
"Kakak istirahat lah, kakak harus cepat pulih." Ujar Ruby sambil berberes di ruangan tersebut.
Wajah Alex tampak di tekuk, dia begitu kecewa pada Ruby.
"Sejak kapan kalian bertemu?" Tanya Alex datar.
Ruby langsung berhenti dan terkejut dengan pertanyaan Alex. Dia langsung melihat wajah Alex yang tampak marah dan kecewa.
"Kak,,,!!! "
"Sejak kapan? Dan kenapa tidak memberitahuku?" Suara Alex terdengar bergetar. Mata Ruby tampak berkaca-kaca. Dia berjalan menghampiri Alex dan duduk di sebelah ranjang Alex.
"Kakak mengenalnya?" Tanya Ruby merasa takut.
"Bagaiman aku tidak tau dan ingat, kau selalu menyebut nama nya sepanjang tidur mu selama kau sakit."
Bulir bening dari mata Ruby lolos begitu saja. Dia tidak menyangka jika Alex akan mengetahui semua nya secepat ini.
"Aku tidak tau kalau aku bekerja di perusahaannya kak. Tapi itu berjalan begitu saja dan dia,,,tidak mengingatku sama sekali." Ruby menangis. Airmatanya tak terbendung lagi.
"Apa? Setelah menghamilimu dia tidak mengingatnya sedikit pun? Sialan,,,,kenapa tidak memberitahu ku Ruby? Aku akan membuat perhitungan padanya." Ucap Alex geram dan berusaha melepas infus nya.
"Kakak apa yang kau lakukan? Kakak masih sakit, jangan seperti ini kak."
"Aku akan menemuinya dan memberinya pelajaran. Dan jika aku tau wanita itu adalah adik nya, aku tidak akan menyelamatkannya." Ucap Alex dengan amarah yang tak terbendung.
"Kakak,,,,hentikan." Teriak Ruby dengan nada tinggi dan membuat Alex berhenti dan menatap adik nya itu.
"Apa yang kau katakan kak? Kenapa kau seperti ini? Lupakan semuanya kak. Clarissa yang dulu sudah mati dan aku, aku adalah Ruby, Ruby bukan Clarissa. Jika dia tidak mengingatku itu bukan masalah kak. Aku baik-baik saja." Bohong Ruby sambil menangis sejadi-jadinya.
Alex tertawa menyela, dia tidak mengerti kenapa Ruby menjadi bodoh seperti ini.
"Aku tidak yakin kau baik-baik saja bi. Jangan berbohong padaku By, 8 tahun kau merasakan penderitaan karena nya dan setelah bertemu dia tidak mengingatmu sama sekali dan kau merasa biasa-biasa saja? Itu mustahil By."
"Biarkan berjalan seperti ini kak. Aku mohon jangan luapkan amarah mu seperti ini. Kakak masih sakit. Aku mohon tenanglah. Aku baik-baik saja kak" Mohon Ruby yang masih menangis tersedu sambil menggenggam erat tangan Alex. Tangan gadis itu begitu dingin. Tubuhnya juga bergetar. Alex merasa iba melihatnya, Alex menarik Ruby kedalam pelukannya. Dia menyesal sudah membuat Ruby menangis sesakit ini.
"Maafkan aku By...!!! " Ucap Alex sambil membelai rambut Ruby. Ruby sesugukan dan Alex berusaha menenangkannya.
Perlahan Ruby mulai tenang kembali dan Alex melepas pelukannya. Menghapus airmata Ruby dan merapikan rambutnya.
"Berhenti lah bekerja dan cari pekerjaan lain. Aku tidak ingin melihat mu menderita lagi jika bekerja dengannya." Ucapnya lembut dan masih membelai rambut Ruby.
"Maaf kak aku tidak bisa."
"Kenapa? Apa kau masih mencintainya?" Tanya Alex penuh dengan tuntutan.
