
Leon langsung masuk ke ruangan dokter.
"Bagaimana pak Leon? Apa keputusan anda?"
"Tolong selamatkan istri ku. Bagaimana pun caranya, selamatkan nyawanya terlebih dahulu." Leon memohon pada sang dokter.
Dokter itu langsung tersenyum mendengar ucapan Leon, dokter tersebut mengetahui segala permasalahan Leon dan Yuna karena dia yang menangani Yuna selama ini dan segala keluh kesah selalu Yuna ceritakan pada sang dokter.
"Kau tidak ingin putri mu selamat?" Tanya dokter itu.
"Aku ingin keduanya selamat namun Jika di suruh memilih, aku ingin kau menyelamatkan istriku lebih dahulu. Dia yang terpenting." Airmata Leon kembali mengalir.
"Aku akan berupaya semaksimal mungkin, Yuna pasien ku dan dia sudah menjadi tanggung jawabku. Tetapi resiko tetap ada dan apapun itu kau harus siap. Karena kondisi Yuna selama ini memang tidak pernah baik. Terlalu banyak keluhan yang dia alami selama kehamilannya. Syukurnya bayi itu selalu berkembang sesuai porsinya walau si ibu sering tidak baik-baik saja."
Leon semakin merasa bersalah, dia menangis sambil menundukkan kepala nya menjambak rambutnya dengan kuat.
"Tolong selamatkan Yuna Dok. Semua adalah kesalahanku. Karena ku Yuna mengalami hal buruk selama kehamilannya. Tolong selamatkan istri ku." Wajah Leon tampak frustasi.
"Kami akan berusaha yang terbaik. Kita akan lakukan operasi malam ini. Bersiaplah." Dokter menepuk pelan bahu Leon.
Operasi pun akan segera di mulai. Saat ini Leon bersama Yuna, wanita itu tampak tegar namun Leon tau Yuna merasakan takut. Wanita itu hanya berpura-pura kuat.
"Apa kau takut?" Tanya Leon.
Yuna tidak menjawab dia hanya menatap wajah Leon.
"Katakan jika kau takut, aku akan menemanimu." Timpal Leon.
Tiba-tiba airmata Yuna mengalir dan seketika wanita itu terisak.
Leon langsung memegang erat tangan Yuna dan mendekati Yuna. Menghapus airmatanya.
"Jangan takut, aku disini bersama mu. Semua akan baik-baik saja." Leon mengelus rambut Yuna.
Yuna mengangguk tanpa mengatakan apapun. Tangisannya menggambarkan bahwa dirinya begitu takut. Pegangannya juga terasa kuat.
"Kau harus kuat dan semangat demi putri kita." Bisik Leon di telinga Yuna. Mendengar hal itu Yuna semakin tersedu. Dia sangat bahagia mendengarnya. Tak hanya itu, Leon mengecup kening Yuna dengan lembut.
"Aku sudah memikirkan nama yang tepat untuk anak kita, nanti aku akan mengatakannya padamu setelah kau selesai operasi." Tambah Leon. Dan Yuna tersenyum sambil mengangguk.
"Kita masuk sekarang ya Bu." Ucap salah satu perawat. Mereka langsung mendorong bangkar Yuna untuk memasuki ruang operasi.
Dengan berat hati Leon melepaskan pegangannya. Tatapannya tidak lepas dari Yuna, andai dia bisa masuk menemani istrinya. Namun dokter melarang karen kondisi bayi dan ibu yang tidak memungkinkan.
Di luar ruang operasi Leon mondar mandir menunggu, dan 1 jam pun berlalu, namun ruang operasi belum juga terbuka. Leon semakin khawatir. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Tidak berapa lama lampu ruang operasi mati dan pintu ruangan terbuka. Dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang sulit di mengerti.
"Bagaimana dokter keadaan istri dan anak saya."
Dokter itu terdiam sejenak, dan menarik nafas panjang.
"Putrimu selamat, saat ini dia di masukkan ke inkubator. Bayi prematur akan sangat membutuhkan udara yang hangat dan terhindar dari udara dingin. Di dalam inkubator, bayi akan mendapatkan suhu udara yang hangat, serta terhindar dari bakteri dan infeksi." Jelas dokter itu pada Leon.
__ADS_1
"Istriku, bagaimana dengan istri ku?" Leon semakin panik.
"Saat ini kondisi Yuna sedang tidak baik, setelah melahirkan dia tidak sadarkan diri. Kami akan membawa Yuna ke ruang ICU untuk mendapatkan perawatan yang intensif."
Leon langsung terduduk, kaki nya terasa lemas setelah mendengar penjelasan dokter.
"Kenapa tidak menyelamatkan dia terlebih dahulu dokter? Kenapa kau membiarkannya sampai tidak sadarkan diri. Kenapa? " Leon menangis meraung.
"Maaf pak Leon, kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun kondisi Yuna memang sangat lemah."
"Lakukan yang terbaik untuknya dokter, aku bersedia membayar berapa pun, yang terpenting adalah keselamatan istri ku." Mohon Keenan.
"Kami akan mengusahakan yang terbaik pak Leon. Kau harus kuat." Pekik dokter itu pada Leon.
Yuna pun keluar dari ruang operasi untuk di pindahkan ke ruang ICU, wanita cantik itu tampak sangat pucat namun terlihat seperti sedang tertidur dengan damai. Hal itu semakin membuat hati Leon teriris.
Airmatanya tidak berhenti mengalir. Banyak penyesalan yang di rasakan Leon yang mungkin tidak bisa dia tebus.
"Yuna maafkan aku" Lirih Leon menatap bangkar Yuna."
