
Samuel memucat ketika melihat gadis disebelah Keenan. Dia jelas mengingat siapa gadis itu.
Jessika yang sedang meneguk minumannya pun tersedak ketika melihat sosok yang dulu sangat dia kagumi. Wajah nya tampak berbinar.
'Keenan...!!!' Batinnya dengan tatapan penuh damba.
Keenan yang sudah lama tidak bertemu terlihat begitu sempurna, semakin tampan dan gagah.
Namun seketika tatapannya berubah suram ketika melihat gadis di sebelah Keenan. Gadis yang begitu cantik dan anggun. Gadis yang juga dia kenal dan yang selalu mengusik kesenangannya selama ini.
'Clarissa,,, Clarissa masih hidup.' Gumam Jessika dalam hati, wajahnya memucat karena tidak menyangka kalau Clarissa masih hidup dan masih bersama Keenan.
'Mereka masih bersama hingga saat ini? Tidak mungkin.' Batin Jessika sambil menggerutu kesal. Hatinya bergemuruh dan matanya langsung menatap tajam sang ayah yang juga sedang menatapnya.
Clara juga membekap mulutnya dengan jari-jari tangannya. Betapa terkejutnya dia melihat gadis yang selama ini dia anggap telah tiada ternyata masih hidup. Clara mundur beberapa langkah menghindari perkumpulan keluarga itu agar Clarissa tidak melihatnya.
Dia tidak tau jika mata Clarissa sudah melihatnya lebih dahulu. Menatap wajah-wajah orang yang jelas masih dia kenal. Jessika, Ayah Jessika, bahkan ibu tirinya yang dulu selalu menyiksanya bahkan mengusirnya.
Ruby merasa dia kembali di kehidupan 8 tahun silam.
Tubuhnya terasa bergetar. Keenan merasakan getaran itu langsung menghentikan langkahnya. Keenan menatap lamat wajah Ruby yang tampak memucat, tatapannya juga terlihat gusar. Tubuhnya yang masih bergetar.
Josh dan Lucy yang melihat itu pun segera berjalan cepat hendak menghampiri keduanya.
"Kau baik-baik saja? Kenapa wajah mu memucat begini? Tubuh mu juga bergetar. Apa kau sakit?" Ujar Keenan sambil memegang wajah Ruby dengan kedua tangannya. Tatapannya penuh cinta. Mereka terlihat sangat romantis. Semua mata tampak kagum melihat pasangan yang tampak begitu serasi. Sandra juga terlihat berbinar.
"Ti tidak, aku baik-saja." Sahut Ruby gagap.
"Tenanglah, aku ada di sampingmu. Tidak akan ada yang berani menindasmu disini." Ujar Keenan dengan lembut, mengelus pipi Ruby dan tersenyum hangat. Seketika hati Ruby kembali tenang. Tatapan Keenan bagaikan sihir membuat Ruby tenang dan juga melayang.
Ruby menganggung dengan yakin, semua akan baik-baik saja.
Josh tersenyum sambil meraih tangan Lucy. Josh senang melihat aksi sahabatnya yang begitu manis di depan orang banyak. Lucy pun tertegun, Josh dengan gamblang memegang tangannya. Membuatnya tersipu malu.
Keenan dan Ruby pun kembali melangkah untuk menghampiri kedua orang tua nya. Namun dia belum melihat kakek nya.
"Ma,,, aku datang." Keenan langsung memeluk sang ibu.
"Akhirnya kau datang juga sayang. Kakekmu sampai tidak mau turun kalau kau belum hadir." Ujar Sandra sambil mengelus wajah Putranya.
"Kau tampan sekali sayang. Kau benar-benar anak Mama." Sandra mencubit pelan wajah Keenan. Keenan langsung melirik sang ayah yang wajah nya tampak datar. Namun Keenan tidak mungkin mengabaikannya karena terlalu banyak tamu disini.
"Pa,,,!!! " Keenan memeluk Anderson, Anderson terkejut dan dia membalas memeluk putranya yang sebenarnya sangat di rindukannya.
"Bagaimana kabar mu?" Tanya Anderson.
