Come Back My Love

Come Back My Love
75. Jangan Sampai Menyesal


__ADS_3

'Ada apa dengan ku, kenapa sesakit ini.' ungkap Keenan dalam hatinya.


Keenan langsung berbalik, dia semakin gelisah melihat Ruby di peluk pria lain. Keenan pun kembali ke mobilnya.


"Kita pulang kerumah ayah ya." Alex memapah Ruby masuk kedalam mobilnya.


Dari kejauhan Keenan masih melihat Ruby dan Alex dari dalam mobilnya. Keenan memukul setir kemudinya.


"Siapa dia sebenarnya. Kenapa semua nya seperti tidak masuk di akal seperti ini." Ungkapnya kesal.


***


Sesampainya di rumah Max. Alex langsung membawa Ruby ke kamar, kebetulan Max sedang tidak ada di rumah.


"Ayah kemana kak?" Tanya Ruby dengan suara lembutnya yang sedikit serak.


"Ayah ada urusan ke markas, mungkin sebentar lagi pulang. Aku akan mengantar mu ke kamar, setelah itu kau bersihkan diri mu. Kau sudah basah kuyub seperti ini. Aku akan masak sesuatu untuk kita makan.


Ruby hanya mengangguk dan Ruby langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Alex segera turun ke dapur untuk masak sup jamur kesukaan Ruby.


Tidak berapa lama Ruby pun turun. Wajahnya tampak pucat. Alex sangat miris melihatnya.


"Sudah selesai?" Tanya Alex sambil tersenyum.


"Hm,,, " Ruby masih berdiri menatap Alex. Sebenarnya dia sedikit canggung setelah kejadian beberapa minggu yang lalu. Alex mengerti apa yang sedang di rasakan Ruby dan dia mencoba mencairkan suasana.


"Kemarilah, aku sudah masak makanan kesukaan mu." Ujarnya sambil menggeser kursi makan agar Ruby duduk disitu. Ruby pun duduk. Tatapannya masih sama tetap datar.


Alex duduk di hadapannya. Menyediakan makanan untuk Ruby. Hal yang selalu dilakukan Alex saat makan bersama. Hal itu membuat Ruby kembali bersedih. Karena kejadian itu mungkin Alex merasa sakit hati. Matanya kembali berkaca-kaca.


"Makan lah, kau tampak pucat. Mudah-mudahan setelah makan ini kau fit kembali." Alex berbicara seolah tidak terjadi apa-apa.


Ruby langsung memegang tangan Alex. Dan membelainya lembut.


"Maafkan aku kak. Aku sudah menyakiti hati mu. Aku tidak pernah bersikap baik padamu sementara. Kau selalu baik dan selalu ada untuk ku. Maaf." Airmata Ruby lolos begitu saja. Dia kembali menangis. Wajah nya begitu memohon.


Alex pun memegang tangan Ruby. Tatapannya begitu tulus begitu pun dengan senyumnya.

__ADS_1


"Kenapa meminta maaf? Kau tidak bersalah. Aku yang tidak tau batasan. Seharusnya akulah yang harus meminta maaf. Karena ku kau menjadi tidak nyaman begini. Canggung dan kau juga menjauh dari ku." Ucapannya begitu menyesakkan hati tapi Alex tetap mencoba tersenyum.


"Bisakah kita kembali lagi seperti dulu kak? Aku merindukan mu." Tangis nya semakin pecah. Alex bangkit dari duduk nya dan langsung memeluk Ruby. Dia tau Ruby begitu tertekan.


"Jangan menangis lagi, aku juga merindukan mu. Maafkan aku ya." Pelukan Alex semakin erat. Dia juga membelai lembut rambut Ruby.


"Bohong,,, kau selalu senang jika bertengkar dengan ku." Rengek nya membuat Alex tersenyum.


"Itu tidak benar, Ssst,,, berhenti menangis. Nanti wajah mu semakin jelek. Dan jika ayah melihatnya aku juga akan kenak pukul." Candanya


"Kakak,,,, " Rengeknya semakin membuat Alex tertawa.


"Aku hanya bercanda. Jangan menangis lagi ya.


Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan menangis lagi."


Ruby mengangguk dan masih memeluk Alex.


"Dan berjanjilah jika kau ingin ke makam, kau harus mengajakku."


"Aku berjanji kak." Ucapnya tulus dan Alex pun memeluknya kembali. Alex merasa lega akhirnya dia dan Ruby kembali berdamai.


"Sekarang kita makan ya. Makanan nya terlanjur dingin." Alex melerai pelukannya dan kembali duduk.


"Mau aku suapin? "


"Tidak kak, aku bisa sendiri dan aku bukan anak kecil lagi." Protes Ruby dan kedua nya saling tertawa. Mereka menyantap makanan dengan lahap. Ruby sudah lama merindukan masakan Alex. Pria ini memang serba bisa.


***


Di Apartemen Keenan.