Keesokan harinya dikantor. Keenan sudah bertekad keras untuk mencari Ruby sampai ketemu.
Dia mengerahkan semua pengawal dan juga geng mafia yang bekerja sama dengannya.
Terkadang Keenan turun langsung untuk pencarian Ruby. Hingga seluruh pekerjaan Keenan serahkan pada Jonas.
Tiba-tiba pintu ruangan Keenan terbuka tanpa ketukan. Terlihat wanita yang sedikit tua masuk dengan langkah gontai menghampiri Keenan.
"Bibi Rose,,,!!! " Ucap Keenan.
Keenan tidak bisa menjawab, wajahnya terlihat suram.
"Katankan dimana Ruby Keenan." Rose mulai menangis
"Maafkan aku Bibi, sampai saat ini aku belum menemukan Ruby."
Rose histeris dan membuat Keenan panik.
"Tante tenang lah, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan Ruby." Keenan sudah tau dari Kenny kalau Rose adalah ibu kandung Ruby dan dia sangat tidak menyangka dunia ini begitu sempit.
" Tolong temukan Ruby ku. Dia sudah menderita selama ini. Bibi masih ingin membahagiakannya Keenan." Rose terisak.
"Aku berjanji aku menemui Ruby Bi. Aku berjanji. " Keenan langsung memeluk Rose yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.
***
Disebuah rumah tua yang tampak sudah lama tidak di huni. Ada sekitar 3 orang pria berbadan besar yang menculik Ruby sedang berjaga di depan rumah tersebut. Sementara di dalam ruangan tersebut Ruby sudah terkapar tidak sadarkan diri.
Ruby tersadar ketika mendengar salah seorang penjahat itu masuk membawa makanan untuk Ruby.
"Bangun,,,!!!" Teriak penjahat itu.
Ruby membuka matanya dan perlahan bangkit.
__ADS_1
"Cepat makan, kau harus menghabiskan makanan ini dengan cepat. Sebentar lagi akan ada yang datang menemui mu dan mungkin akan menyiksamu." Ucap penjahat itu menakut-nakuti Ruby. Ruby sama sekali tidak gentar karena dia bukan lah Clarissa yang dulu. Kali ini dia yakin orang yang menculiknya adalah orang yang sama di 9 tahun yang lalu. Ruby merasa tak sabar untuk segera melihat orang itu.
"Aku tidak ingin makan. Aku sama sekali tidak lapar." Jawab Ruby ketus.
"Jangan memancing amarahku. Kau bisa mati jika membantahku Nona." Penjahat itu mencengkram rahang Ruby dengan kuat. Namun tetap saja Ruby sama sekali tidak takut. Wajahnya terlihat sinis dan menantang.
Penjahat itu langsung menolak wajah Ruby.
"Kau akan membayar semua yang telah kau lakukan padaku. Aku tidak akan melepaskan mu bajingan." Ancam Ruby.
Satu tamparan melayang ke pipi mulus Ruby dan bibirnya tampak mengelurkan darah segar.
"Wanita sialan, beraninya kau mengancamku. Aku lah yang akan mengahabisimu setelah ini nona. Jangan berani-beraninya mengancamku. Aku sama sekali tidak takut pada wanita lemah seperti mu."
Ruby tampak menyeringai dan hal itu semakin membuat penjahat itu geram. Dia segera keluar sebelum amarahnya semakin memuncak.
"Sialan wanita iti berani-beraninya mengancamku." Adu nya pada salah satu temannya.
"Dan kau merasa takut?" Ejek temannya.
"Sialan kau, kau fikir aku selemah itu. Lihat saja nanti setelah bos datang dan memintaku untuk menyiksa nya. Aku akan menghabisi nya tanpa ampun." Ucapnya menahan amarah.
Tidak berapa lama terdengar suara mobil yang datang. Para penjahat itu langsung menyusun barisan dan memberi hormat kepada bos mereka yang datang.
"Selamat siang bos,,,!!! " Ketiga nya membungkukkan badannya memberi hormat.
"Dimana dia?" Tanya pria itu.
"Mari saya antar bos." Salah satu penjahat itu memimpin jalan untuk memandu bos nya.
Sesampainya di dalam.
Ruby mendengar langkah mendekat dan wanita itu terperangah melihat siapa yang datang.
'Pria bertopeng.' Batin Ruby. Tubuhnya sedikit bergetar karena mengingat kembali kejadian 9 tahun lalu. Namun Ruby mencoba menahan diri untuk tidak terlihat takut.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu
" Ucap pria bertopeng. Suaranya sangat tidak asing di telinga Ruby.
"Kedatanganmu kembali mengusik kehidupan ku. Ternyata ancaman di 9 tahun lalu tidak menggentarkan mu sama sekali ya. Aku salut pada mu Nona.
" Untuk apa aku takut, dan dengan tangan ini aku akan membalasmu Tuan dan mengabisimu sampai ketulang-tulang." Ancam Ruby geram dan penuh kebencian.
"Waaw,, aku takut sekali." Ejek pria bertopeng itu.
"Bagaimana caranya kau membalasku. Sementara kau masih di dalam dan kau tidak akan di biarkan keluar dari tempat itu, hingga kau mati." Pria itu tertawa menggema ke seluruh ruangan.
Tiba-tidak terdengar langkah seseorang memakai heels menghampiri keduanya di dalam. Seseorang wanita yang juga memakai topeng nya datang menghampiri Ruby dan pria bertopeng itu.
"Akhirnya kau datang juga." Ucap pria bertopeng itu.
Ruby menatap lamat mata wanita yang ada di hadapnnya itu. Wanita itu juga tampak tidak asing.
__ADS_1
"Siapa kau?" Tanya Ruby dengan nada kebencian.