Come Back My Love

Come Back My Love
136. Kalung Masa Lalu


__ADS_3

Rose duduk sambil menikmati kopi buatannya. Dia begitu menyukai kopi. Seketika dia menoleh dan tersenyum sumringah melihat dua sejoli sedang bergandengan tangan.


"Sepertinya ada kabar bahagia." Sindir Rose membuat Alex dan Kenny tersipu malu.


"Tante izinkan Alex bersama Kenny kan?" Tanya Alex.


"Tentu saja, Kenny sejak lama menyukaimu, hanya saja kau terlalu cuek. Tapi sekarang tante senang kalian bisa bersatu. Tolong jaga Kenny ya. Tante sudah menganggap Kenny seperti putri tante sendiri. Jadi jangan coba-coba menyakitinya." Pesan Rose.


"Pasti Tante." Jawab Alex.


"Bibi,,,!!! " Kenny langsung memeluk Rose. Dia tersipu malu.


"Selamat sayang." Rose menepuk lembut bahu Kenny.


"Terima kasih Bibi." Kenny tersenyum sumringah.


"Kita jadi ke Club Gym sekarang tante?" Tanya Alex.


"Tentu, tapi tante siap-siap dulu ya." Sahut Rose.


"Ke Club Gym? Bukankah hari ini tidak ada jadwal?" Tanya Kenny heran.


"Bibi ingin menemui seseorang." Ujar Rose.


"Ingin ikut?" Ajak Alex.


Kenny tersenyum dan mengangguk.


Rose pun masuk ke kamar untuk bersiap-siap. Dia sebenarnya tidak yakin melakukan hal ini namun dia harus mengatakan kebenarannya sebelum terlambat. Entah apapun respon Ruby dia siap menerimanya.


Di Emerald Corporate.


Sudah pukul 5 sore. Ruby memutuskan untuk pergi ke Club Gym tanpa Keenan. Pria itu sedang kedatangan Josh. Ruby menghubungi Josh untuk memeriksa keadaan Keenan.


Saat ingin pulang Ruby tidak meminta izin langsung karena pasti Keenan akan melarangnya pulang sendiri. Ruby hanya mengirim pesan singkat kepada Keenan.


Keenan langsung membaca pesan itu


"Aku pulang lebih dulu ya, aku harus pergi ke Club Gym Alex karena ada urusan penting. Kabari aku jika kau sudah selesai." Tulis Ruby.


Keenan tampak kesal karena Ruby pergi tanpa menunggunya.


"Kenapa wajah mu seperti itu?" Tanya Josh heran.


"Belakangan ini Ruby sering mengabaikanku. Dan sekarang dia pergi tanpa menunggu ku." Keenan mendengus kesal.


"Hal-hal kecil seperti ini jangan biasakan dirimu terpancing emosi. Itu akan mempengaruhi kesehatanmu. Kau terlalu sering marah." Omel Josh.


"Bagaimana aku tidak marah, Ruby menemui kakak angkatnya. Aku tidak suka."


"Kau ini, jangan mengikat wanita seperti itu, dia tidak akan merasa nyaman. Lagian kenapa kau harus marah? Dia hanya menemui kakak nya. Bukan selingkuhannya. Jangan terlalu posesif."


"Apa kau juga mengizinkan kekasih mu sering-sering menemui pria yang menyukai nya? Walau kakak angkat sekalipun?"


"Jadi maksudmu Kakak angkat Ruby menyukai Ruby?" Tanya Josh terkejut.


"Kalau tidak untuk apa aku marah." Keenan mengalihkan wajahnya ke arah meja kerja Ruby yang sudah tampak kosong.


"Kondisimu sedang tidak baik-baik saja. Kau terlalu lelah bekerja. Cutilah beberapa hari untuk memulihkan kondisi mu. Kau bisa drop jika memaksakan diri."


