
Bel pulang sekolah pun berbunyi, semua murid siap bergegas meninggalkan kelas. Seperti biasa Clarissa selalu keluar kelas menunggu semua murid pulang. Keenan pun melewatinya, Clarissa melirik pria itu sedang kesusahan berjalan.
"Kau butuh bantuan ku. " Ucap Josh menawarkan.
"Tidak, pergilah, aku bisa jalan sendiri." Jawabnya ketus.
"Baiklah, kalau begitu aku deluan." Josh pun undur diri meninggalkan Keenan. Keenan pun terus berjalan, tanpa disadarinya Clarissa mengikutinya dari belakang. Saat di depan kelas Clarissa melihat Keenan pergi ke arah ruang UKS, sepertinya pria itu ingin mengobati lukanya. Clarissa pun memutuskan untuk menghampirinya.
Diruang UKS, tidak ada siapapun di tempat itu, sepertinya perawat yang berjaga disitu sudah pulang.
Keenan membuka sepatu dan kaos kaki nya perlahan, terdapat darah, Keenan membuka kaos kaki nya sambil menahan sakit, ternyata lukanya lumayan juga. Mungkin karena kursi nya terbuat dari besi. Keenan pun mencoba mengambil Alkohol yang di kotak obat di atas meja untuk membersihkan lukanya, sedikit jauh sehingga Keenan agak kesusahan mengambilnya. Betapa kagetnya Keenan melihat Clarissa yang sudah berada di depannya. Dan membantu mengambil Alkohol untuk Keenan. Keenan pun memengerutkan lisnya.
"Sedang apa kau disini." Tanya nya ketus.
Tapi Clarissa tidak menjawabnya sedikitpun, dia menarik kapas dari tangan Keenan dan segera membasuh nya dengan Alkohol. Perlahan Clarissa membersihkan luka Keenan.
"Sstt... " Rintih Keenan kesakitan.
"Apa begitu sakit? Tanya Clarissa pelan sambil menatap lembut Keenan dengan mata sayunya.
Keenan pun terpaku melihat mata Clarissa. Jantungnya kembali berdetak dengan kencang.
'Mata yang indah. Jantung sialan, kenapa berdetak sekencang ini' Batin Keenan.
" Aaghh,, " Jerit Keenan karena Clarissa sedikit menekan lukanya.
"Ehh maaf. "
"Kau terlalu lancang nona, siapa yang mengizinkan mu menyentuhku. "
"Jika lukanya bukan karena aku, aku juga sangat tidak sudi menyentuhmu tuan. " Jawab Clarissa ketus. Membuat Keenan tersenyum sinis.
Lukanya sudah dibersihkan dan dibalut perban oleh Clarissa.
"Selesai,,, jika nanti lukanya membengkak dan berdenyut oleskan Cream ini. Ini Cream pereda rasa sakit. " Menyerahkan Cream luka pada Keenan yang di ambil kasar oleh Keenan.
"Sekali lagi maaf, aku tidak sengaja melakukannya. Lain kali kaki panjangmu itu jangan lagi lari kesana kemari. Aku deluan. " Clarissa undur diri meninggalkan Keenan sendiri.
__ADS_1
Keenan semakin kesal, kenapa gadis itu sangat menyebalkan. Tapi bertolak belakang dengan hatinya. Dia masih ingin gadis itu berada di dekatnya.
'Sialan' Batinnya.
**
Saat pulang sekolah Clarissa memutuskan untuk singgah ke tempat ayah nya bekerja. Saat di depan pintu gerbang Mansion. Clarissa hendak masuk, tetapi terhenti karena sebuah mobil mewah masuk ke dalam Mansion itu. Clarissa kaget melihat pria yang keluar dari dalam mobil itu.
'Dia,, ' gumam nya dalam hati tapi mencoba tidak perduli.
Keenan menghampirinya. Berjalan dengan angkuh walau sedikit pincang sambil memasukkan tangan nya kedalam saku.
"Sedang apa disini? " Tanya Keenan ketus
"Bukan urusan mu. " Clarissa bergegas pergi menghindari Keenan.
"Kau masih mengkhawatirkan kaki ku?" Tanya nya hingga membuat langkah Clarissa terhenti.
"Kau terlalu banyak berfikir, aku kesini tidak ada urusannya dengan mu. Seharusnya aku yang bertanya kenapa kau ada disini. Kau mengikuti ku ya? "
"Kau yang terlalu banyak berfikir Nona." Balas Keenan.
"Aku tinggal di Mansion ini. " Jawabnya tenang.
Beda dengan Clarissa, dia begitu terkejut tetapi tidak diperlihatkannya. Ternyata Keenan pemilik Mansion ini.
"Berhubung kau disini, dan berhubung kau yang sudah mengobati luka ku, jadi kau yang harus mengganti perban ku lagi sore ini untuk menebus rasa bersalah mu. "
Clarissa melotot dan mulutnya sedikit terbuka mendengar perkataan Keenan.
"Kenapa? Tidak mau? Ayah mu bekerja disini bukan? Aku bisa menyuruhnya pulang dan tidak perlu datang kesini lagi untuk bekerja. Bagaimana?" Cara bicara Keenan begitu sombong bagi Clarissa. Pria ini benar-benar memanfaatkan keadaan.
