Come Back My Love

Come Back My Love
66. Kesalahan Apa?


__ADS_3

Gadis itu..." Ucap Keenan spontan.


"Gadis mana?" Tanya Josh penasaran. Dia mendekatkan dirinya pada Keenan. Keenan langsung mendelik.


"Menjauh dari ku. Aku tidak mau kuman di tubuh mu mengenaiku. Aku sudah mandi." Ketus Keenan membuat Josh menjauh.


"Baiklah, kau terlalu bawel. Cepat jelaskan siapa gadis itu. Kau suka sekali membuang waktu ku."


" Karyawati yang aku cium di pesta kemarin. Aku sudah menemukannya. Tapi aku belum begitu yakin itu dia. Tapi dari sorot matanya mirip sekali dengannya. Hanya saja...... "Keenan tidak melanjutkan.


" Hanya saja apa? Kenapa bicara mu nanggung Dude?" Josh semakin kesal.


"Dia terlalu cerewet tidak cocok dengan wajahnya yang begitu cantik dan anggun. Matanya  juga sangat indah dan begitu sendu." Ucap Keenan bersemangat sambil membayangkan wajahnya.


"Wahh baru kali ini aku mendengar mu memuji kecantikan wanita. Hati-hati kau bisa menyukainya."


"Siapapun melihat nya pasti akan jatuh hati. " Ceplos Keenan.


"Jadi benar kau menyukainya?" Josh melotot.


"Bukan itu maksud ku. Aku tidak bilang aku menyukainya. Kenapa kau susah sekali mengerti. Besok aku akan menemuinya dengan alibi dia aku hukum sudah berbuat semena-mena padaku." Keenan menyeringai.


"Jangan berbuat yang aneh-aneh. Nanti kau kena karmanya." Ucap Josh mengingatkan.


"Kau terlalu berlebihan Josh. Aku hanya penasaran kenapa saat itu aku bisa lama menciumnya." Pipi Keenan bersemu, tanpa sadar dia tersenyum walau sedikit.


"Senyum mu membuat aku khawatir Keen. Jangan-jangan kau sudah jatuh hati padanya.


"Entah kenapa setiap mengingatnya jantungku berdetak dengan cepat. Tetapi mengingat kesadisan bibirnya membuyarkan semua. Dia sangat bawel dan berisik. Kau tau aku tidak suka wanita seperti itu." Keluh Keenan.


"Aku hanya mengingatkan jangan bermain-main dengan perasaan wanita."


"Aku bukan si Casanova yang bermain hati ke banyak wanita. Kau tenang saja."


"Lalu kapan kau kembali ke New York? Josh bertanya sontak membuat raut wajah Keenan berubah.


" Aku belum tau Josh, aku terlalu nyaman disini. Jika di New York terlalu banyak tekanan dan aku tidak bisa berbuat semauku. Papa selalu bertindak yang tidak aku senangi."


Tiba-tiba ponsel Keenan berdering tanda pesan masuk.


"Weekend ini aku berencana membawa Noah ke taman hiburan. Kau kapan kembali. Jika tidak keberatan ikutlah dengan kami. Noah pasti sangat senang." Tulis Inez.


Keenan menarik nafas panjang. Dan dia mulai membalas pesan Inez.


"Baiklah, jika ada waktu akan aku usahakan. Sampai ketemu." Tulisnya.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Josh.


"Inez mengajak ku ke taman hiburan bersama Noah Weekend nanti. Aku tidak bisa menolaknya." Keenan menaikkan sebelah bahu nya. Perasaannya terasa terikat. Entah kenapa terlalu sungkan untuk menolak Inez.


"Itu karena kau menyukai Inez." Ejek Josh yang langsung beranjak karena Keenan kembali melemparnya dengan bantal Sofa. Josh pun tertawa terpingkal-pingkal.


***


Apartemen sederhana Ruby.


"Akhirnya kau pindah juga, jadi aku punya teman disini. Aku sengaja memilih unit yang tidak jauh dariku jadi kita bisa bekerja dan main bersama. Ruby tak menjawab dia hanya tersenyum simpul. Hal itu membuat Sean bertanya-tanya.


" Apa kau baik-baik saja? Tanya Sean pada Ruby penasaran.


"Ya aku baik-baik saja." Jawab Ruby pelan.


"Jangan berbohong, aku bisa melihat dari matamu sebenarnya kau sedang ada masalah kan? Ceritakan padaku jika itu terlalu berat. Mata mu juga tampak sembab. Kau baru menangis kan? Berbagi lah padaku, paling tidak aku tidak merasa menjadi teman yangvtidak berguna. Walau aku tidak bisa membantu paling tidak beban pikiranmu berkurang." Ucap Sean sambil mengelus lengan Ruby.


Lagi-lagi Ruby teringat pada Lucy sahabatnya karena perkataannya sama persis.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya lelah. Hari ini aku belum banyak membawa pakaian, mungkin besok aku akan kembali kerumah untu mengambilnya." Ruby mencoba mengalihkan.


"Jangan mengalihkan pembicaraan sayang. Aku tau kau berbohong. Tapi ya sudah tidak masalah tapi jika ingin cerita panggil aku ya. Aku siap 24 jam menjadi pendengar yang baik untuk mu." Kedua nya pun tertawa lepas.


"Istirahat lah, besok kita harus kerja. Bukan kah besok kau akan mengunjungi CEO kita? Lirikan Sean seolah mencurigai.


