
Ruby bersiap untuk pergi dari apartemen Keenan namun saat ingin melangkah menuju pintu tangannya di tahan oleh Keenan.
"Tunggu By, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan lagi." Ujar Keenan dengan wajah datarnya.
"Apa lagi?" Jawab Ruby dengan tatapan sayu nya.
"Rachel Kiel,,, siapa dia?" Tanya Keenan serius.
Wajah Ruby seketika memucat. Dan dia bingung hendak menjawab apa. Tuhuhnya sedikit bergetar, dia tidak ingin Keenan mengetahui kebenarannya.
"Dia,,, dia seseorang yang berarti dalam hidupku. Kenapa kau bertanya tentangnya? Dan darimana kau tau?"
"Aku mengikuti mu dan melihat makam anak itu. Apa dia anak mu?" Keenan bertanya blakblakan dan Ruby terdiam tudak dapat menjawab.
"Kenapa namanya memakai nama Kiel? Seluruh keturunan Kiel aku mengenalnya dan untuk keturunan nya di 10 tahun terakhir itu tidak ada. Jika pun ada aku sudah pasti mengetahuinya. Siapa dia sebenarnya?" Kening Keenan mengerut melihat respon Ruby.
"Nama itu tidak ada hubungannya dengan keluarga kalian, namanya terlahir begitu saja. Jangan terlalu jauh berfikir." Wajah Ruby semkain tidak dapat di kondisikan.
"Jangan mencoba membohongi ku Ruby, jika ada sesuatu yang kau sembunyikan dan itu berhubungan dengan ku, aku tidak akan tinggal diam." Ancam Keenan.
"Aku katakan sekali lagi pak, jangan terlalu percaya diri, ini semua tidak ada hubungannya dengan mu. Dan jangan coba-coba mencari tahu apapun tentangku. Aku tidak suka masalah pribadi ku di campuri, lagian,,,, kau juga tidak menyukai ku bukan? Mengapa kau seperti ingin tahu semua tentang ku."
'Tapi aku tidak mempercayaimu Ruby.' Batin Keenan mencoba tenang.
Keenan melepaskan tangan Ruby. Dia kembali memberi jarak dengan Ruby.
"Maaf jika kau tidak nyaman dengan pertanyaanku. Aku hanya penasaran."
Ruby berbalik dan mulai memegang gagang pintu.
"Apa hari ini kau akan menemui Josh?" Tanya Keenan.
Ruby kembali menghentikan langkahnya. Dia lupa mengabari Josh dimana mereka akan bertemu.
"Ehmm,,,!!! " Ruby berdehem.
"Aku merasa ada sesuatu di antara kalian."
"Apa ada yang salah?" Tanya Ruby tanpa berbalik ke arah Keenan.
"Tidak,,,tidak ada yang salah, wajar saja kalian sama-sama lajang. Aku hanya sekedar bertanya karena kau Sekretarisku, tidak ada maksud apapun. Jangan salah paham" Jawab Keenan.
Hati Ruby terasa mencelos mendengarnya.
"Tidak akan, karena aku tau betul apa posisi ku. Aku permisi." Ruby pun pergi. Keenan memejamkan matanya sambil memijat batang hidungnya.
"Gadis ini selalu membuatku tidak tenang. Ada saja sesuatu yang ingin aku ketahui tentangnya." Ucap Keenan bermonolog.
***
Hari berlalu begitu saja, Keenan dan Ruby menjalani harinya seperti biasa tanpa banyak interaksi, Interaksi mereka hanya sewajarnya saja sebagai seorang Bos dengan sekretarisnya. Keenan juga kembali dingin begitu pun Ruby, dia bekerja seperti biasa, dia mencoba menghindari perbincangan pribadi dengan Keenan.
Sandra sudah kembali ke New York dan Kenny memutuskan untuk menetap di rumah Rose, Rose yang memintanya. Tadinya Kenny ingin tinggal di apartemen Keenan, namun kakak nya itu menolaknya. Keenan mencari Apartemen yang bagus untuk adiknya. Namun Rose mencegahnya karena Rose tidak ingin Kenny mengalami kejadian mengerihkan seperti sebelumnya.
Akan lebih baik jika dia tinggal bersama Rose agar wanita itu punya teman di rumah. Karena selama ini dia hanya tinggal sendirian. Sesekali keponakannya Richard Hill datang berkunjung namun tidak menginap.