Keenan menghempaskan tubuhnya di sofa yang lembut. Suasana hatinya benar-benar buruk dan itu karena Ruby. Dia tidak tau kenapa setiap melihat Ruby perasaannya bisa berubah-ubah. Dan saat ini dia benar-benar kesal apalagi mengingat ucapan Ruby tadi yang membuatnya tersinggung.


"Kenapa dia mengatakan dia membenciku. Seharusnya aku lah yang membenci nya. Karena dia sudah mengacaukan suasana hati ku dari awal bertemu. Dan sekarang kenapa malah dia yang membenciku. Awas saja. Aku tidak akan membiarkan mu tenang Nona Snow. Aku akan terus mengusik mu. Bagaimana pun cara nya kau tidak bisa menghindar bahkan menjauh dari ku hingga aku sendiri yang bosan dan lalu mencampakkan mu." Keenan berbicara sendiri dengan menampilkan senyum menyeringainya. Dan Keenan segera mengambil ponselnya dan mengirim beberapa pesan untuk Ruby. Setelah itu dia kembali meyeringai.


****

__ADS_1


Di kediaman Keluarga Kiel.


"Selamat pagi.... " Sapa Anderson pada istri dan ayahnya yang sudah di meja makan untuk sarapan pagi.


"Selamat pagi... " Jawab Tuan Newton. Sandra tidak menjawab sama sekali. Dia sibuk menyediakan sarapan untuk ayah mertua nya. Newton menatap sandra dan Anderson bergantian.


"Sayang kenapa tidak membangunkanku pagi ini? Aku hampir saja terlambat. Padahal aku sudah mengatakan ada. Meeting penting pagi ini." Rengek Anderson.


"Ayah mau daging?" Tanya Sandra mengalihkan.


"Ohh tidak nak,,, aku akan makan sayur saja pagi ini." Sambil melirik Andeson yang murung melihat istrinya yang mengabaikannya.


"Sarapan ku." Ucap Anderson lagi. Tetapi tidak mendapat jawaban dari Sandra. Dia hanya menyediakan sarapan di atas piring suaminya.


Anderson menatap nanar istrinya. Sedari kemarin Sandra tidak banyak bicara dan sepertinya masih marah. Tuan Newton menyantap makanannya seolah tidak memerdulikan dua sejoli yang ada dihadapannya itu.


"Aku akan kembali ke kamar ayah. Kalau ayah perlu sesuatu beri tahu aku ya."


"Baiklah nak. Apa kau tidak sarapan? Tanya Newton pada menantunya.


"Aku belum berselera. Nanti aku akan sarapan. Aku ke kamar dulu yah." Ucapnya dan bergegas pergi tanpa melihat suami nya sedikitpun. Anderson merasa kecewa. Sandra benar-benar marah padanya.


"Kalian bertengkar? Tidak biasanya aku melihat menantuku semurung itu. Biasanya setiap pagi dia yang terlalu banyak berbicara." Ujar Tuan Newton.


"Iya ayah, ada sedikit kesalahpahaman kemarin dan hingga saat ini Sandra terus mendiami ku." Anderson tampak begitu murung.


Tuan Newton meletakkan sendok dan garpunya. Dia sudah selesai makan.


"Bujuk dia, jangan biarkan dia marah berkepanjangan. Kau sangat tidak peka padanya. Padahal semua dia lakukan untuk mu. Apapun itu. Belajarlah menjadi suami yang pengertian dan juga perduli. Jangan sampai kau menyesal seperti ayah.


"Hanya salah paham biasa ayah. Sebentar lagi juga akan membaik."


"Aku juga pernah berada di posisimu. Aku lebih mementingkan urusan di perusahaan sementara ibu mu di rumah selalu menunggu ku. Dan ketika pulang kerumah lagi-lagi aku di sibukkan oleh pekerjaan dan membuat ku mengabaikannya lagi dan lagi. Dan ketika dia sudah tidak ada aku merasa sangat menyesal karena sudah mengabaikannya. Tidak pernah bertanya apa keinginannya. Selama dia hidup dia terus melayani semua kebutuhanku tanpa ada satu pun yang tertinggal dan itu pun aku masih saja melupakannya. Dan hingga saat ini aku masih terus menyesalinya dan mungkin sampai akhir hidupku. Aku menyesal sudah mengabaikannya. Menyakiti hatinya sebanyak-banyaknya. Tetapi dia masih terus tersenyum hingga akhir hidupnya. Hal itu membuat ku menyesal. Andai Tuhan mau mengambil nyawaku agar bisa bersamanya. Jangan sampai kau merasakan yang ayah mu rasakan." Tuan Newton kembali bersedih.


Anderson tidak bisa mengatakan apapun. Dia terus mendengarkan apa yang di katakan sang ayah. Dan dia menyadari selama ini dia juga sering menyakiti hati istri nya. Dia juga sangat egois.


"Belajar lah dari pengalaman ayah mu. Jangan sampai kau menyesalinya nak." Tuan Newton bangkit dan menepuk pelan bahu putra nya.

__ADS_1


__ADS_2