"Ya sudah pergi istirahat dan besok pagi kita berangkat bersama." Ucap Sean.


"Baiklah Nona Sean. Kau juga harus istirahat ya. Byee,,,, " Ujar Ruby dan Sean kembali ke apartement nya.


Ruby masuk ke kamar nya yang begitu nyaman. Dia pun duduk di tepi ranjang sejenak memikirkan Keenan yang akan di temuinya besok.


"Sikapnya seperti tidak mengenaliku sedikit pun. Tapi kenapa malah memanggilku ke ruangannya padahal aku hanya tidak sengaja melakukannya. Apa dia sengaja agar tidak ada yang tau bahwa kami saling mengenal. Seketika airmatanya kembali menetes.


"Aku tidak pernah menyangka kita di pertemukan lagi walau dalam keadaan seperti. Taukah kau aku seperti apa selama ini? Ruby menangis. Airmatanya lolos begitu saja. Dia bermonolog sendiri di kamarnya.


****


Keesokan harinya.


Saat di depan gedung Emerald Corporate. Ruby merapikan pakaiannya sebelum dia masuk ke ruangan. Dia baru selesai membeli coffee di seberang kantornya. Ruby juga sengaja membeli lebih untuk dia berikan kepada Asisten pribadi CEO dan dia memberanikan diri untuk pergi sendiri. Tiba di depan ruangan Keenan. Ada Jonas yang duduk di kursi itu dan Ruby mulai menyapanya.


"Selamat pagi pak Jonas. Saya ingin bertemu dengan pak Keenan. Sapa nya.


" Oh iya Nona. Pak Keenan sudah menunggu anda di dalam." Jonas memeprsilahkan Ruby untuk masuk. Jantung Ruby berdetak dengan cepat. Rasanya ingin sekali melompat menjauh dari pria dingin ini.

__ADS_1


"Ini Coffee untuk anda pak Jonas. Kebetulan saya baru dari seberang untuk membeli sesuatu." Menyerahkan coffie itu untuk Jonas.


"Terima kasih Nona. Semoga hari mu baik hari ini setelah menemui bos ku." Ucap nya pada Ruby dan di jawab dengan senyuman termanis Ruby walau hanya acting.


'Apa maksud ucapannya? 'Batin Ruby curiga.


"Mari saya antar. Ucap Jonas sambil berjalan membawa Ruby yang diam tertunduk saja. Tiba di dalam ruangan. Tampak Keenan sedang menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya. Sambil menutup mata nya. Pria itu duduk dengan kemeja biru yang kancingnya terbuka agak kebawah sehingga memperlihatkan leher dan sedikit dadanya yang seksi. Keenan membuka matanya setelah tau ada yang datang.


" Duduklah. " Ucap Keenan sambil membuka mata nya.


"Ini Coffee untuk anda bos, dari Nona Snow." Jonas menyerahkan coffee itu pada Keenan.


Mata Ruby membesar karena terkejut melihat tingkah asisten pribadi Keenan. Bukankah Coffee itu sengaja dia beli untuk Asistennya. Bukan untuk Keenan.


"Maaf pak bukannya Coffee itu...."


"Iya Nona saya tau Coffee ini sengaja anda beli untuk Bos." Ucapnya sambil tersenyum jahil. Dia sengaja mengerjai Ruby.


'Sialan,,,!!! " Maki Ruby dalam hati.


"Kalau begitu saya undur diri dulu bos. " Ucap Jonas sedikit membungkuk dan meninggalkan Ruby dan Keenan di dalam ruangan. Keenan hanya mengangguk.


Keenan sudah duduk tegak sambil melihat Ruby yang tampak meremas kedua tangannya sendiri duduk di sofa.


'Apakah Keenan akan membahas kejadian beberapa tahun lalu? Kenapa tatapannya seperti itu.


"Selamat datang Nona Snow. Kau sangat tepat waktu, tidak kurang dan tidak lebih." Keenan menyeringai.


Ruby tersenyum kikuk dia bingung harus menjawab apa.


"Terima kasih Coffee nya tapi maaf aku tidak suka Coffee." Ucap Keenan datar.


'Aku tau, makanya aku tidak membelikan mu Coffee.' Batin Ruby.


"Maaf pak kalau begitu Coffee nya saya ambil kembali." Ruby segera bangkit dan hendak mengambil Coffee tersebut.


"No,,, no tidak perlu. Aku menghargai usaha mu. Usaha mu mengambil hati agar aku memaafkan mu. Benarkan? " Ujar Keenan percaya diri.


Ruby tersenyum sinis, didalam fikiran nya betapa percaya diri nya pria ini. Keenan tidak pernah berubah.


'Kau mencoba bersandiwara dengan tidak mengenali ku.' batin Ruby merasa miris.


"Tidak masalah, kau bisa meminta maaf padaku sekarang juga dengan cara berlutut." Keenan ingin melihat apa respon gadis ini setelah mengucapkan hal serendah itu.


"Apa? " Ruby melotot tak percaya.

__ADS_1


Keenan pun berdiri dan segera melangkah ke depan meja kerja nya dengan melipat kemeja nya hingga siku.


Mata Ruby terfokus pada Jam tangan yang di gunakan Keenan. Dia merasa jam tangan itu tidak asing. Seperti....


__ADS_2