"Baiklah, aku akan banyak istirahat. Pesanmu selalu aku jalankan Josh."


"Dan jangan terlalu sering over thingking."


"Hhm,,, Oh iya aku ingin bertanya. Apa kau mengenal Leon? Dia mengatakan kalau dia teman lama ku." Keenan penasaran.


"Leon? Kapan kalian bertemu?"


"Kau kenal?"


"Tentu saja, kalian itu musuh bebuyutan. Bersaing memperebutkan 1 gadis."


"Siapa? Apa gadis itu Clarissa?" Tanya Keenan.


Josh menoleh kaget, dia keceplosan namun dia tidak menjawab Keenan.


"Aku penasaran dengan Clarissa, aku sering memimpikannya namun tidak pernah melihat jelas wajahnya. Namun wajah serta fisiknya sangat mirip dengan Ruby." Ujar Keenan polos.

__ADS_1


'Dasar kau, punya sahabat sebodoh dirimu, ingin sekali aku memukul kepalamu dengan beton. Arrghh,,,' Batin Josh menggerutu.


"Kenapa kau diam, wajah mu juga sepertinya kesal." Tanya Keenan.


"Aku memang kesal, kau terlalu bodoh jadi manusia. Huuh,,, aku pulang dulu. Ini obat mu, konsumsi rutin. Bye...!!! " Josh langsung beranjak.


"Heii,,, kenapa kau pergi, aku belum selesai bercerita. Josh,,,,!!! " Teriak Keenan semakin kesal.


Di depan gedung Club Gym Alex.


Saat  Ruby turun dari taksi sebuah sepeda motor melaju kencang mendekati Ruby dan hendak menabrak Ruby. Sontak membuat Ruby membesarkan matanya. Ruby dengan cepat menghindar hingga membuatnya terpental jatuh ke pinggiran jalan.


Orang yang membawa sepeda motor tidak dapat di kenali karena memakai helm berupa masker untuk menutupi wajahnya. Pria misterius itu juga melempar sebuah kertas yang sengaja di remuk membentuk sebuah bola. Pria itu pun langsung tancap gas.


Ruby langsung membuka dan membaca isi surat itu.


"Kau benar-benar bosan hidup, bersiaplah mati jika kau masih tetap mendekati Keenan Kiel. Atau kau lebih ingin pria itu yang mati?"


Ruby langsung shock dan tubuhnya bergetar hebat. Ruby langsung berdiri dan berjalan menuju Club Gym. Dia berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terprovokasi. Karena pesan Max dan Alex Ruby tidak perlu takut, banyak orang yang melindunginya begitupun dengan Keenan.


Ruby berusaha mengatur nafas dan mencoba mengalihkan fikirannya pada hal lain. Dia yakin orang itu pasti hanya sekedar mengancamnya saja.


Tidak jauh sosok Alex sudah terlihat melambai-lambaikan tangannya. Ruby ingin segera mengadu, jujur saja Ruby merasa sangat takut. Namun dia juga harus kuat. Ruby tersenyum lega setelah melihat pria itu.


"Kakak,,,!!! " Teriak Ruby sambil berjalan cepat.


"Lama sekali, aku sudah menunggu mu sedari tadi." Ujar Alex sambil mengacak-acak rambut Ruby.


"Di jalan lumayan macet kak. Maaf ya."


"Sudah lah tidak apa-apa, yang penting kau sudah sampai disini dengan selamat. Perasaanku sedikit tidak enak karena kau datangnya lama. Semua aman-aman saja kan?" Tanya Alex.


"Kak sebenarnya tadi,,,,, "


"Kak Ruby,,,!!!" Teriak Kenny.


Belum selesai Ruby berbicara Kenny sudah memanggilnya.


"Kenny,,,, " Ruby membuka mulutnya sambil tersenyum bahagia. Kenny berlari dan langsung memeluk Ruby.


"Kakak, aku merindukan mu."


