
Kenny menceritakannya sambil menangis dan dengan tubuh yang bergetar hebat. Keenan memegang tangan adik nya itu dengan erat.
"Kenny,,, tenanglah. Mereka sudah ditangkap dan kakak pastikan mereka akan membusuk di penjara. Tenanglah... " Keenan kembali memeluk Kenny dengan penyesalan yang begitu besar. Dia merasa bersalah. Karena dirinya adik kesayangannya hampir kehilangan kesuciannya bahkan nyawanya.
"Maafkan kakak, semua karena kakak." Keenan mencium puncak kepala Kenny. Kenny menggelengkan kepalanya.
"Tidak kak, ini bukan salah kakak. Jangan salahkan dirimu. Aku yang terlalu bodoh dan ceroboh. Maaf kak." Keenan semakin mengeratkan pelukannya.
Kedua orang tua Keenan pun tiba dirumah sakit dan langsung keruangan Kenny.
"Kenny,,, sayang.,,,!!! " Sandra berlari dan langsung memeluk Kenny. Kenny yang tadinya mulai tenang kembali menangis.
"Dimana yang sakit nak? Apa masih sakit? Kenapa kau nekat kesini sendirian sayang." Sandra menangis sambil memeluk Kenny.
"Maafin Kenny ma. Karena Kenny kalian sudah membuat kalian khawatir.
Anderson memegang tangan Putri nya. Dia juga merasa bersalah karena gagal menjaga putrinya.
"Sayang,,, " Panggil Anderson dan Kenny pun menoleh ke arah Ayahnya.
"Papa,,, " Kenny menangis dan memeluk Anderson. Anderson mencium dahi Kenny terus menerus.
"Maafin Papa nak. Sudah membiarkan mu terluka. Lain kali jangan nekat lagi ya."
Kenny pun mengangguk. Dia sudah tenang karena semua nya sudah berkumpul kecuali sang kakek. Dan sepertinya mereka menyembunyikannya dari Newton agar tidak khawatir.
Sandra melihat Keenan yang duduk agak jauh dari mereka. Sandra langsung menghampiri Keenan yang juga sedang menatap nya penuh dengan kerinduan.
"Sayang,,,,!!! " Sandra memeluk Keenan dan kembali menangis.
"Ma,,,!!! Keenan juga memeluk Sandra dan mengelus lembut punggung cinta pertamanya itu. Dia begitu merindukan Ibunya.
" Kau baik-baik saja nak? Mama sangat merindukan mu. Kemarin kau juga terluka, apa sudah baikan" Sandra memegang pipi Keenan.
"Aku sudah baik-baik saja ma. Jangan khawatirkan aku."
"Pulang lah nak. Disini sangat tidak aman. Kau terluka, Kenny juga terluka. Kalian membuatku khawatir setengah mati disana."
Keenan memegang tangan Sandra dan mengelusnya lembut.
"Maaf ma, karena ku kalian semua susah dan Kenny terluka. Tapi sungguh, aku tidak ingin kembali." Ucap Keenan tanpa melihat Anderson yang sedari tadi menatapnya geram.
Rose merasa canggung karena mereka sedang dalam membahas masalah keluarga.
"Sandra,,, kalian sudah datang, aku harus pergi dulu ya, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Nanti aku akan kembali lagi jika pekerjaan ku selesai."
Sandra menghampiri Rose dan langsung memeluk sahabatnya itu.
"Terima kasih banyak Rose, kau benar-benar penyelamatku. Terima kasih sudah setia menemani Kenny." Wajah Sandra tampak sedih.
__ADS_1
"Kenapa sungkan. Aku sahabatmu. Sudah seharusnya ada selalu untuk mu walau kita berjauhan. Sekarang Kenny sudah baik-baik saja. Berhentilah menangis, itu hanya membuat anak-anak mu semakin sedih."
Sandra mencoba tersenyum. Dan kembali memeluk Rose.