Ruby menggeleng dan diam sejenak setelah memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Mengingat aku harus membayar pinalty nya yang besar jika berhenti, aku juga akan gagal dalam misi ku kak." Ujar Ruby pelan.
"Misi apa?" Alex mengernyit.
"Aku harus tetap bekerja dengannya dan memasuki keluarganya. Untuk mencari tahu siapa dalang atas kematian Ayah ku dan orang yang berniat membunuhku 8 tahun yang lalu kak."
Alex melengus, dia merasa semakin sakit membayangkan Ruby menjalani kehidupan seperti ini sendiri.
"Akan lebih baik jika kau memberitahuku. Aku akan membantu mu. Jangan berusaha sendiri By. Aku dan ayah selalu ada untuk mu."
"Aku hanya tidak ingin menyusahkan kalian apalagi saat ini keluarga kita sedang banyak masalah. Walau kakak dan ayah tidak mau memberitahuku."
"Kau mengetahui apa?" Tanya Alex sambil mengerutkan keningnya.
"Kalian tidak mau berbagi masalah tentang terbakarnya markas dan ayah kekurangan uang untuk membayar gaji anak buah dan juga semua pekerja di markas."
"Jadi aku memutuskan memendam masalah ini sendiri dan aku akan berusaha keras untuk ini kak."
"Maaf By, kami tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini padamu. Ayah hanya tidak ingin membuat mu menanggung bebannya, mengingat kesehatanmu yang sudah jauh membaik. Ayah tidak ingin senyuman mu sekarang berubah menjadi kesedihan.
"Kalian terlalu memikirkan perasaanku. Aku sudah jauh lebih baik sekarang." Sahut Ruby.
"Lupakan saja, perlahan-lahan semua akan pulih kambali. Sekarang katakan padaku apa rencana mu sekarang. Jika kau butuh seseorang untuk menyelidiki aku siap membantu By. Izinkan aku melakukan sesuatu untuk mu." Mohon Alex.
"Saat ini biarkan aku menyelesaikanya sendiri kak. Aku belum berhasil masuk di keluarga Kiel."
"8 tahun lalu pria bertopeng itu yang mengatakannya sendiri padaku bahwa dia diperintahkan oleh Keluarga Kiel.
" Pria bertopeng? Jadi kau tidak melihat jelas wajahnya?" Tanya Alex lagi dan Ruby menggelengkan kepalanya.
"Tolong rahasiakan ini kak. Saat ini hanya itu yang aku butuhkan dari kakak. Tolong jaga amarah mu kak."
"Tapi aku khawatir mereka menyakitimu lagi Ruby." Alex memegang tangan Ruby dengan erat.
"Percaya padaku kak. Aku akan baik-baik saja. Aku akan meminta bantuan mu jika aku kesulitan." Ruby tersenyum dan juga semakin mengeratkan pegangan tangannya.
"Itu janji mu dan tolong jangan ingkari. Aku siap membantu kapan pun kau butuh."
"Terima kasih kak. Aku bersyukur bisa memiliki kalian."
"Dan salahkah jika aku masih berharap lebih?" Tanya Alex dengan wajah berbinar. Sementara hatinya begitu gundah. Dia takut hati Ruby masih mencintai Keenan.
Ruby tersenyum dan membalas tatapan Alex namun dengan cepat ia alihkan.
"Waktu nya istirahat. Jangan banyak berbicara. Kakak harus segera sembuh." Ucap Ruby sambil membelai pipi Alex.
Wajah Alex berubah sedih, dia masih berharap Ruby mau membuka hati untuknya.
"Baiklah aku akan istirahat, dan kau juga harus istirahat. Pergilah pulang. Aku sudah baik-baik saja." Ujar Alex sambil berbaring.
__ADS_1
"Aku akan pulang setelah ayah datang kak. Aku tidak akan membiarkan mu sendirian." Sahut Ruby sambil merapikan selimut Alex.