"Aku baik, Papa tampak semakin bugar. Apa hari-hari mu baik?" Sindir Keenan sambil melirik Samuel yang ada di sebelah Anderson.
Keenan sama sekali tidak menyapanya.
"Tentu saja nak. Oh iya siapa gadis itu? Kau tidak mengenalkannya pada keluarga mu?"
"Tentu saja akan aku kenalkan pa, seseorang yang berarti harus di kenalkan pada semua orang." Ucapan Keenan terdengar lembut namun sarkas.
"Sayang kemarilah." Keenan mengulurkan tangannya.
Ruby menyambutnya dengan senang. Ruby pun mendekat.
"Ma,, Pa ini Ruby kekasihku." Ujar Keenan tegas.
Nafas Samuel terasa tercekat mendengar pengakuan Keenan. Dia sungguh tidak menyangka Keenan sudah memiliki kekasih dan lebih parahnya lagi kekasihnya itu adalah Clarissa.
"Halo Tante, saya Ruby." Ruby mengulurkan tangannya pada Sandra dan sambut hangat oleh Sandra.
"Salam kenal sayang, kau sangat cantik. Ini Mama nya Keenan. Senang bertemu dengan mu" Sahut Sandra senang.
'Bahkan dia tidak menyapaku balik saat aku menyapanya.' Batin Jessika sambil melirik ketus.
"Terima kasih Tante." Seru Ruby senang. Sandra menyambutnya dengan suka cita.
Ruby mendekati Anderson. Perasaan Ruby terasa bergejolak, antara takut dan juga benci. Karena orang yang dia curigai selama ini adalah Papa Keenan. Namun semua belum terbukti.
Ruby mengulutkan tangannya pada Anderson.
"Halo Om saya Ruby." Ruby mencoba untuk senyum setulus mungkin.
__ADS_1
Namun Anderson sama sekali tidak menatapnya, dia bahkan mengabaikan tangan Ruby yang masih sabar menunggu jabatannya di sambut oleh Anderson.
Melihat hal itu Keenan langsung manyambut tangan Ruby mengecupnya di depan sang Papa. Ruby terkejut begitu pun dengan Anderson. Dia menatap nyalang kelakuan putranya itu.
"Sayang sekali tangan lembut mu ini di sia-siakan. Tidak masalah sayang." Ucap Keenan sambil tersenyum menatap Ruby. Ruby tersenyum kikuk.
Anderson tersulut emosi, namun dia menahannya.
"Bagaimana bisa kau menyewa sekretarismu untuk menjadi kekasih pura-pura." Sindir Anderson sambil menyeringai.
Samuel melirik Anderson dan menyunggingkan senyuman menyela.
Keenan tersenyum, dia tidak terpengaruh dengan ucapan Papanya. Ruby semakin memperat pegangannya.
"Jaga ucapanmu." Bisik Sandra tidak terima.
Kenny menjauh dari kedua orang tuanya dan kakak nya. Dia tidak ingin mendengar keributan di antara pria yang sama-sama keras kepala itu. Dia berjalan mundur dan tidak sengaja menabrak Alex yang juga sedang berdiri melihat Ruby. Dia langsung menahan pinggang Kenny agar tidak terjatuh. Sontak gadis itu pun terkejut.
"Ehh,,, maaf.! " Ucap Kenny.
"Ada apa dengan mu, kenapa jalan mundur tanpa melihat. Bagaimana kalau kau terjatuh." Alex mengomel.
"Aku hanya ingin menghindari mereka. Maaf ya. Apa kau terluka? "
"Tidak,,,! " Sahut Alex sambil melihat-lihat Ruby. Dia terlihat khawatir.
Kenny melihat hal itu. Dan dia berusaha menahan dirinya.
"Bukankah gadis itu yang bersama mu waktu itu. Gadis yang kau sukai. Ternyata dia kekasih kakak ku." Singgung Kenny.
"Hhm,,,!!! " Jawab Alex singkat.
"Kau tidak cemburu?" Tanya Kenny lagi.
"Sangat...!!! " Jawabnya tegas.