"Iya Alex menemuiku." Ujar Kenny dengan wajah malu-malu.


"Kakak,,,!!! " Ucap Ruby sambil tersenyum menggoda.


"Aku akan menceritakannya nanti. Sekarang kita masuk dulu ya." Ajak Alex.


"Baiklah kak." Jawab Ruby.


"Ayo,,, Alex mengulurkan tangannya pada Kenny dan di sambut hangat oleh gadis itu.


Ruby melihat hal itu ikut senang. Akhirnya hubungan Alex dan Kenny kembali membaik.


"Kau memanggil Ruby dengan sebutan kakak, kenapa padaku kau menggil nama ku? Itu tidak adil, jelas-jelas aku lebih tua dari Ruby." Bisik Alex menggoda Kenny. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan.


"Jangan marah. Kak Ruby itu calon kakak iparku, wajar aku memanggilnya kakak." Jawab Kenny.


"Ruby itu adikku dan jika kau bersama ku otomatis Ruby itu adik ipar mu." Celetuk Alex asal namun sontak membuat wajah Kenny bersemu kemerahan.


Ruby menghentikan langkahnya setelah mendengar keduanya bedebat.


"Sudah jangan berdebat karena hal itu. Siapa pun aku kalian harus segera bersatu. Aku berharap kalian berdua berbahagia." Ucap Ruby sambil memegang tangan Kenny dan Alex. Wajahnya tampak berbinar melihat sepasang kekasih yang sangat romantis ini.


"Kau juga harus selalu bahagia By." Ujar Alex.


"Jika bersama kakak ku, kak Ruby sudah pasti akan sangat bahagia. Karena mereka saling mencintai." Timpal Kenny. Ketiga nya pun tertawa terbahak.


"Jadi orang yang ingin menemuiku itu Kenny kak?" Tanya Ruby.


"Bukan By, ada seseorang, pergilah ke ruangan di ujung sana, baliau sudah menunggumu disana." Ujar Alex.


Ruby mengerutkan keningnya merasa penasaran siapa orang yang Alex maksud.


Ruby langsung berjalan menuju ruangan yang Alex maksud. Semakin kesini Ruby semakin penasaran. Tiba di depan pintu Ruby menghentikan langkahnya. Mencoba menarik nafas dan langsung membuka pintu tersebut.


Ruby pun masuk kedalam, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, pandangannya terhenti ketika melihat seorang wanita paruh baya yang terlihat masih begitu cantik.

__ADS_1


Wanita itu berdiri di dekat jendela sambil menatap pemandangan luar. Tampak seperti orang yang sedang memiliki banyak masalah.


Ruby berjalan menghampiri wanita itu. Dan langsung menyapanya.


"Hai,,,Permisi!!! " Sapa Ruby.


Rose langsung menoleh dan tersenyum hangat. Matanya begitu sendu, sama seperti Ruby.


"Hai,,,!!! " Sapa Rose.


Ruby menatap lamat wajah wanita itu, tampak tidak asing.


"Masih ingat aku?? Tanya Rose lembut.


"Nyonya,,, nyonya yang waktu itu memberiku sapu tangan bukan?"


"Benar sekali nak. Apa kabar mu?"


"Aku baik, bagaimana dengan mu? Dan bagaimana bisa anda mengenal Alex?" Tanya Ruby bertubi-tubi.


"Aku bertemu nak Alex di Rumah sakit saat dia dan Kenny kecelakaan. Kebetulan aku sahabat dari Mama Kenny." Rose mulai merasa kikuk.


"Wahh kebetulan sekali ya Nyonya." Ruby pun terkekeh pelan.


"Jangan panggil Nyonya, kita terasa begitu jauh padahal kita sangat dekat." Suara Rose mulai bergetar.


"Baiklah tante." Sahut Ruby tersenyum.


"Nak boleh aku bicara serius padamu? Tapi tolong dengarkan penjelasan ku sampai akhir ya." Mata Rose mulai berkaca-kaca.


