Come Back My Love

Come Back My Love
74. Menjauhlah


__ADS_3

Jonas tersedak saat mendengar Bos nya berbicara begitu lembut dan senyumnya begitu merekah pada Inez. Hal itu membuatnya sangat terkejut karena Keenan tidak pernah melakukan hal itu pada siapapun terutama wanita.



"Kau baik-baik saja? Makanlah perlahan. Tidak ada yang ingin mengambil makanan mu." Sela Keenan yang membuat Noah tertawa. Inez pun ikut tersenyum.



'Bisa-bisa nya bos bersikap sangat lembut pada Inez. Bagaimana tidak jadi besar kepala wanita itu.' batinnya. Dia memang tidak begitu menyukai Inez karena dia merasa suka memanfaatkan situasi dan kondisi untuk berhubungan dengan Keenan. Hal itu sangat membuat Jonas kesal.



"Paman ini untuk mu. Makan pelan-pelan ya. Aku tidak akan mengambil ayam mu." Ucap Noah polos.



"Terima kasih anak baik. Tapi paman sudah sangat kenyang. Makanlah dan segera dihabiskan ya." Balas Jonas yang sudah terlanjur malu.



Keenan dan Inez pun kembali tersenyum sesekali saling menatap satu sama lain.


***


Di suatu tempat. Ruby sedang duduk bersimpuh, sambil menangis di hadapan sebuah makam seseorang. Hatinya begitu sakit.



"Aku merindukan mu. Walau tidak pernah melihatmu malaikat kecilku. Maafkan aku sudah melenyapkan mu. Karena aku kau pergi begitu saja. Andai waktu bisa aku putar kembali. Mungkin sekarang kau sedang bermain bersama ku saling berbagi tawa, sedih dan juga bahagia. Sekarang aku merasa sendiri. Dan kenapa aku harus melihatnya kembali." Ruby menangis tersedu sambil membelai makam yang ada di hadapannya.



"Kau tau, dia tidak menanyakan kabar ku dan bahkan tidak mengingatku sama sekali. Aku ingin mengabaikannya. Itu sudah lama berlalu tapi rasanya begitu menyakitkan. Selama ini aku hidup dalam bayangnya. Aku terpuruk bertahun-tahun karena nya dan sampai aku harus kehilanganmu tanpa menyadari kehadiranmu. Bukankah aku sangat menyedihkan? Aku sangat kejam dan egois pada kalian yang selalu ada di samping ku. Alex dan Max, mereka menderita karena aku. Aku terpuruk dan tidak punya semangat hidup. Sementara dia, dia baik-baik saja. Malah sangat baik. Dia juga memiliki wanita lain yang mengisi hatinya. Lalu kenapa aku masih bersedih. Kenapa aku harus menangis." Ruby terus bermonolog tangis nya semakin menjadi.



"Dooor... " Suara petir pun mulai menggelegar di langit sore yang mulai menggelap. Hujan pun seketika turun dengan deras. Ruby masih nyaman duduk di pinggiran makam. Di guyur hujan deras dia pun tidak perduli. Dia terus menangis.



"Aku berjanji, setelah ini aku tidak akan menangis lagi. Aku berjanji untuk mu. Ini adalah airmata terakhir yang aku keluarkan untuk masa lalu yang tak seharusnya aku fikirkan. Maafkan aku. Maafkan aku sudah mengabaikan mu. Maaf karena ku kau tidak mendapat kehidupan yang baik. Tolong ampuni aku. Tolong ampuni ibu mu yang tidak berguna ini" Ruby menyandarkan tubuhnya di batu Nisan putrinya sambil menangis.



Entah berapa lama Ruby duduk, langit pun sudah mulai gelap. Dia kembali berjalan di tengah hujan deras. Dia tidak perduli terhadap dirinya yang sudah mulai lemah. Dia terus berjalan di pinggiran kota. Tidak perduli dengan pandangan Iba orang sekitarnya. Fikirannya bercampur aduk. Tatapannya begitu datar.


__ADS_1


Keenan kembali melewati jalan tadi dimana saat dia melihat Ruby. Kebetulan jalan ke Apartement Inez dari jalur yang sama. Keenan akan mengantar Inez dan Noah pulang. Sementara Jonas mengikuti mereka dari belakang. Saat berjalan di kecepatan rendah tanpa di sangka-sangka Keenan kembali melihat Ruby. Lagi-lagi gadis itu berjalan kaki dengan pandangan kosongnya.



'Apa dia tidak waras? Apa yang dia lakukan di tengah hujan seperti ini?' batinnya kesal. Keenan pun meminggirkan mobilnya dan berhenti. Keenan segera mengambil polselnya dan menghubungi Asistennya.


"Kau masih dibelakang kami Jonas?" Tanya Keenan.


    "Iya bos, saya masih di belakang kalian. Ada apa bos? "


"Aku tiba-tiba ada pekerjaan mendadak. Bisa kau mengantar Noah an Inez pulang. Aku tidak bisa mengatar mereka. Ini sangat penting." Ucap Keenan sambil melirik Inez yang sedari tadi menatapnya.