"Ooh baiklah." Kenny langsung pergi menjauhi Alex. Pria itu menoleh ke arah Kenny yang sudah berjalan menjauhinya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ruby merasa mulai di kucilkan berada di tengah-tengah keluarga Keenan, namun Keenan masih terus memegang tangannya agar tetap bertahan.
"Untuk apa membawanya kesini. Apa agar kau bisa menghindari perjodohan yang sudah ku atur? Menyerahlah, papa akan melakukan apapun asal kau menikah dengan putri Samuel. Gampang saja. Aku sudah mengatur pertunangan kalian." Keenan menatap tajam Papanya. Merasa tidak terima dengan perlakuan sang ayah yang semena-mena.
"Kemarilah nak." Anderson memanggil Jessika.
Gadis itu pun melenggok bak ratu untuk menghampiri Keenan. Dengan senyuman semanis-manisnya.
"Kau masih ingat dia?" Tanya Samuel.
"Aku Jessika teman SMA mu dulu. Dulu kita sangat dekat. Hanya saja ada pengganggu yang datang mempengaruhi mu untuk menjauh dariku." Ucap Jessika sambil melirik Ruby.
Keenan bahkan enggan melihat wanita itu. Dia sangat tidak menyukai Jesikka.
"Kau lebih pantas bersanding dengan dia. Dia dari keluarga yang jelas asal usulnya." Ruby melepas pegangannya. Namun Keenan semakin memperkuat pegangannya.
"Gadis yang kau permak habis-habisan, memakai gaun mahal sekali pun tidak akan bisa merubah statusnya yang tidak jelas asal usulnya.
Emosi Keenan semakin bergejolak. Perkataan Anderson benar-benar sangat menyinggung dirinya.
Ruby tampak berkaca-kaca, namun dia berusaha untuk menahan semua nya karena pasti akan sangat malu jika menangis di hadapan keluarga Keenan.
"Terserah Papa saja mau berbuat apa, mau berbicara apapun aku tidak perduli. Aku tetap mencintai kekasihku sampai kapan pun.
" Berhenti bersandiwara Keenan." Bisik Anderson penuh tekanan.
"Aku tidak akan berhenti Pa." Bisik Keenan lagi pada sang Ayah. Dia tersenyum menyela.
"Keenan,,,!!! " Teriak Newton sontak membuat semuanya meoleh ke arahnya.
Kakek,,,!!! " Ujar Keenan sambil menarik tangan Ruby untuk menghindari Anderson.
Ruby mengikuti Keenan dan berjalan di belakangnya. Pegangannya terlepas ketika Keenan memeluk sang kakek.
"Kakek,,, selamat Ulang tahun. Panjang umur lah gar terus bersama ku dan juga anak-anak ku kelak."
"Kau terlalu lama menahanku untuk hidup di dunia ini, padahal kau tidak tau aku begitu merindukan Nenek mu." Ucap Newton sambil menarik telinga cucunya. Ruby masih bersembunyi di belakang tubuh Keenan.
__ADS_1
"Aku membawa seseorang untuk aku perkenalkan padamu kakek." Keenan menarik tangan Ruby. Hingga Ruby berdiri di hadapan Newton.
Newton membesarkan matanya saat melihat gadis yang ada di hadapannya.
"Kau,,, " Newton merasa tidak menyangka.
"Kakek Ton,,, " Ruby langsung sumringah melihat pria tua yang ada dihadapannya.
"Jadi kakek adalah kakek Keenan? " Newton mengangguk sambil berbinar.
"Iya aku kakek kejam dan dingin seperti yang kau ucapkan kemarin." Ujar Newton terbahak. Membuat Ruby tersipu malu.
"Maaf kakek kemarin aku hanya asal menebak saja. Kalau aku tau itu kakek pasti aku akan mengatakan kau kakek yang sangat baik hati." Ruby tersenyum hangat. Newton merasakan kenyamanan saat bersama gadis ini.
"Jadi kalian sudah saling kenal?" Tanya Keenan.
Keduanya mengangguk.
"Gadis yang aku temui di Mall." Celetuk Tuan Newton.
