawab bodyguard itu dan langsung menarik Alex, mereka langsung menarik Alex keluar dan membawanya ke markas mereka.
"Keenan,,, keenan apa yang mereka lakukan
Kenapa kau menyuruh mereka membawa kakak. Keenan jangan lakukan itu Keenan. Aku mohon.... !!! " Ruby menangis sesugukan namun Keenan tidak mendengarnya.
Keenan langsung menghampiri Kenny dan mengangkat tubuh adiknya dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1