Di Club Gym Alex. Rose dan Kenny keluar dari mobilnya dan memasuki gedung Gym tempat Rose berolahraga. Kali ini Rose datang bersama Kenny. Rose dan Kenny melihat Alex sedang sibuk melayani orang-orang yang berkunjung. Matanya teralihkan pada kedua wanita cantik yang berbeda umur itu.
"Selamat datang Nyonya. Bagaimana kabar anda?" Sapa Alex ramah pada Rose tanpa melirik Kenny. Bibir sebelah Kenny terangkat, dia sangat kesal dengan sikap dingin Alex namun itu yang membuat nya semakin menyukai pria itu.
"Aku selalu sehat, bagaimana dengan mu?" Tanya Rose balik.
"Seperti yang anda lihat, aku sudah lebih baik dan sudah bisa bekerja lagi."
"Jangan terlalu memaksakan diri nak, istirahat lah jika kau lelah." Ucap Rose.
"Terima kasih atas perhatian anda nyonya." Alex sedikit membungkuk.
"Bisa kah jangan terlalu kaku padaku. Panggil aku Bibi, aku sudah menganggapmu sebagai kerabat dekat karena sudah menyelamatkan Kenny."
Alex tersenyum kikuk sambil melirik Kenny yang juga menjadi canggung.
"Baiklah Nyo,,, ehh Bibi." Sahut Alex canggung.
"Oh iya hari ini aku datang kesini bersama Kenny, Kenny butuh olahraga agar cepat pulih." Ujar Rose sambil menyiku Kenny yang sedari tadi diam saja.
"Tidak masalah Bibi, mari silahkan masuk. Sebelum memulai alangkah baiknya melakukan pemanasan terlebih dahulu agar otot-otot tidak tegang." Alex menjelaskan kepada Kenny.
"Eehmm,,,!!! " Jawab Kenny. Rose tampak senyum-senyum, dia sengaja membawa Kenny kesini untuk mendekatkan nya pada Alex. Karena dia tau Kenny tertarik pada Alex. Namun Alex masih tampak cuek.
__ADS_1
"Silahkan dilanjutkan, aku harus kesana dulu." Ucap Alex pada Rose dan Kenny.
Dan keduanya menjawab dengan senyuman.
"Dia sangat tampan bukan?" Celetuk Rose menggoda Kenny.
"Hmm,,, tapi terlalu cuek." Jawab Kenny dengan bibir mengerucut.
"Sabar, mendekati pria juga harus pakai trik sayang."
"Trik bagaimana Bi? Selama ini tanpa memakai trik banyak pria di kalangan artis yang terus mencoba mendekatiku, namun pria yang satu ini memang sangat berbeda. Membuatku geram dan kesemsem secara bersamaan." Lirih Kenny sambil menatap Rose dan keduanya pun langsung tertawa.
"Jangan menyerah, dia hanya sedang jual mahal. Tidak mungkin dia tidak tertarik pada gadis secantik dirimu sayang." Ucap Rose sambil mencubit pelan dagu Kenny.
"Bibi selalu memujiku berlebihan, bukti nya dia selalu menundukkan pandangannya saat berhadapan dengan ku. Dia berbicara tanpa menatapku. Menyebalkan sekali. Apa aku harus menjadi wanita yang agresif Bibi?" Tanya Kenny.
"Tidak perlu sayang, Slowdown Baby, semua ada waktu nya." Rose mengerlingkan sebelah matanya pada Kenny.
***
Dikantor Ruby. Waktu makan siang pun tiba. Ruby baru mengingat kalau dia belum juga mengabari Josh untuk bertemu. Kemarin dia batal mengatur jadwal karena harus pergi kerumah Ayahnya untuk melihat Alex. Mungkin hari ini adalah waktu yang tepat.
Ruby meraih ponselnya dan menghubungi kontak pria itu. Tidak berapa lama panggilan itu tersambung.
"Hai Josh,,, apa aku mengganggu mu?" Tanya Ruby.
"Hai Clarissa, tidak,, kebetulan aku sedang senggang." Jawab Josh.
"Maaf aku baru menghubungi mu. Kemarin aku punya pekerjaan lain yang tidak bisa aku tinggalkan. Jadi belum sempat menghubungi mu."
"Tidak masalah, aku selalu siap sedia kapanpun kau punya waktu Cla."
"Bisakah biasakan memanggilku Ruby? Aku sudah tidak ingin di panggil dengan nama itu." Suara Ruby terdengar lemah.
Ruby tidak sadar jika Keenan sedang berdiri di depan pintu mendengarkannya berbicara. Tadinya dia berniat mengajak Ruby makan siang bersama.
"Baiklah Ruby,,, jadi kapan kita bisa ketemu?" Tanya Josh.
