
Keenan tertawa terbahak. Ruby menatapnya heran. Sambil menghapus airmatanya dia berkata.
"Kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?" Tanya Ruby kesal.
"Kau penguping ternyata. Pendengaran mu sungguh-sungguh bermasalah. Jangan asal berpresepsi, kau tidak tau yang sebenarnya. Tapi sudah terlalu jauh berfikir." Jari telunjuk Keenan menolak pelan dahi Ruby.
Wajah Ruby berubah cemberut. Dia tidak percaya pada ucapan Keenan.
"Tapi tunggu dulu, kenapa kau terlihat kesal saat mengatakannya. Seperti orang yang sedang cemburu. Kau tampak meluapkan kekesalanmu tadi. Kau memendamnya sejak pagi bukan? Apa kau cemburu?" Tanya Keenan ngotot dan membuat wajah Ruby memerah.
"Ti,, tidak, aku tidak cemburu, atas dasar apa aku mencemburuimu." Ujar Ruby salah tingkah.
"Katakan saja kalau kau menyukaiku. Aku akan mempertimbangkannya jika kau ingin menjadi wanitaku." Goda Keenan bercanda.
"Kau terlalu percaya diri pak. Itu tidak benar." Ruby sedikit berteriak, dia benar-benar mati gaya.
"Kenapa kau sulit sekali jujur. Katakan saja."
"Tidak pak. Kenapa kau memaksaku? Lupakan saja. Kita tadi membahas Pak Richard. Awal tadi kau sangat kekeh melarangku dekat dengan Pak Richard. Jangan bilang kau yang cemburu pak." Tuding Ruby balik menuduh Keenan sambil tersenyum.
"Ayo jujur saja... " Ucap Ruby.
Keenan juga terlihat salah tingkah, baru kali ini dia menjawab dengan gagap.
"Itu tidak mungkin, aku tidak mungkin menyukaimu. Itu sangat mustahil by. " Ceplos Keenan sambil tertawa. Ruby terpaku mendengarnya. Dia seketika diam. Wajahnya juga langsung berubah. Keenan melihat itu kembali merasa tidak enak. Lagi-lagi dia berbicara yang membuat Ruby tersinggung.
"Maksud ku, aku tidak mungkin cemburu. Karena aku.... " Ucapan Keenan tiba-tiba terhenti.
"Aku mengerti pak, tidak perlu menjelaskannya lagi. Aku cukup tau diri, sangat mustahil menyukaiku dan tidak mungkin pria seperti kalian menyukai wanita seperti aku." Ruby mencoba tersenyum walau sebenarnya terasa sakit. Lagi-lagi Ruby merasa tidak tau diri.
"By,,, aku.... !!!
"Bisa kita berangkat sekarang pak?" Ajak Ruby sambil mengalihkan pembicaraan.
Ruby mulai beranjak. Keenan mengusap kasar wajahnya dan memukul mulutnya sendiri karena terlalu kemajuan.
Mereka pun berangkat, di perjalanan Keduanya sama-sama diam dengan fikiran mereka masing-masing. Keenan fokus mengemudi, sesekali melirik Ruby. Ruby duduk menghadap kaca, melihat jalanan yang masih ramai walau sudah mulai larut.
'Seharusnya aku tidak datang dan menuruti perintahnya. Keenan sama sekali tidak menghargai semua yang aku lakukan. Dia selalu berbuat dan dan berkata seenaknya. Dan lagi-lagi dia menyadarkan aku ini siapa. Kenapa terasa begitu sakit.' Batin Ruby ingin menangis tapi gadis itu menahannya. Ruby menepuk pelan dadanya.
Mata Keenan langsung beralih ke Ruby. Dia langsung mengambil air yang ada di mobil dan langsung memberikan pada Ruby.
__ADS_1
Ruby langsung mengambilnya tetapi tidak diminum. Keenan hanya derdecak. Dia bingung bagaimana menghadapi Ruby. Sesampainya di depan gedung Apartemen.
"Terima kasih pak sudah mengantarku." Ucap Ruby sambil sedikit menunduk.
Keenan berharap Ruby mempersilahknnya untuk singgah sebentar dirumahnya. Tapi itu hanya fikirannya saja. Ruby sama sekali tidak mempersilahkannya masuk.
"By aku bisa,,,, " Belum sempat Keeenan melanjutkan omongannya Ruby langsung memotong ucapannya. Dia tau maksud bos nya itu. Dia pasti minta menginap di Apartemen nya agar bisa tidur dengan nyenyak.
"Maaf pak aku harus masuk. Temanku sedang menunggu di apartemenku. Sekali lagi terima kasih. Aku pamit pak." Ruby turun dari mobil dan langsung meninggalkan Keenan. Keenan kembali kesal. Dia bertanya-tanya teman apa yang datang berkujung malam-malam begini.
Keenan pun merik pedal gas dan pergi dari gedung sederhana itu. Dia sangat kesal hingga sampai dirumah. Dia merasa gelisah walau sudah bera di kamar dan kasur yang nyaman. Keenan tetap tidak bisa tidur. Dia bergerak kesana kemari. Memikirkan banyak hal.
"Kenapa saat di apartemen Ruby yang sederhana aku malah bisa tidur dengan nyenyak. Tapi dikamar ku sendiri aku tidak mengantuk sedikitpun." Keenan menarik nafas dan menghelakannya dengan kasar.
Dia menatap langsit-langit kamar nya. Membayangkan yang terjadi hari ini. Ruby dan Ruby. Semua di penuhi oleh Ruby. Gadis yang dia tau sangat menyebalkan kini malah terus berada di dekatnya dan selalu memenuhi fikirannya. Keenan benar-benar tidak bisa tidur dan dia bangun dan pergi ke ruang kerja. Dia harus menyibukkan diri agar fikirannya tidak kotor dan lari kemana-mana.