      "Baik bos. Ini saya sudah mau sampai." Ujar Jonas."


      Keenan mengakhiri panggilannya. Dan menatap kearah Inez yang duduk di sebalahnya. Sebenarnya dia merasa sangat tidak enak tapi entah kenapa setelah melihat Ruby perasaannya bercampur aduk. Kesal dan juga penasaran.


"Maafkan aku, aku tidak bisa mengantar kalian sampai apartement. Aku punya pekerjaan mendadak. Keenan melirik Noah yang sedang tertidur pulas dibangku belakang. Anak itu begitu bahagia hari ini.


     Wajah Inez tampak sedih padahal Inez sangat berharap menghabiskan bnyak waktu dengan Keenan. Tapi dia tidak bisa melarangnya. Inez ingin Keenan tetap nyaman berada di dekatnya.


"Tidak masalah. Terima kasih untuk waktunya. Kau benar-benar membuat aku dan Noah bahagia." Senyuman Inez tampak begitu tulus.



"Sama-sama, aku juga senang bisa menemani kalian hari ini. Dan Noah,,,,???




Keenan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun lagi. Keenan mengambil payung dan keluar menuju mobil Jonas yang sudah terparkir di belakang mobilnya. Keenan pun bertukar tempat dengan Jonas. Jonas langsung masuk ke mobil Keenan begitu pun sebaliknya.



Jonas sudah duduk di bangku kemudi dengan wajah datarnya. Hawa di mobil terasa dingin. Inez sesekali meliriknya tetapi tidak berbicara sama sekali.


***


Di tengah hujan lebat Keenan mengikuti Ruby dengan menggunakan payung. Dia melihat Ruby berjalan pelan dan mulai sempoyongan. Dia berjalan seperti orang mabuk. Keenan mempercepat langkahnya untuk menghampiri Ruby. Pandangan Ruby pun semakin berkurang. Kepala nya tiba-tiba sakit. Tubuhnya tidak bisa dikendalikannya lagi. Ruby pun terjatuh. Tetapi belum sempat jatuh Keenan sudah meraih pinggang Ruby. Menahan gadis itu agar tidak terjatuh. Ruby tersadar dan melihat siapa yang menolongnya.



"Apa kau tidak waras. Berjalan di tengah hujan deras seperti ini." Teriak Keenan kesal pada Ruby sambil memeluk pinggang Ruby dengan erat.



Ruby menatap Keenan intens. Menatapnya sendu. Seakan Keenan adalah mimpi.

__ADS_1



'Bahkan di saat seperti ini aku masih terbayang wajahnya. Aku benar-benar sudah gila.' batin Ruby sambil tersenyum. Senyumnya begitu manis. Keenan mengerutkan kening nya. Dia berfikir ada apa dengan gadis ini.



Ruby langsung melepaskan diri dari dekapan Keenan dan langsung menolak Keenan dengan kuat hingga membuat pria itu sedikit menjauh.



"Jangan mendekat. Menjauhlah. Aku sangat membencimu. Aku membenci mu seluas hatiku." Teriaknya sambil menangis.



Keenan diam terpaku mendengar ucapan Ruby. Dia langsung memegang dadanya yang terasa nyeri.



'Kenapa terasa sakit. Ada apa dengan ku.' Keenan bergumam dalam hati sambil menekan dadanya.



"Aku akan mengantar mu pulang. Menurutlah, jangan seperti ini. Kau bisa sakit." Ujar Keenan.



Ruby melambaikan tangan nya. Menghempaskan tangannya dengan kasar. Ruby mulai berbalik dan kembali berjalan menjauhi Keenan. Keenan sempat diam tidak menyusul Ruby karena dadanya terasa sakit. Gadis itu hampir jauh. Keenan pun hendak melangkah ingin menghampiri Ruby, tapi langkah nya terhenti ketika melihat ada seorang pria berpayung yang menghampiri Ruby. Seorang Pria bertubuh tinggi, atletis dan juga tampan.



"Ruby,,, apa yang kau lakukan disini? Kenapa hujan-hujanan seperti ini?" Tanya Alex panik. Alex kebetulan lewat dan melihat Ruby berjalan sendiri dan dia pun langsung menghampiri Ruby.



"Kakak,,,, " Rintih Ruby, tangisnya kembali pecah setelah melihat Alex yang sangat di rindukannya. Beberapa hari terakhir ini dia terpaksa menghindari kakak tirinya itu padahal hatinya juga tidak sanggup. Alex langsung menarik Ruby kedalam pelukannya.



"Kakak maafkan aku." Ruby terus menangis sejadi-jadinya sambil memeluk erat tubuh Alex yang terasa hangat.



"Ada apa dengan mu? Apa kau dari makam?" Tanya Alex dan di jawab Ruby dengan anggukan.



Dada Keenan semakin sakit setelah melihat pemandangan di depannya itu. Dia heran kenapa respon tubuhnya seperti ini.

__ADS_1



'Ada apa dengan ku, kenapa sesakit ini.' ungkap Keenan dalam hatinya.


__ADS_2