"Sekali lagi terima kasih, aku tidak tau bagaimana cara membalas kebaikanmu."
"Sandra itu tidak berlaku di persahabatan kita. Jika tidak seperti ini aku tidak akan tau kalau Putra mu yang tampan ini tinggal disini. Kalau tidak aku sudah menyuruhnya sering-sering menemui ku." Sambil memukul pelan bahu Keenan. Keenan ikut tersenyum.
"Maaf bibi aku juga tidak tau jika bibi tinggal disini." Ujar Keenan
"Lain kali main ke tempat bibi ya. Itu harus."
"Iya Bibi pasti." Sahun Keenan tersenyum.
"Kalau begitu aku pamit dulu ya. Tuan Kiel aku permisi dulu ya." Canda Rose pada Anderson.
"Terima kasih Nyonya Hill." Ucap Anderson sambil tersenyum.
Rose pun meninggalkan ruangan Kenny. Tinggallah mereka berempat diruangan itu.
"Kau sudah puas dengan semua yang terjadi. Kau sadar kan bahwa semua ini terjadi karena mu?" Anderson mulai berbicara, dan perasaan kesal dan marah ia tahan sedari tadi. Keenan hanya diam tidak menjawab atau pun melawan sang ayah. Dia juga sadar semua terjadi karena dirinya.
"Ini masih di rumah sakit, jangan membuat keributan. Kenny juga baru istirahat. Jangan mengganggunya." Jawab Sandra ketus.
"Jika sempat terjadi apa-apa pada Kenny aku tidak akan pernah memaafkan mu. Kau ingat itu."
Keenan masih diam walau dia juga menahan amarah yang tinggi.
'Tuan Kiel.' Batin Ruby geram dan masih mengingat masa lalu. Bahwa kematian ayahnya di sebabkan oleh keluarga Kiel dan orang yang berniat membunuhnya pun adalah orang suruhan dari keluarga Kiel.
'Aku berjanji akan mengungkap semuanya. ' batin Ruby dan langsung pergi ke bagian administrasi untuk menyelesaikan semuanya.
Di dalam ruangan Keenan semakin gerah dan tidak nyaman mendengarkan Anderson yang terus marah, berbicara kasar dan terus mengomelinya. Telinganya terasa panas dan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari ruangan.
"Ma, aku keluar dulu." Ucap Keenan lembut pada sang Mama.
"Aku belum selesai bicara Keenan" Tukas Anderson semakin geram.
"Sedari tadi Papa terus berbicara apa belum selesai juga mengomeliku?" Keenan langsung beranjak pergi keluar dari ruangan Kenny.
Ruby sedang mengurus berkas administrasi perobatan Alex, dia belum bisa bayar sekarang karena Alex masih perlu di rawat. Tapi Ruby iseng bertanya berapa kira-kira total perobatan Alex hingga dua hari kedepan.
"Maaf suster saya mau tanya. Untuk biaya perobatan dan operasi pasien atas nama Alex hingga dua hari kedepan bisa di rincikan berapa?" Tanya Ruby.
"Sebentar Nona." Suster itu pun memberikan print out perobatan Alex.
"Kira-kira berkisar 23.000$ ya Nona." Ucap perasat dan sontak membuat mulut Ruby terbuka lebar.
"Apa? Sampai segitu? Itu tidak salah kan suster?"
"Tidak nona itu sudah ditotalin dengan biaya operasi pasien. "
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih suster." Ruby pun melangkah dengan kaki gontai, terasa sangat berat sekali. Dia bingung harus membayar semua tagihan dari mana. Sementara dia belum menerima gaji bulan ini. Wajah Ruby tampak murung, tapi dia mencoba mengalihkan pikirannya. Agar tidak terlihat berat.
Keenan menyaksikan semuanya. Dan dia merasa ini adalah tanggungannya. Dia pun mengikuti Ruby dari belakang sepertinya Ruby ingin kembali keruangan Alex. Sesampainya di ruangan, Ruby langsung masuk dan melihat Alex tidak tidur Ruby langsung menghapirinya dan duduk di sisi ranjang Alex.