"Jadi gadis tukang pukul yang kakek katakan kemarin untuk dijodohkan untuk ku itu Ruby."
"Iya,,,kau mengaturnya untuk membeli kado untukku. Kenapa kau kejam sekali." Newton kembali menarik telinga Keenan. Ruby langsung tertawa melihatnya.
"Kakek ini kado untuk mu. Kado yang kakek pilih sendiri untuk kakek." Ruby jadi malu sendiri memberikan kado nya.
"Terima kasih cantik. Aku akhirnya memiliki sesuatu yang baru."
"Kakek menyukai kadonya?" Tanya Keenan.
"Pasti. Ini kado yang paling berharga untukku."
"Syukurlah" Ungkap Keenan.
"Keenan, kakek aku ke kamar mandi sebentar ya." Ucap Ruby.
"Apa mau aku temanin?" Tanya Keenan pada Ruby.
"Tidak perlu, temani saja kakek disini. Aku akan segera kembali." Ujar Ruby lembut dan di angguki oleh Keenan.
Ruby pun semakin menjauh. Jessika melihat Ruby menjauh dan dia pun mengikutinya dari belakang
"Kau memanfaatkan gadis lugu itu? Kau mengaturnya untuk membelikannya kado untuk ku dan sekarang, jangan bilang kau memaksanya untuk jadi pasangan mu malam ini?" Tanya Newton berbisik dengan geram.
"Tidak kakek, aku sudah berniat menjadikannya milik ku" Bisik Keenan.
"Baguslah kalau begitu. Aku merestui mu nak." Newton bersemangat dan Keenan semakin berbinar.
"Ayah kemarilah, ayo kita mulai acaranya." Ujar Sandra.
"Baiklah, kau sudah terlalu kesulitan mengatur pesta ku walau sebenarnya tidak terlalu penting bagiku." Ucap Tuan Newton.
"Tidak ayah, aku sangat senang melakukannya." Sahut Sandra sambil tersenyum.
Di toilet wanita.
Ruby sudah selesai dan sedang memperbaiki penampilannya. Tidak lama Jessika pun datang.
Ruby sempat terkejut, namun sesegera mungkin untuk tetap tenang.
"Aku tidak menyangka ternyata kau masih hidup Clarissa dan lebih parahnya lagi kau masih bersama dengan Keenan. Apa kau tidak puas menjauhkan aku dengan Keenan? Di masa dulu sampai saat ini." Jessika mendominasi Ruby. Namun gadis itu masih terlihat santai.
"Aku tidak pernah mendekatinya. Namun takdir masih menginginkan kami bersama. Kau percaya dengan takdir bukan? Bahkan ketika aku menjauh pergi kemana pun jika takdirku adalah Keenan, kami akan bersatu kembali entah bagaimana pun caranya. Dan kau tidak bisa melawan takdir itu" Jawabnya asal. Jessika tertawa sarkas.
"Kau masih menjadi wanita tidak tau diri. Kau jelas-jelas tidak pantas berdampingan dengannya. Apa kau tidak pernah bercermin. Sadarlah. Disini bukan cyrcle mu sayang. Pergilah menjauh sebelum Keenan mendepak mu dengan tangannya sendiri." Ancam Jessika.
Seketika fikiran Ruby kembali pada saat Keenan mengatakan hal ini dengan Josh. Hatinya terasa bergidik.
"Bahkan dengan gaun mahal sekalipun tidak akan menaikkan derjatmu." Jessika berjalan meninggalkan Ruby yang masih terpaku di depan kaca besar di toilet.
Ruby keluar dengan hati yang kacau. Dia memang merasa tidak pantas berada di tempat ini.
Ruby terduduk di bangku pinggiran kolam ikan hias. Dia menahan diri untuk tidak menangis. Namun dia gagal menahannya.
"Dunia terkadang memang tidak adil." Ujar Ruby pelan sambil mengajapus aitmatanya.
__ADS_1
Tiba-tiba dia melihat sebuah sapu tangan di hadapannya.
Ruby mendongak dan melihat siapa yang memberikan nya Sapu tangan.