Ruby mengerutkan dahinya melihat Rose mengeluarkan sesuatu dari tas nya. Sebuah kalung yang sangat mirip dengan kalung Ruby.


"Kau kenal kalung ini?" Tanya Rose.


Ruby tidak memjawab wajahnya seketika berubah datar.


"Kalung ini milik ku, dan sangat mirip dengan kalung yang kau simpan selama ini." Airmata Rose mulai mengalir.


"Kalung yang aku berikan pada bayiku 26 tahun yang lalu."


"Lebih tepatnya bayi yang kau buang Nyonya." Ucap Ruby menyangkal.


Rose tertunduk dan menangis tersedu. Dia bingung hendak menjelaskan dari mana dahulu.


"Kau adalah Putriku. Kau Ruby ku." Ucap Rose sesugukan sambil mengulurkan tangannya.


Ruby mundur beberapa langkah, wajahnya berubah ketat dan dingin.


"Sayang aku Ibu mu nak. Aku ibu kandung mu." Rintih Rose.


Ruby tetap diam tanpa merespon. Hatinya benar-benar bergemuruh, dia sangat tidak menyangka bisa bertemu dengan wanita ini disini. Pantas saja Ruby merasa tidak asing dan Ruby menyadari kemiripan mereka.


"Izinkan aku memelukmu nak. Aku sangat merindukanmu."


"Rindu? Merindukan anak yang kau buang? Bagaimana ceritanya Nyonya. Maaf aku tidak memiliki ibu sejak aku lahir." Jawab Ruby ketus.


"Maafkan Mama nak, Mama memang jahat tapi kau harus tau alasannya mengapa Mama menitipkanmu pada Teddy."


"Menitipkan? Menitipkan selama 26 tahun? Kau jelas-jelas membuang Putri yang tidak kau inginkan Nyonya. Jangan mencoba berdalih. Aku tidak ingin mendengarnya." Ucapan Ruby semakin tidak karuan.


"Nak Mama sangat menyayangingi dan Mama punya alasan  mengapa Mama menitipkanmu pada Teddy. Karena ini yang terbaik untuk keselamatanmu nak. Percaya pada Mama."


"Jangan menyebut kata Mama, anda sangat tidak pantas dipanggil Mama. Mama yang sudah membuang Putrinya selama 26 tahun."


"Maafkan Mama nak." Rose memohon pada Ruby.


"Jangan pernah memohon padaku. Aku sudah menganggap kedua orang tua ku sudah Tiada." Ruby mulai meneteskan airmata.


"Kau tau bagaimana kehidupanku selama ini? Sakit,, sangat menyakitkan. Dihina, di rendahkan, dibuly dan terus di siksa. Namun rasanya tidak lebih sakit dari pengakuanmu hari ini Nyonya. Ini jauh lebih menyakitkan bagiku."


"Aku melakukan ini demi keselamatan mu nak, Teddy adalah orang yang sangat baik bisa merawat dirimu menjadi sekarang ini. Dia melindungimu dan menganggap mu seperti putri kandungnya sendiri."


"Begitu kah cara mu membesarkan anak mu? Melalui tangan orang lain dan yang bisa anda andalkan hanya karena memiliki uang. Apa anda fikir uang bisa membayar sedihku selama bertahun-tahun? Tidak Nyonya."


"Nak tolong Maafkan aku. Dan kembalilah pada Mama sayang. Kita mulai dari awal lagi. Mama berjanji akan mengganti waktu yang sudah terbuang selama ini." Mohon Rose.


"Maaf Nyonya tapi aku tidak tertarik. Aku sudah lebih bahagia saat ini walau tanpa Orang Tua." Ruby menangis dan mulai beranjak meninggalkan Rose.

__ADS_1


"Ruby,,, jangan pergi nak... " Teriak Rose.


__ADS_2