Come Back My Love

Come Back My Love
13. Aku Tak Sekaya Yang Kau Lihat


__ADS_3

Pagi hari nya saat di Mansion. Keenan sedang sarapan. Suasana hatinya kali ini sangat baik. Pelayan dan supirnya pun heran melihat Tuannya. Entah apa yang membuat Tuan mereka begitu ceria pagi ini.


"Aku selesai." Keenan meletakkan sendok dan garpu makan, dan segera menghabiskan susu yang sudah disediakan.


"Pak Toto aku berangkat dulu, sepedanya sudah siapkan? "


"Sudah Tuan, tapi saya mohon Tuan hati-hati, saya tidak mau Tuan kenapa-kenapa. " Ucap Toto khawatir.


"Pak Toto aku bukan anak kecil, jangan terlalu berlebihan. Aku harus berangkat, Bibi Marry, Terima kasih sarapan mu sangat enak." Ucapnya pada siang pelayan. Keenan meninggalkan keduanya. Marry sangat terkejut dan tidak menyangka tuannya berkata sangat manis pagi ini. Tidak pernah-pernah nya begitu. Biasanya juga ada saja yang kurang di matanya. Marry tersenyum senang.


"Tuan muda sepertinya sedang bahagia pagi ini." Ucap Marry.


"Iya aku juga heran melihatnya. Sangat jarang Tuan bersikap seperti ini. " Menatap punggung sang Tuan muda yg sudah mulai tidak kelihatan.


"Cepat ikuti dari belakang. Jangan sampek terjadi apa-apa pada Tuan muda. Bisa-bisa kau dibunuh Tuan besar." Ucap. Marry menakut-nakuti Toto.


"Tapi Tuan muda tak mau di antar, semalam juga aku sudah mengatakan kalau aku akan mengikutinya tapi Tuan melarangku.


" Sudah diam-diam saja ikuti tanpa sepengetahuannya. Kau tau kan Tuan besar sangat menjaga ketat keselamatan Tuan Keenan. Pergilah. " Desaknya.


"Baiklah, kau memang paling bisa menakut-nakutiku." Toto pun pergi meninggalkan Marry yang menggelengkan kepala nya.


Di depan gerbang Mansion. Keenan sedang menunggu seseorang sambil melihat-lihat jam ditangan nya.


'Kenapa dia belum lewat ya, apa aku kelamaan. Tapi tidak mungkin, aku sudah bersiap-siap sepagi mungkin.' Batinnya.


Tidak lama kemudian orang yang ditunggu nya pun lewat di depan gerbang tanpa menoleh. Keenan pun langsung tersenyum manis. Akhirnya yang ditunggu-tunggu lewat juga siapa lagi kalau bukan Clarissa. Keenan pun perlahan mengikuti Clarissa dari belakang. Gadis itu belum sadar juga jika Keenan mengikitinya. Keenan pun menambah kecepatan sepeda nya agar bisa beriringan dengan Clarissa.


"Ehmm,,, " Keenan menyadarkan Clarissa. Clarissa menoleh ke samping dan betapa terkejutnya dia melihat Keenan.


"Hai,,, " Sapa Keenan walau dengan muka datarnya. Clarissa hanya diam tak perduli dan tetap mendayung sepeda dengan santai. Hal itu membuat Keenan sedikit kesal dan menghela nafas.


"Kau memang pelit bicara ya. Apa terlalu mahal kata-kata yang terucap dari mulut mu? "


Clarissa melihat ke arah kaki Keenan. Bertanya dalam hati.


'Apa lukanya sudah sembuh, kenapa bisa naik sepeda.'

__ADS_1


"Mulut ku yang bicara nona bukan kaki ku, kenapa malah melihat kaki ku. " Kesalnya.


"Kakimu sudah sembuh? Kenapa naik sepeda dalam keadaan kaki sakit? " Ucap Clarissa sinis.


"Ohh,,, ini berkat kau yang mengobatinya. Lukanya jadi cepat kering. " Bohong Keenan sambil senyum cengengesan.


"Baguslah kalau begitu. " Clarissa menambah kecepatan sepedanya meninggalkan Keenan. Dia tidak ingin lama-lama berada di dekat Laki-laki itu.


"Heiii,,, kenapa meninggalkanku" Teriak Keenan mengejar Clarissa.


"Palan-pelan saja, jam belajar juga masih lama. Kaki ku belum begitu sanggup mendayung cepat. "


"Ya sudah pelan-pelan saja, jangan mengikutiku. " Jawab Clarissa ketus.


"Menyebalkan sekali." Ucap Keenan pelan.


"Apa katamu?" Tanya Clarissa menghentikan sepedanya. Keenan pun ikut berhenti.


"Aa,,, tidak, bukan apa-apa. " Keenan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ada angin apa kau ke sekolah naik sepeda. Kau mengikutiku? Tiba-tiba naik sepeda, padahal selama ini kau selalu di antar jemput." Ucap Clarissa dengan suara sedikit marah.


