Come Back My Love

Come Back My Love
72. Khawatir


__ADS_3

Keenan dan Ruby selesai menikmati sarapan, tanpa banyak bicara. Sesekali Keenan melihat Ruby yang hanya diam seperti seseorang yang tertekan. Tapi hal itu malah membuat Keenan senang.



"Weekend seperti ini kau kemana saja? Tanya Keenan memecah suasana.



"Apa aku harus beritahu, kemana saja aku pergi Pak Keenan?" Sela Ruby dengan wajah tidak senang. Keenan kembali menyeringai.



'Gadis ini memang tidak ada manis-manisnya dalam berbicara.' batinnya.



"Kekasih? Apa kau punya kekasih?" Tanya nya kembali dan membuat Ruby semakin kesal. Gadis itu tidak menjawab.



"Dari raut wajah mu menyatakan bahwa kau tidak memiliki kekasih. Wajar saja, pria waras akan berfikir panjang untuk menjalin hubungan dengan gadis kasar seperti mu." Ejek nya.



Ruby semakin tidak tahan. Dia bangkit dari duduknya dan ingin membereskan semua piring-piring makan mereka dan segera bergegas dari tempat menyebalkan ini.



Keenan langsung menarik tangan Ruby. Tidak ada rasa takut lagi karena sudah fix penyakit Keenan tidak akan kambuh jika bersama Ruby.



"Aku hanya bercanda. Kau terlalu kaku dan serius. Tidak seru sekali." Ucap Keenan sambil melepas tangan Ruby.



"Semua tergantung dengan siapa aku berinteraksi." Jawabnya ketus.



"Duduklah. Kenapa terlalu terburu-buru. Ini hari libur seharuskan kau lebih santai."



"Aku memang libur tapi seharusnnya tidak disini. Bisakah aku pergi sekarang pak? Aku ada janji dengan seseorang." Wajah Ruby memelas.



Begitupun dengan Keenan wajah nya berubah sinis ketika mendengar hal itu.


"Dengan siapa?" Tanya Keenan datar.


"Kau tidak perlu tau dengan siapa aku pergi." Jawab tak kalah datar.



Keenan sengaja mengulur waktu Ruby agar tidak kemana-kemana. Tiba-tiba ponsel disebelah Keenan berdering. Refleks Ruby melirik siapa yang menghubungi Keenan.



'Inez,,, ' batin Ruby. Raut wajahnya langsung berubah. Keenan sedikit melirik tetapi tidak langsung mengangkat panggilan itu, tetapi ponsel nya terus berdering. Keenan pun melirik Ruby merasa tidak enak. Entah kenapa ada perasaan seperti itu. Ruby bukan siapa-siapa tapi kenapa hati nya gelisah karena melihat respon wajah Ruby seperti itu. Seolah dia ketahuan berselingkuh. Dan saat ini selingkuhannya sedang menghubunginya. Keenan baru ingat jika dia ada janji pergi menemani Noah ke taman hiburan. Keenan pun mau tidak mau mengangkat panggilan Inez.



"Ya Nez,,,???" Jawabnya pelan sambil melirik Ruby yang sedang tertunduk sambil bermain ponsel.


__ADS_1


'Apa pacar nya? 'Batin gadis itu sambil mengotak-atik ponselnya.



"Jangan bilang kau lupa jika hari ini kita akan pergi." Ucap Inez lembut. Ruby dapat mendengar suara lembut wanita itu. Hatinya terasa perih. Dia langsung melihat Keenan ketika mendengar suara wanita itu.



Ternyata Keenan juga sedang melihatnya. Mata mereka pun saling bertemu. Ruby langsung mengalihkan pandanganya.



"Iya aku ingat, sebentar lagi aku jalan kesana."



"Baiklah, hati-hati di jalan. Aku tutup dulu. Sampai ketemu."



"Sampai ketemu." Balasnya yang masih melihat Ruby dan langsung mengakhiri panggilan.



"Makan siang dan malam kau tidak perlu masak. Aku akan makan di luar." Ujar Keenan yang masih merasa tidak enak.



"Hhm,,, " Ruby hanya berdehem. Dia pun langsung berdiri dan mengangkat piring bekas makannya. Hatinya begitu berantakan. Entah apa yang di rasakan gadis itu dan tanpa sadar kaki nya tidak berdiri dengan baik sehingga tubuhnya sempoyongan dan terjatuh.


"Aaahhh,,," Teriak Ruby.


"Ruby,,,,!!!" Keenan langsung panik dan berlari menghampiri Ruby. Dia melupakan tongkatnya. Dia melihat tangan Ruby mengeluarkan banyak darah akibat piring yang di pegangnya pecah dan pecahannya itu mengenai telapak tangannya.



"Kau berdarah." Ucapnya panik. Keenan pun kembali berdiri tapi dia mengambil kembali tongkatnya. Hampir saja dia ketahuan.




Ruby tidak menjawab. Dia terus merintih kesakitan. Tangannya di lumuri banyak darah. Keenan pun datang membawa kotak obat. Dia menarik tangan Ruby untuk duduk kembali di kursi makan. Dan Keenan pun duduk di hadapannya. Dengan telaten dia membersihkan luka Ruby. Wajahnya tampak khawatir. Apalagi sampai melihat banyak darah dan wajah Ruby yang terus merintih kesakitan.