Di dalam hati Ruby yang paling dalam dia juga merasa tidak yakin dengan niat nya. Keluarga sebesar keluarga Kiel apa sanggup ia masuki. Sementara statusnya juga jauh di bawah. Tapi Ruby tetap menguatkan tekadnya. Bahkan jika dia terancam mati dia akan tetap mencari tau kebenaran atas 8 tahun silam. Dan dia harus tau mengapa keluarga Kiel menginginkan kematiannya dan juga ayahnya.
'Apa aku harus menaklukkan Keenan terlebih dahulu? Tapi bagaimana cara nya. Aku yang kalah jika berhadapan dengan dia. Belum apa-apa aku sudah jatuh didalam perangkapnya. Terlebih dia sudah memiliki wanita yang dia cintai. Oh Tuhan kenapa aku sebodoh dan seceroboh ini.' Batin Ruby yang sedang duduk di sofa. Dia begitu gelisah dan bingung.
Malam harinya diruangan Kenny. Ponsel Anderson berdering. Asisten pribadinya menghubunginya jika ada pekerjaan yang harus dia selesaikan di kantor dan mengharuskannya segera kembali ke New York.
"Baiklah aku akan segera kesana. Kau handle terlebih dahulu hingga aku kembali." Anderson mengakhiri panggilannya.
Anderson menatap Kenny yang sedang terlelap dan melirik istrinya yang sedang sibuk dengan tabletnya.
"Sayang,,,!!! " Anderson memanggil Sandra dengan suara lembut.
"Hhm,,,!!! " Sahut Sandra.
"Aku harus kembali ke New York. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ungkap Anderson merasa tidak enak.
"Pergilah, aku yang akan menjaga Kenny disini." Jawabnya singkat dan dingin.
"Sayang,,, jangan dingin seperti ini lagi padaku. Sampai kapan kita terus begini?" Rengek Anderson.
"Aku harus bagaimana lagi. Sifat ini keluar begitu saja. Pergilah, aku dan Keenan akan menjaga Kenny disini." Sandra berbicara tanpa melihat wajah Anderson.
Anderson bangkit dan menghampiri istri tercintanya. Dia langsung memeluk Sandra dari belakang. Menciumi ceruk leher Sandra. Sandra merasa geli tapi tidak menghindar. Dia masih memegang tabletnya.
"Aku merindukan mu sayang. Kita berdamai ya. Aku janji akan memperbaiki semua tingkah laku ku. Aku akui aku bukan lah ayah yang baik dan suami yang baik untuk mu. Selalu ingatkan aku jika aku bersalah ya." Anderson mencium pipi sandra terus menerus.
Sandra meletakkan tablet nya dan berputar menghadap ke arah suami nya.
"Aku tidak butuh janji mu. Kau hanya perlu buktikan padaku dan juga anak-anak." Sandra menatap dalam mata Anderson.
"Iya sayang, lihat dan rasakan saja perubahannya. Tapi aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini." Wajah Anderson berubah manja. Hanya pada istrinya dia bisa seperti itu.
Sandra pun mengangguk dan mulai tersenyum.
Anderson pun ikut tersenyum dan langsung mengecup mesra bibir istrinya itu.
"Terima kasih sayang. Aku harus pergi. Jaga dirimu dan kabari aku perkembangan Kenny ya. Aku akan menjemput mu setelah pekerjaan ku selesai. Okee..!!! " Ucap Anderson lembut.
"Iya, hati-hati dijalan. Jangan lupa kabari aku jika sudah tiba disana." Sandra mengelus dada suami nya itu.
"Aku berangkat ya." Ujar Anderson sambil mengecup kening Istrinya.
Ketika hendak keluar Anderson berpapasan dengan Keenan yang baru datang dari luar.
"Ayah titip Mama dan adik mu. Tolongjaga mereka. Papa punya pekerjaan mendadak dan harus kembali." Anderson memegang bahu Keenan.
Keenan tampak heran. Ada apa dengan ayahnya saat ini. Keenan menjawab demgan anggukan kepala.
__ADS_1