"Mari makan siang bersama." Ajak Ruby.
"Sekarang?" Tanya Josh memastikan.
"No,,, aku bisa By, dan kebetulan sekali ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu." Jawab Alex.
"Baiklah, aku akan shareloc tempatnya padamu."
"Oke By, sampai ketemu. Bye...!!! "
"See you. Bye...!!! " Jawab Ruby sambil mengakhiri panggilannya. Pandangan Ruby beralih ke ruangan Keenan dan betapa terkejutnya dia karena melihat Pria dingin itu sedang berdiri sambil memasukkan tangannya kedalam saku.
'Keenan,,, sudah berapa lama dia berdiri disitu. Apa dia mendengar apa yang aku bicarakan dengan Josh?' Batin Ruby.
"Apa itu Josh?" Tanya Keenan dingin.
"Iya pak, aku izin pergi makan siang sebentar." Ujar Ruby.
Keenan tidak langsung menjawab, wajahnya tampak begitu ketat. Ruby sampai canggung melihatnya.
"Pergilah, kenapa harus meminta izin." Jawab Keenan ketus dan langsung pergi meninggalkan Ruby.
Bibir sebelah Ruby pun sedikit terangkat karena kesal melihat tingkah Keenan.
"Aneh sekali, sikapnya tidak bisa ditebak." Ruby ngedumel melihat punggung Keenan yang semakin menjauh.
***
Di suatu Restauran yang terletak tidak jauh dari kantor. Ruby sudah menunggu kedatangan Josh. Tidak berapa lama pria itu pun tiba.
"Hai By,,,, maaf ya aku membuat mu menunggu terlalu lama."
"Tidak Josh, aku juga baru tiba." Jawab Ruby.
"Bagaimana kabar mu?" Tanya Josh.
"Aku baik Josh, kita pesan makanan dulu ya." Ujar Ruby sambil memanggil pelayan.
Mereka pun memesan beberapa makanan dan minuman, tidak lama pesanna mereka pun datang. Mereka berbincang sambil menyantap makanan mereka.
"Bagaimana Keenan? Apa dia sudah menjelaskan kesalahpahaman kalian kemarin" Tanya Josh.
__ADS_1
"Hm,,," Jawab Ruby sambil tersenyum simpul.
"Kau masih punya perasaan padanya? Tanya Josh ceplos.
"Tidak,,," Jawab Ruby dengan tegas.
"Lalu mengapa kau menangis?"
"Aku hanya tidak menyangka Keenan bersikap seperti itu padaku sementara dia sudah memiliki istri dan anak."
"Sekarang kau tidak salah paham lagi kan. Itu akan lebih baik untuk hubungan kalian."
"Tidak Josh,,, hubungan kami tidak sebaik itu dan aku juga tidak berharap apapun dari hubungan ini. Aku hanya sekedar sekretaris baginya begitupun sebaliknya." Jelas Ruby dengan wajah miris.
"Kenapa? Kalian sudah lama terpisah dan aku tahu bagaimana persaan kalian dahulu saat dibangku sekolah." Tukas Josh.
"Dia tidak mengingatku sedikitpun Josh. Aku juga tidak ingin mengingat apapun tentang masa lalu kami. Aku sudah lama menguburnya." Celetuk Ruby.
"Benarkah? Sayangnya aku tidak percaya By. Matamu tidak bisa berbohong."
Wajah Ruby langsung memerah. Josh bisa membaca mata Ruby.
"Ini sebabnya aku ingin bertemu dengan mu By, aku ingin menjelaskan bagaimana Keenan selama 8 tahun ini."
Kening Ruby tampak berkerut. Apa maksud dari ucapan Josh. Dia semakin penasaran.
"Keenan amnesia pasca kecelakaan yang dia alami 8 tahun lalu."Ucap Josh tanpa aba-aba.
Sendok dan garpu yang dipegang Ruby pun terjatuh begitu saja.
" Josh apa kau serius?" Tanya Ruby merasa tidak percaya.
"Ya, itu sebabnya dia tidak mengingatmu. Dia tidak mengingat siapapun. Tadinya dia juga tidak mengingatku, namun pada saat aku bertemu dengannya lagi, aku mencoba menjelaskan siapa diriku padanya dan keluarganya, aku juga memutuskan untuk menjadi dokter pribadinya. Keluarganya sangat baik padaku, medukung ku secara financial untuk meraih gelar dokterku."
Mata Ruby tampak berkaca-kaca, airmatanya hampir jatuh.