" Aku tunggu pukul 5 sore, jika tidak masuk ke dalam, kau tau akibatnya. " Keenan pergi meninggalkan Clarissa yang masih terpelongok tidak bisa mengatakan apapun. Pria itu benar-benar menyebalkan. Menyesal kenapa tidak dia patahkan saja kaki anak itu. Clarissa pun menghelakan nafas dengan kasar dan segera menghampiri ayahnya yang sedang merapikan kebun bunga.
"Ayah,,, " Panggil Clarissa.
"Sayang, kau datang?" Teddy melihat wajah Clarissa yang berbeda.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang terjadi nak? Kenapa wajah mu kau tekut begitu?" Tanya Ferdy Khawatir.
"Tidak ayah, aku tidak apa-apa. " Jawabnya dengan pelan.
"Kau pasti belum makan kan? Ayo kita makan, ibu mu tadi membawakan bekal yang lumayan banyak."
"Tidak ayah, aku tidak lapar, tadi sudah makan di sekolah. " Jawab Clarissa lesu dan beralih membersihkan kebun bunga yang begitu indah. Belakangan ini sifat Clarissa memang seperti ini, banyak diam dan tidak bersemangat, sangat berubah semenjak kejadian itu, Teddy sudah jarang melihat senyumnya, Clarissa yang biasa riang didepan ayah nya tidak lagi ada. Dan Teddy sangat sedih, entah kemana Clarissa yang dulu. Teddy menghampiri Clarissa dan menarik tangan putrinya. Clarissa heran melihat ayahnya.
"Kesini sebentar nak, kau baru pulang sekolah pasti sangat lelah. " Menarik tangan Clarissa dan mengajaknya duduk di bangku terbuat dari Jati. Angin berhembus sepoi-sepoi menambah kesejukan di tempat itu. Mereka lama diam tidak ada pembicaraan sedikitpun. Teddy sangat tau kalau pikiran putrinya sedang tidak baik-baik saja.
"Ayah sudah jarang melihat senyum mu, tidak ceria seperti dulu lagi. Apa yang mempengaruhi hati mu sayang? " Teddy memecah keheningan.
"Itu perasaan ayah saja, aku baik-baik saja yah. " Jawab Clarissa tenang sambil melihat kebun bunga luas yang ada di depannya dengan hembusan angin yang begitu sejuk.
"Kau tidak bisa berbohong pada ayah, ayah bisa melihat dan merasakannya walau kau terus berusaha menyembunyikannya."
Clarissa diam dan tidak menjawab.
"Kau tidak ingin membaginya dengan ayah? Biasanya Clarissa ku selalu banyak bercerita tentang apapun yang dirasakannya, kemana dia yang dulu? " Mata sang ayah berkaca membuat Clarissa ikut haru. Dia menatap ayahnya.
"Aku harus bangaimana ayah? " Suara Clarissa mulai bergetar seperti akan menangis.
"Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri, aku merasa aneh, sepertinya aku sakit, tapi entah dimana sakitnya, aku tidak ingin melakukan apa-apa, lebih tepat nya bingung, aku terus merasa lelah, merasa lesu, rasanya sebagian diriku hancur, rasanya sesuatu menekan dadaku, Aku merasa sangat frustasi dan itu membuatku sedih, apa yang harus aku lakukan ayah? " Tangis Clarissa pecah tak terkendali kan. Ayahnya ikut sakit mendengarnya. Air mata nya pun ikut mengalir, betapa menderitanya putri kesayangannya menahan rasa sakit mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Teddy pun memeluk Clarissa yang sudah semakin terisak.
"Serahkan pada ayah rasa sakitnya sayang, biar ayah saja yang menanggung semua nya. Kau harus selalu bahagia, ayah tidak ingin anak kesayangan ayah seperti ini. Lupakan nak, mari kita mulai hidup yang baru tanpa memikirkan status yang saat ini kau khawatirkan. Ayah sangan menyayangimu. " Teddy mengelus lembut rambut putrinya.
"Tapi ibu tidak, aku sangat berharap agar ibu mau bersikap baik padaku yah, mau menerimaku, aku ingin merasakan kelembutan dan kasih sayang seorang ibu yah walaupun ibu bukan lah ibu kandungku, aku bisa menerimanya tetapi tidak dengan ibu." Clarissa memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
"Sakit ayah, sangat sakit. Aku berusaha melupakan semuanya yah walau aku tau kalian banyak menyembunyikan sesuatu padaku. Aku Terima, aku tidak mau dianggap anak tidak tau diri, ayah aku harus bagaimana lagi" Tangisnya makin menjadi.
"Tenang lah nak, jangan seperti ini ayah tidak ingin pekerja disini melihatmu menangis. Sudah ya, yakin pada ayah, suatu saat ibumu akan berubah. Dia hanya sedang kesal dan lelah. Ayah yakin di juga menyayangimu. Buktinya dulu sewaktu kau bayi dia tidak keberatan memberimu nama yang hampir sama dengan nama nya. " Teddy menghapus air mata di wajah Clarissa. Dan matanya juga mulai membengkak.
"Lihat matamu langsung membengkak seperti ini. Sangat jelek. Sudah jangan menangis lagi ya. " Candanya sambil membersihkan wajah Clarissa.
Sepasang manusia ini tidak menyadari kalau sedari tadi Keenan melihat serta mendengarkan mereka. Sedikit iba, dia merasa ada yang berbeda dari Clarissa. Membuat hatinya terasa sedikit nyeri. Keenan pun kembali menuju pintu masuk mansion.
__ADS_1