Keesokan paginya. Rubu sudah berada di kantor, sudah duduk rapi dengan penampilan yang semakin hari semakin menawan. Keenan datang bersama Jonas. Ruby berdiri dan sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Selamat pagi pak." Sapa Ruby menundukkan kepalanya.
Keenan tidak menjawab dia langsung masuk keruangan dengan wajah yang lumayan kusut tampak kurang tidur. Tidak dengan Jonas. Dia tersenyum sumringah melihat Ruby. Dia memang senang melihat Ruby. Tidak berselang lama Ruby masuk dan memberikan beberapa berkas yang harus id tandatangani. Dan Ruby juga membawa berkas jadwal pertemuan Keenan hari ini.
Keenan dan Jonas sedang membahas masalah perusahaan dan saat Ruby masuk keduanya pun langsung diam.
"Terima kasih." Ujar Keenan singkat. Ruby keluar pun hendak keluar tapi sebelum meniju pintu ponselnya berdering. Ternyata Max yang menghubunginya. Ruby tanpa menunggu langsung menjawab panggilan itu.
"Ya Ayah....!!!" Ucap Ruby.
"Sayang,,,kau kemana saja, daritadi malam ayah menghubungi mu namun tidak aktif." Ucap Max tersengar panik.
"Maaf ayah ponsel baru saja menyala, ada apa ayah? Kenapa suara mu terdengar begitu panik?" Tanya Ruby. Keenam dan Jonas pun sama-sama melihat ke arah Ruby.
"Ke rumah sakit MNC sekarang ya. Alex,,, terjadi sesuatu pada Alex." Ujar Mac gusar.
"Apa? Apa yang terjadi ayah? Dan bagaimana keadaannya sekarang?" Nafas Ruby seperti tercekat setelah mendengar kabar Alex, tubuhnya terasa tidak berdaya dan wajahnya memucat. Jonas dengan sigap menghampiri Ruby.
"Ada apa?" Tanya Jonas dan membuat dahi Keenan berkerut. Gerak Jonas cepat sekali.
"Baik ayah aku akan segera kesana." Jawab Ruby mengakhiri panggilan tersebut. Ruby sudah terlihat menangis.
"Pak,, aku minta Izin, aku harus ke rumah sakit." Ucapnya lirih.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? " Tanya Keenan yang berusaha tampak biasa saja.
Belum menjawab ponsel Keenan juga berbunyi. Dia mengangkat tangannya memberi kode pada Ruby untuk menunggu sebentar dan dia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Tante Rose ada apa?" Tanya Keenan.
"Keenan sekarang tante ada di rumah sakit MNC, Kenny masuk rumah sakit. Bisa kesini sekarang? Mama Papa mu sedang dalam perjalanan." Wajah Keenan langsung berubah.
"Baik tante aku akan segera kesana." Ucap Keenan terdengar pelan dan langsung mengakhiri panggilannya.
"Kau ke Rumah sakit mana?" Tanya Keenan dengan serius.
"MNC pak."
"Kita pergi kesana bersama. Jonas aku titip perusahaan sebentar. Aku harus ke rumah sakit. Kenny di rawat disana." Ujar Keenan sambil mengambil jas dan ponselnya.
"Baik bos." Jawab Jonas tegas. Dia ikut khawatir melihat Keenan dan Ruby sama-sama harus ke rumah sakit. Walau Jonas belum mengetahui apa yang terjadi.
Keenan dan Ruby pun berangkat dan di perjalanan mereka diam seribu bahasa, wajah keduanya tampak panik dan juga khawatir. Keenan membawa mobil nya dengan kecepatan tinggi.
Saat di tengah jalan ada sepeda motor yang tiba-tiba menyebrang. Keenan dengan panik menginjak rem.
"Aaa,,,,!!! Teriak Ruby.
" Sial,,,!!! Maki Keenan dan mobil pun berhenti dengan spontan. Hingga mengakibatkan benturan di kepala Ruby.
"Aaghh,,, " Ruby meringis kesakitan. Kepalanya sedikit terlihat memar. Keenan langsung panik melihat Ruby. Dia melepaskan sabuk pengamannya dan langsung menarik Ruby.
"By,,, kau baik-baik saja?" Tanya Keenan khawatir sambil memegang wajah Ruby. Dia melihat memar itu di kening Ruby.
"By kening mu memar." Ucap Keenan dengan nada lembut. Keenan mengelus pelan kening Ruby. Melihat hal itu membuat hati Ruby berdesir.
"Maaf By,,, aku terlalu teledor." Keenan merasa bersalah.
" Aku tidak apa-apa pak." Jawab Ruby pelan. Keenan langsung mengambil salep untuk pereda sakit yang ada di kotak P3K di mobilnya. Mengolesnya dengan selembut mungkin.
Ruby sedikit meringis. Tapi langsung merasa tenang karena sentuhan lembut Keenan. Dia sulit mengerti dengam sikap Keenan. Dia merasa pria ini terlalu random.
"Apa masih sakit? " Tanya Keenan yang sebelah tangannya masih terus memegang tangan Ruby dan sebelah nya lagi mengelus lembut kening Ruby.
Ruby menggeleng, dia merasa lebih baik sekarang.
__ADS_1
"Kita lanjutkan perjalanan ya, aku akan lebih berhati-hati." Ujar Keenan mengelus lembut pipi Ruby. Tanpa Keenan sadari Wajah Ruby sudah memerah seperti tomat.