"Apa yang terjadi padanya Josh? Kecelakaan apa yang di alami nya?" Tanya Ruby yang pada akhirnya menangis.
Josh terdiam, dia ragu untuk menjelaskan semuanya pada Ruby. Karena sudah berjanji pada tante Sandra untuk menjaga rahasia ini. Bahkan Keenan juga tidak mengetahui apa penyebab dia bisa Amnesia. Dia hanya tau kalau dia kecelaan biasa.
"Josh mengapa kau diam, tolong jelaskan padaku Josh, apa yang terjadi pada Keenan?" Ruby semakin tersedu dan hal itu membuat Josh luluh.
"Aku akan memberitahukannya padamu, tapi berjanjilah untuk menyimpan ini sendiri, jangan beri tahu siapapun bahkan pada Keenan."
"Aku berjanji Josh." Janji Ruby.
"Keenan menembak dirinya sendiri karena mengetahui bahwa ayahnya terlibat atas kematianmu dan juga ayahmu. Intinya dia ingin bunuh diri karena merasa tidak terima karena kehilanganmu." Ucap Josh dengan wajah yang sedikit memucat.
Ruby langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Tangisnya semakin menjadi. Dia tidak menyangka Keenan akan melakukan hal senekat itu.
"Ruby tenang lah, aku tidak akan melanjutkan ceritanya jika kau seperti ini." Josh khawatir karena Ruby tampak tidak berdaya.
"Lanjutkan Josh, aku akan tenang mendengarkannya." Jawab Ruby.
"Keenan mengalami cedera otak karena lukanya cukup dalam, dia hampir kehilangan nyawanya. Terjadi trauma tembus / penetrasi pada kepalanya yang membuat saraf-sarafnya rusak. Dia juga mengalami trauma emosional terhadap sentuhan orang-orang terutama Wanita. Dia tidak bisa menyentuh wanita selain Ibu dan adiknya."
"Tapi aku,,,,,!!! " Ruby menunjuk dirinya yang bisa disentuh Keenan.
"Itu sebabnya dia menjadikanmu sekretarisnya. Dia begitu penasaran kenapa hanya kau wanita yang bisa dia sentuh. Jika menyetuh wanita lain tubuhnya akan memerah seperti alergi namun ini sangat mengerihkan, Keenan pernah kritis karena pernah bersentuhan dengan mnatan sekretarisnya yang lama. Semenjak itu Keenan bekerja tanpa sekretaris.
"Bagaimana dengan Inez? Keenan sudah bersama Inez selama ini."
"Begitupun dengan Inez, Inez pernah mencoba mencium Keenan, namun sama saja. Lain hal dengan mu. Dia bisa menyentuhmu bahkan alerginya dapat hilang ketika menyentuhmu. Itulah sebabnya dia tidak ingin jauh dari mu. Walau terkadang terlihat seperti pemanfaatan. Tapi kau harus mengerti, dia tidak ada maksud buat memanfaatkan mu.
Ruby tertunduk dan terus menangis, ucapanya yang Josh katakan benar adanya. Sejenak Ruby mengingat kembali yang sudah Keenan lakukan padanya.
"Lalu apakah ada kemungkinan Keenan sembuh Josh?" Tanya Ruby.
"Sejauh ini belum ada perkembangan yang segnifikan, namun berkat dirimu penyakitnya sudah tidak pernah kambuh lagi. Dia tampak sehat dan semakin menyebalkan." Ucap Josh sambil tersenyum mengingat sikap sahabatnya yang random itu.
"Keenan mengalami hal yang lebih tidak mengenakkan selama ini. Dia menjalani sakitnya sendiri." Ujar Ruby merasa bersalah.
"Kuncinya hanya pada mu By, selama ini dia tidak bisa membuka hatinya untuk orang lain, karena dia merasa ada seseorang yang selalu menetap di hati nya. Mengunci sekuat-kuatnya tanpa mengetahui siapa orang itu. Dan aku yakin itu kau. Keenan juga sempat di diagnosa Impoten, namun kembali lagi pada mu, dia tidak impoten. Dia sangat sehat."
Raut wajah Ruby seketika berubah.
"Kau mengetahuinya?" Tanya Ruby malu.
"Tentu, tidak ada rahasia di antara kami." Jawab Josh tersenyum.
__ADS_1
Ruby semakin malu dan tidak punya muka. Hatinya benar-bemar terenyuh mendengar cerita Keenan. Betapa menderitanya dia selama ini. Dan dia juga bahagia karena Keenan mencintainya sedalam itu walau sekarang dia tidak sadar siapa wanita itu.