Pipi Ruby mulai basah karena dia mulai menangis. Dia tidak mengerti kenapa dia harus menangis. Apa karena luka di tangannya terlalu dalam atau hatinya yang terluka terlalu sakit. Ruby sendiri pun tak mengerti. Intinya dia dapat menangis meluapkan kesal dan sakit hatinya.



"Apa sakit?" Tanya Keenan perhatian. Wajahnya terlihat lembut. Melihat itu Ruby semakin sakit.



'Tangan ini tidak begitu sakit tapi ada hal lain yang terasa lebih sakit.' batin Ruby.



"Kenapa bisa terjatuh. Apa yang sedang kau fikirkan?" Tanya Keenan sambil melihat Ruby menangis. Tangan sebelahnya refleks menghapus airmata Ruby dan Ruby dengan sigap menghindar. Keenan menarik kembali tangannya.



"Aku baik-baik saja. Biar aku saja." Ruby menarik tangannya dan kapas yang ada di tangan Keenan. Keenan merasa tersinggung. Dia kembali menarik tangan Ruby dan kapas itu. Dia kembali mengobati luka Ruby.



"Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa bisa terjatuh? Apa kau sedang memikirkan sesuatu yang berat?" Keenan berbicara sambil mengobati luka Ruby. Membalut tangan Ruby dengan perban. Rapi dan tidak berantakan.

__ADS_1



"Kaki ku tiba-tiba kesumutan dan aku tidak mampu mengontrol tubuhku." Jawabnya pelan dan lembut.



'Ternyata suara nya bisa lembut juga.' batin Keenan.



"Sudah selesai, jangan kena air dulu.' saran Keenan dan di angguki oleh Ruby.



Keenan membereskan kembali peralatan P3Knya. Ruby hanya diam melihat Keenan terus menerus.


"Aku harus pergi." Ujar Ruby.


"Tidak, tunggu sebentar lagi, luka mu belum kering betul aku takut ketika kau keluar banyak bakteri menempel dan luka mu bisa menjadi lebih parah." Ucapan Keenan kembali terdengar datar.



"Bukankah kau akan pergi? Lebih baik aku pulang." Wajah sendu Ruby sontak membuat Keenan melemah. Tapi dia tidak akan menyetujui keinginan Ruby



"Bisa tidak membantahku?" Tanya Keenan tegas. Dan sambil mengambil ponselnya. Mencari nomor yang hendak di hubunginya.



'Kenapa dia santai sekali. Bukankah pacarnya sudah menunggunya.' Batin Ruby.



"Pacar mu sudah menunggu. Jangan biarkan dia lama menunggu mu." Sindir Ruby.


Keenan tidak menjawab, dia hanya melirik Ruby dan segera kembali memeriksa ponselnya. Tidak berapa lama Keenan menghubungi seseorang. Dan sedikit menjauh dari Ruby. Tapi Ruby dapat mendengar suaranya.


"Tolong jemput dan antar mereka, aku akan segera menyusul. Katakan aku masih ada pekerjaan."


"Baik bos, saya akan kesana sekarang juga." Ungkap Jonas.


"Terima kasih." Keenan langsung mengakhiri panggilannya dan kembali menghampiri Ruby. Dia menarik lembut tangan Ruby yang terluka. Memeriksanya apakah darahnya sudah berhenti mengalir. Dia tidak perduli lagi jika alergi nya kambuh lagi. Dia terus meniup tangan Ruby hingga membuat gadis itu sedikit luluh.



Ruby hanya bisa pasrah dan tidak membangkang sama sekali.



'Sikapnya selalu berubah-ubah. Selalu bersikap sesuka hatinya. Tapi kenapa? Dia bahkan tidak pernah mengungkit masa lalu. Bahkan tidak bertanya bagaimana aku. Apa yang terjadi? Atau dia benar-benar ingin mengubur dalam-dalam kisah itu? Melupakan semua nya? Apa memang karena semua bukanlah keinginannya? Lalu apa arti kata cinta itu? Semua sudah lama berlalu tapi mengapa terasa begitu sakit. Kau bahkan baik-baik saja selama ini, sementara aku...' Ruby bermonolog dalam hatinya. Hati nya terasa begitu sakit dan sangat menyayat dan dia kembali menangis.



"Kau menangis lagi. Apa sakit sekali? Aku akan membawa mu ke rumah sakit." Ucapan Keenan terdengar khawatir tapi raut wajahnya masih terlihat datar. Ruby menghapus cepat airmatanya.



"Ti,, tidak pak, aku harus pergi sekarang." Ruby langsung mengambil tas nya dan bangkit dari duduknya.



"Maaf pak, saya permisi. Maaf jika perkataan saya terlalu tidak sopan." Ruby membungkukkan badannya meminta maaf. Karena sikap dan cara bicaranya terlalu kasar. Dia suka lupa jika Keenan adalah atasan tertinggi di perusahaannya dan bukanlah Keenan yang dulu dia kenal. Dia harus tau diri dan juga batasan. Keenan hanya mendongak melihat tingkah aneh Ruby.



'Ada apa dengan gadis ini. Kenapa sikapnya sulit di mengerti.' batin Keenan.

__ADS_1



"Saya permisi pak." Airmatanya lagi-lagi keluar begitu saja. Ruby pun langsung pergi dengan langkah cepat sebelum Keenan kembali memanggilnya. Tetapi itu hanya fikirannya saja. Nyatanya Keenan hanya diam dan tidak mengatakan apapun.


__ADS_2