"Harapanmu saja. " Clarissa kembali mendayung sepedanya. Keenan tersenyum menang. Dia senang melihat wajah Clarissa jika sedang kesal, terlihat menggemaskan.


Jauh dibelakang sebuah mobil mengikuti dua anak yang sedang bersepeda beriringan.


"Ooh ternyata ini yang membuat Tuan Muda ingin bersepeda. Itu bukannya Clarissa putri Teddy ya? Tuan muda ini bisa saja, kemarin marah-marah pada gadis ini, sekarang malah pergi sekolah berbarengan. Dasar anak muda zaman sekarang. " Ucap Toto berbicara sendiri sambil tersenyum.


**


Sesampainya di parkiran sepeda, Keenan terus mengikuti Clarissa. Clarissa merasa tidak nyaman tetapi dia tidak menampakkannya.


"Selamat pagi Pak" Sapa Clarissa pada Dodi sang Tukang parkir sekolah dengan senyum termanis nya sambil markirkan sepedanya. Keenan melihat itu tampak kesal.


"Pagi cantik, apa hari mu baik hari ini? Wajah mu sepertinya sedang berseri. " Ucap nya lembut.


"Semoga saja pak." Sambil melirik ke arah Keenan.

__ADS_1


"Titip sepedaku ya pak. " Clarissa pun bergegas masuk ke sekolah.


"Titip pak. " Ucap Keenan terburu-buru. Dan segera mengejar Clarissa.


Dodi tersenyum melihat anak baru itu. Dia merasa lucu, tumben anak itu naik sepeda. Dodi tau Keenan murid baru di sekolah ini dan dia juga tau biasanya Keenan di antar jemput oleh supirnya yang sering ngopi bersama saat menunggu Keenan pulang sekolah.


Dari seberang Leon melihat Clarissa dan Keenan datang bersamaan dengan sepeda, hal itu membuat hatinya sangat panas.


'Kenapa bisa mereka datang berbarengan, dan tumben anak baru itu naik sepeda, biasanya juga diantar jemput supir. Sialan,,, ' batin nya sambil memukul Jok sepeda motornya. Dan dia pun segera masuk ke kelas.


Didalam kelas, Leon masih melirik ke arah Clarissa dan Keenan, merasa aneh kenapa mereka bisa terlihat dekat. Ingin sekali rasanya dia menarik tangan Clarissa agar kembali dekat dengan nya. Dia melihat Keenan melempar-lempar kertas ke arah Clarissa. Clarissa diam tidak menanggapinya.


Keenan kembali menendang kaki kursi Clarissa yang sedari tadi tidak menanggapinya. Josh heran melihat tingkah temanya itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Keenan terus menendang kursi Clarissa dan akhirnya Clarissa menoleh ke belakang.


"Ada apa?" Tanya nya kesal.


"Boleh pinjam pena mu? " Ucap Keenan mencari-cari alasan agar bisa berbicara dengan Clarissa, mungkin dia sudah gila pada gadis itu.


"Orang kaya tidak memiliki pena? " Sambil menyerahkan Pena pada Keenan.


"Terima kasih. Aku tak sekaya yang kau lihat" Bisik nya ke arah telinga Clarissa. Membuat Clarissa terkejut dan pipinya memerah. Dia kesal dengan sikap Keenan, padahal kesan pertama melihat Keenan adalah pria itu begitu angkuh dan sombong. Ternyata sekarang lebih menyebalkan.


Beberapa murid tak sengaja melihat interaksi mereka, sebagian orang merasa iri dan sebagian senyum-senyum. Melihat murid melirik ke arah Keenan dan Clarissa, membuat Jesika heran dan ikut melihat apa yang sedang teman-temannya lihat.


"Ada apa? " Tanya Jesika pada Meilin


"Itu Keenan sepertinya dekat dengan Clarissa, mereka bilang tadi berangkat sekolah juga barengan. " Jawabnya santai


"Apaa,,, Kok bisa si cewek miskin dekat dengan Keenan. Mungkin kalian salah lihat. Itu tidak akan mungkin terjadi, aku yang begitu populernya saja dia tidak melirik, apalagi si cewek miskin. " Ucap Jesika semakin kesal.


"Mungkin seleranya beda Jes." Meilin tertawa.


"Maksud mu aku kalah dari si cewek miskin. Yang benar saja Mei, semua pria juga tidak pernah berhenti melirik seorang Jesika. Hanya saja mungkin Keenan belum melihat itu." Jawab nya angkuh sambil melirik Leon yang juga sedang melihat Keenan dan Clarissa.


"Semua manusia disini aneh-aneh saja. Kenapa semua melihat ke arah mereka. " Jesika semakin kesal bukan main.


'Awas kau anak miskin.' batinnya kesal pada Clarissa.

__ADS_1


**


__ADS_2