"Bagaimana kak, apa yang kakak rasakan?" Tanya Ruby lembut.
Alex menatap lamat wajah Ruby yang tampak kelelahan.
"Aku baik-baik saja." Ucap Alex tersenyum hangat. Ini yang membuat Ruby tenang jika bersama Alex.
Ruby terdiam sambil melihat wajah pucat Alex, seketika airmatanya mengalir begitu saja. Alex yang melihat itu langsung khawatir.
"By, kau menangis?" Alex memagang pipi Ruby dan menghapus lembut airmata Ruby.
"Kenapa menangis? Aku sudah baik-baik saja. Kau bisa lihat sendiri kalau aku sudah sehat."
Tangis Ruby semakin pecah dan tampak sesugukan.
"Kakak jangan membuatku khawatir lagi, hiduplah dengan baik. Aku tidak ingin kau terluka. Aku tidak bisa melihat mu dan mengawasi mu setiap hari. Jadi tolong jaga dirimu baik-baik kak." Ruby tertunduk menangis sambil memegang tangan Alex.
Alex semakin khawatir melihat ketakutan Ruby. Dia langsung menangkup wajah Ruby yang penuh dengan airmata itu.
"Heii,,, lihat aku, kenapa menangisi ku seperti itu. Aku masih hidup By dan aku sudah baik-baik saja. Jangan seperti ini. Jangan khawatirkan aku, walaupun kau tidak bisa mengawasiku setiap hari, tapi secara tidak langsung kau sudah menjaga ku dan menyelamatkan hidupku." Alex mencubit lembut pipi Ruby dan sambil tersenyum.
Ruby mengerutkan dahinya dan tidak mengerti apa maksud Alex.
"Kau tau, berkat kalung mu ini, aku masih bertahan hingga saat ini. Jika kalung ini tidak ada, mungkin saat ini kau akan melihat mayat ku." Alex mengeluarkan kalung Ruby yang dia titipkan pada Alex waktu itu. Mata Ruby teralih pada kilauan kalung miliknya.
"Kau terus memakainya kak?"
"Hm,,, karena kalung ini pisau tajam itu tidak sampai ke hati, saat penjahat itu menikamku, pisaunya mengenai kalung ini. Jadi secara tidak langsung kau sudah melindungiku dan menyelamatkanku dari bahaya."
"Tapi tetap saja kau terluka kak." Rengek Ruby.
"Kenapa kau begitu khawatir, kau tau siapa aku, aku sudah terbiasa hidup seperti ini By. Aku juga sudah sangat lama tidak ikut teman-teman lain bertarung dengan mafia lain. Dan anggap ini salah satu tugas ku." Ujar Alex sedikit angkuh. Membuat Ruby sedikit kesal.
"Itu tidak lucu." Ruby langsung memukul lengan Alex.
"Aduh,,,!!! " Alex merintih pura-pura dan membuat Ruby merasa bersalah.
"Maaf kak, aku lupa jika kau masih sakit. Kau masih saja angkuh walau sedang terbaring seperti ini." Ruby kesal dan wajahnya tampak cemberut.
Alex kembali menarik tangan Ruby dan mengelusnya lembut.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku."
Ruby menatap lamat wajah Alex yang penuh kasih sayang itu. Sangat damai bersama pria ini batinnya. Ruby pun tersenyum hangat. Ruby langsung memeluk Alex dan airmatanya kembali mengalir.
"Aku akan meminta sakit terus, biar kau bisa seperhatian seperti ini padaku setiap harinya. Memelukku tanpa di minta. Sangat berinisiatif." Ucap Alex menggoda Ruby.
Ruby langsung menarik telinga Alex karena menurutnya Alex mencari kesempatan dalam kesempitan.
__ADS_1